
"hufft.. untung aja bukan Anna yang telepon. Kalo dia yang nelepon habis gue." ucap Regan dalam mobil itu.
Beberapa menit kemudian Regan telah sampai di Caffe R&N itu. Ia pun segera melangkahkan kakinya menuju ruangan kerja. Namun, langkahnya terhenti saat melihat satu lelaki dengan perawakan yang sudah tidak asing di matanya itu.
'Sony.' batinnya.
Tak perlu memikir panjang ia pun menghampiri meja nomor 9 itu.
duk, Regan menepuk bahu Sony.
"Sony.. Ini abang son." seru Regan.
"Kamu gimana kabarnya? sehat kan? papa sama mama gimana?" tanya Regan.
"Maaf mas, sepertinya anda salah orang." ucap lelaki itu.
"Gak, gue gak mungkin salah orang. Lo itu Sony adek gue." ucap Regan yang terus saja memeluk lelaki di hadapannya.
"Maaf mas, coba lepasin dulu pelukannya." titah lelaki itu.
"Haah." ucap Regan saat melihat lelaki botak di hadapannya.
"Kok botak? tadi kan-"
"Saya pake topi mas, tadi pas mas meluk topi saya loncat." ucap lelaki itu.
"So-sorry, salah orang." ucap Regan seraya menggaruk tengkuknya.
"I-iya gapapa mas." ucap lelaki itu.
"Mm, kalo gitu saya permisi." ucap Regan yang di angguki oleh lelaki itu.
Tampak di sana Regan seperti menahan malunya. Terlihat semburat merah pada kedua pipinya. Bahkan, orang-orang yang sedang menikmati hidangan Caffe itu pun dibuat tercengang dengan pemandangan pagi itu. Perlakuan Regan seperti itu tak luput dari perhatian para karyawan.
"Kenapa kalian liatin saya?" tanya Regan pada karyawannya itu.
"Ee-anuuu.." ucap karyawan itu gugup.
"Anu anu.. sana balik kerja!" tukas Regan.
"B-baik pak." ucap karyawan itu dengan sopan.
Para karyawan yang sedang asyik melihat kelakuan Regan pun langsung menunduk dan kembali bekerja.
Tanpa mereka ketahui, bahwa ada seorang lelaki yang hendak keluar dari kolong meja itu. Beruntungnya Caffe sedang ramai hingga Sony sembunyi pun tidak ada yang sadar.
"Sstt.. sstt.. udah gak ada. Keluar lo!" ucap Robi.
"Sonyy.. sonyy.." bisiknya.
"Eh iya gue mau keluar, bantuin ege!" tukas Sony.
"Sini, keluar." ucap Robi.
__ADS_1
Namun, saat ia akan keluar tiba-tiba saja kepalanya terbentur pada meja yang ada di atasnya.
"Anj*ng!" umpat Sony.
"hahahahaa.." gelak tawa Robi saat melihat sahabatnya terbentur meja.
"Anjirr lo." ketus Sony.
"Mas kenapa kok ketawa sendiri? Pasien rumah sakit jiwa ya?" tanya salah seorang wanita yang ada di seberang nya itu.
"Iya nih kasian ganteng-ganteng gak waras." ucap pria yang hendak memesan makanan itu.
"hahhahaha.. " gelak tawa Sony di kolong meja itu.
"Siapa itu yang ketawa?" tanya wanita di meja nomer 8 itu.
"Gatau.. ihhh!" jawab salah satu wanita sambil bergidik ngeri.
"saya ini gak gila ya!" tukas Robi.
"Terus apa? gak waras?" tanya bapak-bapak yang ada di meja 7 itu.
"Dahlah males gue." ucap Robi.
Ia pun berjalan ke luar untuk menghindari segerombolan ibu-ibu dan bapak-bapak itu. Hingga akhirnya Sony yang telah berhasil keluar dari bawah meja itu pun menyusul sahabatnya. Sebelumnya para costumer di Caffe itu ber-oh ria saat melihat Sony yang muncul di bawah meja.
***
"kita hancurkan dia, sehancur-hancurnya." ucap ibunya itu.
"hahahahaaa... " tawa mereka menggema di ruang tengah itu.
"Apa rencana kamu roy?"
