
Pagi berganti siang, terlihat wanita cantik di kamar mewah itu tengah mengepalkan tangannya saat tahu Regan pergi ke caffe. Ia benar - benar menginginkan Regan untuk tetap berada di rumah mewahnya.
Anna begitu mencintai Regan, bahkan sangat mencintainya. Namun, apakah cinta itu murni yang datang dari hati? Atau hanya sekedar obsesi untuk melancarkan ambisi?
Entahlah, Anna pun bingung dengan pikirannya. Regan memang lelaki pertama yang ia memberikannya kebahagiaan namun orang pertama juga lah yang memberikan kehancuran. Kelakuan bejat papa Regan yang membuatnya terus merasa frustasi. Mama Anna ia telah tiada, dan kini ia tinggal sebatang kara di hamparan luasnya dunia.
Namun, siapa sangka di balik kata 'sebatang kara' itu ia memiliki misi yang sangat besar untuk merusak kebahagiaan orang lain?
Benaknya selalu berkata, jika aku tidak bahagia, maka orang lain pun tidak berhak untuk bahagia. Itulah Anna, yang penuh dengan dendam kesumat saat melihat orang lain tersenyum cerah.
Bahkan, salah satu kasus terbesarnya yaitu merusak rumah tangga orang lain. Anna benar-benar tidak mau melihat rumah tangga orang lain adem ayem. Ia sangat menginginkan kehancuran di setiap rumah tangga orang lain. Bahkan, saat di Seoul ia tengah di cap sebagai pelakor.
"Argggh sialan!"
"Kenapa lo keluar saat gue belum bangun, gan?"
"Liat aja apa yang bakal gue lakuin nanti." ucap Anna sambil tersenyum devil.
Terlihat Anna sedang menikmati corn rice yang sudah dingin itu. Meskipun sudah tidak hangat lagi, ia tetap menyantapnya. Apapun yang berhubungan dengan Regan ia akan menyukainya.
***
Sementara di caffe, Regan yang berencana untuk pulang pun ia mengurungkan niatnya setelah menerima telepon itu.
Bahkan, kini caffe nya sangat ramai pengunjung. Mana mungkin Regan bisa meninggalkan caffe itu. Ia takut jika nantinya Egi atau yang bertanggung jawab atas caffe nya itu kewalahan.
"Hadeh, mau pulang aja susah banget gue."
"Dahlah nanti malem aja, tapi gue harus cari alesan ke Anna biar gak curiga." monolog Regan.
Regan pun kembali memasuki area caffe itu dan mulai mencatat pesanan demi pesanan dari para pelanggan.
***
Tak perlu memakan waktu yang lama, ketiga sejoli itu sudah sampai di tepi danau setelah pulang dari caffe. Sejenak mereka ingin memanjakan mata serta merefresh otak agar lebih tenang dalam menyikapi sesuatu.
Fino yang sibuk memikirkan Nara ditambah Sony yang terus saja memikirkan jalan keluar atas permasalahan rumit itu membuat Robi geram melihat tingkah kedua sahabatnya itu memandang kosong ke arah danau.
"Woy lo pada!" ucap Robi, dengan nada tinggi
"Anjirr. Ngagetin aja lo!" tukas Fino
"Eh anjay! huhh.. kenapa lo rob?" tanya Sony
"Lah lo berdua yang kenapa? Perasaan gue liat liat lo pada sibuk mikirin sesuatu. Lagi pada mikirin apa sih?" tanya Robi kesal
"Gue pengen banget ketemu Nara." ucap Fino
"What? Setelah lo tau dia udah nikah bahkan gendong anak lo masih mau berharap sama dia?" tanya Robi
"Kan lo sendiri yang bilang, siapa tau itu anak tetangga." ucap Fino santai
"Btw Fin, kalo misalkan ini mah ya misalkan bang Regan selingkuhin Nara apa yang bakal lo lakuin?" tanya Sony pada Fino
"Action." ucap Fino santai
__ADS_1
"Action? maksud lo?" tanya Sony, agak sedikit was-was
"Meskipun dia abang lo, gue gak segen segen bikin perhitungan." ucap Fino dengan senyum miring.
Terlihat Sony meneguk salivanya susah. Bahkan kini, ia memantapkan hatinya agar tidak memberi tahu tentang apa yang ia dengar di ruangan itu.
"Lo kenapa tiba-tiba tanya begitu dah?" tanya Robi
"Ya gue kan cuma nanya aja Rob." jawab Sony
Terlihat Robi menyipitkan matanya saat mendengar ucapan Sony. Robi yakin jika sahabatnya itu tengah berbohong.
"Lo yakin gak ada yang di sembunyiin dari kita?" tanya Robi
Fino yang tadinya sibuk memandangi danau pun mulai mendengar obrolan mereka berdua. Bahkan kini Sony tampak bingung bagaimana caranya membuat alasan untuk menjawab pertanyaan dari Robi.
