TRAUMA

TRAUMA
Chapter 21 - Dua Garis Biru


__ADS_3

Rumah Sakit


Nesha kini tengah tersenyum bahagia melihat Maria membuka matanya. Begitupun Ami, Tomi, dan Adnan mereka pun turut bahagia melihat Maria kini sudah sadar dari tidur panjangnya.


"Mama.. Nesha kangen bangeett sama mama." ucap Nesha


"Iya mama juga kangen, sayang." ucap Maria


"Mar, lama banget sih bangunnya." tukas Ami dengan nada becanda


"Iya nih, kita semua pada nungguin tau. Apalagi Nesha siang malem deket brangkar terus." ucap Tomi dengan kekehannya


"Iyaa maaf yaa, aku nyusahin kalian." ucap Maria


"Eh itu Adnan yah?" tanya Maria


"Hehe iyaa tan, gimana udah baikan?" ucap Adnan


"Alhamdulillah udah agak enakan." ucap Maria


"Iya alhamdulillah tan." ucap Adnan


Mereka terlihat bahagia saat Maria membuka matanya kembali.


Bahkan, Nesha pun kini kembali ceria dengan sadarnya Maria.


***


hoekk hoekk hoekk


Aku terus saja memuntahkan cairan di setiap waktu terutama pada pagi hari. Bahkan sudah beberapa hari ini Mas Regan menyerahkan caffe kami kepada orang kepercayaan Mas Regan, yaitu Kevin.


"Sayang kamu kok lama banget sih masuk anginnya?" tanya Mas Regan


"Duh gatau mas." jawabku


"Hmm gimana kalo kita ke dokter aja? hmm?" tanya Mas Regan


"Ah cuma masuk angin kok ke dokter." tukasku


"Iya biar cepet sembuh loh yang." ucap Mas Regan


"Hm.. Mas sini deh." Ucapku


Mas Regan pun mendekatkan tubuhnya padaku. Aku tidak tahu apa yang terjadi, saat itu aku sangat menyukai aroma ketiak suamiku. Bahkan aku sering memainkan bulu-bulu ketiak itu, tak jarang aku menganyam bulu ketiak suamiku. Sontak hal itu membuat Mas Regan kebingungan dengan tingkah anehku ini.


"Sayangg geli ihh, hahaaa.." ucap Mas Regan yang kala itu aku sedang mengendus-ngendus ketiaknya.


"Diem, mas!" ketusku


"Emppp.. kalo mau ngendus mah ini pipi yang." ucapnya


"Tapi aku mau nya ketiak." ucapku dengan mata berkaca-kaca


"Ya udah iyaa , dua ketiak ini Mas persembahkan untukmu seorang." ucap Mas Regan.


Mataku pun berbinar mendengar ucapannya, hingga aku terus menciumi ketiak suamiku saat itu.


Tak lama, aku merasa bosan dengan ketiak Mas Regan.


Suamiku, yang melihat mataku berkaca-kaca ia mengernyit heran.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Mas Regan


"Bosen mas." ucapku


"Hah bosen, maksudnya?" tanya Mas Regan


"Ketiaknya gitu-gitu aja, aku bosen.. hikss.." ucapku dengan terisak


"Ya ampun sayang, emangnya sejak kapan ketiak berubah bentuk?" tanya Mas Regan

__ADS_1


"Mass.. " lirih ku


"Iyaa kenapa hem?" tanya Mas Regan


"Ayok" ajakku


"Kemana?" tanya Mas Regan, kebingungan


"Ganti ketiak." ucapku


"Hah? Maksudnya??" tanya Mas Regan


"Hikss Mas Regan gak sayang akuu lagiiii, huwaaaaaaa..." tangisku pecah kala itu.


Saat itu, aku juga benar-benar tidak mengerti dengan kondisiku. Dari yang sering muntah, minta Mas Regan joget, bahkan kini aku memintanya untuk mengganti ketiak.


"Loh bukan gitu sayang, tapi mana ada orang yang jual beli ketek." ucap Mas Regan


"Hikss.. hikss.. Ya udah aku mau cendol pake cokelat!" ucapku


"Whatt??" respon Mas Regan sangat kaget mendengar permintaanku.


"Tuh kann, Mas gak sayang akuu. hiksss.. hiksss.." ucapku


"Ah iyaa bentar Mas belikan, oke?" tanya Mas Regan


"Bener ya Mas?" ucapku riang


"Iyaa, mau ikut?" tanya Mas Regan


"Gak mau." ketusku


"Ya udah Mas pergi dulu ya." ucap Mas Regan kemudian.


Saat Mas Regan pergi aku pun mencoba terlelap di atas kasur kesayanganku.


