
Pagi berganti malam..
Jam yang sudah menunjukkan pukul 5 sore itu, membuat Nara kembali pada kesadarannya. Ia mencoba untuk bersikap tenang dengan kejadian yang baru saja ia alami.
Tak lama ia keluar dari ruangan kerja itu. Pasalnya sedari tadi ia hanya tertidur dengan pulasnya tanpa mengawasi caffe. Terlihat di luar sana para karyawan sedang berlalu lalang. Ada yang sedang membuat kopi, melayani para costumer, menyiapkan makanan, bahkan ada yang sedang sibuk membereskan serta membersihkan meja-meja.
Nara menatap nanar di setiap sudut caffe itu. Dimana caffe ini adalah hasil kerja keras Regan untuk menghidupinya dahulu. Tapi kejadian tadi membuat Nara lesu dan ingin menyerah.
Bahkan, saking kalutnya pikiran Nara tentang wanita yang ada di telepon tadi ia melupakan buah hatinya itu.
Hingga, lamunan Nara buyar saat Egi menyapanya.
"Bu, maaf udah mau pulang?" tanya Egi sopan.
"Nanti bentar lagi, gi." jawab Nara
"Mau makan atau minum bu?" tanya Egi
"Engga, nanti kalo lapar saya bisa ambil sendiri kok." ucap Nara seraya tersenyum
"Oh baik bu. kalo gitu saya izin ke belakang." ucap Egi, kemudian di balas anggukan oleh Nara. Namun, ia langsung mencegah Egi agar ia tidak berlalu dari hadapannya.
"Ee, gi tunggu!" ucap Nara
"I-iya bu ada apa?" tanya Egi
"Duduk dulu, gi." ucap Nara
"Eh iyaa b-buu." ucap Egi lalu duduk di seberang Nara
"A-ada apa ya bu? Apa saya melakukan k-kesalahan?" tanya Egi gugup. Pasalnya, Nara tidak pernah mau berbicara lama dengan karyawan mana pun.
"Engga, saya cuma mau tanya sesuatu." ucap Nara seraya tersenyum kecil
"Oh, mau tanya apa bu??" tanya Egi dengan ramahnya.
"Mas Regan, belakangan ini dia sering ke caffe kan gi?" tanya Nara to the point
"Ee.. Jarang sih bu." ucap Egi
"Jarang?" tanya Nara
"Iya bu, seminggu ada lah 2x kesini. Itupun cuma sebentar sekitar 1-2 jam aja." ucap Egi jujur
"Kamu tau dia kemana?" tanya Nara
"Kalo masalah itu saya kurang tau bu." ucap Egi
"Hemm.. " ucap Nara seraya mengangguk-ngangguk.
"Emm ada lagi yang mau di tanyain bu?" ucap Egi, yang sadar jika Nara tengah melamun saat ini.
__ADS_1
"Ah engga, kamu bisa lanjutin tugas kamu. Sebelumnya makasih ya infonya." ucap Nara
"Iya bu sama-sama. Saya permisi yaa." pamit Egi seraya membungkuk kemudian pergi ke belakang.
Terlihat Nara sedang mempertimbangkan sesuatu yang ada di pikirannya. Ia ingin mengikuti langkah suaminya kemanapun ia pergi, namun bagaimana dengan Mahesa?
"Ah Mahesa bisa di titipin ke Bu Uti." monolog Nara.
Merasa mantap dengan pertimbangan hatinya itu. Nara bertekad untuk mengikuti Regan diam-diam ketika ia pergi ke luar.
Sejenak, saat mengingat Mahesa ia langsung merogoh ponselnya yang ia taruh di saku bajunya. Terlihat ada 20 panggilan dari Bu Uti. Tampak kening Nara terlipat melihatnya, pasalnya Bu Uti tidak pernah menelpon Nara sampai puluhan kali begini.
"Hah ini ada apa? Tumben banget Bu Uti nelpon terus?"
"Jangan-jangan Mahesa kenapa-kenapa, Ya Allah lindungi anakku." monolog Nara
Kemudian ia pun berencana untuk menelepon Bu Uti. Namun, tangannya terhenti saat ada seseorang yang memanggilnya.
"Hai sayang." ucap lelaki itu, yang tak lain adalah Regan.
Ada sesak dalam dada Nara saat melihat suaminya. Bahkan, ia merasa tidak bersalah sama sekali setelah mengatakan sayang pada wanita lain. Tanpa pikir panjang, Nara segera melancarkan aksinya agar ia tahu kebenaran tentang Regan.
