
Sudah seminggu berlalu caffe ku mulai sepi akibat ulah wanita sosialita itu. Bahkan kini suamiku terlihat begitu frustasi dengan kejadian ini.
Terlintas di benakku untuk melihat CCTV yang ada di caffe ku. Karena aku yakin, jika semua makanan maupun minuman sudah di hidangkan se higienis mungkin.
"Mas, kenapa kita gak cek CCTV aja?" tanyaku
"Ah iya kamu benar , sayang." ucap suamiku, dan kemudian berlalu ke penjaga CCTV yang ada di pos satpam.
"Pak coba lihat kejadian CCTV seminggu yang lalu." ucap Regan pada satpam itu.
"Baik, pak." ucap Pak Budi, satpam itu.
Jderrrrr..
Ternyata benar itu adalah ulah dari wanita sosialita itu.
Dengan emosi membeludak suamiku langsung membagikan video itu ke berbagai sosial media. Sehingga terbongkarlah kejahatan dari caffe seberang itu, tepatnya caffe itu di buat sebulan yang lalu. Ternyata caffe itu belum punya pelanggan satu pun akhirnya menghalalkan segala cara dengan menyebarkan hoax tentang caffe kami.
Dan hari itu juga semua orang kembali berbondong-bondong mengerumuni caffe ku.
"Kamu emang the best yang." ucap Regan seraya mengacungkan kedua jempolnya.
"Iya dongg." ucapku
Namun tiba-tiba saja perutku terasa mual.
*hoekkk
hoekkk
hoekkk*
Aku segera berjalan menuju wastafel di toilet caffe. Tak ku sangka ternyata suamiku tengah mengikuti ku dari belakang dengan wajah yang amat khawatir.
"Sayang kamu kenapa?" ucap Mas Regan
"Mual mas." ucapku
"Duh, kamu pulang aja ya istirahat." ucap nya kemudian
"Tapi mass.. " lirih ku
"Sayang, nurut yaa ini demi kebaikan kamu lho." ucap Mas Regan
"Iya iya mas." tukas ku
"Ya sudah ayo mas anter." ucap suamiku
Kemudian aku pun pulang di antar oleh suamiku. Namun saat berada di jalan aku begitu galfok ketika melihat buah mangga yang berjejer di bak mobil itu.
"Mas berhenti mas." ucapku
"Loh kenapa?" tanya Mas Regan, bingung
"Aku mau mangga muda mas, kayaknya enak kalo bikin rujak siang-siang gini." ucapku antusias.
"Hah? sejak kapan kamu suka makan rujak?" tanya suamiku
"Em.. jadi mas gak mau beliin nih?" ucapku dengan raut kecewa
"Ah iya iya, tunggu disini ya." ucap nya
__ADS_1
Aku pun mengangguk antusias. Terlihat di seberang sana Mas Regan membeli begitu banyak buah mangga. Tentu saja hal itu membuatku sangat bahagia.
Hingga tak lama dia datang membawa dua kantong plastik besar buah-buahan.
"Loh kok banyak banget mas?" tanyaku
"Iya itu tadi mas juga beli buah-buahan yang lainnya." ucap Mas Regan
Aku pun ber oh ria sambil mengangguk-nganggukkan kepala ku.
Tak terasa perjalanan dari rumah ke caffe memakan waktu yang sangat singkat.
Kini, aku telah sampai di rumahku. Namun rasa mual itu tiba-tiba saja menghampiriku. Aku pun dengan segera membuka pintu rumah dan berlari menuju wastafel terdekat.
"Sayang kok kamu muntah-muntah terus sih? hmm?" tanya Mas Regan
"Kayaknya masuk angin, mas." jawabku
"Hem ya udah kamu istirahat gih." titah Mas Regan
"Gak ah aku kan mau makan rujak." ucapku
"Loh kan lagi sakit jangan makan rujak sayang, mending bobo yuu." ucap suamiku.
"Mas... " lirihkuu
"Hem yaudah iya tapi dikit aja yah." ucap Mas Regan
Aku pun dengan segera mengulek sambel rujak ala Nara dengan segenggam cabai. Sontak hal itu membuat ku ingin menambah dan terus menambah rujak itu.
