TRAUMA

TRAUMA
Chapter 42 - Monolog Regan


__ADS_3

Kini Nara telah berada di kamarnya. Jangan tanyakan Mahesa ia pasti sudah tertidur dengan pulasnya di samping Nara. Diam-diam ia melirik jam wekker yang ada di nakasnya. Terlihat disana menunjukkan pukul 20.30 WIB.


Nara mulai menggeluti pikirannya dengan teliti. Ia mencoba menilai setiap perilaku Regan padanya. Ia tak habis pikir jika Regan tega mengkhianati cintanya. Bahkan, Nara mencintai Regan penuh dengan pengorbanan.


Dimana ia harus memulai percaya pada orang baru saat semua orang meninggalkannya. Ia harus mencoba menghilangkan trauma mendalam saat memasuki rumah sederhana itu. Mungkin, batin Nara belum bisa berdamai dengan masa penyiksaan itu. Tapi, logika Nara terus berjalan agar bisa menikmati hidup dengan candaan.


Bertemu dengan Regan merupakan suatu kebetulan yang sudah diatur oleh takdir. Nara bukanlah manusia egois yang harus terus menyelimuti dirinya dengan luka. Ia berpikir, ia pantas bahagia.


Namun, apa yang terjadi? Saat kesuksesan sudah di ambang pintu. Saat buah cinta hadir dengan cara yang begitu memukau. Saat ia mulai berdiri tegap diatas trauma nya itu. Ia harus dihadapkan kembali dengan kenyataan yang membuatnya terluka, yaitu perselingkuhan alias pengkhianatan dari suaminya sendiri.


Benci! Ia begitu benci dengan kata 'selingkuh'. Ia benci dengan sebuah pengkhianatan. Matanya memerah bertanda ia marah besar. Namun, bukan Nara namanya jika ia tak pandai bicara halus meski hatinya telah tertusuk.


Hingga saat itu Regan pulang tepat jam 9 malam. Nara sengaja berpura-pura tidur untuk menenangkan pikirannya. Tak lama Regan mengecup singkat kening Nara pada malam itu. Ada rasa sesak di dadanya, namun ia berusaha untuk tetap memejamkan matanya.


Hingga, tiba-tiba Regan bermonolog di kamar itu.


"Nara.."


"Kamu wanita kuat, kamu wanita hebat sayang."


"Mas salut, kamu bisa bernafas sampai sekarang setelah penyiksaan berkala saat itu."


"Terimakasih sayang, kamu telah menguatkan mas selama ini."


"Tapii.. "


degg


Goresan senyum tipis yang terukir pada bibir Nara itu kembali memudar saat Regan hendak mengatakan sesuatu.


"Tapii.. "


"Mas tidak bisa bohongi hati mas."


"Mas cinta sama kamu, tapi mas jauh lebih mencintai Anna."


"Mas mencintai Anna lebih dari apapun, Nara."


"Mas harap kamu paham, sayang."


"Mas minta maaf."


"Maaf karena mas gak bisa tepatin janji mas."


"Tapi mas janji, seminggu ini mas akan selalu ada di rumah ini untuk salam perpisahan."


"Dan kamu Mahesa, jaga mama kamu. Papa gak bisa ada buat kamu. Papa harus hidup bersama orang yang papa cintai."


"Papa sayang kamu Esa."


cup


Regan mengecup singkat pipi dan kening Mahesa.


Nara seperti hendak menahan gemuruh dalam hatinya. Ia sakit bukan kepalang saat mendengar ucapan suaminya itu. Namun, ia tersentak saat Regan memeluknya dari belakang. Tak terasa buliran air mata jatuh dari ekor matanya itu. Tapi kini ia mulai memejamkan matanya untuk menikmati waktu terakhir bersama suaminya itu.


***


07.00

__ADS_1


Tak terasa waktu malam begitu singkat bagi Nara, kini ia telah siap dengan segalanya. Mulai dari menyiapkan sarapan, mengurus Mahesa bahkan ia siap untuk mulai mengungkap kasus perselingkuhan Regan. Tak lupa ia segera menitipkan Mahesa pada Bu Uti pagi itu.


"Pagi sayang." sapa Regan.


"Pagi mas." ucap Nara.


"Kamu kenapa? kok kayak banyak pikiran gitu?" tanya Regan.


"Nggak, kepikiran aja sama kasus perselingkuhan di sinetron tadi malam." ucap Nara santai.


"E-e si-sinetron apa s-sa-yang?" tanya Regan gugup.


"Banyak kok acara televisi yang membahas kasus perselingkuhan. Contohnya Layangan Putus." ucap Nara.


