
Jam istirahat di mulai, Riri sedang berjalan di koridor, dan tiba tiba tak sengaja ber papasan dengan Juno. Namun bagai tidak saling mengenal Riri berlalu begitu saja setelah tatapan nya tak sengaja bertemu dengan Riri.
Juno menghentikan langkahnya dan berbalik menatap punggung Riri yang berjalan menjauh darinya. Entah mengapa di hati Juno ada perasaan rindu, karena sebelumnya dirinya selalu bersama Riri dan melihat tawa khas Riri.
Tiba tiba Juno melihat segerombolan anak anak yang suka merundung Riri datang menghampiri Riri dan menghadang jalan Riri.
" Oi, miskin.. Kamu sudah tidak di lindungi Juno lagi, jadi jangan belagu. Cepat pergi ke kantin dan pesankan makanan untuk kami." Ujar seorang siswi yang selalu merundung Riri.
Juno seketika emosi melihat Riri kembali din ganggu, ia pikir setelah beberapa lama dirinya selalu bersama Riri, Riri sudah tidak di ganggu. Tapi rupanya mereka masih mengganggu Riri ketika tidak ada dirinya.
' Para ondel ondel ini!' Batin Juno, Juno hendak maju tapi kemudian ia mendengar Riri melawan.
" Siapa kalian menyuruh diriku??" Ucap Riri.
Para perundung yang berjumlah 4 orang itu sedikit terkejut mendengar Riri berkata demikian.
" Kalian punya tangan, kaki dan mulut yang sempurna. Kenapa tidak datang sendiri dan memesan makanan kalian?" Ujar Riri lagi.
Juno terkejut mendengarnya, biasanya jika di ganggu, Riri hanya akan menunduk dan takut. Kali ini Riri melawan, bahkan sampai para gadis itu juga terkejut.
" Oh, kau pikir Juno masih melindungimu, kah? Jangan kau pikir kami bodoh, kabar bahwa kau dan Juno sudah tidak berteman itu menyebar luas." Ujar siswi tadi.
" Lalu?? " Ujar Riri.
" Ck! Dia sunggu berani. Kau bera.. ukh!" ucap siswi tadi ketika hendak menampar Riri namun langsung di tangkis oleh Riri.
" Jangan kau kira aku takut padamu! Aku sekolah di sini, bukan kau yang membiayainya. Aku sudah tidak akan lagi tunduk pada perundung seperti kalian, jadi.. jaga mulutmu baik baik, atau tanganmu ini akan patah." Ujar Riri dengan nada di tekan dan mata yang menatap tajam.
Riri mendorong tubuh gadis itu, hingga menabrak teman teman nya sendiri, sementara Riri langsung melangkah pergi dari sana.
" Oi!! dasar gila!" Teriak para gadis itu, tapi Riri justru mengacungkan jari tengahnya ke arah 4 perundung itu.
Dari jauh, Juno tersenyum ketika melihat Riri yang sungguh sudah menjadi pemberani.
' That's my girl.' Batin Juno.
Sememtara itu, Riri masuk kedalam toilet dan langsung berkaca kaca. Sesungguhnya dia tadi ketakutan, tapi dia tidak boleh terlihat lemah seperti yang Lea katakan.
' Ayo Riri, kamu bisa. Jangan menjadi pecundang, kamu harus berani. ' Batin Riri.
Riri menghapus air matanya, kemudian ia kembali keluar dari toilet dan menyusul Lea yang sudah berada di kantin.
" Riri, kemari.. Ini makananmu." Ujar Lea.
" Terimakasih, Lea." Ujar Riri sambil tersenyum.
__ADS_1
Richard membantu menyelipkan rambut di telinga Lea, dan itu di lihat oleh Riri. Riri tersenyum, ketika akhirnya Lea mau membuka hatinya untuk Richard.
" Berbahagialah kalian berdua. Richard, aku sungguh sudah menganggap Lea sebegai kakakku, karena dia adalah dewi penolongku. Aku titipkan dia padamu, jangan sampai kau membuatnya menangis." Ujar Riri.
" Tanpa kau titipkan dia padaku, aku akan menjaganya dengan sepenuh hati." Ujar Richard.
TING! TING! TING!
Bunyi gelas yang di pukul dengan sendok.
" Teman teman, mulai saat ini Richard dan Lea resmi berpacaran. Berikan selamat pada mereka berdua." Ucap Juno yang datang dari pintu masuk kantin.
Seketika semua orang langsung menatap ke arah Lea dan Richard lalu bertepuk tangan. para tim TIGER pun langsung bersorak sorai.
" Good job, kapten!" Teriak para tim TIGER.
