
Fino dan Robi kini tengah mengikuti kemana arah Nara melajukan perjalannya bersama supir taxi itu. Mereka sempat mendengar ucapan Nara yang tengah frustasi karena tidak ada laporan mengenai Caffe cabangnya. Namun, saat Robi membuka media sosial nya terlihat di sana akun yang bernama Regan Calvin Dirgantara itu memposting slogan berupa jual beli.
"Fin, ini Caffe cabangnya bukan sih??" tanya Robi pada Fino.
"Njir seriusan ini di jual?" tanya Fino.
"Gue tanya malah balik nanya, gimana sih." tukas Robi. Namun, tampak disana Fino mendengus saat mendengar perkataan Robi.
"Kita liat aja nanti." tukas Fino.
"Hilih." tukas Robi.
Namun, saat berada di perjalanan mereka berdua melihat salah satu sahabatnya yaitu Sony. Ia tengah ngobrol dengan seorang anak kecil di pinggir jalan.
"Tunggu tunggu! Itu si Sony bukan si?" tanya Robi.
"Iyaa." singkat Fino, kemudian ia pun menepikan mobilnya lalu menghampiri Sony.
"Son ngapain lo?" tanya Fino.
"Ckckck selain kulkas lo berpri keanakan juga ya ternyata." ucap Robi.
"Ck, ngapa si lo!" tukas Sony.
"Adee kakak pamit dulu ya, ini uang buat jajan." ucap Sony seraya memberikan 5 lembar uang berwarna merah.
"Uuuu bisa lembut juga ya lo?" tanya Robi.
"Eh lo pada yaa!" tukas Sony.
"Btw kalian mau kemana dah?" tanya Sony.
"Ck." decak Fino.
"Anjir, gue lupa fin sorry." ucap Robi.
"Lupa? mau kemana elah?" tanya Sony.
"Kita lagi ikutin Nara, gegara si tengik ni liat lo suruh gue berenti. Sekarang ilang kan jejaknya. Anj*ng emang lo!" ketus Fino panjang lebar.
"Mati lo Rob." ucap Sony.
"I-iya sorry si Fin. Tapi pasti dia ke Caffe cabang kok gue yakin. Ia Caffe cabang, gas ayo jalan Fino yang tamvan." ucap Robi.
"Eh lo mau ikut kan Son?" alih Robi saat ia melihat Fino hendak bicara.
"Gas." ucap Sony, kemudian ia pun langsung menaiki mobil itu.
Di perjalanan tampak Fino mengendarai mobil secara ugal-ugalan. Sontak membuat kedua penumpang nya itu keringat dingin.
"Fin, lo bisa gak si turunin dikit kecepatannya?" tanya Sony.
"Iya, gue masih mau hidup njirr." ucap Robi.
"Gak." ketus Fino.
"Ee kalo enggak gue aja yang nyetir." tawar Sony.
"I-iya Fin. Aduuu mama papa maafin Robi." ucap Robi.
plak
Lengan Sony melayang tepat pada bibir Robi.
"Sakit ege!" tukas Robi.
"Kalo ngmong itu di filter dulu." ucap Sony.
"Emang lo gak takut?" tanya Robi.
__ADS_1
"Ya ta-takut sii." ucap Sony.
"Huwaaaaaaaa..." kedua lelaki itu berpelukan saat kencang ketika melihat Fino menyalip diantara 2 truk itu.
"Berisik be*o!!" ketus Fino.
"Haaaahh.. haaaahh.." Sony menghela nafasnya.
"G-gue masih hidup kan?" tanya Robi.
"Masih, lo masih hidup kok." ucap Sony seraya mengusap kepala lalu turun ke punggung Robi.
"Huuuhhh.. untungnya." ucap Robi.
cekiiittttt
dugghh
"Lo napa lagi si Fin?" tanya Robi yang masih memeluk Fino.
"Kalian!" tukas Fino.
"kenapa?" ucap Robi dan Sony serentak.
"Keluar!" tukas Fino.
"kenapa si?" tanya Sony.
"Be*o." ketus Fino.
Mereka berdua pun saling lirik satu sama lain. Kemudian, mereka pun menyadari jika mereka kini tengah saling memeluk satu sama lain.
"Anjirr." ucap Sony dan Robi.
"Lo." ucap mereka berdua.
broommm broomm..
"Sekali lagi lo pelukan kayak gitu, gue gebrusin ni mobil ke jurang." tegas Fino.
Akhirnya mereka berdua pun hanya bisa memeluk dirinya sendiri dengan rasa takut yang luar biasa.
