
prokk prokkk prokk..
"hebat ya.."
"bangkai yang kamu simpan benar-benar rapi mas."
"ternyata ini alasan kamu ingin menceraikan aku?"
ucap Nara dengan suara lantangnya.
Tampak di sana Regan menampakkan wajah terkejut. Lain halnya dengan Anna, ia terlihat sumringah saat hubungan gelapnya terungkap.
"Na-naraa.." lirih Regan.
"I-ini gak se-seperti yang kamu liat." ucap Regan.
"Udalah mas, gapapa. Toh kamu gak perlu cari alasan apapun untuk menceraikan wanita itu." tukas Anna.
"Benar. Apa yang di bilang Anna sangat benar." ucap Nara.
"M-mas m-minta maaf, Nara.." lirih Regan.
"Maaf mu tidak mungkin bisa menghapus luka yang membekas disini mas." tunjuk Nara tepat pada hatinya.
Tak terasa buliran air matanya kembali membasahi pipi indahnya dengan tetesan-tetesan kecil. Nara terlihat susah meneguk salivanya. Dadanya bergemuruh, sesak di dada itu kembali hadir. Ia kini melihat secara langsung bagaimana suaminya melakukan hal yang tak senonoh, bahkan pada wanita yang tak berstatus sah secara agama maupun negara.
"Nara, mas cinta sama kamu tap--"
"Tapi mas jauh lebih mencintai Anna, iya kan?" tanya Nara seraya terisak.
"Asal mas tau, aku selama ini rela menghilangkan luka trauma aku di masa lalu. Hanya demi kamu mas. Demi kamu!" tukas Nara.
"Tapi apa yang mas lakukan? hah? Mas dengan mudahnya mencintai wanita yang baru mas temui.. hiksss.. hikss." ucap Nara sambil terisak.
"Mas bahagiaa sama kamu ta-"
"Tapi mas jauh lebih bahagia bersama dia. Iya?" tunjuk Nara pada wanita yang ada di samping Regan.
"Maaf." lirih Regan.
"Mas, kali ini aku benar-benar sadar bahwa menyayangi orang itu ternyata ada batasnya. Contohnya, seperti kemarin aku terlalu yakin akan berujung bahagia, sampai lupa kalo jodoh bukan urusan manusia." ucap Nara dengan satu tarikan nafas.
"Nara, ini semua sudah takdir. Terutama tentang cinta. Kita tidak tau kemana hati kita akan berlabuh." ucap Regan.
"Asal mas tau, pelayaran kita sudah cukup jauh mas. Dengan teganya kamu berhenti saat daratan seujung kuku lagi?" tanya Nara.
'aku suka drama ini.' batin Anna dengan senyum devilnya.
__ADS_1
"Cukup Nara!" tegas Regan.
"Kenapa? hah?" tanya Nara.
"Kalo begini jadinya kenapa mas nikahin aku saat itu? Kenapa mas?" tanya Nara seraya terisak.
"Kenapa diam? Jawab mas!" teriak Nara.
"Asal kamu tau ya, mas nikahin kamu karena kamu wanita kesepian. Tidak lebih dari itu. Aku kasian liat kamu." tukas Regan.
"Apa? kasihan? Asal mas tau, aku tidak meminta belas kasihan kepada siapapun." tukas Nara.
"Dan satu lagi, apa mas bilang kesepian?" tanya Nara.
"Iya kamu pasti kesepian kan secara gak ada yang bisa kamu ajak ngobrol saat itu?" tanya Regan.
"Satu hal yang perlu mas ketahui. Aku tidak pernah kesepian! Karena isi kepalaku jauh lebih ramai dari riuhnya sudut kota pada malam hari." ucap Nara.
"Nara, mas gak ada maksud buat nyakitin kamu." ucap Regan.
"Bohong!" tukas Nara.
"Mas gak bohong." ucap Regan.
"Gak ada niatan buat nyakitin aku mas bilang? Lalu ini apa? Mas udah khianatin cinta aku. Kamu gak mikir? hah?" tanya Nara dengan suara yang tinggi.
Tamparan Anna melayang di pipi mulus Nara. Terlihat jelas bekas lima jari itu di kulit putih nya.
"Berisik lo! Lo itu sampah, harusnya ikut hanyut terbawa derasnya air sungai." tukas Anna.
"Iya, aku adalah sampah yang di pungut lelaki itu." tunjuk Nara pada Regan.
