
Di rumah sakit, Livy sedang duduk menatap luar jendela. Kemudian dia tersenyum tanpa seorang pun tahu apa yan sedang Livy pikirkan saat ini.
Rupanya Livy sedang membayangkan masa kecil Lea yang begitu lucu, kenangan yang tidak akan pernah bisa di lupakan di hatinya.
'' Bagaimana dengan nasibnya jika aku pergi nanti.'' Gumam Livy.
' Tuhan.. jika kau ingin mengambil diriku, tolong lakukan itu nanti saat aku sudah melihat putriku lulus sekolah. Aku ingin melihat senyum cerahnya saat hari itu tiba nanti.' Batin Livy.
TOK TOK TOK..
Seorang dokter masuk kedalam ruangan Livy, dan tersenyum ramah menyapa Livy yang juga sedang duduk tersenyum.
'' Nyonya, ada kabar baik. Karena terapy yang di lakukan oleh dokter itu, nyonya memiliki kemajuan yang signefikan.'' Ujar sang dokter.
'' Apa hanya dalam hitungan hari aku sungguh memiliki kemajuan, dok? '' Tanya Livy.
'' Ya nyonya, dokter yang tuan Lim bawa sungguh hebat.'' Ujar dokter itu. Livy pun tersenyum senang mendengar nya.
'' Kita mungkin bisa melakukan operasi donor sum sum tulang belakang untuk nyonya. '' Ujar sang dokter.
'' Tapi saya belum mendapatkan donor yang cocok, dok.'' Ujar Livy.
'' Nyonya sudah mendapatkan pendonor, tinggal kita lihat beberapa hari kedepan.. jika nyonya semakin mengalami bnayak kemajuan, maka kita bisa melakukan operasi itu. '' Ujar dokter.
'' Saya sudah mendapatkan pendonor? Siapa kiranya orang baik yang ingin mendonorkan sum sum tulang belakangnya padaku, dok? '' Tanya Livy.
'' Itu dari belei amal, jadi kami sendiri tidak tahu idenitasnya.'' Ujar dokter itu.
'' Sayang sekali, padahal saya ingin mengucapkan terimakasih. '' Ujar Livy.
Dokter hanya tersenyum lalu melanjutkan pemeriksaan nya pada Livy, setelah selesai dokter pun pamit pergi dari ruangan Livy.
Setelah sampai di luar, Rupanya da Anton yang sedang berdiri tak jauh dari sana. Anton telah menjalani tes untuk donor sum sum tulang belakang, dan hasilnya bagus. Anton bisa mendonorkan sum sum tulang belakangnya pada Livy, namun juga sangat beresiko untuk dirinya sendiri.
Dokter mengatakan jika Anton melakukan donor itu, maka kondisi dirinya sendiri semakin menurun. Tapi Anton seakan tuli, dia tidak mau mendengarkan dokter dan bersi keras ingin mendonorkan sum sum tulang belakangnya pada Livy.
'' Tuan Anton. '' Sapa sang dokter.
'' Saya ingin mengunjungi Livy.'' Ujar Anton.
" Apakah akhirnya anda ingin bertemu dengannya?" Tanya sang dokter, dan Anton mengangguk.
" Kalau begitu saya permisi." ujar Dokter dan pergi daei sana.
__ADS_1
Anton meminta pada dokter untuk menyembunyikan identitas nya dan menyuruh dokter mengatakan pada Livy bahwa pendonor yang Livy dapatkan adalah dari yayasan amal.
Jadi dia ingin secara diam diam dan rahasia mendonorkan sum sum tulang belakangnya pada Livy.
Anton langsung membuka pintu tanoa mengetuknya, Livy mengira bahwa itu adalah dokter yang sebelumnya..
" Anda kembali lagi... Do.. Anton??" Ujar Livy.
" Apa kabar Livy?" Tanya Anton dengan senyum nya.
" Aku baik." Sahut Livy walau dia heran dari mana Anton mengetahui dirinya di rawat si sana.
" Aku dengar kamu sakit, saat di pertemuan perusahaan kamu tidak hadir dan Erwin mengatakan kamu sakit. Kamu sakit apa?" Tanya Anton berpura pura tidak tahu.
Livy tersenyum, benar juga. Cepat atau lambat pun kabar bahwa dirinya skait pasti akan menyebar. Selama bukan kabar bahwa dirinya terkena leukemia menyebar, maka dia tidak khawatir.
" Hanya sakit biasa, terimakasih sudah mengunjungiku." Ujar Livy.