***


Naasnya yang ia temui hanyalah tukang cendol biasa dengan rasa original.


15 menit telah berlalu ia belum juga menemukan tukang cendol rasa cokelat itu.


Merasa dirinya lelah, ia pun berhenti di tukang cendol pinggir jalan.


"Maaf Pak, ada cendol yang isinya campur cokelat gak?" tanya Regan


"Aduh, mana ada cendol yang begituan mas. Aneh-aneh aja!" tukas tukang cendol itu.


"Masa gak ada sih pak?" tanya Regan kembali


"Gak ada mas. Memang buat apa?" tanya tukang cendol


"Buat istri saya, pak." ucap Mas Regan


Mendengar kata istri, tukang cendol itu pun berbinar. Sejenak ia seperti memiliki ide cemerlang untuk membuat cendol campur cokelat itu.


"Wah istrinya ngidam ya mas?" tanya tukang cendol


"Ah enggak dia cuma masuk angin aja, pak." ucap Mas Regan


"Mosok masuk angin pengen yang aneh-aneh to mas?" tanya tukang cendol


"Hmm , jadi gimana ada gak cendolnya?" tanya Mas Regan


"Wokee bentar-bentar mas." ucap tukang cendol itu


Terlihat tukang cendol itu pergi ke sebuah minimarket. Regan yang di tinggal tukang cendol itu hanya bisa mendumel di tempat duduknya.


"Aish tu si bapak kenapa malah pergi, etdah!"


"Heleh tau gini, gue pergi aja!"

__ADS_1


"Mana lama banget anjirrr."


Begitulah ucapan yang keluar dari mulut Regan.


Tak lama terlihat wajah bapak penjual cendol itu sangat sumringah.


"Darimana sih pak?" tanya Regan


"Ini beli cokelat, mas." ucap tukang cendol seraya melihatkan kantung plastik yang berisi beberapa cokelat


"Buat?" tanya Regan


"Di masukin ke cendol lah." tukas bapak itu


"Oh ya udah cepet pak." ketus Regan


Kemudian bapak itu meracik satu per satu bahan untuk membuat cendol dengan lihainya. Tak lupa ia memberikan es batu sebagai penyegar. Setelah es batu masuk ia pun memasukan potongan cokelat ke dalam cendol itu.


Regan yang melihat bapak itu tampak acuh, kini ia lelah sehingga ia tak ingin banyak berbicara kepada siapapun.


Setelah membayar cendol itu, Regan pergi ke apotik untuk membeli tespeck atas saran dari penjual cendol itu.


Setelah membeli cendol dan tespeck ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah sederhananya itu. Hingga terlihat lah punggung seorang wanita cantik yang sedang tertidur.


Namun, saat Regan ingin beranjak pergi ke kamar mandi tiba-tiba wanita itu bersuara memanggil namanya.


"Mas.." lirih Nara


"Eh, sayang udah bangun?" tanya Regan


"Iya mas." ucapnya.


"Sayang ini cendolnya." ucap Mas Regan


"Aku udah gak mau. Sekarang mau martabak rasa rendang." ucapnya


"Hah? Mana ada sayang." keluh Regan


Bagaimana Regan tidak mengeluh? tadi saja mencari tukang cendol cokelat membuatnya kehilangan banyak energi. Apalagi ini harus mencari martabak rasa rendang di siang bolong pula.


"Ayolah Mas.. " ucap Nara


"O-oke, tapi kamu ikut Mas dulu, ayok." ucap Regan


"Kemana?" tanya Nara


"Udah ayok." ucap Regan


Regan membawa Nara ke kamar mandi. Disana Regan menyuruh istrinya untuk mengeluarkan urine.


Nara yang bingung dengan perlakuan Regan pun ia hanya menurut.


Setelah urine keluar, Regan segera memasukan sebuah tespeck pada cairan itu.


Tak perlu menunggu lama, tespeck itu mengeluarkan hasil yang mengejutkan.


"Benar kata bapak itu." ucap Regan


"Apa mas?" tanya Nara


"Sayang, kamu liat iniii.." ucap Regan antusias


"Tespeck?" tanya Nara


"Iya liat garisnya." ucap Regan


"Dua garis biru?" ucap Nara sumringah


"Iya sayang, dua garis biruu." seru Regan tak kalah bahagia.


Mereka kini tengah berpelukan di pinggir ranjang. Mereka sangat bahagia karena saat-saat yang mereka tunggu kini telah tiba. yaitu hadirnya si kecil dalam kehidupan mereka.

__ADS_1


Bahkan, kini Regan sangat memanjakan istrinya itu. Ia tak lagi memikirkan urusan caffe, Regan telah menyerahkan kepercayaan sepenuhnya pada Kevin.


__ADS_2