Richard mengangkat jempolnya sambil terkekeh. Ada ada saja tingkah para tin TIGER.
" Terimakasih teman teman." Ujap Richard.
Satu yang menatap dengan pandangan penuh kesal dan tajam pada Richard, Kyle. Kyle mengeratkan rahangnya kuat kuat dan mengepalkan tinjunya.
' Aku tidak akan membiarkan kau memiliki Lea, Lea milik ku.' Batin Kyle.
Juno akhirnya duduk di sebelah Riri, ini adalah pertama kalinya Juno kembali duduk bersebelahan dengan Riri setelah hari itu. Baik Richard maupun Lea juga menatap heran dengan Juno yang duduk di sebelah Riri.
Riri hendak bangun namun tangan. Ya di cekal oleh Juno.
" Mau kemana?" Ucap Juno.
Riri menatap tangan nya yang di cekal oleh Juno, kemudian ia menatap Juno dan berkata.
" Bukan urusanmu." Ujar Riri, lalu menarik tangan nya dari Juno.
" Duduklah, makan makananmu." Ujar Juno, kembali meraih tangan Riri.
Tentu saja Riri mengernyitkan keningnya, sudah semingguan ini Juno menjauh darinya. Kenapa sekarang Juno bicara lagi padanya.
" Kenapa? Aku tahu aku tampan, tidak perlu menatapku sebegitunya juga, kan? " Ujar Juno.
" Percaya diri sekali, anda." Ucap Riri, lalu mengibas kembali tangan Juno dari tangan nya.
"Lea, maaf aku akan makan di tempat lain." Ujar Riri, dan Lea mengangguk.
Riri membawa makanannya pergi dan duduk di meja lain, bergabung dengan orang orang asing. Juno menatap Riri dengan sendu dan merasa bersalah.
__ADS_1
" Bukankah kau sudah mendorongnya pergi? Kenapa sekarang kau seakan memintanya kembali?" Ujar Lea pada Juno.
" Aku salah.. " Ujar Juno.
" Terlambat, dia sudah tidak membutuhkan dirimu lagi." Ujar Lea, dan Juno langsung menatap Lea.
" Apakah dia sudah memiliki pengganti diriku?" Tanya Juno.
" Mungkin iya, mungkin tidak. Kau tahu, kau adalah laki laki bren*sek." Ujar Lea, dan Juno menunduk.
" Aku tahu, aku menyesal." gumam Juno.
" Kau menyesal? Kau Menyesal, lalu kau mau apa?" Tanya Lea.
Richard dan Lea saling pandang ketika Juno menunduk, lalu menghela nafas dengan pemikiran mereka masing masing.
Lea pikir Juno ini tipikal pria bren*sek seperti ayahnya, Lea tentu belum tahu cerita di balik sikap Juno yang begitu karena Richard belum memberi tahu Lea.
" Jangan ganggu Riri lagi, biarkan dia bangkit dan mencari kebahagaan nya lagi." Ujar Lea.
" Sayang, Juno begitu karena memiliki trauma di masalalunya." Bisik Richard.
Lea langsung menatap Richard. Trauma? Seorang Juno yang terlihat tengil dan bren*sek itu memiliki trauma?
" Akan aku ceritakan nanti." Bisik Richard.
Bel sekolah berbunyi, dan semua orang kembali ke kelasnya masing masing. Lea masih menatap Juno dengan pandangan tidak percaya bahwa Juno memiliki trauma.
" Anak anak, tidak terasa sebentar lagi kita akan bertemu dengan ujian akhir semester. Dan kita akan berpisah setelahnya." Ujar Guru kelas.
" Saya harap, kalian semua bisa meraih semua mimpi kalian kelak. Seminggu lagi, kita akan bertemu dengan ujian akhir semester, saya harap kalian sudah siap mengikuti ujian." Ujar Guru, lagi.
" Belajarlah lebih giat lagi, agar kalian lulus dengan nilai memuaskan. Saya sebagai Guru kalian, akan merasa sangat bangga jika kalian semua bisa lulus dengan nilai tinggi." Ujar Guru.
" Baik, pak." Sahut semua murid.
" Baiklah, mari kita lanjutkan pelajaran kita." Ujar Guru.
' Kelulusan, ya.. Setelah lulus nanti, aku pasti tidak akan lagi bertemu dengan nya.' Batin Riri.
Sementara Juno menatap Riri, dia merasa seakan waktu akan semakin memisahkan mereka nanti apabila mereka sudah lulus. Apalagi Juno akan melanjutkan study nya di luar negeri.
' Aku harus bagaimana, Riri..' Batin Juno.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1