Iya dua orang yang tengah mengobrol itu adalah Roy dan juga mamanya. Roy sudah memberitahu perihal Nara. Ia juga telah mengerahkan mata-mata untuk mengulik informasi lebih lanjut tentang Nara.
Hingga pada akhirnya, orang suruhan mereka pun membeberkan jika Nara kini telah memiliki seorang anak. Tentu saja mereka tahu jika Mahesa selalu dititipkan di rumah tetangganya yaitu Bu Uti.
Roy yang belum puas menyiksa adiknya itu pun berencana untuk menculik Mahesa sebagai pelampiasan kekesalan pada Nara. Entah mengapa mereka semua selalu dendam pada Nara.
"Wii lagi pada bahas apa nih?" celetuk Reyhan yang baru saja pulang dari kantor Adhitama cabang itu.
"Rey, kakak kamu ketemu sama bocah sialan itu." tukas mamanya.
"Wait.. maksud mama na-nara?" tanya Rey.
"Iya, gue ketemu dia di kota X." ucap Roy.
"Kota X, Caffe yang sempet viral itu?" tanya Rey.
"Yash, ternyata dia belum mati. Nasib baik berpihak ke gue karena Caffe yang gue beli itu caffe cabang milik Nara dan suaminya." ucap Roy.
"Terus.." ucap Rey.
__ADS_1
"Gue suruh orang buat ngintai tuh bocah, ternyata dia udah nikah dan punya satu anak njir." ucap Roy.
"Gilaa.. Jangan-jangan tu anak hasil hubungan gelap kak." ucap Rey.
"I don't know! Tapi yang pasti gue punya rencana." ucap Roy dengan tersenyum miring.
"Rencana apa?" tanya Rey.
"Ada, nanti gue kasih tau." ucap Roy.
"Mama gak sabar mau siksa dia lagi." ucap mamanya.
"tenang ma, Roy janji bakal bawa gadis sialan itu ke hadapan mama secepetnya." ucap Roy.
"mama tunggu janji kamu Roy." ucap mamanya.
"Kalo mau kesana gue ikut." tukas Rey.
"Oke." singkat Roy.
Mereka bertiga pun kini tengah memikirkan dengan matang satu rencana yang akan di lakukan untuk memancing Nara.
***
Sementara itu, Nara yang kini sedang di rumah pun menghampiri Mahesa yang berada di rumah Bu Uti. Beruntungnya, anak itu sedang tertidur di pangkuan wanita paruh baya itu. Mahesa memang jago tidur, mungkin karena sedang dalam masa pertumbuhan.
Setelah melihat kondisi anaknya, ia bersiap-siap untuk pergi ke Caffe. Ia masih penasaran dengan hubungan Regan dan wanita itu. Meskipun ia telah mendengar dengan jelas perkataan Regan semalam, bahkan ia sempat merekam obrolan mereka melalui mikrofon kecil dan ia juga mengetahui tempat tinggal wanita itu. Namun, sepertinya itu tidak cukup bagi Nara.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke Caffe. Namun, ia sangat kaget saat melihat mobil Regan melaju dengan kencang di hadapannya. Nara pun segera menyuruh supir taxi itu untuk mengikuti mobil suaminya.
'apartemen?'
'apartemen siapa ini?'
batin Nara.
"Mba maaf mobilnya berhenti." ucap supir taxi itu.
"Oh iya, tunggu disini sebentar ya pak." ucap Nara.
"Baik mba." ucap supir itu.
Nara pun berjalan menaiki lift, ia kini tengah memakai baju serba tertutup. Bahkan mungkin saat ini ia seperti wanita bercadar. Ia sengaja memakai baju seperti itu agar misi nya untuk memergoki Regan berhasil.
'bener kan dugaan gue.' batin Nara.
Memang sangat terlihat di apartemen sepi itu Regan dan Anna tengah berciuman. Tentu saja hal itu membuat dadanya semakin sesak. Tapi hal yang paling penting yaitu tak lupa untuk mengambil gambar mereka berdua.
Darah Nara mendidih saat Regan hendak menyusup ke balik baju wanita itu. Tak kuasa menahan itu semua Nara pun membuka topengnya.
prokkk prokk prokkk..
"hebat ya"
__ADS_1