TRAUMA

TRAUMA
EPS. 55. Kenyataan tak seindah mimpi.


__ADS_3

Setelah tanding latihan itu berakhir, Lea dan Richard pun keluar dar sekolah dan melaju pergi menuju ke perpustakaan yang Richard sebutkan sebelumnya.


Dan tak lama, mereka pun sampai di sebuah perpustakaan yang memang benar besar adanya.


" Woah, perpustakaan ini besar juga." Ujar Lea.


" Ya, ayo.." Ucap Richard dan keduanya pun masuk.


" Kamu mau cari apa?" Tanya Richard.


" Buku tentang bisnis." Ujar Lea.


" Bisnis?? Kamu mau belajar tentang bisnis?" Tanya Richard.


" Sejujurnya aku sudah belajar sejak lama tentang bisnis, aku hanya sedang mencari pandangan baru untuk semakin mengasah pengetahuanku. " Ujar Lea.


" Lea, kamu perempuan.. memangnya kamu mau menjadi wanita bisnis?" Ujar Richard.


" Ibuku perempuan, dan dia pebisnis. Aku juga harus meneruskan kakekku, dia akan segera pensiun." Ujar Lea.


" Lalu bagaimana dengan mimpimu?" Tanya Richard.


" Mimpi?? Aku tidak memiliki mimpi apapun." Ujar Lea, dengan senyum miringnya.


Lea pun melangkah pergi dari sana meninggalkan Richard untuk mencari buku tentang bisnisnya.


' Kamu punya Lea, kamu selalu mengatakan kepadaku dulu, bahwa mimpimu adalah untuk menjadi seorang pelukis terkenal. Kamu bahkan mengubur mimpi mu sendiri. ' Batin Richard menatap Lea sedih.


Richard sendiri berjalan ke arah lain untuk mencari buku yang ingin dia cari. Setelah lama mereka mencari buku, keduanya kembali bertemu dan duduk di meja perpustakaan.


Lea melirik buku yang berada di tangan Richard dan mengernyit.


" Kamu mau belajar tentang ART?" Ujar Lea.


" Ya, aku ingin menjadi pelukis terkenal." Ujar Richard.


Entah mengapa, setelah Richard mengatakan demikian.. Lea seperti mengingat kata kata itu. ' Aku ingin menjadi pelukis terkenal.' Kata kata yang tidak asing di telinga Lea.


" Oh.. " Sahut Lea.


Lea mengeluarkan kaca mata bacanya dan mulai membuka bukunya, ia pun membaca buku tentang bisnis yan ia ambil dari sana.


Sejujurnya tujuan Richard juga sama seperti Lea, mencari buku tentang bisnis. Karena ibunya adalah perempuan dan Richard ingin agar ibunya beristirahat.


Tapi kini ada satu lagi perempuan yang ia sayangi yang akan terjun dalam dunia bisnis, Richard tidak mau Lea kehilangan mimpinya, jadi ia memancing ingatan Lea tentang mimpinya.


" Lea, apakah kamu sama sekali tidak ingat dengan mimpi dan cita citamu di masa kecil? " Tanya Richard dengan suara sangat pelan.

__ADS_1


Lea melepas kaca matanya dan menatap Richard.


" Tidak." Ujar Lea.


" Kamu pernah mengatakan kepadaku, bahwa kamu ingin menjadi pelukis terkenal, apa kamu tidak ingat?" Tanya Richard lagi.


Lea mencoba mengingat ingat dengan menatap mata Richard. Ia ingat, saat kecil ia sangat suka menggambar di sebuah buku gambar. Tentu saja ada Richard di sana, dan Richard juga ikut menggambar.


" Saat aku besar nanti, aku akan menjadi pelukis terkenal. Lihat, gambarku lebih bagus dari punyamu. " Ucap suara anak kecil dalam ingatan Lea.


Itu adalah Lea kecil yang sedang duduk dengan banyak pensil warna yang berserakan di sebuah ruangan taman kanak kanak.


" Kamu ingin menjadi pelukis? " Tanya anak laki laki, yang di pastikan itu adalah Richard kecil.


" Uhum! aku ingin agar lukisanku di kenal dunia nanti. " Sahut Lea kecil, begitu antusias.


" Maka aku akan menemanimu nanti. " Ucap suara Richard kecil.


Terdengar tawa yang riang dan lepas dari keduanya, Lea kecil yang tertawa begitu renyah nya. Richard sejak dulu selalu menjaga Lea, bagaikan kakak yang melindungi adiknya.


' Aku ingat, tapi memangnya apa yang bisa aku perbuat. Kenyataan nya keadaan tidak memihak padaku.' Batin Lea.


" Lea.." Ujar Richard.


" Hmm.. Aku ingat." Ujar Lea.


