TRAUMA

TRAUMA
Bab 8


__ADS_3

Asha duduk di atas paving blok bersama Nathan di sampingnya, kakinya ia luruskan ke depan karena Asha merasakan lagi nyeri di pergelangannya dan hal yang tidak mungkin untuk memeluk lututnya sendiri seperti yang biasa ia lakukan. Di depannya terdapat tong besar yang berisi nyala api yang hangatnya sampai pada tubuh Asha. Hanya ada satu dua orang yang terjaga dan berkeliling memastikan bahwa tidak ada siapa pun yang masih berkeliaran dan terbangun kecuali Asha dan Nathan.


Nathan menyapa teman-temannya yang bertugas sebelum akhirnya kedua orang itu meninggalkan ia dan Asha bersama cahaya dari api unggun. Tenda yang di bangun di sekitar mereka tampak tenang semua orang pasti kelelahan dan sudah tertidur lelap belum lagi dinginnya udara Bandung selalu menjadi selimut terbaik untuk membuat siapa pun betah berlama-lama di tempat tidurnya yang nyaman.


"Ahh Kak Nathan, apa tim Asha kalah?" tanya gadis itu tiba-tiba.


Nathan mendengkus sambil tersenyum bahkan setelah kakinya terluka ia masih memikirkan apakah teman-temannya akan mendapat hukuman atau tidak.


"Untungnya enggak, ada tim dengan selisih satu bendera. Saya rasa pengorbanan kamu tidak sia-sia juga."


"Ahh syukurlah, Asha enggak bisa bayangin kalau temen-temen Asha besok harus pakai daster." Gadis itu terkekeh sendiri membayangkan betapa konyolnya hal itu.


Keduanya mulai rileks berbicara, Nathan bahkan bisa tersenyum pada hal sepele yang ia dengar padahal sekali lagi pria itu begitu datar dan hanya bereaksi pada hal-hal yang mengundang emosinya saja.


"Kak Nathan sepertinya terlalu banyak tahu tentang Asha." Gadis itu tersenyum getir.


Asha masih ingat saat Nathan memeluknya di toilet kemudian pria itu juga yang mengantar Asha ke rumah sakit dan sekarang bahkan saat mimpi buruk Asha datang pria itu mendengarnya dengan jelas.


"Pasti dalam hati Kakak bertanya-tanya kenapa Asha berteriak seperti orang gila, kenapa Asha datang ke rumah sakit juga kenapa Asha mimpi buruk seperti tadi."


Asha terdiam, tangannya bersandar ke belakang menopang tubuhnya sendiri sambil menatap api unggun yang kobarannya mulai mengecil hingga Nathan melemparkan beberapa potong kayu ke dalamnya dan membuatnya kembali membesar. "Jangan berbagi hal apa pun yang tidak mau kamu bagi. Bersikap nyaman sama diri kamu sendiri rasanya lebih baik."


"Saya enggak tahu siapa pria yang kamu sebut dalam mimpi buruk kamu, tapi dia bukan orang baik kalau meninggalkan kamu dengan keadaan terpuruk sampai hari ini."


Nathan sebenarnya ingin mendengar penjelasan dari Asha tapi gadis itu hanya diam, seolah ia bermain dengan pikirannya sendiri sedang Nathan tidak tahu.

__ADS_1


"Iya, dia pasti bukan cowok baik karena pergi tanpa pamit." Asha tersenyum getir, ia menertawakan dirinya sendiri yang dengan bodohnya tidak bisa bangkit hingga saat ini.


"Asha terus hidup dalam masa lalu padahal dia pasti sudah baik-baik aja."


Asha menangis lagi, meski ia menahan suaranya agar tidak tersedu namun Nathan tahu gadis itu menangis lagi. Bagi Nathan yang tidak tahu bagaimana rasanya mencintai, apa yang terjadi pada Asha seperti sebuah lelucon. Bagaimana bisa seseorang hidup dengan kenangan dan luka selama bertahun-tahun dan membiarkan dirinya sendiri yang hancur. Seandainya Nathan dalam posisi yang Asha rasakan ia sudah pasti melanjutkan hidupnya tanpa menoleh bahkan peduli lagi dengan orang yang menyakitinya. "Maaf Kak." Asha menyeka air matanya sedang Nathan masih terdiam menatap api unggun, ini adalah ke sekian kalinya Asha mengatakan maaf padahal ia tidak bersalah apa pun pada Nathan.


