
Akhir pekan tiba, tapi Lea justru kini sudah bersiap dengan semua perlengkapan nya untuk turnamen hari ini.
Ya, hari ini turnamen basket antar sekolah itu di selenggarakan di sekolah Lea.
" Semoga kamu menang nak." Ujar Livy.
" Amen.." Ujar Hae In.
" Mama dan kakek sungguh akan datang ke sana? Itu hanya turnamen antar sekolah, bukan lomba nasional." Ujar Lea.
" Tetap saja mama dan kakek harus datang ke sana. Ini adalah pertama kalinya kamu mau ikut sesuatu seperti ini. Mama senang sekali rasanya, melihat kamu memiliki banyak teman." Ujar Livy.
" Ayolah, mama terlalu berlebihan." Ujar Lea.
" Mama mu benar nak, lagi pula kakek juga ingin mengabadikan momen penting itu. Momen dimana cucu kesayangan kakek ini bermain basket." Ujar Hae In antusias.
Lea hanya bisa menepuk keningnya, Livy dan Hae In begitu antusias sejak mengetahui Lea ikut serta dalam kelompok basket. Apa lagi Lea tidak pernah mengikuti turnamen sebelumnya.
" Ya sudah, ayo berangkat. Tapi Lea berangkat sendiri, Lea tisak mau satu sekolah heboh nanti." Ujar Lea.
Livy dan Hae In mengangguk antusias. Dan tak lama, Richard sampai dai kediaman Lea.
" Lea pergi dulu." Ujar Lea.
" Mama mu ikut menonton?" Tanya Lea pada Richard.
" Iya, mama akan datang dengan supir ke sekolah nanti." Ujar Richard.
" Padahal ini hanya turnamen sekolah, mama dan kakek ku juga sangat antusias." Ujar Lea, dan Richard terkekeh.
" Mereka sangat senang dengan kemajuanmu, Lea. Ayo kota jalan, kita masih harus latihan berkumpul sebentar sebelum tanding." Ujar Richard dan Lea mengangguk.
Lea naik ke atas motor Richard dan keduanya pun melesat pergi dari sana. Tak lama Lea dan Richard sampai di sekolah, ramai.. satu kata yang bisa terucap.
Sekolah itu di datangi banyak anak lain dari sekolah lain, banyak wajah wajah baru yang terlihat di sana.
" Banyaknya manusia." Gumam Lea sambil terkejut.
Richard terkekeh mendengar Lea bergumam demikian.
" Nama nya turnamen, Lea." Ujar Richard.
Richard menggandeng tangan Lea dan pergi masuk ke dalam sekolah. Dari jauh ada sepasang mata yang menatap tak suka pada keduanya. Alika.. Dia datang ke sekolah itu sebagai peserta turnamen dari sekolah lain.
' Harusnya aku yang berada di dekat prince, Lea s*alan! Dia sudah membuat hidupku hancur dan kehilangan prince ku. Papa bahkan harus mendekam di penjara gara gara dia.' Batin Alika mendendam.
__ADS_1
" Kapten, Lea.. kalian sudah datang. Pelatih meminta kita berkumpul." Ujar Juno.
" Riri, kamu di sini?" Tanya Lea, ketika melihat Riri.
" Ehe, iya.. Aku ijin dengan tante Livy untuk menonton pertandingan turnamenmu." Ujar Riri.
" Ya sudah, ayo." Ujar Lea merangkul Riri.
Riri sedikit melirik kearah juno sebelum akhirnya pergi dengan Lea.
" Kalian sungguh tidak ada apa apa?" Tanya Richard pada Juno, sambil berjalan menuju ke tempat pelatihan mereka.
" Siapa?" Tanya Juno.
" Kau dan Riri." Ujar Richard.
" Apa apa yang bagaimana?? " Ujar Juno lagi.
" Ayolah, kau tahu maksudku apa." Ujar Richard.
" Tidak ada.. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Riri." Ujar Juno.
" Tapi kamu sadar dia suka kamu, kan?" Ujar Richard.
Dan rupanya hal itu di dengar oleh Riri yang kebetulan berlari kembali untuk mencari Juno, sementara Lea sudah bergabung dengan tim TIGER yang lain.
Riri meremas tali tas nya, sambil berkaca kaca mendengar bahwa Juno menganggapnya seperti lalat.
" Apa maksudmu dengan mengatakan dis seperti lalat, bukankah kau sendiri sering menerima tawaran darinya?" Ujar Richard.
" Ada seseorang yang bodoh menawari aku bantuan dengan suka rela, kenapa tidak kita terima? Toh kita tidak rugi." Ujar Juno.
Riri langsung meneteskan air matanya, ia pun langsung berlari dari sana. Tujuannya datang ke turnamen itu adalah untuk menonton Juno langsung. Riri jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Juno.
" Meskipun aku tahu kamu playboy, tapi tolong jangan menjadi laki laki bren*sek dengan menggantung perasaan orang. Jika tidak menyukainya, setidakmya jangan buat dia berharap banyak padamu." Ujar Richard.
