TRAUMA

TRAUMA
Bab 11


__ADS_3

"Kak Nath-"


"Jalan!"


Wajah Nathan dan Asha sepertinya tidak memberi keduanya jarak untuk saling terpesona, pria itu berdeham bahkan sebelum mengucapkan satu kata sederhana itu saja. Ia kehilangan suaranya yang tercekat tak tahu di mana.


Asha mengerjapkan mata, ia mengikuti perintah Nathan untuk berjalan saja sementara pria itu menuntunnya dari samping menjaga agar tubuh Asha tetap seimbang.


"Harusnya kamu enggak di lantai dua."


"Emang bisa pilih Kak?" Asha serius bertanya karena ia tidak tahu. Sebab setahu Asha mata kuliah pertamanya di gedung B lantai dua.


"Ekhemm...." Sekali lagi Nathan berdeham, ia juga mulai merasa dirinya bodoh karena mengatakan hal seperti itu.


"Kak Nathan juga kelasnya di sini?"


"Eum." Jawab pria itu singkat.


Asha mengucapkan terima kasih ketika ia sampai di lantai yang dituju ia hanya perlu berjalan beberapa langkah menuju kelasnya di ruangan ketiga koridor kiri. Nathan berjalan ke arah yang berlawanan hingga hilang di jalan berbelok dan tidak terlihat lagi. Sejujurnya Asha beruntung bertemu seniornya itu meski dari cara pandang orang-orang terlihat jelas membicarakan keduanya.


Nathan menjulurkan kepalanya memastikan bahwa Asha sudah masuk ke kelas langkah kakinya bergegas hingga menuruni anak tangga sebelum ia terlambat masuk kelasnya sendiri. Dengan bodohnya Nathan mengikuti Asha hingga ia melihat gadis itu kesulitan saat menaiki anak tangga kebodohan lainnya adalah Nathan berbohong kalau kelasnya juga di gedung tersebut.


"Mampus, hampir gue telat." Nafas


Nathan yang tersengal membuatnya kesulitan bahkan hanya untuk mengumpat sekalipun.


Pria itu langsung duduk di kursinya yang berada tepat di samping Dio dan Dini, ia bahkan mengabaikan tatapan aneh dari kedua orang tersebut karena Nathan tidak mungkin bisa menjelaskan apa yang terjadi.


Nathan beruntung karena belum selesai ia mengatur nafas dosennya sudah masuk dan memberi salam.


Asha mulai terbiasa dengan teman-teman barunya termasuk Hanifa, Ivanka dan Fania yang menjadi lebih akrab setelah kegiatan ospek meski gadis itu juga tidak pernah luput dari perhatian beberapa orang pria. Asha

__ADS_1


500


bukannya cuek dan tidak tahu, ia mungkin hanya mati rasa. Menutup kemungkinan terhadap pria lain di hidupnya. Harusnya hal itu juga berlaku untuk Nathan, tapi entah kenapa Asha terus membuat pengecualian.


"Jangan senggol dia, entar kaya gue lagi kena semprot ketua BEM." Ucap Shania cukup keras hingga mampu didengar oleh telinga Asha.


Beberapa orang yang duduk bersama gadis itu tampak saling berbisik, Asha tidak heran karena Nathan terlalu menonjol bahkan ketika pria itu terus memberi bantuan pada Asha. Ia tidak bisa menolak.


"Gelo (gila), mending kalo ada yang suka sama dia yah ini mah dia udah salah terus nyindir-nyindir." Hanifa tampaknya yang paling tidak terima Asha diperlakukan seperti itu ia bahkan dengan terang-terangan menatap tajam pada Shania yang langsung diam.


"Kuliah gaya-gayaan tapi akhlak enggak punya, salah nyolot enggak terima maennya sindir belakang pengecut pisan!"


"Sha lo mending jangan maen sama Hanifa, dia ini mulutnya pedes." Fania mengompori Asha sambil tertawa.


"Sabar." Ivanka menjadi yang paling sabar menghadapi temannya itu hingga Hanifa kembali duduk di kursinya.


"Geuleuh aing (Kesel aku)!" bentak Hanifa dalam bahasa Sunda sebagai bonus cacian terakhirnya.


Asha mengusap lengan Hanifa agar temannya itu lebih tenang, ia tidak suka dunianya yang terlalu gaduh sebisa mungkin Asha tidak mau bersinggungan dengan orang lain apalagi karena hal sepele. Ia terlalu malas menjelaskan dan dijelaskan apa pun.


Dosennya masuk tidak lama setelah itu, mata kuliah wajib mereka kali ini adalah Sosiologi. Dosen menjelaskan hanya beberapa poin saja kemudian meminta mereka belajar mandiri. Sejauh ini Asha masih menyukai mata kuliahnya sebelum mungkin ia akan muak karena tingkat kesulitan yang bertambah juga tugas yang menumpuk.