Nathan masih diam, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa atau harus bersimpati bagaimana pada kepedihan yang gadis itu rasakan yang jelas perasaan Nathan untuk melindungi gadis itu semakin kuat. Ada satu sisi dalam hatinya yang tidak ingin melihat gadis lemah itu terus menjadi seperti ini seperti sebuah sentuhan kecil dapat membuatnya cedera hebat sedang Nathan adalah orang yang tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Pria itu ingin tahu bagaimana caranya membuat Asha nyaman dan bersandar padanya seolah Nathan mampu melakukan hal itu dengan segala kuasa yang ia miliki juga perasaan bahwa ia adalah pribadi yang dapat diandalkan.


Perasaan aneh dalam hati Nathan selalu muncul tiba-tiba setiap kali berhubungan dengan Asha, ia yang tidak pernah jatuh cinta masih menampik hal itu. Nathan tahu ia hanya bersimpati.


"Besok kita pulang, sebaiknya kamu juga istirahat."


"Hmm." Asha mengangguk ketika Nathan kemudian membantunya lagi untuk berjalan masuk ke dalam tenda. Nathan yang duduk di kursinya menarik kursi lain agar kakinya bisa beristirahat juga namun ia tidak pernah benar-benar tertidur, beberapa kali Nathan terjaga hanya untuk memastikan apa mimpi buruk Asha datang lagi namun sepertinya sikap Nathan terlalu berlebihan karena Asha kali ini tidur dengan nyaman.


Waktu menunjukkan pukul 04.30 ketika beberapa orang tengah melaksanakan shalat berjamaah di mushola. Nathan memutuskan untuk berjalan berkeliling karena ia tidak mungkin bisa tertidur lagi.


"Ada angin apa lo bangun jam segini!" ujar Dio yang hendak pergi ke mushola.


Ia tahu Nathan tidak pernah bisa bangun pagi terlebih ia juga tidak melaksanakan shalat sehingga tidak ada alasan untuknya bangun. Kecuali jika Nathan belum tertidur sepanjang malam.


"Acaranya beres jam berapa?"


"Jam 8 pagi setelah upacara penutupan."


"Jangan dateng ke rumah gue hari ini atau telepon gue dengan alasan apa pun!" Nathan menepuk bahu Dio sebelum pria itu meninggalkan sahabatnya di depan mushola.

__ADS_1


"Gue ke rumah lo nanti malem!" teriak Dio pada Nathan yang tidak memedulikan dirinya.


Upacara penutupan berjalan lancar dalam waktu setengah jam, Nathan memberikan kata-kata penutup sebelum akhirnya semua orang membubarkan diri. Pria itu menghampiri tenda Asha dan meminta tas milik gadis itu untuk ia berikan pada Asha.


"Tadi udah kita anterin tas punya Asha kak." Jawab salah seorang di antara ketiganya.


Nathan tidak menjawab lagi, ia kemudian pergi begitu saja dengan perasaan aneh. Ia tidak tahu bagaimana bisa bersikap impulsif ketika melihat teman-teman Asha dan berinisiatif mengambil barang-barang milik gadis itu tanpa di minta.


Begitu juga dengan teman-teman Asha yang tampak bingung, sebab mereka tahu bahwa Nathan tidak pernah melakukan hal sepele atau sesuatu semacam ini.


Nathan kemudian masuk ke tendanya yang sudah mulai di bereskan, ia mendapati Asha yang berjalan pincang menggendong ransel besar di punggungnya. Pria itu menarik ransel Asha dan memintanya secara paksa sedang Asha hanya bisa kebingungan.


Pria itu kemudian memegang bahu Asha, menuntunnya untuk keluar agar Asha tidak terjatuh. Nathan mulai tidak peduli dengan pandangan yang orang-orang berikan kepadanya terutama teman-teman dari angkatannya yang tahu betul bagaimana pria itu.


"Kak." Asha merasa tidak nyaman dengan tatapan yang orang-orang berikan namun Nathan tetap memegang bahunya hingga Asha merasa bahwa dirinya aman berada dalam jangkauan Nathan.


"Saya bawa mobil, biar saya antar kamu sekalian."


“Jangan salah paham. Saya Cuma mau pastiin kamu baik-baik aja sampai rumah."


"Itu juga bagian dari tanggung jawab panitia." Nathan


menambahkan, ia berusaha mencegah Asha berpikiran yang berbeda dari yang ia maksudkan.


Padahal Asha bahkan tidak berpikir seperti yang Nathan kira.

__ADS_1


__ADS_2