" Sebagai teman, aku tidak mendukung sikapmu yang seperti ini. Dan aku tidak mau sampai Lea tahu hal ini dan kembali menilai semua laki laki itu bren*sek." Ujar Richard lagi lalu pergi dari sana.
Juno menghentikan langkahnya dan melirik kearah dimana tadi Riri berdiri. Juno tahu Riri ada di sana, itu sebabnya dia berkata demikian.
' Jadilah gadis yang memiliki nilai, setidaknya buat agar laki laki berjuang demimu, bukan sebaliknya. Kamu gadis yang baik Ri, dan aku bukan orang yang pantas kamu sukai.' Batin Juno.
Awalnya Juno tidak tahu bahwa Riri menyukainya, dia bersikap biasa saja pada Riri karena Lea. Juno masih mengingat pesan Lea yang menyuruhnya menjaga Riri selayaknya teman.
Hingga saat Juno tidak sengaja membaca salah satu buku catatan Riri yang tertinggal di laci meja sekolah, Juno baru tahu Riri menyukainya. Riri bahkan seperti orang yang terobsesi padanya dengan memulis nama Juno di sana.
__ADS_1
Juno pun semakin bingung, ia juga tidak mau memberi harapan pada Riri tapi dia juga tidak bisa mengecewakan Lea karena Riri adalah teman Lea. Jadi dia hanya bisa berpura pura tidak tahu.
Tapi semakin lama, Riri semakin sering berada di sekitarnya, dan hal itu membuat Juno tidak nyaman. Bukan tidak nyaman yang seperti itu, tetapi lebih seperti dia takut kalau kalau Riri memasrahkan dirinya seperti gadis gadis yang lain.
Juno selalu mencari kesempatan untuk membuat Riri mengerti, perempuan itu harus di perjuangkan, bukan berjuang demi laki laki. Sampai akhirnya tiba hari ini, Juno pun mendapatkan kesempatan.
Dia menyindir Riri secara halus, meskipun terdengar sangat kasar mungkin bagi Riri.
Semua orang sudah berkumpul, setelah berkumpul sebentar untuk mengatur strategindan berdoa bersama, kini turnamen resmi di mulai.
Hae In dan Livy juga sudah ada di sana, mereka duduk di kursi penonton bersama Fitty. Mereka terlihat sangat antusias, bahkan Hae In menyuruh seorang foto grapher untuk mengabadikan momen momen Lea.
" Woah.. Lea benar benar gadis luar biasa, cucuku hebat." Ujar Hae In dengan tawa khas nya.
Pertandingan di mulai dan selama pertandingan itu tim TIGER menang berturut turut dan memasuki semi final.
Semua orang saling berpelukan untuk merayakan kemenanagan tim TIGER.
" TIGER!! TIGER!! TIGER!! " Teriak para suporter TIGER.
Richard mengulurkan tinju tos kearah Lea dan Lea menyambut tinju tos itu. Kemudian Richard merentangkan tangan nya dengan senyum lebar, tanda dia meminta pelukan dari Lea.
Awalnya Lea sedikit enggan menyambut pelukan Richard apalaagi dengan kondisi berkeringat, tetapi kemudian dia tersenyum dan menyambut pelukan Richard.
" Kita masuk semi final." Ujar Richard.
" Selamat." Ujar Lea.
Juno datang ikut memeluk Lea dan Richard, lalu di susul yang lain nya sebagai pelukan tanda keberhasilan mereka. Richard langsung takut kalau kalau Lea akan marah dan memberontak, tapi rupanya tidak.
Lea tersenyum dan mengangguk, Richard ikut tersenyum dan mereka semua berpelukan dengan gembira, kecuali Kyle. Kyle menghindar meskipun satu tim dengan Lea dan Richard, karena Kyle menganggap Richard sebagai rivalnya.
" Ayah, Lea akhirnya membaur dengan orang orang." Ujar Livy dengan tangis haru nya.
" Akhirnya.." Gumam Hae In.
" Lea pasti bisa sembuh, Vy.. Jangan takut. Tapi Sungguh sebuah keajaiban, Lea bisa berdamai dengan dirinya. Semoga dia bisa melupakan trauma di hatinya yang membuat dirinya tertutup." Ujar Fitty .
Athalea Adeline, belajar banyak hal dari sosok Richard Xander Demitrius. Kesabaran, kasih sayang, toleransi dan mengikhlaskan. Satu persatu belenggu yang menggembok diri Lea, mulai lepas.
Mungkin belum semua gembok di hati Lea terbuka, tetapi setidaknya Lea sudah banyak berubah.. Luka luka di hati Lea, sudah sedikit demi sedikit tertutup dengan hal hal baru yang Richard berikan.
Lea tidak lagi menjadi monoton seperti dulu, senyum cerah sudah mulai terbit sedikit demi sedikit dari bibir Lea.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1