
Di kelas
Nesha masih di geluti dengan berbagai pertanyaan di benaknya.
'Anjir itu darah apa ya?'
'Jangan-jangan dulu Nara emang bener sering di cambuk, terus dia jadi anak broken home, putus asa, minum di bar, melayani banyak lelaki, terus hamil, dan itu keguguran.'
Ucap Nesha mencoba merangkai sendiri kisah mantan sahabatnya itu.
'Tapi bisa jadi juga kalo Nara itu manusia jelmaan sundel bolong'
'hah? jadi selama ini gue sahabatan sama hantu?'
ia terus merangkai kisah Nara sesukanya.
"Argghhhhhh....." ucap Nesha membuat seisi kelas melihatnya.
"Anjir lo kenapa egee?" tanya Doni saat itu.
"Jangan-jangan keinget si Nara ya?" tanya Lita kemudian.
"Menurut lo Nara manusia apa bukan?" tanya Nesha
"Anjj* loo!! Jangan nakut-nakutin egee!" ucap Lita
"Assalamu'alaikum anak-anak." ucap Bu Heni masuk ke kelas.
Seketika mereka yang tengah asyik mengobrol pun bungkam melihat guru yang sudah masuk ke kelas itu.
***
Sepulang sekolah seluruh murid langsung pulang ke rumahnya masing-masing.
Tinggg
Suara notifikasi grup sekolah kembali terdengar.
[ send a photo ]
[ Foto kapan tuch ]
[ Hot new lagii 🤨 ]
[ Nara? ]
[ Eh itu lagi apa anjirr? 😨 ]
[ ***-*** 🤣🤣🤣 ]
[ Anjj benar-benar lo*te 😌 ]
[ Btw itu laki-laki yang kemaren bukan sih? ]
[ Ah iyaa betul, gans bingit anjirr😍 ]
[ Cowoknya kek punya roti sobek 😋 ]
[ hussst.. malah fokus ke lakiknya! dasar mulut betina, gue geprek baru tau rasa lo ]
[ Kalem mas bro😗 ]
[ kembali ke lap-top ]
[ 🤣🤣 ]
Mereka pun kembali ke topik awal pembicaraan.
[ Anjir banget itu si Nara, malu-maluin sekolah ]
[ Harusnya di keluarin, iya gak sih gays? ]
[ Yap betul, kita harus demo ]
[ ho'oh mumpung pak kepsek dah hilang respect ]
[ Bully sampe koit kwkw ]
[ yoyoy! neneng terdepan urusan bully membully ]
[ gas keun besok! ]
[ gas ]
[ gas ]
[ gas ]
__ADS_1
....
Begitulah kurang lebih percakapan dalam grup sekolahnya. Mereka bahkan merencanakan untuk membully Nara kembali.
***
Sementara di rumah Nara,
Roy sedang asik berbincang dengan ibunya.
"Mah, ini real gak sih?"
tanya Roy dengan menunjukkan video Nara memasuki hotel.
"Maybe" ucap Mamanya.
Seketika Ray mengagetkan mereka.
"Mah, Kak Royy!!" ucap Reyhan
burrrrr
Teh yang di minum mamanya menyembur.
"Eheheh maaf ma." ucap Ray cengengesan
"ngagetin bet anjj" ketus Roy
"Bisa gak sih kalo ngomong pelan-pelan?" tanya mama
"Nih maa, kak, liat!" ucap Rey dan menunjukkan foto Nara yang berada di hotel waktu itu.
"Nah kan Roy, lihat!" tunjuk mamanya
"Anjirrr!! Itu beneran?" ucap Roy
"Lo dapet darimana Rey?" tanya Roy
"Temen!" tukasnya.
Mereka terus berbincang mengenai Nara, hingga terbesit di dalam hati mereka, untuk menghabisi Nara malam ini juga.
***
Satu masalah belum selesai, kini timbul masalah baru. Sama seperti luka belum sembuh di tambah luka baru.
Hal itu membuat Nara trauma dengan kata keluarga, cambuk, dan belati.
Di sisi lain,
Regan, kini tengah kehilangan beberapa asetnya karena ada seseorang yang menyebarkan foto dirinya juga Nara saat di hotel.
"Regan, papa kecewa dengan semua yang kamu lakukan!"
"Kamu benar-benar telah membuat malu keluarga!"
"Papa tak habis pikir sama kamu!"
"Dan untuk CEO perusahaan akan di teruskan oleh Bagas."
"Silahkan kemasi barang kamu, dan keluar dari rumah ini!"
ucap Bima, papanya Regan.
Ibunya, mencoba untuk memohon pada suaminya agar ia tidak mengusir anak sulungnya.
