TRAUMA

TRAUMA
Bab 9


__ADS_3

"Rumah kamu?"


Asha mengangguk ketika Nathan mengantarnya sampai ke depan gerbang rumah Asha, pria itu membuka pintu belakang dan mengambil ransel besar milik Asha kemudian membantu gadis itu berdiri.


"Eum, makasih udah di antar kak." Asha berbalik ketika ia berada di gerbang rumahnya seolah meminta Nathan untuk berhenti sampai di sana.


Seorang satpam kemudian muncul dan membantu Asha membawa barangnya masuk sementara Asha masih di gerbang menunggu seniornya pergi.


"Kak Ashaaaaa ...." Suara teriakan seorang gadis kecil dari pintu rumah membuat Asha mencoba berjalan mendekatinya meski terpincang-pincang.


Dengan refleks Nathan mendekat dan menahan tubuh Asha yang goyah, gadis itu menoleh pada Nathan ketika wajah keduanya begitu dekat hingga membuat mereka bertatapan tanpa berkedip.


"Kak...." Suara lirih dari Aluna membuat keduanya menghentikan tatapan tersebut dengan kikuk dan beralih pada gadis kecil itu.


"Aluna sudah sembuh?" Asha melepaskan pegangan Nathan kemudian memeluk gadis kecilnya sambil berjongkok, ia membiarkan kakinya yang sakit diluruskan ke depan dan hampir membuat dirinya duduk di sana.


"Kaki Kak Asha kenapa?" Aluna tidak menjawab pertanyaan yang diberikan dan malah bertanya mengenai keadaan Asha.


Gadis itu tampak khawatir namun ia kemudian melirik sinis pada Nathan yang berdiri di belakang kakaknya tersebut, "Pasti karena Kakak ganteng ini ya?" celotehnya.


Nathan melihat gadis itu dengan bingung karena tiba-tiba saja ia menjadi tersangka. Ia hendak menjelaskan pada Aluna namun tatapan anak kecil itu membuatnya gelagapan. Astaga, bahkan Nathan kalah oleh anak perempuan yang bahkan belum masuk SD.


"Aluna bantu Kak Asha masuk yuk!" Asha mengusap bahu gadis itu yang terbuka karena memakai dress tanpa lengan bermotif bunga yang cantik.


Nathan kembali membantu Asha yang hendak berdiri meski adik kecilnya menatap tajam pada pria itu namun Nathan membiarkannya. Asha tidak bisa menolak karena ia jelas membutuhkan bantuan.


"Sekali lagi terima kasih Kak."


Asha memegang bahu Aluna agar ia bisa berjalan dengan lebih baik, Nathan ingin membantunya hingga masuk ke dalam rumah namun Asha dengan hal itu.


"Kakak ganteng itu jahatin Kak Asha?"

__ADS_1


Asha menggeleng sambil tersenyum, Nathan bisa melihatnya dari belakang meski gadis itu sudah berjalan cukup jauh. Rasanya menyenangkan bisa melihat Asha tersenyum dan hal sepele itu membuatnya ikut tersenyum juga tanpa sadar. Apa pun yang berhubungan dengan Asha anehnya selalu membuat pikiran bawah sadar Nathan bekerja lebih cepat daripada otaknya sendiri.


Gadis itu tidak menoleh lagi ketika terdengar bunyi berdebam dari pintu mobil seniornya itu hingga suara knalpot mobilnya yang cukup menyebalkan. Nathan pergi setelah memastikan Asha masuk ke dalam rumah.


Vini tengah menyiapkan makanan di meja, ia menatap Asha sekilas dan melihat bagaimana gadis itu berjalan namun sejurus kemudian Vini berbalik dan pergi ke dapur seolah tidak melihat Asha di sana. Asha tidak berkomentar, ia sudah terbiasa menjalani hidup seperti ini bersama Vini.


"Kakak sudah makan?" ucap Aluna sambil terus memegang lengan Kakaknya dengan kepayahan. Ia tidak menyangka Kakaknya yang kurus ini ternyata berat juga.


"Nanti Kakak makan ya."


Aluna membuka pintu kamar Asha dan mendorongnya dengan kedua tangan, ia lalu melompat ke atas tempat tidur karena kelelahan. Aluna bahkan mengeluarkan keringat dari dahinya dan membuat anak rambutnya menempel di sana hal itu membuat Asha tertawa karena tingkah lucu gadis kecilnya.


"Kenapa Kakak enggak makan sama Aluna di bawah?"


Asha tidak menjawab, ternyata pertanyaan dari seorang gadis kecil lebih sulit di jawab daripada debat yang ia lakukan saat sekolah dan melibatkan banyak orang dewasa.


"Mama bilang Kak Asha suka makan sendirian jadi Aluna enggak boleh ganggu kalo Kakak makan di kamar." Gadis cantik itu memajukan bibirnya sambil menunduk.


