TRAUMA

TRAUMA
Chapter 17 - Pernyataan Regan


__ADS_3

Malam ini semua makanan telah siap dan aku pun kini tengah memoles sedikit make up untuk menyambut kedatangan suamiku.


Merasa jenuh menunggu dia datang, aku pun scroll-scroll media sosial di Instagram. Disana terlihat sebuah berita tentang meledaknya pesawat dari bandara X.


'Kasian banget keluarga yang ditinggalkan. Semoga amal ibadahnya di terima di sisi Allah deh. Aamiin' gumamku


Tak lama setelah itu, aku juga melihat berita tentang tabrakan maut di tol X. Sejenak aku melihat satu mobil rusak yang menabrak trotoar itu. Mobil berwarna blue denim itu seperti tidak asing di mataku.


"Hah mobil ini?"


"Mobil tante Maria kan?"


"Aduh Nesha pasti lagi sedih nih."


"gue coba hubungi dia deh."


"Eh gue kan udah gak ada kontaknya lagi njir."


Ucapku saat itu.


Namun, tak lama dari itu bel rumah berbunyi. Aku pun segera membuka pintu, dan ternyata lelaki yang aku tunggu-tunggu telah datang dengan wajah sumringah nya.


"Selamat malam istriku." ucap suamiku


"malam suamiku." ucapku dengan menunjukkan senyum termanis


"Hmm udah cantik aja nih." seru suamiku


"Ah mas bisa aja." ucapku, blushing.


"Sayang hari ini masak apa?" tanya Mas Regan


"Masak udang asam manis, sop bening, tempe geprek, sama kerupuk mas." ucapku


"Wahh.. Mas udah laper nih, makan yuk." ajak nya padaku


"Iya mas ayo." seru ku


Kami pun makan bersama tanpa ada kegaduhan di dalamnya. Tak menyangka ternyata suamiku sangat menyukai masakan sederhana itu. Bahkan ia sampai nambah berkali-kali.


Setelah makan malam selesai aku langsung membereskan dapur tak lupa di temani suamiku.


Namun, tak lama dari itu ia langsung mengajakku ke kamar. Disitu aku mulai menimang-nimang tentang sebuah pertanyaan untuk di lontarkan kepadanya.


"Mas.. " lirih ku


"Iya sayang? kenapa? hemm?" ucapnya lemah lembut


"Aku mau tanya sesuatu, boleh gak?" tanyaku padanya


"Boleh, kamu mau tanya apa?" ucapnya


"Masalah cita." ucapku


"Cita?" tanya nya.


Terlihat raut wajah suamiku berubah menjadi sendu saat mendengar kata Cita.


Dan aku pun mulai menceritakan kejadian tadi siang saat melihat Cita di sebuah taman di kota X.


Kemudian suamiku mulai menjelaskan perjalanannya bersama Cita.


"Sayangg.. Cita itu cinta pertama aku." ucapnya


Degg


"Lalu?" tanyaku

__ADS_1


"Dia di cap anak haram karena perbuatan kesalahan papa, dulu." ucapnya


"Hah maksudnya?"


"Iya papa aku dulu pernah hubungan intim sama mamanya Cita."


"Terus?"


"Mama Cita itu sahabat dekat mama aku yang. Dia bisa di katakan wanita penggoda. Dan papa termasuk laki-laki yang mudah tergoda." ucapnya


Degg


'Gimana kalo sikap tergoda dari papanya nurun ke suamiku.' keluhku dalam hati


"Oke terus?" tanyaku


"Iya mereka lakuin kek gitu-gitu di kamar papa sama mama. Terus pas mama cek CCTV ketauan deh."


"Dan saat itu aku udah 5 tahun."


"Mama awalnya minta cerai, tapi papa gak mau. Akhirnya mama Cita di asingkan di kota X selama hamil."


"Setelah lahiran mama Cita kembali ke kota Y."


"Terus pas aku lagi jogging aku ketemu sama dia. Dulu dia cantik banget. Iya awalnya temenan terus yaa gituu kita ada jalin hubungan."


"Pas aku main ke rumahnya, eh aku kek kenal sama mama nya."


"Hubungan aku sama Cita diketahui papa melalui bodyguard nya."


"Dari situ lah aku udahan, terus setelah tau kejadian yang sebenernya dia kek frustasi gitu yang."


ucap suamiku malam itu.


Ada rasa sesak di dadaku saat mendengar kalo orang yang pertama ia cintai adalah Cita.


