TRAUMA

TRAUMA
Chapter 23 - Mahesa


__ADS_3

Waktu terus berganti, hingga kini Nara telah mencapai puncak dari kehamilannya. Yaitu tepat pada 9 bulan.


Dimana kini remaja itu memiliki balon yang sangat besar di perutnya. Suaminya tampak menggigil saat melihat sebuah video orang melahirkan.


Namun, ia tetap menetralkan raut wajahnya saat ada di hadapan Nara.


Hari demi hari terus berganti kini Nara lebih banyak menghabiskan waktu latihan ringan sebagai persiapan melahirkan nanti.


***


Pagi hari yang cerah, aku bangun dengan susahnya. Bagaimana tidak susah jika ada balon besar yang menghalangi setiap aktivitas ku.


Kini aku merasakan bagaimana Mama dulu mengandungku, seperti apa susahnya bangun saat hamil besar, seperti apa susahnya mencari tempat tidur yang nyaman, dan seperti apa susahnya berjalan saat kaki bengkak.


Seketika itu bayangan wajah Mama begitu terlintas jelas di pikiranku. Sejahat dan seburuk apapun ia tetaplah ibuku. Ada rasa penyesalan saat aku menikah tanpa restu dari ibu.


Dan ada rasa takut yang bergemuruh jika aku mengingat kata cambuk dan belati.


Tapi apakah kini aku menjadi anak durhaka yang menikah tanpa seizinnya? Apakah aku akan di kutuk menjadi batu seperti kisah dongeng yang pernah aku dengar?


Dalam aku menghela nafas pagi itu. Terbesit aku ingin anakku memiliki Nenek seperti anak-anak lainnya. Tapi, kondisi kami yang tidak memungkinkan ini benar-benar membuat ku berada dalam jurang kesusahan.


Ingin kembali ke rumah, tapi itu hal yang mustahil. Sudah bahagia kini tinggal bersama Mas Regan, dan itu mengurungkan niatku untuk memberitahu perihal cucu pada Mama.


"Sayang, ayo sini sarapan." ucap Mas Regan yang telah selesai memasak Cream Corn pagi itu.


"Eh iya mas, ayo!" ucapku antusias


"Ini makanan mas buatkan khusus untuk istri tercintanya mas." seru Mas Regan seraya menyodorkan mangkuk berisi cream corn itu.


"Makasih ya mas." ucapku dengan senyum manis


Pagi itu kami sarapan dengan lahap tanpa ada perbincangan sedikit pun. Hingga sarapan selesai Mas Regan bertanya perihal melahirkan.


"Menurut perkiraan dokter besok atau lusa kamu lahiran ya?" tanya Mas Regan


"Iya Mas, tapi bisa maju bisa mundur." ucapku ambigu


"Maksudnya bisa maju mundur itu gimana?" tanya Mas Regan


"Aish maksud aku tuh bisa lebih cepet bisa lebih lambat mas." ucapku


"Ooh, bilang dong." ucap Mas Regan


"Lah.. " tukasku


"Belum ada sakit-sakitnya gitu?" tanya Mas Regan


"Belum mas." jawabku


"Oh iya iya." seru Mas Regan


"Yauda Mas aku mau ke halaman belakang dulu ya." izin ku pada Mas Regan


Namun saat aku berjalan menuju halaman aku merasakan kontraksi yang begitu hebat sakitnya. Sejenak aku mencoba untuk bersikap tenang.


"Aarrgghhh...." pekiku, saat itu aku benar-benar tidak bisa menahan sakit itu. Bahkan kini cairan ketuban itu terlihat sedikit mengalir ke betisku.

__ADS_1


"Mass.. Mas Regannn.. Arrghhh.." teriakku


"Mass.. sinii mass, tolongg!" teriakku lagi


"Ya ampun, kamu mau lahiran?" tanya Mas Regan dengan nafas tersengal-sengal


"Iya Mas, sakiiitttt." keluh ku


Seketika itu Mas Regan bergegas mengeluarkan mobil dan melaju dengan cepat ke rumah sakit X.


Sesegera mungkin aku ditangani oleh para dokter kandungan itu.


