
Riri sedang menangis di dalam pelukan Juno di ruang tengah kediaman Juno. Tapi bukan hanya Riri seorang yang menangis, Sari juga menangis dan terlihat mengusap kepala Riri.
" Anak malang.." Gumam Sari.
" Mama tidak melihat dari segi harta dan kasta nak, mama sendiri juga dulu bukan orang yang terlahir kaya. Papa Juno, menerima mama apa adanya." Ujar Sari.
Juno jadi tahu sisi lain ayahnya itu, tidak ia sangka ibunya dulu orang berada. Sari tidak pernah menceritakan latar belakangnya pada anak anak nya, dia tidak mau berbagi kesedihan dengan anak anak nya.
" Pintu rumah ini, terbuka untukmu.. Jika sampai Juno jahat padamu, katakan pada mama, oke?" Ujar Sari, dan Riri memgangguk.
Riri sungguh tidak bisa berkata apa apa lagi. Sebelumnya Sari meminta dirinya bercerita tentang latar belakang keluarganya, dan Riri jadi teringat dengan semua kenangan kelam nya.
Riri pun bercerita, bahkan Riri mengatakan dia bekerja di toko kue milik ibu Lea, sekaligus dia juga sekolah di biayai oleh Ibu Lea. Sari jadi semakin mengagumi sosok Lea dan ibunya itu.
" Sudah, jangan menangis.." Ujar Juno.
Riri sungguh di kelilingi orang orang baik. Terlahir susah, bukan berarti tidak akan menemukan kebahagiaan. Hidup itu karma, karma baik yang kita buat, pasti akan berbalik pada diri kita juga begitu juga sebaliknya.
" Jadi, kamu mau menerima aku sebagai kekasihmu, kan?" Ujar Juno.
Riri tersenyum dalam tangisnya, lalu mengangguk.
" Yes!! Aku janji, tidak akan menyakitimu." Ujar Juno.
Sari pun ikut tersenyum, Sari tentu tahu alasan apa yang membuat Juno berubah menjadi anak bren*sek, Sari mendengarkan semua cerita Juno dulu nya.
Dia senang, anak remaja nya itu bisa melupakan cinta pertama nya. Dan Sari berharap, Juno akannbisa berdamai dengan keadaan dan tidak lagi menyalahkan sang papa.
Di tempat lain..
Lea dan Richard sedang berada di taman rumah sakit, mereka sedang memakan makanan yang mereka beli secara online, karena Lea sama sekali tidak ingin pergi dari sana.
" Richard, bagaimana jika aku donorkan saja sum sum tukang belakangku untuk mama?" Ujar Lea.
" Sayang, apa yang kamu katakan.. Jangan bicara sembarangan. Tadi kamu dengar sendiri apa yang di katakan dokter bukan? Mama kamu hanya memiliki 30 % kemungkinan berhasil." Ujar Richard.
" Jika kamu mendonorkan sum sum tulang belakang kamu untuk mama kamu, tapi mama kamu tidak bisa melewati operasi itu bagaimana?" Ujar Richard.
" Jangan ambil resiko, Lea.." Ujar Richard lagi.
" Tapi aku ingin mama sembuh.." Ujar Lea.
" Aku tau, aku pun ingin demikian. Tapi kita tidak bisa begitu saja melakukan nya. Bukan nya aku melarang kamu menolong mama kamu, tapi resikonya banyak." Ujar Richard.
Benar.. jika Lea mendonorkan sum sum nya pada Livy, belum tentu Livy mampu melewati operasi itu. Di tambah lagi jika terjadi sesuatu pada Lea sendiri, maka akan fatal. Dua dua nya mungkin tidak akan selamat.
__ADS_1
" Kakek kamu sedang mencarikan dokter terbaik, percaya saja padanya. Dengar Lea.. Tuhan tidak pernah tidur, dia akan memberikan pertolongan nya pada hambanya dari arah yang tidak di sangka sangka." Ujar Richard lagi.
Lea mengangguk, dan akhirnya dia meneruskan makan malam nya itu. Tapi ternyata, percakapan keduanya itu di dengar oleh Anton.
Ya, Anton masih berada di rumah sakit itu, saat ini dia sedang mengunjungi Mantan istrinya, Grace yang terkena stroke setelah bercerai dari Anton.
' Livy butuh donor sum sum tulang belakang? Apa yang terjadi padanya sebenar nya.' Batin Anton.
Anton melangkah pergi untuk mencari dokter yang menangani Livy, dia bertanya pada pihak resepsionis dimana ruangan Livy berada.