"L-lo ke-kenapa t-tanya gue kek gitu si?" tanya Sony, gugup
"Gue mah cuma nanya." ucap Robi
"Awas aja kalo sampe ada sesuatu yang lo sembunyiin dari gue Son." ucap Fino
"Aelah lo berdua tu terlalu nyimpen curiga sama gue." tukas Sony yang masih gugup
"Bukan gitu, gue cuma mastiin doang son." ucap Robi
"Iya gue paham, tapi tu mata gak usah gitu juga kali" ucap Sony
"Eh btw Fin, si Anita masih deketin lo gak?" tanya Sony , ia berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Hem." angguk Sony yang di balas gelak tawa oleh Robi.
"Berisik lo dih! masih deketin gak Fin?" tanya Sony
"Nih ya biar gue kasih tau si Fino mana mau deket deketan sama cewek apalagi tu model cewek kek cabe bener." ucap Robi sambil menahan tawanya
"Iya sih.. " ucap Sony sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.
Setelah itu, mereka semua sibuk dengan pikirannya masing-masing.
***
Sementara di kediaman Nara, ia kini tengah memberikan MPASI pada bayi gemasnya itu.
"Aaaaa ayo makan sayang biar tambah sehat." ucap Nara
"Enakkan buatan mama?" tanya Nara
"Aaaaa lagiii.. aaaaaa." ucap Nara sambil menyuapkan sesendok demi sesendok makanan di mangkuk kecil itu.
Mahesa yang mendapatkan perlakuan manis dari mamanya itu, ia hanya bisa tertawa bahagia.
Nara mungkin untuk saat ini masih belum bisa merawat tubuhnya. Tapi, setidaknya kali ini Mahesa tidak terlalu rewel sehingga ia bisa membersihkan rumah, serta makan dan mandi dengan sedikit rasa tenang.
Waktu begitu cepat bergulir, Nara yang berniat membawa bermain anaknya itu ia urungkan setelah melihat kapal pecah di wastafel. Kini ia tengah membersihkan piring serta gelas itu dengan santai tanpa harus ada yang piring yang pecah seperti sedia kala saat Mahesa masih rewel.
__ADS_1
Dia bersenandung kecil seraya merapikan perabotan itu.
Merasa cacing cacing di perut nya harus diisi, Nara mencentongkan nasi dengan lauk pauk yang ia masak. Karena Regan jarang pulang kini ia memasak hanya untuk satu orang saja.
Siang berganti sore, sore berganti malam. Nara yang telah menyelesaikn semua ritualnya itu menonton televisi. Tepat jam 9 malam matanya sudah tidak bersahabat sehingga ia memutuskan untuk tertidur. Namun, saat ia hendak melenggang ke kamar tiba-tiba saja pintu utama rumah itu ada yang mengetuk.
tokk tokk tokk
"Hah siapa yang bertamu malem malem gini?" monolog Nara, meski begitu ia berlenggang menuju pintu rumah itu.
ceklek
Nara mengucek ngucek matanya saat melihat Regan berada di hadapannya.
"Selamat malam, istri mas." ucap Regan manis seraya mengecup kening Nara
"Eh ini aku gak mimpi?" tanya Nara
"Engga dong, sini peluk mas kangen." ucap Regan, sontak langsung saja Nara berhambur memeluk suaminya itu.
"Umm.. kangen banget ya? hm?" tanya Regan
"Iya mas kangen bangett." ucap Nara yang masih berada di pelukannya.
"Masuk dulu yuk, nanti peluk pelukannya di dalam lagi." ucap Regan sambil terkekeh melihat Nara yang hanya menjawab dengan anggukan antusias.
"Mas udah makan?" tanya Nara
"Udah, tadi mas makan di caffe sayang." ucap Regan
"Hmm iyaa deh bagus. Soalnya aku gak ada makanan." ucap Nara sambil tersenyum
"Kamu udah makan?" tanya Regan
"Udah mas. Tadinya aku mau tidur tapi ada yang ketuk pintu ." ucap Nara
"Mas ganggu dong ya?" tanya Regan
"Engga dong sayang masa ganggu si." ucap Nara
"Emm mas kang-" ucapan Regan terpotong saat bunyi HP nya berdering.
Trining Triningg Triningggg
Terlihat di layar ponsel itu nama Anna Sayang♡ tertera dengan jelasnya. Nara yang melihat gelagat aneh pada suaminya itu ia mengerutkan keningnya.
"Kenapa gak di angkat mas?" tanya Nara
"Bentarr mas angkat dulu ya?" pamit Regan
"Disini aja mas." tukas Nara, sontak hal itu membuat matanya membulat
"Halo Gi. Iya besok seperti biasa saya datang ke caffe jam 10 ya." ucap Regan singkat sambil menekan tombol akhiri pada layar itu.
Tentu saja Nara yang tadinya curiga kini ia menghembuskan nafas lega saat mendengar suaminya mengangkat telepon.
__ADS_1
Selesai drama telepon di ruang tengah itu, kini mereka berdua masuk ke kamarnya. Dan pada malam itu hanya mereka dan Tuhan lah yang mengetahui kejadian selanjutnya pada saat berada di kamar.