
'Loh kok kek ada yang nangkep gue' gumamku saat itu
Merasa penasaran. Aku pun membuka sedikit demi sedikit mataku. Dan ya, kini terlihat wajah tampan Regan sangat dekat denganku.
Degg
Jantungku berpacu begitu cepat ketika menatap matanya.
Regan begitu intens menatapku, bahkan ia seperti tak jijik melihat keadaanku yang sudah tak berbentuk itu.
Aku yang sadar lebih dulu, mencoba untuk melepaskan dekapan darinya.
"E.. maaf kak." ucapku.
"Mmm.. iyaa." ucapnya
"Oh iya ada masalah apa, hemm?" tanya Kak Regan kemudian.
"Ngga.." jawab ku dengan wajah yang tertunduk lesu.
"Mau berbagi masalah gak?" tanya nya kemudian.
"Mmm.."
"Sudah ayo masuk!" ajak Kak Regan padaku
Aku hanya menuruti ajakan Kak Regan.
Di dalam mobil tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Sehingga suasana benar-benar hening dan canggung malam itu.
Aku tidak tahu kemana Kak Regan akan membawaku malam itu. Sejenak aku melirik ke belakang kursi, disana terdapat satu ransel tas berwarna hitam.
"Aku di usir dari rumah." ucap nya
"Loh kenapa?" tanyaku
"Ceritanya panjang."
"Nanti aku ceritakan."
ucapnya kemudian.
Aku hanya mengangguk mendengarkan ucapannya.
1 jam kemudian
Sampailah aku dan Kak Regan ke satu tempat yang sangat indah. Di tempat itu aku yakin akan menjadi tempat mengadu nya nasib antara nasibku dan nasib Kak Regan.
"Kita turun yuk, ra!" ajaknya padaku.
"Iya kak, ayo" ucapku
Sampai di satu tempat duduk, Kak Regan memesan minuman serta cemilan untuk menemani kami ngobrol malam itu.
Merasa tak ada yang mulai bicara, aku pun memberanikan diri untuk bertanya padanya.
"Emm.. kak kenapa kok bisa di usir?" tanyaku
"Kamu sendiri kenapa mau bunuh diri?"
Bukannya menjawab pertanyaanku, Kak Regan malah balik bertanya padaku.
"Em ituuu.. Nanti aku ceritain kalo Kakak udah cerita." ucapku
"Awalnya, karena foto ini ra."
kata Kak Regan dengan menunjukkan foto kami saat di hotel.
Aku menatap nanar ada foto itu, ternyata bukan hanya aku yang kena imbas dari foto itu. Tapi ternyata lelaki tampan itu pun terkena imbasnya.
"Mereka menyangka kalo aku berbuat mesum sama kamu, ra."
"Gak ada satu pun yang percaya sama penjelasan aku."
"Malam itu, malam itu kita di jebak raaa."
"Ada yang memprovokasi aku buat bawa kamu ke hotel malam itu, raa. Ada yang bilang kalo nyawa kamu terancam kalo dirumah ra."
"Waitt.. kakak tau siapa lelaki itu?" tanyaku
Kak Regan hanya menggeleng lemah menjawab pertanyaanku.
"Lelaki itu misterius, dia pake masker." jawabnya
"hhhh.."
"Maaf ya kak, gara-gara aku kakak jad-"
"Sstttt" ucap Kak Regan dengan menempelkan telunjuknya di bibirku.
"Kamu gak salah, justru aku yang ngerasa salah sama kamu ra. Aku penyebab dari rencana bunuh diri kamu itu kan?" tanya nya
__ADS_1
"Engga kak.." lirih ku
"Lalu?" tanya nya kemudian
"Sebenernya.. Aku-"
ucapanku terpotong saat ada pelayan menghampiri ku.
"Maaf mas, mbak. ini pesanannya silahkan di nikmati yaa." ramah pelayan itu
"Iya makasih, mas." ucapku
"Hem." ketus Kak Regan
"Terusin ra." titah Kak Regan.
"Emm.. aku juga punya masalah keluarga kak. Aku bahkan sering di siksa sama mama dan kedua kakakku."
"Aku capek!"
"Semenjak ayah pergi, aku harus meratapi hidup penuh bersimbah darah."
"Memar dari cambukan adalah makanan sehari-hari ku."
"Malam ini, aku berencana untuk pergi meninggalkan dunia ini."
"Karena aku lelah dengan semua ini."
"Belum lagi dengan kejadian tadi pagi saat aku di sekolah."
"Aku di bully habis-habisan sama anak-anak."
"Dituduh, dihina, dicemooh, bahkan aku dilempar tomat busuk, telur busuk, kerikil."
"Parahnya lagi, ada yang siram aku kak. Aku disiram air bekas pelan. Bahkan saat luka cambukan dan sayatan itu masih basah."
"Bahkan darah segar kerasa banget ngalir ke betis aku kak."
"Anak-anak ngira kalo aku keguguran kak."
"Parahnya lagi aku di kira jelmaan sundel bolong, gara-gara punggung aku ada bercak darah."
"Tragedi tadi pagi buat aku yakin untuk mengakhiri hidup."
"hikss.. hikss.. hikss.."
Aku memutar kembali memori ku untuk menceritakan semua kejadian demi kejadian pahit dalam hidupku.
