TRAUMA

TRAUMA
Chapter 50 - Perampokan


__ADS_3

Setiap kehidupan memang tidak pernah jauh dari cobaan, masalah, bahkan musibah. Semua telah di kemas rapi dengan yang namanya takdir. Bahkan, setiap takdir yang tertulis bisa saja membuat semua orang depresi, stress, atau bahkan akan menggantung diri di pohon tinggi saking tidak kuatnya berjalan di atas kata takdir itu. Begitupun dengan sosok Nara. Takdir baik hanya berpihak sebentar padanya. Pada usia pernikahan yang masih seumur jagung itu ia harus mengalami kejadian pahit karena sang suami tergoda oleh wanita yang jauh lebih cantik darinya.


Tak berbeda jauh dari itu, ia juga mengingat betul bagaimana ia mandi darah pada saat usia remaja. Menangis, adalah hal yang kerap terjadi di setiap malam. Hanya bantal dan guling yang setia padanya kala itu.


Setelah lama bernostalgia pada kesunyian di malam itu, ia merasakan gelisah yang sangat luar biasa. Dimana pintu di gedor dengan kerasnya oleh orang-orang misterius. Nara tak bisa berkutik, bahkan setelah pintu itu berhasil di robohkan oleh beberapa lelaki.


Dengan sigap dan nafas terengah, ia pun membawa Mahesa ke bawah ranjang untuk bersembunyi. Satu per satu lelaki yang wajahnya di tutup kain itu, mengobrak-ngabrik lemari pakaiannya.


"Hahaha.. Ini dia uang nya.." ucap salah satu lelaki itu.


"Ini juga lumayan perhiasan," ucap yang satunya lagi.


"Woi udah belum? Kalo udah gas cabut!" ajak lelaki yang baru saja datang ke kamarnya.


"Untung gak ada orang bos, aman.." ucap lelaki yang sedang menenteng kotak perhiasan.


*Tapp


Tapp


Tapp*


Terdengar langkah mereka yang sedang berjalan keluar dari kamar sederhana itu. Padahal, rumahnya tak begitu mewah. Mengapa bisa jadi santapan para perampok?


Batin Nara berkata, tak apa jika ia harus semua uang dan harta, asal tidak nyawa dari anaknya.


Dengan langkah gesit, ia keluar dari tempat persembunyian itu, lalu menggendong anaknya dan meletakkan di atas kasur.


"Belum satu masalah kelar, ini udah adaaa ajaa yang baru. Ibarat kata mah udah jatuh, ketiban tangga pula. Hadeehhh!" ucap Nara.


Tak mau ambil pusing, ia pun merebahkan dirinya di samping anaknya. Kini ia sudah terbiasa tidur tanpa suaminya.


***


Jam 08.00


Sementara di rumah sakit X, kini Regan sudah di bolehkan pulang oleh dokter. Dengan senyum sumringah, Anna langsung menyelesaikan administrasi rumah sakit.


Senyuman dari wajah Anna, sama sekali tak bisa pudar. Regan yang menyadari hal itu pun mengernyit heran.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Regan.


"Mas, kita sebentar lagi jadi suami istri." ucap Anna.


"Hmm, iya Anna.." lirih Regan.


"Kamu kenapa mas? Gak seneng nikah sama aku?" celoteh Anna.


"Bukan gitu, tapi mas kepikiran Mahesa." jujur Regan.


"Gak perlu mikirin bocah tengil itu, nanti kita buat baby yang jauh lebih tampan." antusias Anna.


"Kamu ini, bisa aja." ucap Regan seraya menyubit pipi kekasihnya.


Sekitar 20 menit, mereka sampai di halaman rumah Anna. Wanita itu, tentu saja terus menerawang nasibnya yang sangat jelas ia akan menjadi wanita sosialita akut setelah menikah dengan Regan. Dimana ia bisa menikmati uang Regan dengan pergi ke salon, belanja, atau bahkan ikut arisan dan membeli barang mewah dengan harga yang fantastis.


Sementara Regan, ia masih tabu memikirkan soal perceraiannya dengan Nara. Antara mau dan tidak, begitulah yang ia rasakan. Nara itu wanita yang baik, cerdas, dan juga kreatif. Mana mungkin ia tega berpisah dengan bongkahan emas itu. Namun, lagi-lagi Anna selalu merusak otak bersihnya itu.


***

__ADS_1


Jam 10.00


Nara sudah menyiapkan semuanya. Kini ia telah berada di sebuah taman. Tepat jam set 10, Fino and the genk itu menghubunginya untuk bertemu di taman Kota X. Tanpa berpikir panjang, ia pun mengiyakan ajakan teman SMA nya itu.


Sesampainya di sana, mereka tengah duduk di atas tikar layaknya orang sedang piknik. Robi yang sekarang sudah menjadi crazy boy itu membawa aneka makanan dan minuman untuk di santap. Entah itu, cemilan, makanan pedas, manis, asam, bahkan soda, susu, dan kopi sudah tersedia rapi di atas tikar itu.