"Eh mas. Udah pulang?" tanya Nara seraya mencium punggung tangan suaminya.
"Udah dong." ucap Regan seraya mengecup kening Nara.
"Mana oleh-olehnya mas?" tanya Nara
"Oh, gapapa kok." jawab Nara , tentu dengan perasaan sedikit kecewa. Karena selama Regan pergi kemana pun, ia tak pernah lupa membawa buah tangan untuk keluarga kecilnya.
"Em mas mau makan?" tanya Nara kemudian
"Ngga, mas udah makan tadi." jawab Regan.
"Oo.. " ucap Nara seraya menganggukkan kepalanya.
"Esa di mana?" tanya Regan
"Esa sama Bu Uti." jawab Nara
"Kamu titipin Esa?" tanya Regan
"Iya gimana lagi mas. Caffe kan gak ada yang ngawasin." terang Nara
"Iya sih.. Tapi dia gak rewel kan?" tanya Regan
"Engga dong. Bu Uti pinter bikin Esa seneng." kekeh Nara
"Iyaa bagus deh. Kalo gitu kita pulang yuk." ajak Regan
"Caffe nya gimana?" tanya Nara
__ADS_1
"Kan ada Egi." ucap Regan seraya memanggil Egi
"Gii .. Sini kebetulan! " seru Regan saat melihat Egi sedang berjalan mengarah ke costumer.
"Eh Pak Regan. Gimana kabarnya pak? Seru gak liburannya pak?" tanya Egi antusias. Nara yang mendengar pertanyaan dari Egi pun langsung mengalihkan penglihatannya ke layar ponsel supaya Regan tidak curiga.
"Hahaha.. baik-baik." ucap Regan dengan ketawa yang di buat-buat.
"Oh iya saya ke depan dulu pak." pamit Egi
"Bentar. Saya mau pulang, kamu tolong urus caffe ya kayak biasanya." ucap Regan
"Siap pak." seru Egi
Kemudian Egi pun berlalu dari pasutri itu.
Tak lama Regan pun mengajak Nara pulang ke rumahnya. Di perjalanan Regan maupun Nara tidak ada yang bersuara seorang pun. Terasa hening memang, namun siapa yang mau bicara lebih dulu jika keduanya saja tengah sibuk dengan pikirannya masing-masing?
Regan yang sibuk dengan rencananya agar bisa pisah dari Nara, serta Nara yang sibuk memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa mengikuti Regan tanpa sepengetahuannya.
Tak terasa sebelum maghrib tiba mereka sudah sampai ke rumahnya itu. Nara pun bergegas turun terlebih dulu dan langsung melangkahkan kakinya ke rumah Bu Uti.
tokk tokk tokk
Pintu itupun langsung terbuka.
"Eh bu, hari ini gimana Esa rewel gak?" tanya Nara
"Iyaa ra. Tadi dia tiba-tiba nangis histeris. Padahal biasanya enggak. Ibu bingung makannya telepon kamu sampe puluhan kali." ucap Bu Uti seraya mengingat kejadian tadi.
"Heheh.. maafin ya bu, Nara gak enak." ucap Nara
"Ah gapapa kok, namanya juga anak anak." ucap Bu Uti
"Oh iya Esa nya lagi apa bu?" tanya Nara
"Baru aja tidur. Nanti aja ibu anterin kalo bangun. Kalo dibawa sekarang kasian takutnya malah pusing ra." ucap Bu Uti pada Nara
"Oh yaudah bu, nanti kalo bangun Bu Uti telepon Nara aja ya." ucap Nara
"Iya siap, kamu bersih-bersih aja dulu." ucap Bu Uti
"Iya bu, Nara pamit ya." ucap Nara
Kemudian Nara pun langsung pamit dari kediaman Bu Uti itu. Tak lupa bingkisan makanan yang dibawa Nara pun langsung diberikan pada wanita paruh baya itu.
Sebelum membuka pintu, Nara mencoba menghela nafasnya panjang. Ia tidak ingin amarah menguasainya.
Namun, saat Nara hendak membuka pintu kamar, terdengar Regan sedang berbicara dengan seseorang melalui ponsel. Nara yang penasaran pun mengurungkan niatnya untuk masuk, kemudian ia diam di balik pintu kamar seraya mendengarkan percakapan suaminya.
"Iya sayang, mas pasti akan ceraikan Nara kok." ucap Regan lemah lembut.
__ADS_1
Deg