Bahkan, terlihat dari sudut mata lelaki itu ia menitikkan air mata. Namun sesegera mungkin ia menyeka air mata itu.
"Aku prihatin sama keadaan kamu, nara."
"Kita sama-sama punya masalah."
"Allah mempertemukan kita buat saling menguatkan, ra."
"Mau kan kita menjadi dua orang insan dengan satu kekuatan pasti?" tanya nya kemudian.
Degg
Apa Kak Regan nembak aku? Ah tapi aku tidak mau terlalu percaya diri.
Lagian kita baru saja ketemu, mana mungkin ia bisa jatuh cinta secepat itu.
"M-maksud kaka?"
"Naraa, aku gak akan maksa kamu untuk terima aku. Tapi aku mohon, jadilah penguat aku."
"H-ha? kakakk jatuh cinta sama aku? Atau kakak hanya kasihan melihat keadaan aku?" tanyaku pada Kak Regan.
"Jauh dari lubuk hati aku yang paling dalam, raa. Aku benar-benar cinta sama kamu."
Aku mencoba meneliti kebohongan dari matanya. Namun, aku sama sekali tidak menemukannya.
Malam itu menjadi malam tersedih dan terbahagia untukku.
Sejenak aku berpikir untuk memberikan jawaban yang tepat untuknya.
"Naraa?" ucapnya kemudian
"Iya kak, nara mau." ucapku mantap
"I love you, Naraa."
"I love you too Kak."
"Hemm, kak?"
"hah?"
"Panggil Regan ya, aku bukan kakak kamu." ucap Kak Regan .
__ADS_1
"Iyaa kak, ee-maksudnya Regan." ucapku.
Aku dan Kak Regan resmi menjadi sepasang kekasih malam itu. Aku tidak tahu benar mencintainya atau tidak. Tapi yang pasti aku butuh kasih sayang dari seseorang untuk menguatkan setiap langkahku.
Aku dan Kak Regan berencana untuk pergi ke luar kota untuk membuka lembaran baru pada malam itu.
Kami berdua tinggal satu atap, yaitu di rumah mendiang neneknya. Untungnya kamar di rumah itu ada 2.
***
Sementara di rumah Nara
Ketiga manusia dewasa itu sempat heboh dengan berita di salah satu stasiun TV.
{ Baik, pemirsa. Tadi malam warga sekitar Kota X dihebohkan dengan adegan bunuh diri seorang siswi SMA. Dari pendapat masyarakat sekitar siswi itu memakai seragam SMA Garuda. Namun sangat disayangkan, wajahnya remuk tidak berbentuk akibat benturan keras dari batu besar yang ada di sungai itu. }
Sontak ketiga orang itu membulatkan matanya. Seketika mama nya mengingat Nara yang tidak pulang sejak kemarin.
"Hah jangan-jangan itu si anak sialan!" tukas mamanya
"Ah iya mah, dia kan semalam gak pulang" ucap Ray
"Cakep dah, gak ribet kan harus bunuh dia." ucap Roy santai.
"Ah iyaa, semua harta papa juga ada dibawah kekuasaan mama kan.. hahahaha.." ucap Mama Nara
" hha haahaa.. "
"hahahahaa"
sontak kedua anaknya pun ikut tertawa.
Mereka kini tengah berbahagia melihat kasus yang tersebar di stasiun TV itu. Bahkan mereka berencana untuk mengadakan pesta kemenangan nanti malam.
***
"Hah? Siswi SMA Garuda? Siapa anjirr?" ucap Robi
"Jangan-jangan Nara." tukas Fino
Iyap betul, kedua sejoli itu kini tengah berada di salah satu apartemen milik Fino. Mereka yang tengah asyik makan siang pun kini terganggu dengan berita itu.
"Mana ada ege." ucap Robi
"Heh kemaren dia kan di bully be*o, bisa aja kan dia putus asa." ucap Fino
"Iya juga sih . Njirr kalo beneran dia, nyesel gua bully dia." ucap Robi
*Drrttt
drttt
drrttt*
Robi tampak kesal mendengar nada dering dari ponselnya.
"Aish siapa sih." tukas Robi
"Hah? Nesha?" ucapnya lagi.
"Halo Nes. Ada apa?" tanya Robi
"Rob lo denger ada siswi yang bundir gak?" tanya Nesha di seberang telepon sana.
"Lah lo tau juga?" tanya Robi
"Heh bukannya jawab malah balik nanya, gimana sih!" kesal Nesha
"hehe.. iya tau. Nih gue sama Fino baru aja lagi ngomongin eh bidadari nya gue nelepon." ucap Robi.
"Ck klasik banget omongan lo." tukas Nesha
"Iya emang kenyataannya gitu Nes." ucapnya.
"Hem.. Btw kalo itu Nara gimana rob?" tanya Nesha kemudian
"Gue juga gatau Nes. Apa kita ke rumahnya aja ya kayak ngelayat gitu." usul Robi
"Cih, najis gue!"
tut
Percakapan pun terputus sebelah pihak.
"Lah gue cuma ngusulin, anjritt." ucap Robi tak Terima.
"Apa kata crush lu?" tanya Fino
"Iya nanya masalah siswi yang terjun payung." ucap Robi.
"oh" ketus Fino
__ADS_1
Merasa bosan dengan topik obrolan mengenai tragedi itu, Robi pun mengajak Fino untuk bermain game Mobile Legends.