"Sayang.. cinta pertama emang susah di lupain, tapi setelah cinta pertama itu datang kan ada cinta sejati aku yang bisa ngubur tentang semua kisah masa lalu aku." ucap suamiku


"Ah kamu ini." ucap ku


"Ada yang mau di tanyain lagi gak?" tanya Regan


"Bar itu?" ucapku


"Bar itu emang punya aku sama sahabat aku Rendi. Tapi aku kasih semuanya ke Rendi." ucapnya


"Ohh" ucapku singkat


Setelah itu kami hanya ada perbincangan ringan juga candaan-candaan semata. Namun saat waktu makin larut Mas Regan akan tetap merengek minta jatah padaku.


***


Malam berganti pagi, kini terlihat di kantin kampus itu Robi juga Fino sedang menikmati roti bakar dan segelas susu.


Tanpa ada perbincangan di dalamnya, mereka sangat khidmat menikmati makanan lezat di pagi itu.


Hingga saat Robi menyadari kalo dirinya kini tengah menjadi sorotan para mahasiswi ia menghentikan kegiatan makannya.


"Napa lo?" ucap Fino


"Noh liat genk centil." tunjuk Robi


"Anjirr cacingan tuh orang." celetuk Fino


"Emang." tukas Robi


Namun, Fino yang acuh dengan tatapan genk centil itupun ia masih melanjutkan makannya. Saat kehilangan Nara, ia menjadi sosok yang acuh bahkan mungkin perasaannya telah mati kepada perempuan lain.

__ADS_1


Tak jauh dengan Robi, ia masih menginginkan Nesha menjadi kekasihnya. Namun saat melihat respon Nesha seperti tidak menyukainya ia pun mengurungkan niatnya. Kini Robi berniat untuk fokus pada dunia kuliahnya.


Tiba-tiba saja Anita menghampiri mereka berdua.


"Morning handsome boy." ucap Anita


"???? " Fino hanya melirik sekilas lalu melanjutkan ritual sarapannya.


"Boleh gak duduk disini?" tanya Anita kemudian


"Tuh meja kosong masih banyak, ege!" ketus Robi


"Tapi kan aku cewek, atuuttt." ucapnya manja


"Dih najis lo!" ketus Robi


"Eh tapi kan-" ucapnya terpotong


"Cabut!" ucap Fino sambil membawa tas ranselnya.


Terlihat disana wajah kesal Anita saat tidak ada respon dari laki-laki yang ia kagumi, yaitu Fino.


***


Seperti biasa di pagi itu kami melakukan sarapan dengan perbincangan ringan. Setelah sarapan kami pun pergi ke caffe untuk memantau para karyawan.


Disana tampak ada seorang gadis kecil yang sedang memegang perutnya dengan baju lusuh serta kotor. Aku pun berniat menghampirinya.


Naasnya, gadis itu di seret oleh seorang ibu paruh baya. Dan entah kemana perginya mereka.


"Bu caffe semakin rame, gak mau buka cabang aja?" tanya Arul, karyawan ku.


"Ah iya nanti kita bicarain lagi ya rul." ucapku


"Baik bu, kalo gitu saya permisi ya." ucapnya sopan.


'Begini ya rasanya di hargai.' batinku


Aku benar-benar seperti manusia beruntung saat ini.


Melihat wajah suamiku yang selalu bahagia membuat menambah kebahagiaan tersendiri untukku.


Dan hanya satu yang aku tunggu, yaitu kehadiran si kecil dalam rumah tangga kami.


***


Siang itu, Nesha menekuk wajahnya ketika melihat orang yang di sayangi nya terbaring lemah dengan penuh alat medis di tubuhnya.


Nesha tak habis pikir, jika nasibnya akan seperti ini. Ia takut jika harus hidup tanpa kedua orangtua.


Bahkan, pamannya yang menyuruh Nesha untuk mengambil alih perusahaan pun ia menolak secara halus. Ia sadar usianya yang sangat muda tidak mungkin bisa memegang perusahaan yang sudah meledak kemana-mana.


"Nes, sabar ya sayang." ucap Amii, tantenya


"Iya tan." ucap Nesha.


"Kamu mending terusin usaha papa kamu, Nes." ucap Tomi, om Nesha


"Ngga om, Nesha belum ngerti apa-apa." ucap Nesha


"Tapi kamu bisa belajar kok." ucap Tomi


"Nesha mau kuliah dulu, om." ucapnya


"Ya sudah kalo itu yang kamu mau. Om sama tante cuma bisa dukung kamu." ucap om nya


Nesha hanya mengangguk menjawab ucapan Tomi.

__ADS_1


Kini mereka bertiga masih setia berada di ruangan VVIP untuk menemani Maria.


__ADS_2