"La-layangan Pu-tus? I-itu g-gimana?" tanya Regan.


"Itu mas, lakik nya ajak jalan selingkuhannya ke Cappadocia, terus parahnya lagi si lakik beliin Penthous seharga 5M buat tu ulet bulu." tukas Nara.


"Hehe.. sa-sayang ka-kamu kok malah bahas ginian si?" tanya Regan.


"Kenapa mas? kamu tersinggung?" tanya Nara.


"O-oh eng-enggak dong, masa iya tersinggung." ucap Regan yang sedari tadi bicara gugup.


"Terus? kenapa kamu kayak gugup gitu ya?" tanya Nara.


"O-ooh eng-nggak mas gugup karena mau ketemu client. Iya ketemu client di caffe cabang sayang." ucap Regan.


"Caffe cabang?" tanya Nara.


"Iyaa, kamu mau kesana?" tanya Regan.


"H-haah eng-nggak kok." elak Regan.


"Gak usah bohong mas! Aku kemarin kesana." tukas Nara.


Tampak di sana Regan terdiam serta terus saja menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.


"Bener kan mas?" tanya Nara penuh penekanan. Sontak Regan pun mengangguk lemah menjawab pertanyaan Nara.


"Kenapa mas? Kenapa?" tanya Nara.


"Mas min-"


"Kenapa mas? kenapa mas harus jual Caffe itu? bahkan mas jual sama kakak aku sendiri?" tukas Nara yang kini pipinya banjir dengan air mata itu.


"Sayang kamu jangan nangis." ucap Regan.


"Jangan panggil aku sayang dengan mulut berbisa mu itu." ketus Nara.


"Iya mas minta ma-"


"Telat mas!"


"Nar-"


"Diam mas!" tukas Nara, sontak Regan pun langsung terdiam kala itu.


"Mas kemanain uang hasil penjualan Caffe itu?" tanya Nara yang masih terisak.

__ADS_1


"Kenapa diem mas? Kenapa??" tanya Nara.


"Jawab mas, jawab!!" ucap Nara dengan nada tingginya.


Namun, di sana tampak Regan masih terdiam mendengar ocehan Nara.


"Ooh iya aku inget mas! waktu itu ada nomer baru yang ngirimin aku foto tas berwarna merah menyala. Apa dia selingkuhan kamu mas?" tanya Nara yang emosinya kini tengah mendidih itu.


"Kenapa diam terus mas?"


"Punya mulut kan?"


"JAWAB!" tukas Nara, ia berbicara dengan nada tinggi sambil terus terisak.


"GAK, MAS GAK SELINGKUH!" ketus Regan dengan suara lantangnya.


"Jangan suka nuduh sembarangan, Nara!" tukas Regan.


"Nuduh mas bilang?" tanya Nara.


"Kamu itu lebay, di tinggalin dikit aja pikiran udah ngawur." tukas Regan.


"Lebay mas bilang? Pikiran aku masih terlalu jernih mas." tukas Nara.


"Kalo pikiran kamu jernih, gak mungkin kamu tuduh mas dengan argumen kotor kamu itu." ucap Regan.


"Mas perlu bukti?" tanya Nara.


"Jelas, saya jelas perlu bukti Nara." angkuh Regan.


"Baik, aku akan buktiin semuanya." ucap Nara.


"Silah-" ucapan Regan terpotong saat ponselnya berdering.


Dengan sesegera mungkin Nara merebut ponsel itu, lalu mengangkatnya. Tak lupa ia mengeraskan volume panggilan itu.


"Halo Pak Regan, ini ada yang mencari bapak." ucap Egi.


Disana Nara tampak mengernyit bingung, karena yang menelponnya bukanlah wanita itu, melainkan Egi.


"Halo pak."


"Halo.. " ucap Egi saat tidak mendengar ada sahutan dari bosnya itu.


"Kamu kenapa sih." tukas Regan, seraya mengambil ponselnya.


"Halo gi, iya nanti saya ke Caffe sebentar lagi." ucap Regan.


Setelah mematikan sambungan telepon itu pun Regan langsung menatap tajam ke arah istrinya itu.


"Lain kalo jangan ambil HP orang lain tanpa izin, gak sopan kamu!" tukas Regan pada istrinya.


"Mas aku-"


"Cukup Nara. Pikiran kamu itu terlalu kotor!" tukas Regan.


"Mas.." lirih Nara.


Regan pun berjalan menuju garasi mobil, secepat mungkin ia melajukan mobilnya menuju Caffe R & N.

__ADS_1


__ADS_2