"Gue ini emang paling peka, hahhaa." ucap Robi dengan bangga.


"Astoge lu sejak kapan dah transmigrasi jadi emak-emak?" tanya Sony.


"Inilah salah satu kelebihan gue." antusias Robi.


"Lo kapan beli semua ini?" tanya Nara.


"Tadi pas kalian bertiga celingak celinguk." ucap Robi.


"Dahlah, mending duduk." tukas Fino.


"Btw kalian ngapain ajak gue kesini?" tanya Nara.


"Tuh ada yang mau ngomong." ucap Robi sambil menggerakkan dagunya mengarah ke si es batu Fino.


"Lo mau ngomong apa Fin?" tanya Nara.


"L-lo m-mau cerai, Ra?" tanya Fino.


"Huufftt.." hela nafas Nara terdengar jelas di telinga mereka bertiga.


"G-gue gak ada maksud buat nyinggung perasaan lo." lirih Fino.


"Ee, Ra gue minta maaf banget ya sama tingkah laku abang gue." lerai Sony yang melihat keadaan menjadi canggung.


"Menurut gue, lo cantik ra. Bahkan lo punya inner beauty yang mungkin udah jarang di miliki cewek-cewek di luaran sana." jelas Sony


"Entahlah, saat ini gue gak bisa definisiin diri gue sendiri." lirih Nara.


"Lo harus yakin, di luaran sana banyak cowok yang mau bahagiain lo, termasuk Fino." ucap Robi.


*uhukk


uhukk


uhukk*


"No!" geleng Nara. Ia tak memedulikan Fino yang sedang batuk itu.


"Why?" tanya Sony.


"Fino itu masih perjaka, dan masih pantes buat dapetin gadis bukan emak-emak kayak gue." ucap Nara.


"Kalo takdir, gimana ra?" tanya Sony.


"Gak mungkin!" tegas Nara.


"Ra, lo tau gue udah jatuh cinta sejak kita SMA." tutur Fino.


degg


"Fin," ucap Nara.

__ADS_1


"Dan gue udah janji sama gue sendiri, gue akan lebih percaya sama lo dari pada orang lain. Gue belajar dari masa itu, Ra. Gue serius, and I love you so much." tutur Fino.


"Haa?" kaget Nara.


"Fin, lo bisa cinta sama gue. Tapi, sorry gue cuma anggep lo sebagai sahabat dan itu gak lebih. Perlakuan lo dalam ngebela gue itu udah keterlaluan apalagi sekarang Mas Regan masuk rumah sakit." jelas Nara.


"Ra, lo coba buka mata hati lo. Masa gak ada perasaan sedikit pun buat Fino?" tanya Robi.


"Rob, gue gak bisa maksain perasaan ini. Kalo boleh jujur dari lubuk hati gue yang paling dalam gue masih jauh mencintai Mas Regan lebih dari apapun. Tapi karena sikapnya yang.. yaa lo tau lah!" ucap Nara.


"Gue paham, tapi ini demi kebaikan lo!" sarkas Robi.


"Sebenernya dengan tingkah kalian kemarin yang tiba-tiba ikutin gue, jagain gue, dan ikut andil dalam permasalahan rumah tangga gue. Itu udah cukup keterlaluan. Bukan gue gak butuh bantuan atau apa, tapi ini urusan pribadi. Dan kalian gak berhak tau, apalagi sampe mukulin orang kan?" jelas Nara.


"Gue cuma mau lindungin lo, Ra." lirih Fino.


"Iya gue tau, and thanks for all. Tapi untuk perasaan sorry Fin. Aku gak mau tersakiti yang ke sekian kali." ucap Nara.


'Asal lo tau, sejak gue liat lo gue juga udah naruh perasaan sama lo.' batin Sony.


"Raa.. " lirih Sony.


"Iya kenapa?" tanya Nara.


"Sekali lagi gue minta maaf atas nama abang gue." tulus Sony.


"Gue udah maafin kok." ucap Nara.


"Emm dari pada canggung gini mending kita makan." ajak Robi.


"Gas lahh!" tukas Sony.


***drrrt.


drrrt


drrrt***.


"Siapa ra?" tanya Sony.


"Bu Uti." ucap Nara.


[ 📞 Hallo Bu ] ucap Nara.


[ ........... ]


[ Apa ? yaudah Nara kesitu sekarang. ] ucap Nara.


klik, telepon pun di matikan sepihak.


"Kenapa?" tanya Fino.


"Esa.. Esa ilang!" jelas Nara.


"Apaa??" kompak mereka bertiga.


"Ra lo tenang, kita kita semua kesana oke?" ucap Sony.


"Oke.." ucap Nara dengan rasa panik yang tak pernah pudar.

__ADS_1


__ADS_2