TRAUMA

TRAUMA
Chapter 46 - Rumah No. 121


__ADS_3

Di tengah malam itu, terlihat Fino yang terus saja mengepalkan tangannya seraya menatap kaca besar yang ada di kamarnya. Terlihat semburat merah serta tatapan tajam yang ia keluarkan, bahkan urat-urat besar di tangannya itu keluar dengan sendirinya.


Ia tak habis pikir, jika wanita yang ia cintai sejak duduk di bangku SMA itu harus mengalami hal pedih pada pernikahannya. Penderitaan terus saja berada di sisi Nara, seolah-olah telah menjadi sahabat akrabnya.


Saat itu, Fino ingin sekali menemui lelaki yang telah berani menyakiti wanitanya. Namun, ia sadar jika itu bukanlah urusan Fino. Mengingat hubungan mereka bukan lagi perihal pacaran tapi pernikahan. Ia takut jika kehadirannya malah menjadi masalah baru untuk Nara.


Namun, baru saja akal sehatnya berjalan, tiba-tiba saja bisikan syetan terus terdengar di telinganya seolah menyuruh Fino untuk menghabisi lelaki bernama Regan itu. Emosinya tak terkendali kala mengingat setiap jengkal cerita dari Sony. Naasnya, Robi tidak ada di samping Fino saat itu. Hingga ia pun berencana untuk memberikan pelajaran berharga pada lelaki itu.


"Lo harus mati di tangan gue, anj." ucap Fino.


"Gue gak terima kalo cinta Nara di khianati." ucapnya lagi.


"Bersiaplah badjingan." seringai Fino.


Ia pun menyambar jaket serta kunci motor yang ada di atas nakas kamarnya itu. Beruntungnya ia tinggal di apartemen sehingga ia tak perlu menjawab ocehan mamanya yang bikin naik darah itu.


Tampak di jalan utama itu ia mengendarai motor dengan kecepatan di atas rata-rata. Tidak ada umpatan dari penumpang lain karena jalanan sedang sepi pada malam itu. Mengingat kala itu waktu sudah sangat larut, bahkan hampir jam 12 malam.


Fino yang sudah mengetahui dengan jelas alamat dari lelaki itu pun terus saja mengegas motor sport nya itu. Hingga tak perlu menunggu waktu lama, ia pun telah sampai di depan gerbang rumah mewah itu.


"Rumah No. 121 gak salah lagi, pasti yang ini." monolog Fino.


Ia pun masuk ke rumah itu dengan mengendap-ngendap. Ia terus berjalan menyusuri luasnya rumah itu. Hingga sampailah ia di depan kamar yang pintunya terbuat dari kayu dengan ukiran yang sangat cantik. Di pintu itu terlihat ada abjad A dengan satu mahkota di atasnya.


Fino semakin mendekat ke arah pintu itu, samar-samar terdengar suara orang yang sepertinya sedang menikmati moment malam bersama. Fino yang mendengar pun bergidik ngeri lalu tanpa pikir panjang ia pun mendobrak pintu itu. Sontak kedua manusia berbeda gen itu tersentak kaget dan langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.


"Siapa lo? Gak sopan anj*ng!" umpat Regan.


"B*bi emang lo!" tukas Fino.


"Siapa sih? Ganggu aja lo!" ketus Anna.


Fino yang emosinya sudah memuncak itu pun langsung mendekati Regan, ia menarik selimut tebalnya itu. Anna yang melihatnya itu membiarkan saja tanpa ada penolakan. Ia yakin jika ia akan di gagahi oleh dua pria sekaligus.


Namun, sangkaan Anna salah justru Fino malah menghajar habis lelaki yang ada di sampingnya. Anna yang melihatnya pun membelalakan matanya sontak jeritan pun keluar dari mulutnya.


"Aaaaaargh.. stooopppp." jerit Anna.


"Mati lo anj*ng!" umpat Fino.


*bughhh


bughhh

__ADS_1


bughhh*.


Regan yang merasa tubuhnya masih lemas itu tidak melawan sama sekali. Ia pasrah dengan perlakuan lelaki itu. Hingga akhirnya, bunyi telepon Fino berdering sangat keras. Yang awalnya ia ingin menusukkan belati itu ke bagian dada lelaki itu kini harus menjawab telepon dari sahabatnya Robi.


[ 📞 : bangsat ] umpat Fino.


[ 📞 : Fin lo lagi dimana? ] tanya Robi.


[ 📞 : Jalan Anggrek No. 17 , Rumah No. 121. ] singkat Fino.


[ 📞 : Njir, lagi ngapain lo? ] tanya Robi.


klik


Tanpa menjawab pertanyaan dari Robi ia pun langsung mematikan telepon itu. Regan dan Nara terlihat pucat pasi saat lelaki yang di depannya itu menyebut dengan rincinya rumah yang mereka tempati.


"Kenapa lo liatin gue? hah?" teriak Fino dengan nafas yang masih naik turun.