"Pah, sudah. Bisa saja ini jebakan." ucap Liya, mama Regan.
"Jebakan darimana? Sudah jelas CCTV hotel itu menunjukkan mereka masuk ke kamar yang sama." ucapnya kemudian
"Jangan usir Regan pah, dia anak kita." ucap Liya, memelas.
"Papah hanya mau dia merenungi kesalahannya." tukas Bima, seraya meninggalkan mereka.
"Nak, jangan tinggalkan mama nak.. hiksss." ucap mama Regan dengan terisak.
"Maaf ma, Regan harus pergi."
Sejenak Regan memeluk erat mamanya, sebelum ia pergi ia mengecup sayang kening ibunya itu.
"REGAAAANNNNNNNNNN..." teriak mamanya, saat Regan berjalan menuju mobilnya.
Masih untung papanya berbaik hati memberikan mobil padanya, jika tidak ia mau pergi pakai apa?
***
Kini siang berganti sore, aku merasa sangat lelah karena terus mengendarai motor. Sejenak aku menepikan motorku di sebuah danau saat itu.
__ADS_1
Semua orang di jalan menatapku dengan tatapan jijik, bahkan tak jarang aku melihat sekelompok orang dengan tatapan sendu.
'Ih itu manusia apa bukan?'
'Berdarah-darah, takut ane.'
'Anak SMA itu, Jangan-jangan keguguran'
'Haishh.. Ngewrii-ngewrii'
'Mamaa.. huwaaaa adek takutt hiksss'
'Duh bikin gagal me time aja sih'
'Kasihan yah, kelihatannya frustasi banget'
'Jangan ampe dia kek anak tetangga, capek hidup malah bundir'
Begitulah kiranya yang aku dengar di danau itu.
Ada yang kasihan melihatku, tapi tidak berani mendekat. Pasalnya semua orang takut dengan penampilanku, mereka mengira aku ini makhluk tak kasat mata.
Aku mencoba acuh dengan ucapan mereka. Dan mulai menikmati indahnya danau di sore itu.
'Tenang, sejuk, hemmmm' gumamku
Tak terasa aku menikmati sore itu dengan khidmat dan aku mulai menutup mataku, di tepi danau itu.
wusss.. wussss.. wusss
Suara angin begitu menusuk ke tulang tubuhku.
"eghh" ucapku.
Seketika aku kaget saat membuka mata sekelilingku sangat gelap. Melihat jam di tanganku, kini tengah menunjukkan pukul 8 malam.
duarrrrr
Terdengar suara petir begitu menggelegar.
*tesss.. tesss.. tes*sss...
Rintik hujan mulai membasahi setitik demi setitik anggota tubuh ini.
"huftt.. lengkap sudah penderitaan ku hari ini." ucapku
Tidak ada seorang pun di danau ini, hanya genangan air yang terlihat menenangkan.
Aku mencoba berjalan dengan tertatih-tatih menuju motorku. Takut hujan semakin besar, aku dengan segera mengendarai motorku.
byuurrrrrrrrrr..
Belum sempat sampai rumah, kini hujan besar di sertai petir mulai membasuh setiap inci tubuhku.
Aku yang merasa perih di bagian tertentu, termasuk mata aku mencoba menghentikan motorku di sebuah jembatan malam itu.
Aku duduk di tepi jembatan itu.
Mengingat kejadian demi kejadian dalam hidup, belum lagi dibawah hujan besar membuatku semakin yakin bahwa tidak ada yang menyayangiku seorang pun.
Hingga malam itu, menjadi saksi dimana aku sudah putus asa dengan semua ini.
'Apa gue harus mengakhiri hidup?' batinku kemudian.
'Lagian udah gak ada lagi yang peduli sama gue.'
Aku menatap ke bawah, terlihat sangat tinggi jembatan itu. Bisa saja aku langsung tidak bernyawa jika melompat kesana.
tapp
tapp
tapp
Satu persatu penghalang jembatan itu aku naiki, hingga sampailah aku di posisi paling atas.
"Ayahhh.. Naraa datanggggg" teriakku saat itu.
Aku berniat untuk terjun ke bawah dari jembatan itu.
Di saksikan hujan besar, serta petir yang begitu kerasnya membuatku semakin yakin untuk mengakhiri hidup.
'Dengan cara seperti ini, orang tidak akan menemukan jejakku.'
'Mereka semua pasti ngira gue kabur dari rumah'
Aku mulai merentangkan tanganku dan memejamkan mata untuk melayangkan tubuhku ke dasar sana.
__ADS_1
"Aarrgghhhhhh..."
happp