Melahirkan, satu kata yang memang acap kali dijadikan ajang perbincangan para ibu-ibu. Rasa sakit dari kontraksi itu sangat luar biasa. Dari mulai **** * yang di gunting sampai ke a**s itu memberikan kesan nyeri dan linu tersendiri.


Aku mengatur nafas dan mulai mengejan sekuat tenaga agar anakku bisa keluar dengan cepat.


Mas Regan yang berada di dekat puncak kepala ku itu ia terus menghujami keningku dengan ciuman. Tak lupa kata semangat yang terus keluar dari bibirnya itu menambah kekuatan pada tubuhku.


Oeee... Oeee.. Oeee..


Terdengar begitu nyaring tangisan dari bayi yang baru saja keluar itu.


"Selamat bu anaknya laki-laki." ucap dokter itu.


"Mas pasti anak itu tampan." ucapku


"Iya makasih sayang kamu udah berjuang." ucap Mas Regan seraya menitikkan air mata harunya.


"Iya mas." ucapku dengan tersenyum penuh kebahagiaan.


"Maaf bisa adzanin anaknya sebentar, pak?" ucap dokter itu


Mas Regan berjalan menuju bayi itu berada. Ia mengadzani dengan suara fasih dan merdu.


Setelah selesai melahirkan aku dipindahkan ke tampat rawat inap biasa.


"Mas ganteng banget ya anak kita." ucap ku


"Iya sayang, mirip papa nya.. hahah." kekeh Mas Regan


"Iya padahal aku yang hamil, gak adil banget sih." ketusku


"Itulah resikonya, kadang anak gamau ngakuin mamanyaa." ucap Mas Regan sambil tertawa


"Ish mass.." tukasku


"Vis sayang.." ucap Mas Regan sambil mengacungkan 2 jari berbentuk V


"Mas namanya siapa?" tanyaku kemudian


"Ah iya Mas lupa.. bentarr." ucap suamiku sambil menepuk jidat


"Aishhh.." pekiku


"Reyhan?" tanya Mas Regan, tentu aku menggeleng cepat saat Mas Regan ingin memberi nama anakku dengan nama kakak bengis itu.


"Hmmm.. Mahesa?" tanya Mas Regan

__ADS_1


"Iya Mas, Mahesa aja." ucapku seraya tersenyum.


Tak ada perbincangan serius setelah memberikan nama pada si kecil. Aku yang sibuk menyusui diikuti Mas Regan yang dengan khidmat melihat penampakan di depan matanya.


***


"Sial dia telah punya anak." tukas seorang wanita yang baru datang dari luar negeri itu.


"Gue bakal kasih perhitungan. Cepat atau lambat rumah tangga kalian gue pastikan hancur." ucapnya lagi dengan mengepalkan kedua tangannya.


Terlihat dia menelepon salah satu kontak yang ada si HP nya.


📞 Hallo


📞 ....


📞 Gue tunggu lo di caffe X


📞 ....


"Kita liat seberapa kuat rumah tangga kalian.. hahahahaa." Ucap wanita itu.


***


Kembali ketiga sejoli yang berada di sebuah kantin.


Fino ia terus saja memikirkan nama yang ada di caffe itu.


"Fin mending lo makan dah!" ucap Sony


"Rob gue masih penasaran deh sama pemilik caffe itu." ucap Fino


"Huftt.. " hela Sony saat ucapannya diacuhkan


"Eh fin, lo selidiki aja ndiri lah gue mah ogah!" ucap Robi


"Ba**sat lo!" umpat Fino


"Emang segimana pentingnya si sosok Nara buat lo anjay?" tanya Sony


"Gue cuma penasaran gak lebih be*o!" tukas Fino


"Mendingan lo mup on dah, banyak tu cewek cakep disini." ucap Robi


"Gue bilang gue penasaran se*an!" ketus Fino seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Kabur dong dia!" ucap Sony


"Anjay marah beneran." ucap Robi


"Mending selidikin ajalah gue juga kepo." ucap Sony


"Duh puyeng pala babang." keluh Robi


"Ayolah rob, kasian juga si kulkas itu." ajak Sony


"Ya ya ya dah." tukas Robi.

__ADS_1


Mereka bertiga pun berencana untuk menyelidiki siapa pemilik caffe R & N itu.


__ADS_2