Mas Regan terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihatku makan dengan rakus.
***
Ia telah menyusun rencana sedemikian rupa untuk menghancurkan hubungan Nara.
Namun, sangat di sayangkan kali ini nasib tidak berpihak padanya.
Kini, Cita telah menjadi seorang PSK karena ia betul-betul tidak punya pilihan lain untuk bertahan hidup.
Karena ijazah yang ia miliki tidak bisa untuk melamar pekerjaan ke berbagai rumah makan atau pun swalayan, hingga akhirnya ia memilih untuk menjadi pemuas nafsu lelaki.
"Dengan ini gue bisa goda lo Regan."
"Lo milik gue, bukan yang lain!"
"Dan lo Nara, bersiaplah untuk kehancuran yang kedua kali."
"Hahahhaahaa.."
ucap Cita saat itu.
Namun, ia tidak tahu dimana Regan berada hingga akhirnya ia lebih memilih untuk mengumpulkan uang terlebih dahulu agar ia tampak cantik. Bahkan kini ia berencana untuk mengubah wajahnya menjadi secantik mungkin.
***
Rumah Sakit
2 minggu berlalu, Maria belum juga pulih. Ia hanya di temani dengan oksigen dan infusan.
Bahkan Nesha kini tengah putus asa saat melihat mama nya sama sekali tidak ada perubahan.
__ADS_1
Ami dan Tomi sangat khawatir melihat Nesha. Mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain berdo'a.
Usaha Adnan untuk menghibur Nesha pun hanya berakhir sia-sia. Gadis itu benar-benar tidak seceria dahulu. Kini ia menahan pilu yang luar biasa.
Namun tiba-tiba saja jari tengah Maria terlihat bergerak.
"Mama.. " ucap Nesha
Sontak hal itu membuat ketiga orang yang berada di ruangan itu melonjak kaget dengan teriakan Nesha.
"Om , tante, Adnan.. Liat jari tengah mama bergerak." ucap Nesha antusias
"Wahh iya sayang. Adnan ayo panggilkan dokter nak." ucap Ami
Adnan pun segera beranjak dari tempatnya, dan berlalu menuju ruangan dokter.
Tak lama dokter pun datang.
"Permisi, biar saya periksa dulu." ucap dokter itu
"Iya dok." ucap Nesha
Setelah selesai memeriksa Maria, Nesha begitu semangat menanyakan keadaan mamanya.
"Gimana keadaan mama saya dok?" ucap Nesha
"Kondisi pasien semakin membaik mungkin besok atau lusa pasien akan sadar dari koma nya." ucap dokter itu.
"Beneran dok?" ucap Nesha
"Iya, ditunggu saja. Kalo gitu saya permisi ya." ucap dokter
Nesha benar-benar bahagia mendengar pernyataan dari dokter itu. Kini pipi yang selalu basah dengan air mata itu perlahan mengembang menampilkan senyum manisnya.
***
Sementara ketiga sejoli, yaitu Fino, Robi juga Sony kini tengah ketakutan di kejar bencong komplek.
"Ouh mas Fino tunggu Ajeng mas." ucap banci itu
"Mas Sony sini, Rika sendiri lho."
"Akang Robi, Nuni siap memberikan servis terbaik."
Ucapan para banci itu membuat ketiga sejoli bergidik ngeri. Pasalnya, dengan seorang wanita saja ia bersikap dingin dan acuh. Dan sekarang? Mereka harus di hadapkan dengan para banci di gang melati sore itu.
"Hossh... hosshh.."
"hahh.. hahh.."
"huuuuuuhhhh..."
"Akhirnya, gue bebas njirr." ucap Fino.
"Heem mas." ucap Ajeng, si banci itu
"Huaaaaaaaa...." Fino menjerit sekenanya
Sehingga para warga pun berdatangan untuk menolong 3 pemuda itu.
Setelah sekian abad mereka di ganggu para banci akhirnya mereka bisa pulang dengan keadaan selamat sentosa menuju apartemen Fino.
__ADS_1