
Pagi itu, Mahesa sedang menikmati MPASI yang Nara buat sepenuh hati. Namun, saat mengingat kejadian tadi malam membuat perasaannya kesal serta dongkol ketika mengetahui siapa manusia di balik mobil jeep itu.
"Dasar bocah tengil, bisa-bisanya ngerjain gue!" tukas Nara.
"ma.. maa.." ucap Mahesa, saat melihat makannya sudah di obrak abrik habis hingga berceceran di lantai.
"Eh, iya sayang.. Aduhh, bentar ya mama buatin yang baru." ucap Nara.
Mahesa pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat tingkah aneh dari mamanya itu.
Beberapa menit kemudian, ia kembali ke hadapan anaknya dengan mangkuk kecil di tangannya. Dengan sangat telaten, ia memberikan suapan demi suapan ke mulut kecil Mahesa. Ia bangga jika anaknya itu sangat menyukai makanan pendamping yang ia buat sendiri.
"maa.." ucap Mahesa.
"Iya, kenapa sayang?" tanya Nara.
"Papa, mana ma?" tanya Mahesa.
"Eee-- papa lagi kerja! Ah iya kerja sayang." ucap Nara.
"Ooo.. " ucap Mahesa dengan terus mengunyah bubur pendamping itu.
'Esa, mama akan ceritakan semua kejadian yang mama alami. Tapi nanti, menunggu waktu yang tepat.' batin Nara.
"Ma, mau mobil baluuu.." ucap Mahesa.
"Em kok tiba-tiba Esa mau mobil baru? Hemm?" tanya Nara.
"Mobil yang kemalin lucak, maa.." ucap Mahesa.
"Emang Esa mau mobil yang kayak gimana?" tanya Nara.
"Lemot.." ucap Mahesa.
"Lemot?" tanya Nara.
"Iyaa.. yang ada lemotnya bial Esa gak capek bawa mobil." seru Mahesa.
"Ooo yang ada remotnya, iya nanti kita beli yaa.." ucap Nara.
Nara yang sangat gemas dengan tingkah bocah di depannya pun langsung mencium setiap inchi wajah anaknya itu. Mahesa yang geli dengan tingkah laku mamanya pun hanya bisa tertawa dengan kencang. Tak bisa di pungkiri, seorang ibu mana yang tidak bahagia jika melihat anaknya tertawa lepas seperti itu?
***
Sementara itu, para komplotan keluarga Adhitama kini tengah mengintai satu per satu target yang akan ia musnahkan.
Kini mereka tengah memasuki rumah Bu Uti, untuk memastikan dengan siapa Nara di rumah. Tak hanya memastikan, tapi mereka juga mengancam agar wanita paruh baya itu tidak menyebarkan gosip apa pun pada siapa pun.
brukkkk
Pintu rumah Bu Uti di tendang dengan sangat kencang. Sontak seorang wanita yang umurnya berkisar antara 45-47 itu melonjak kaget. Terutama saat melihat dua lelaki berbaju hitam dengan perawakan hampir mirip seperti Dedi Corbuzier.
"S-siapa kalian?" tanya Bu Uti dengan menahan rasa takutnya.
__ADS_1
"Tenang, kita berdua gak bakal sakitin ibu kalo-" ucap salah satu lelaki itu terpotong Bu Uti.
"Kalo apa?" tanya Bu Uti.
"Kalo lo mau bantu kita buat jebak si Nara." ucap Badrun.
"H-ha? Enggak saya gak mau." tukas Bu Uti.
"Hemm.." ucap Jaka seraya memainkan belati di tangannya.
"Ng-ngapain kamu?" tanya Bu Uti.
"Haha.. Kalo kamu gak mau maka kamu harus mati." ucap Jaka.
"Hahhahaaa.." kompak Jaka dan Badrun.
Tentu saja Bu Uti masih sangat menyayangi nyawanya itu. Hingga dengan terpaksa ia menerima tawaran kerja sama itu.
"Apa rencana kalian?" tanya Bu Uti.
"........... " cerocos Badrun.
"Baik." ucap Bu Uti.
'Nara, maafin ibu. Maaf ibu harus lakuin ini semua sama kamu.' batin Bu Uti.