Aluna bertepuk tangan sendiri, keduanya kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan lelah hingga ponsel Asha berbunyi bip dan membuatnya terkejut. Benda tipis itu hampir jarang memberinya notif kecuali pesan spam namun kali ini suaranya berasal dari aplikasi chat yang hampir usang ia abaikan.


"Asha."


"Ini aku, Hanifa."


Asha terkejut ketika mendapat pesan dari teman satu timnya saat kegiatan ospek, Hanifa adalah gadis berjilbab yang tampak cengeng bahkan ketika Asha terluka.


"Iya." Jawab Asha singkat. Sudah sejak lama Asha tidak membalas chat seperti ini dan membuatnya sedikit lupa bagaimana caranya bersikap ramah.


"Rumah kamu teh di mana? Aku sama Fania juga Ivanka mau besuk kamu."


"Enggak usah, aku udah baikan."

__ADS_1


"Enggak boleh gitu, nanti kita musuhin kamu kalo kamu nolak."


"Aku orangnya suka ngancam tau teu?" tambah Hanifa.


Asha tertawa kecil melihat isi pesan dari temannya itu, hingga ia akhirnya memberikan alamat rumahnya kepada Hanifa. Kalau di ingat lagi Asha hampir tidak pernah membawa teman ke rumah, terakhir kali teman-temannya datang menjenguk Asha yang baru saja kehilangan Willi. Ia yang tidak masuk sekolah setelah itu membuat beberapa temannya khawatir namun Asha bahkan tidak memberi respons ketika teman-temannya berbicara panjang lebar menghibur dirinya.


Hingga akhirnya mereka sendiri yang lelah dan menyerah.


"Kak Asha kok senyum sendiri?" Aluna bergerak dan menyudutkan kepalanya ke wajah Asha hingga membuat Asha harus mundur sambil tertawa.


"Kakak ganteng itu yang bikin Akak senyum ya?"


"Hayoo Aluna mulai centil ya, udah tahu mana yang ganteng."


"Ahahaha ... stop Kak, ahahaha ...." Aluna berguling sambil tertawa karena gelitikan tangan Asha di perutnya.


Ucapan Aluna membuat Asha teringat bagaimana sosok Nathan dan bagaimanapun juga Asha harus mengakui bahwa seniornya itu memang tampan meski menakutkan.


Sementara Nathan baru saja sampai di rumahnya, seperti biasa tempat tinggalnya itu selalu sepi seolah hanya ia yang hidup di dalamnya. Nathan tidak pernah peduli ke mana orang tuanya pergi, ia juga hampir tidak pernah bertatap muka sehingga terbiasa untuk acuh terhadap mereka. Orang tua Nathan hanya tahu bagaimana mencari uang dan memenuhi limit ATM milik putranya tanpa peduli apa yang dibutuhkan Nathan selain itu.


Langkah kaki Nathan membawanya langsung menuju kamar dan melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur yang empuk sehingga membuat tubuhnya sedikit memantul. Ia sudah berjanji untuk beristirahat total hari ini dan Nathan sudah tidak peduli lagi dengan agenda mandi atau membersihkan diri. Matanya diserang kantuk akibat tidak tidur semalaman namun sekali lagi senyum Asha tiba-tiba terlintas di benaknya hingga membuat Nathan terkejut dalam usahanya untuk tidur.


"Gilaa. gue gilaaaaa!!!" pria itu melempar bantal ke sembarang arah dan berguling di tempat tidurnya, ia hanya ingin beristirahat namun Asha yang sebenarnya tidak mempunyai dosa apa-apa itu terus menghantui dirinya. Tangannya merogoh saku celana dan menemukan ponselnya berada di sana, ia kemudian membuka aplikasi chat dan mencari kontak yang baru di tambahkannya tadi. Asha sepertinya jarang aktif hingga profil picturenya hanya berupa setangkai bunga lili yang di pegang oleh sebelah tangan. Nathan mengenalinya dengan cepat bahwa tangan itu milik Asha, jarinya yang mungil dan kurus namun memiliki kuku yang cantik alami.


Namun Nathan cukup terkejut ketika melihat kontak gadis itu tengah aktif, ia bahkan dengan bodohnya menunggu siapa tahu Asha hendak menghubungi dirinya, perlu waktu hampir 10 detik hingga Nathan sadar bahwa ia bersikap bodoh.


Usaha terakhir yang bisa Nathan lakukan adalah menyimpan ponselnya di meja samping tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya dan membiarkan rasa kantuk kembali menguasai dirinya.


Bip


Nathan langsung melompat dan mengambil ponselnya mengecek suara pesan masuk yang baru saja berbunyi seolah memberi tahunya untuk segera memeriksa siapa pengirimnya. Hingga akhirnya kepala Nathan pening sendiri karena ulahnya yang konyol.

__ADS_1


"An**ng!" pria itu cukup kecewa terutama terhadap dirinya sendiri yang menjadi bodoh.


__ADS_2