"Nara, ini semua takdir. Dan takdir itu bisa kita pilih sesuai keinginan kita. Termasuk mas yang jauh lebih memilih Anna dari pada kamu." ucap Regan.
"Sejak kapan kita bisa memilih takdir mas? Sejak kapan?" tanya Nara.
"Takdir memang selalu mengikuti keinginan kita Nara. Kamu harus tau itu." ucap Regan.
"Hah? Aku gak habis pikir dengan pemikiran kamu mas." ucap Nara seraya terisak.
"Nara, mas mohon. Mas gak mau cerai sama kamu tapi mas juga sangat mencintai Anna. Tolong pahami keinginan mas." ucap Regan.
"Apa? Mas kamu sudah janji mau bercerai dengan wanita itu." tukas Anna.
"Tapi Anna.." lirih Regan.
"Kalo mas gak mau cerai sama dia, biar aku yang bertindak." tukas Anna.
__ADS_1
"Kamu gak perlu bertindak apapun, karena aku tidak sudi untuk hidup dengan orang egois kayak kamu mas." ucap Nara.
"Egois? Aku gak egois. Aku cuma minta kalian pahami keinginan aku." ucap Regan.
"Mas kamu sudah janji." kekeh Anna.
"Anna, pliss.." mohon Regan.
"Gak bisa!" tukas Anna.
Tampak di sana Anna sangat kekeh dengan keinginannya. Ia mau Regan segera menceraikan Nara. Namun, lelaki itu tak mau meninggalkan orang yang pertama kali menyemangati kehidupannya yang di usir orangtua nya.
Berbeda dengan Nara, ia tampak terus terisak melihat Regan seperti itu. Ia tak menyangka jika lelaki yang menjadi suaminya itu harus ia relakan kepergiannya bahkan saat anak mereka masih berusia dini. Bagaimana nanti Nara menjelaskan kepada anak kecil itu? Apakah ia bisa paham tentang semua ini? Ia terus saja menyusun kalimat di kepalanya untuk ancang-ancang agar suatu saat Mahesa bertanya ia sudah punya jawabannya.
***
Sementara itu, Mahesa yang tengah bermain bersama Bu Uti pun tampak bahagia. Ia terus saja tertawa saat menaiki perosotan itu. Ya, karena Bu Uti merasa bosan main di rumah ia pun mengajak Mahesa untuk pergi ke area bermain anak-anak.
"Nek, aus." ucap Mahesa.
"Haus ya? Bentar ya nenek belikan minum di seberang sana. Esa disini jangan kemana-mana yaa." ucap Bu Uti lembut.
"Iya nek." jawab Mahesa.
Karena yang menjual air mineral hanya ada di seberang, Bu Uti pun sesegera mungkin melewati jalan yang penuh keramaian itu. Tampak di warung itu sangat ramai. Maklum, orang-orang sedang mengantre untuk membeli air mineral dan beberapa cemilan untuk anak-anaknya.
Di sisi lain, dua orang berbadan tegap dan besar itu tengah mengamati anak kecil yang ada di dekat perosotan itu.
"Gimana nih? Gas gak?" tanya lelaki berkepala botak itu.
"Ini rame be*o, lu mau bunuh diri apa gimana?" ucap lelaki yang berkumis tebal itu.
"........ " Tiba-tiba si botak mempunyai rencana untuk mengajak Mahesa bermain.
"Oke." ucap si kumis tebal.
Bu Uti yang hendak kembali ke tempat perosotan itu pun sangat kaget karena Mahesa tampak tidak ada di sana. Ia was-was dan takut jika anak kecil itu hilang.
Ia terus saja mencari Mahesa ke setiap sudut taman itu. Selain itu, ia juga bertanya pada orang-orang yang ada di sekitar perosotan itu. Namun, semua orang tampak tidak melihat anak laki-laki yang memakai baju coklat serta celana pendek berwarna hitam itu.
"Aduh, gimana ini." panik Bu Uti.
"Telepon Nara gak ya?" tanya Bu Uti pada dirinya sendiri.
Hari ini, wanita paruh baya itu sangat di landa kebingungan. Ia terus saja memikirkan nasibnya jika Mahesa hilang.
Tampak di seberang sana Bu Uti melihat dua lelaki berbadan tegap dan besar itu melihat ke arahnya.
__ADS_1