Anton menaiki lift, dan sampailah dia di lantai 15 dimana Livy di rawat. Anton berjalan mendekat, tiba tiba pintu ruangan Livy terbuka.. Anton langsung sembunyi di balik tembok.
Rupanya yang keluar adalah Hae In dengan dokter yang baru saja memeriksa Livy.
" Terimakasih dok." Ujar Hae In.
" Sama sama, mari tuan." Ujar Dokter, dan pergi dari sana.
Setelah Hae In masuk, Anton langsung mengejar kemana dokter tadi pergi.
" Dokter." Panggil Anton.
" Ah, ya.. Apakah ada yang bisa saya bantu, tuan?" Tanya dokter.
Anton berpura pura seolah tahu apa yang Livy alami, karena rumah sakit itu sangat menjaga privasi pasien.
" Nyonya Livy semakin parah tuan, kami tim dokter sedang melakukan apa yang kami bisa untuk nya." Ujar Dokter.
" Apakah bisa jika operasi??"Tanya Anton.
" Kemungkinan berhasil sangat tipis, kami tidak bisa ambil resiko." Ujar Dokter.
" Lebih baik mencobanya dari pada tidak sama sekali, bukan? " Ujar Anton.
" Itu nyawa orang, tuan. Bukan boneka.. Kami tidak bisa begitu saja membuat keputusan." Ujar Dokter.
" Saya berniat ingin mendonorkan sum sum tulang belakang saya padanya dok, bisakah anda periksa apakah saya bisa mendonorkan nya?" Ujar Anton.
" Tuan, operasi bahkan tidak bisa di lakukan.." Ujar dokter.
" Kita tidak tahu rencana Tuhan, bukan? Tolong periksa apakah saya bisa mendonorkan sum sum tukang belakang saya atau tidak." Ujar Anton.
Dokter itu menghela nafas, semua keluaraga Livy berkepala batu pikirnya. Akhirnya dokter mengangguk, dan Anton tersenyum.
" Mari ikut saya melakukan pemeriksaan, tuan." Ujar Dokter.
__ADS_1
Anton berjalan bersama dokter itu menuju ruangan pemeriksaan, dan Dokter langsung meminta tim lain untuk memeriksa Anton.
Setelah beberapa saat, Anton pun selesai menjalani pemeriksaan nya.
" Tuan, besok mungkin hasilnya sudah selasai. Silahkan anda datang kemari lagi nanti." Ujar dokter.
" Baik, terimakasih." Ujar Anton.
' Kamu orang baik Livy, aku mungkin tidak bisa menebus semua kesalahan dan dosaku di masa lalu. Semoga hasilnha bagus, dan aku bisa sedikit menolongmu.' Batin Anton.
Beberapa hari berlalu..
Lea dan Richard sedang menjalani ujian mereka yang terakhir. Semua orang di kelas yang mengikuti ujaian itu tampak sangat serius berpikir.
Dan akhirnya jam istirahat pun tiba..
" Oke, sampai ketemu setelah jam istirahat selesai." Ujar Guru.
Lea, Richard dan sepasang kekasih baru, yakni Riri dan Juni berjalan menuju kantin. Di sana
" Lea, aku boleh datang mengunjungi tante??" Tanya Riri.
" Tentu saja boleh, nanti pulang bersamaku kalau begitu." Ujar Lea.
" Tidak perlu, dia sudah memiliki pangeran berkuda putih, siapa yang butuh taksi." Ujar Juno.
" Ck!! Sombong." Ujar Richard.
" Iya.. Iya.. Pangeran berkuda putih. " Ujar Lea.
" Sudah, sudah, nanti aku dengan Juno saja." Ujar Riri.
" Tidak terasa sebentar lagi kita akan berpisah daei sini." Ujar Richard.
" Benar, banyak kenangan di sini yang tidak akan pernah bisa kita lupakan. Terutama pertemuanku dengan gadis cantik dengan seribu pesona ini." Ujar Juno menatap Riri.
" Cih, tidak ingat pernah menyakiti hati Riri." Ujar Lea.
" Jangan ingat itunya.." Ujar Juno manyun.
'' Hahaha'' Tawa Richard pecah.
Mereka pun duduk dan memesan makanan dari kantin. Semua orang di sana sudah mengetahui bahwa mereka berempat adlah pasangan. Jadi tidak mengherankan jika mereka berempat selalu bersama.
TO BE CONTINUED
__ADS_1