"Sorry, gue punya salah apa sama lo?" tanya Regan.


"Lo masih nanya?" sinis Fino.


"Iya gue gatau siapa lo anjir." tukas Regan.


"Gue Fino." ucap Fino.


"Mikir lo!" ketus Fino.


Regan dan Anna pun saling memandang karena sosok di depannya. Namun, baru saja Fino hendak menghajar Regan kembali ternyata Robi datang mencegahnya. Dengan terpaksa Robi pun menyeret Fino keluar dan mengajaknya untuk kembali ke apartemen.


***


Malam pun berganti pagi, Nara yang telah menyiapkan sarapan untuk si kecil itu tampak memikirkan nasib mereka untuk ke depannya. Karena, tidak mungkin jika ia tidak bekerja sedangkan kini ia memiliki tanggungan yaitu Mahesa.


Selesai sarapan, seperti biasa ia akan menitipkan Mahesa kepada Bu Uti. Nara kali ini berniat untuk pergi ke caffe itu. Tapi sebelumnya ia menyiapkan mental terlebih dahulu.


Sesampainya di caffe itu, tidak terlihat sosok Regan dimana pun. Dengan nafas berat ia langsung melangkahkan kaki menuju ruangan kerjanya yang telah di bersihkan oleh Rita.


'Mas Regan pasti lagi di rumah cewek itu.' batin Nara.


Nara membuka laptop itu sedikit demi sedikit, namun betapa terkejutnya saat ia membuka satu file bernama My Baby itu berada di paling atas. Sesak itu kembali terasa saat Nara melihat isi dari album itu. Dalam album itu terlihat jelas foto mesra Regan dan Anna saat mereka liburan di Pulau Jeju. Nara tampak mengingat kejadian beberapa minggu lalu, saat suaminya pulang dari luar negeri. Saat itu pula Egi menanyakan tentang liburan Regan bersama keluarganya.


"Ternyata kamu selingkuh udah terlalu jauh ya mas."

__ADS_1


"Aku bener-bener gak habis pikir, dimana hati nurani kamu mas?"


"Apa yang membuat kamu setega ini sama aku?"


monolog Nara pada pagi itu.


Beberapa saat kemudian, Regan pun datang ke caffe itu. Nara berusaha untuk menutupi raut wajah kecewanya kemudian menggantinya dengan raut wajah yang datar. Pagi itu, Nara melihat wajah suaminya itu tampak lebam. Seketika ia ingin mengobati luka suaminya itu, namun rasa kecewa dan sakit hati sudah cukup menjelaskan bahwa ia tak perlu peduli dengan lelaki yang ada di hadapannya.


"Ra kamu udah gak peduli sama mas?" tanya Regan.


"Nara, apa kamu udah gak peduli sama mas?" tanya Regan saat pertanyaan pertama tidak ada jawaban dari Nara.


"Nara." ucap Regan dengan nada tingginya.


"Apa mas?" tanya Nara.


"Obati luka ini, Nara." tunjuk Regan pada luka-lukanya.


"Cih, untuk apa aku ngobatin luka kamu mas?" tanya Nara.


"Inget ya kamu itu masih jadi istri mas." tukas Regan.


"Secepetnya, aku akan urus surat perceraian kita." sengit Nara.


"Ohohooo.. Bagus kalo gitu." ucap Regan, tentu Nara mengacuhkannya.


"Nara, beneran kamu mau pisah sama mas?" tanya Regan kembali.


"Emangnya ada alesan aku buat bertahan sama kamu mas? Ada alesan aku buat tetep stay di samping kamu setelah kamu memberi celah untuk orang lain masuk melalui pintu hati kamu itu?" tanya Nara.


"Mas masih bisa nafkahin kalian berdua kok." ucap Regan.


"Bukan masalah uang mas, tapi kesetiaan. Bahkan aku yakin kalo kesetiaan itu lebih berharga dari pada uang." sarkas Nara.


"Tapi mas masih bisa kasih kamu nafkah batin, Nara." ucap Regan.


"Yang aku pikirin itu bukan cuma nafkah batin mas, tapi kasih sayang yang tulus tanpa ada gangguan dari wanita manapun." tukas Nara.


"Tapi mas berusaha untuk membahagiakan kalian berdua dan memberikan fasilitas yang mewah, mas janji." ucap Regan.


"Mas! Aku ini bukan cewek murahan yang hanya mementingkan harta. Dan mas harus tahu kalo bahagia itu bukan hanya dari kemewahan. Aku jauh lebih bahagia saat kita menjalin hubungan bersama dengan fasilitas yang sederhana." ucap Nara.


"Tapi Nara, mas cinta sama kalian berdua." ucap Regan.

__ADS_1


"Maaf mas, tapi aku jauh lebih mencintai diri aku." ucap Nara.


Namun, saat keheningan menyapa di ruangan itu. Tiba-tiba saja ada seseorang yang masuk dan dengan tidak sopannya memecahkan keheningan itu.


__ADS_2