***
Ketiga lelaki yang terkenalnya mengalahi Jefri Nichole itu kini telah berada di kampus, tepatnya sedang menikmati lunch di kantin elitnya.
"Eh ayang.. Lagi makan apa?" tanya Anita.
"Ayang ayang mata lo kek soang apa.." ketus Robi.
"Ih daddy Robi cemburu yaa?" genit Anita.
"Daddy daddy kepala lu botak." sengit Sony.
"Oh my sugar boy, jangan pada cemburu dong. Nanti aku juga sapa kalian berdua kok." ucap Anita dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Ih najis ya gue ketemu orang tapi mukanya kayak ikan buntal." ketus Robi.
"Hah apa? Mau tidur sebantal? Ayoo sayang.. Nanti malem aku gak ada client kok. Kalo perlu aku juga bisa loh layanin kalian bertiga." ucap Anita.
"Dih Najis!" kompak mereka bertiga.
"Hahahahaa..." gelak tawa di kantin terdengar dengan nyaring saat itu.
"Kegatelan banget sih jadi cewek." ucap salah satu mahasiswi di kampus itu.
"Iya nih gatau malu." ucap mahasiswa yang lain.
"Huuuuu...." teriak orang-orang kantin siang itu.
__ADS_1
Ia pun berlari sekeras mungkin karena menanggung malu.
Lain halnya dengan kantin itu, mereka kembali menikmati makan siang dengan khidmat setelah kejadian itu. Bahkan, seperti tidak terjadi apa-apa, semuanya hanya fokus pada makanan.
***
Sementara itu, Nara kini tengah mengajak Mahesa bermain di taman dekat rumahnya. Tak lupa ia mengajak Bu Uti untuk teman ngobrolnya jika nanti Mahesa sibuk bermain dengan teman barunya. Tanpa Nara sadari dua lelaki itu kini tengah berkacak pinggang serta menampilkan seringai iblisnya saat melihat target betul-betul ada di hadapannya.
"Dikit lagi drun." ucap Jaki.
"Iya jak, dapet duit kita pesta.." ucap Badrun.
"Gak sabar deh pengen ketemu si Asri." ucap Jaki.
"Gue juga gak sabar mau nganu sama si Nia." ucap Badrun.
"Nganu mulu pikiran lo!" tukas Jaki.
"Iya lah, ngapain lagi. Surga dunia bro! Di akherat kita belum tentu bisa kayak ginii," ucap Badrun.
"Serah lo!" ketus Jaki.
"Yayayaa.." ucap Badrun.
Sementara di taman itu, terlihat Mahesa tengah bahagia bermain dengan mobil barunya. Iyaap, sebelum ke taman Nara sengaja mengajak Mahesa untuk membeli mainan barunya itu. Senyum sumringah terus saja menghiasi wajah tampan Mahesa. Bahkan, senyum itu tidak luntur sedikit pun.
Hal itu membuat Bu Uti yang akan menjalankan misi mengurungkan niatnya. Ia tak tega jika anak kecil yang sudah ia anggap sebagai cucu sendiri itu harus ia serahkan pada begundal jahat itu.
"Kenapa Bu??" tanya Nara, saat melihat wanita itu sedang melamun.
"E-eh nggak, ibu nggak papa kok." ucap Bu Uti.
"Kok ngelamun Bu? Kalo ada masalah cerita aja sama Nara Bu, gak papa kok." ucap Nara.
"Ah enggak, ibu cuma seneng aja liat Esa.." ucap Bu Uti.
"Oohh, iya Bu aku juga seneeenggg banget bisa ajak main Esa.." ucap Nara dengan sumringah.
'Maafkan ibu Nara, ibu harus mengorbankan kalian agar ibu bisa selamat.' batin Bu Uti.
"Oh iya kamu gak ke caffe ra?" tanya Bu Uti.
"Enggak, Bu.." ucap Nara.
"Kenapa? Esa biar sama ibu aja," ucap Bu Uti.
"Aku lagi cuti, bu." ucap Nara.
"Terus yang urus caffe siapa, ra?" tanya Bu Uti.
'Tumben Bu Uti care masalah caffe,' batin Nara.
"Eee, ada Egi kok, bu." ucap Nara.
__ADS_1
'Sial duo gundul itu terus saja merhatiin ke sini.' batin Bu Uti saat melihat dua lelaki sangar di dekat air pancur.