" Pertemuan kita selalu singkat, dan tidak pernah tepat pada waktunya." Ujar Anton.
" Maksudmu??" Tanya Livy.
" Tidak ada.. Hanya menyayangkan diriku yang dulu. Yang begitu bodoh tidak melihat wanita sebaik dirimu." Ujar Anton.
" Benar.. Tuhan maha adil. Dia tidak membiarkan orang seperti diriku ini untuk bersamamu yang berhati malaikat." Ujar Anton.
" Aku datang untuk menjenguk kedua mantan istriku. Yang satu adalah wanita yang begitu baik dan mencintaiku dulunya, tapi aku sia siakan. Dan yang satu lagi, adalah wanita yang aku cintai, tapi dia berbohong padaku." Ujar Anton.
" Apakah bisa aku katakan saat ini kamu sedang menyalahkan takdir?" Ujar Livy sambil terkekeh.
" Tidak ada.. seperti yang aku bilang, Tuhan memang adil." Ujar Anton sambil terkekeh.
" Cepatlah sembuh, agar bisa melihat Lea tumbuh dewasa hingga menikah." Ujar Anton.
" Tentu.. aku hanya sakit biasa, bikan sakit mematikan." Ujar Livy.
Anton menatap Livy dengan penuh perasaan sebenarnya. Dia sangat begitu merasa bersalah pada Livy. Tapi apa mau di kata, dia tidak bisa melakukan apapun lagi.
Menyesalpun hanya bisa dia telan sendiri, tanpa bisa menyalahkan siapapun. Karena memang itu adalah kesalahan nya sendiri.
Livy melihat tatapan itu, itu adalah tatapan yang selalu dia nantikan saat dulu dirinya masih menjadi istri Anton. Sayangnya dulu Anton selalu menatapnya dengan tatapan bengis.
' Apakah dia sungguh sangat menyesali semuanya? Kenapa aku merasa dia sedikit aneh.' Batin Livy.
__ADS_1
" Jangan menatapku begitu, aku tahu kamu sedang mengasihaniku." Ujar Anton.
" Tidak ada.. " Ujar Livy sambil terkekeh.
Tiba tiba Hae In masuk kedalam, dan melihat Anton yang sedang bercengkerama dengan Livy.
" Halo tuan Lim." Sapa Anton.
" Halo.." Sahut Hae In.
" Sungguh tidak menyangka, anda adalah Lim Hae In, seorang pria hebat yang sangat terkenal." Ujar Anton.
" Biasa saja, apakah sudah lama datang? " Ujar Hae In ramah.
" Belum lama, tapi saya juga harus pergi karena ads pekerjaan." Ujar Anton.
" Rupanya begitu." Ujar Hae In.
Meskipun Hae In tidak menyukai Anton, dia tetap ramah pada Anton. Dia melihat mendiang ayah Anton yang dulu merupakan teman baiknya.
" Tuan Lim, saya minta maaf pada anda." Ujar Anton tiba tiba.
" Untuk apa? " Tanya Hae In bingung.
" Segalanya di masalalu dan masa kini, saya tidak bisa menyebut berapa banyak dan apa saja kesalahan saya pada Lea dan Livy, yang jelas sangat banyak." Ujar Anton.
" Saya juga sangat merasa bersalah pada anda, karena saya sudah menyakiti putri tercinta anda, Livy." Ujar Anton lagi.
" Memaafkan itu mudah, melupakan kesalahan itu sendiri yang sulit. Saya senang akhirnya kau menyadari kesalahanmu, semoga bisa menjadi pembelajaranmu di masa mendatang." Ujar Hae In.
" Terimakasih." Ujar Anton dengan bersungguh sungguh.
" Kalau begitu saya permisi." Ujar Anton lagi sambil menatap Livy dan Hae In.
Livy tersenyum dan Hae In mengangguk, lalu Anton pun keluar dari ruangan Livy.
' Semoga aku bisa menebus semua kesalahan itu dengan apa yang akan aku lakukan untuk Livy. Tuhan, aku tidak pernah merasa se bersalah ini pada seseorang. Livy, dan Lea putriku.. Aku sangat merasa berdosa pada mereka berdua.' Batin Anton.
' Tolong beri aku kesempatan menebusnya.' Batin Anton lagi.
Jika saja waktu bisa di putar kembali, Anton akan menerima pernikahan itu dan hidup bahagia dengan Livy dan Lea. Sayangnya waktu yang sudah berlalu, tidak akan bisa kembali.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1