***
Berbeda dengan Nara, ia kini tengah berjalan menuju Caffe itu. Terlihat design interiornya kini banyak yang sudah berubah. Dari mulai pintu yang awalnya hanya pintu kaca biasa kini di sisi-sisinya tengah di lapisi emas. Bahkan saat masuk ke dalam Nara merasakan nuansa black gold yang sangat elegan dan nyaman di pandang mata.
"kenapa mas Regan gak bilang dulu kalo mau renov Caffe ini?" monolog Nara.
Ia pun terus menelisik pada sekitar sudut ruangan itu. Tampak di pojok sana ada vas bunga besar yang berisi bunga hidup lavender yang menambah kesan rilex. Tak jarang lampu yang di buat menjuntai 7 meter dari kepala itu menambah kesan estetik di Caffe itu. Belum lagi meja-meja yang di hias sangat cantik itu membuat siapa saja nyaman berada di sini bahkan mungkin tidak ingin pulang.
Namun, saat ia menelisik setiap inchi Caffe itu tiba-tiba saja mendengar suara lelaki yang sangat familiar di telinganya.
"Maaf anda mencari siapa?" tanya lelaki itu.
degggg
'kok gue kayak kenal sama suara itu.' batin Nara.
'kayak suaraa---"
"Bisa balik badan?" tanya lelaki itu.
Dengan ragu, Nara pun membalikkan badannya. Ia pun kaget saat melihat Roy berada di hadapannya.
Deggg
"K-kak Roy.." ucap Nara terbata.
"Lo masih idup atau ini hantu?" sinis Roy.
__ADS_1
"Ngapain disini?" tanya Nara.
"Harusnya gue yang tanya, lo ngapain disini bocah sialan?" tanya Roy.
"Ini Caffe cabang gue." tukas Nara.
"Hahaahaa.. mimpi lo?" tanya Roy dengan suara menggema. Untungnya hari ini tidak ada pengunjung yang datang.
"Ini emang Caffe cabang gue sama mas Regan." ucap Nara.
"Siapa? Regan lo bilang?" tanya Roy.
"Iya, Regan." ucap Nara.
"Heh asal lo tau aja kalo ini Caffe udah di jual." tukas Roy.
"Gak mungkin!" kekeh Nara.
"Lo liat semua design nya sekarang mewah." tunjuk Roy pada setiap inchi ruangan itu.
"Gak mungkin." teriak Nara.
"Ini kalo lo gak percaya." tukas Roy seraya memberikan map berwarna hijau itu.
Jlebb..
Mata Nara sendu saat melihat isi dari map itu. Ternyata Regan menjual Caffe itu dengan harga yang sangat tinggi. Bahkan, ia menjualnya tanpa persetujuan darinya yang tentu saja Nara merupakan sosok penting dalam mahligai rumah tangga. Buliran air mata pun kini mulai berjatuhan tanpa Nara sadari.
"Lo percaya?" tanya Roy.
Nara hanya mendengus dan memalingkan muka saat melihat wajah sinis Roy.
"Jujur selama ini gue rindu sama lo." ucap Roy, kemudian Nara pun mengangkat sebelah alisnya.
"Gue rindu buat siksa lo! hahahahaha.." tawa Roy renyah.
"Sialan!" umpat Nara.
"Haha.. bersiaplah untuk penyiksaan ronde 2!" ucap Roy.
"Maksudnya?" tanya Nara.
"Kita liat aja." sinis Roy.
"Sayang kamu ngomong sama siaa-" ucapan Nesha terpotong saat melihat Nara.
"Ngapain lo disini?" tanya Nesha.
"Lo pasti mau rebut calon suami gue kan?" sinis Nesha.
"G-ga-" Nara menjawab dengan terbata.
"Iya sayang. Dari tadi dia godain aku terus. Udah aku usir malah nawarin diri." ucap Roy kemudian.
plakkk
Terdengar sangat jelas suara tamparan itu. Bahkan, terlihat pipi putihnya itu ada bekas telapak tangan.
"Pergi lo!" usir Nesha dengan nada tinggi.
"Ta-tapi g-gue gak-" gugup Nara.
"Pergii!" ucap Nesha seraya menunjuk ke arah pintu keluar.
Nara pun bergegas menuju keluar dari caffe itu.
Kini perasaannya campur aduk. Gelisah, kecewa, sakit hati, semua menjadi satu.
Bahkan, kini air matanya sudah tidak bisa lagi di tahan. Ia menangis sejadi-jadinya saat keluar dari caffe itu.
__ADS_1
Saat ingin pergi ia berpapasan dengan tiga sekawan yang baru saja datang.
Namun, Nara tak menggubris sapaan mereka. Ia terus saja berjalan mencari supir taxi agar ia bisa dengan cepat mengistirahatkan dirinya.