Pukul 12.30 ketika kelas Asha selesai ia dan ketiga temannya memutuskan untuk makan di kantin daripada di luar hanya untuk merasakan bagaimana atmosfer baru menjadi mahasiswa. Mereka mulai membicarakan masa sekolah di SMA mulai dari guru hingga teman-temannya yang tingkah dan kelakuannya melekat dalam ingatan. Asha hanya menjadi pendengar kepalanya menengok kiri dan kanan ketika satu dan lain bergiliran membagi ceritanya.


"Kamu kok diem aja Sha?"


"Ahh... aku suka denger kalian cerita."


Beberapa orang pria kemudian menghampiri Asha dan teman-temannya, dan ternyata salah satu dari mereka adalah pacar Fania sejak SMA. Ia masuk kampus yang sama meski mengambil jurusan yang berbeda.


Pria berkaca mata itu bernama Firanda, ditangannya ia terus membawa buku-buku tebal yang katanya baru saja ia pinjam dari perpustakaan. Hanifa jelas sudah mengenal Firanda karena mereka satu sekolah. Teman-temannya pun mulai memperkenalkan diri dan meminta bergabung di meja yang sama karena kursinya cukup banyak dan mampu menampung 10 orang sekaligus.

__ADS_1


"Woy!" tiba-tiba saja Dio dan beberapa orang lainnya termasuk Nathan menghampiri meja tersebut dan memberi isyarat agar mereka pindah.


"Maaf kak." Firanda dan teman-temannya kemudian berdiri ia mengajak Fania juga yang lainnya untuk mencari tempat duduk lain yang kosong.


"Duduk!"


Suara Nathan menahan Asha ketika gadis itu membawa piring yang berisi batagor miliknya untuk pergi juga. Asha tidak menoleh karena tidak ingin saling bertatapan dengan Nathan namun pria itu kemudian duduk di kursi yang ada di samping Asha.


"Sha...." Panggil Hanifa pelan. Ia mulai khawatir kepada temannya itu.


Hanifa kemudian menarik lagi kursinya dan menemani Asha duduk di depannya, meskipun Hanifa sedikit takut namun ia tidak mau membiarkan Asha sendiri lagi seperti saat ia cedera malam itu.


"Kamu pergi aja, aku biar sama anak-anak ya." Ucap Fania pada Firanda, gadis itu juga Ivanka kemudian kembali duduk sedang Firanda dan teman-temannya pergi meski sedikit khawatir namun akhirnya pria berkaca mata itu pergi juga.


Suasana menjadi canggung ketika Dio dan Nathan berada di sana belum lagi beberapa orang lainnya sehingga meja itu menjadi penuh, Asha tidak takut pada Dio atau Nathan yang saat masa ospek bahkan memperlakukan dirinya dengan baik namun tampaknya tatapan dari sekitar cukup membuat Asha merasa tidak nyaman.


"Ekh tahu enggak yang kena hukuman pake daster hari ini tim mana?" bisik Hanifa.


"Tim mana?"


"Aku lupa nomor timnya tapi yang jelas mereka semua cowok!" belum selesai ia dengan kata-katanya namun Hanifa terlanjur tertawa.


Asha tidak bisa menahan dirinya juga bahkan ketika Hanifa membayangkan para pria itu harus membawa tas ransel namun memakai daster dan sepatu sneakers seperti anak kuliahan pada umumnya.


Dio ikut tertawa tanpa sadar suara tawa Hanifa sangat renyah dan membuatnya terbawa suasana meski hanya mendengar ceritanya sekilas saja, gadis berjilbab itu bahkan memukul meja beberapa kali karena perutnya yang geli.


"Sumpah kalo bukan karena Asha malam itu, aduhh ... jangan kalian bayangin deh." Hanifa menggoyangkan tangannya ke atas seolah mengusir sesuatu yang membayangi dirinya.


"Aku ada daster mama tapi robek keteknya enggak kebayang harus aku pake ke kampus." Tambah Fania sambil tertawa.


Meski Hanifa meminta mereka untuk tidak membayangkannya namun tetap saja hal itu terbayang hingga mereka merasa lucu sendiri. Begitu pun Asha, ini adalah kali pertama ia bisa tertawa lepas dengan orang lain selain adiknya sendiri. Bagaimanapun introvertnya gadis itu ia tetap saja tidak bisa menahan lelucon receh yang Hanifa ucapkan.

__ADS_1


Nathan tersenyum melihat gadis di sampingnya bisa tertawa, tiba-tiba saja ia juga ingin mengeluarkan cerita lucu agar gadis itu bisa menikmati obrolan dengannya seperti yang ia lakukan bersama teman-temannya itu namun Nathan sadar bahwa ia tidak bisa melakukannya. Nathan tidak memiliki selera humor yang bagus untuk membuat orang lain terkesan.


__ADS_2