" Itu hanya mimpi anak kecil, Chard. Kita sudah dewasa, yang harus kita pikirkan begitu banyak. Dan aku tidak memiliki waktu untuk memikirkan mimpi konyol itu." Ujar Lea, dan kembali memakai kaca matanya.


" Kamu mau mengubur mimpimu?" Ucap Richard.


" Pada dasarnya jika kamu tidak mengingatkan aku dengan hal itu, aku pun tidak akan ingat bahwa aku memiliki mimpi seperti itu. Jadi anggaplah aku tidak pernah memiliki cita cita seperti itu." Ujar Lea.


" Sekarang aku bukan Lea yang dulu, Aku harus memikirkan masa depan keluargaku. Mimpi dan cita cita itu hanya cerita lalu." Ujar Lea lagi.


" Kenyataan di depan mata lebih penting, dari pada memikirkan mimpi di masa kecil. Aku akui aku mendapatkan kembali senyumku dan kenangan indah dari masa kecil itu, tapi Richad.. hidup kita adalah apa yang sekarang ada di hadapan kita, bukan yang di belakang." Ujar Lea lagi.


Benar.. Hidup kita adalah apa yang saat ini kita jalani. Kita pernah bermimpi, bercita cita , bahkan memiliki bayangan tentang masa depan yang ingin kita rancang. Tapi keadaan dan kenyataan nya tak seperti itu.


Kita bisa berandai andai, tapi itu hanya sebuah perandaian, bukan kenyataan. Nyatanya kenyataan lebih kejam dadi pada bayangan.


Seperti yang Lea alami, dia memiliki mimpi dan cita cita saat kecil. Tapi siapa yang tahu dia akan mengalami keterpurukan karena trauma atas perceraian orang tuanya.


Hidup Lea menjadi begitu berubah sangat drastis, Lea menjadi gadis yang dingin dan tak tersentuh. Bahkan jika bukan karena Richard, mungkin dia juga belum tentu bisa tersenyum seperti sekarang.


" Aku akan membantumu." Ujar Richard.


" Sudahlah Richard, jika aku ingin mimpi itu terwujud maka aku akan mewujudkan nya sendiri. Aku hanya ingin ibu dan kakekku beristirahat dengan tenang dan menikmati masa tua mereka dengan tenang dan damai." Ujar Lea.

__ADS_1


Richard akhirnya hanya mengangguk, ia tidak bisa memaksa Lea. Lea masihlah Lea yang pemarah dan bukan orang yang penyabar meski sudah banyak berubah.


Akhirnya keduanya melanjutkan aktifitas membacanya hingga tak terasa hari sudah kian malam dan mereka melewatkan jam makan malam mereka.


" Perpustakaan akan segers di tutup, ayo kita pulang?" Ujar Richard.


Lea melepas kaca matanya dan melihat jam besar yang menempel di dinding perpustakaan.


" Astaga, jam delapan malam?" Ujar Lea.


Richard terkekeh, keduanya hanyut dalam buku mereka masing masing sampai tidak ingat waktu.


" Hum, ayo kita pulang." Ujar Richard.


" Aku akan kembalikan buku buku ini dulu." Ujar Lea.


Richard mengangguk dan membantu Lea mengembalikan buku buku pad rak nya masing masing. Setelah itu keduanya pun keluar dari gedung perpustakaan itu.


" Sekalian makan malam, mau?" Tanya Richard.


" Boleh." Ujar Lea.


" Aku punya restoran andalan, yang menyajikan makanan makanan sea food, kamu mau coba?" Tanya Richard.


" Apa saja." Ujar Lea.


Keduanya melaju pergi dengan motor Richard menuju ke sebuah restoran yang Richard rekomendasikan. Kebetulan restoran itu juga tidak begitu jauh dari perpustakaan.


Tak lama keduanya sampai di sana, dan ya.. penuh. Tempat itu begitu ramai pengunjung.


" Apakah mereka memiliki riangan privat? " Tanya Lea.


" Sebenarnya ada, tapi kita belum membuat reservasi, mungkin sudah penuh. Tunggu di sini aku akan bertanya pada orang nya." Ujar Richard dan Lea mengangguk.


Richard pergi masuk kedalam, dan Lea menunggu di depan restoran itu. Lea mengeluarkan ponselnya dang mengabari Livy, bahwa dirinya sudah makan di luar bersama Richard agar Livy tidak menunggunya.


"Lea.." Ucap sebuah suara.


Lea melirik kearah pemilik suara itu, dan berdiri Anton di hadapan nya saat ini bersama seorang perempuan yaitu Grace.


" Lea kamu datang dengan siapa? Dimana ibumu? " Tanya Anton.


Lea hanya diam, dan matanya melirik kearah Grace yang saat ini menatap tidak suka pada dirinya.


' Apa sungguh dunia se sempit itu?' Batin Lea kesal.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2