TRAUMA

TRAUMA
Chapter 45 - Bertahan atau Melepaskan?


__ADS_3

"neneeekk.." teriak Mahesa yang sudah berada di tengah lelaki itu sambil mengemut es krim.


"huuuhhh.." hembus Bu Uti lega.


Tak ingin berlama-lama Bu Uti pun langsung berjalan menuju Mahesa. Dua lelaki itu tampak menyayangi Mahesa, mereka membelikan banyak makanan pada anak lelaki itu.


"Maaf mas, ini cucu saya." ucap Bu Uti dengan ramahnya.


"Iya, Bu. Kami tadi liat anak ini sendirian di sana Bu. Makannya kami ajak kesini takut ada yang nyulik." ucap si botak.


"Hehe iya mas, tadi saya beli air mineral dulu soalnya." ucap Bu Uti.


"Esa, ayok kita pulang." ajak Bu Uti.


"Iya, nek." ucap Mahesa.


"Mas makasih ya udah mau jagain Mahesa." ramah Bu Uti.


"Iya sama-sama, Bu." ucap si kumis tebal.


"Kalo gitu kami pamit dulu ya mas." ucap Bu Uti.


"Iya, hati-hati Bu." kompak si botak dan si kumis tebal.


"Mariii.." pamit Bu Uti.


Mereka berdua pun hanya menganggukkan kepalanya. Tampak mereka berdua tersenyum devil saat targetnya sudah di depan mata. Mereka terus saja menyusun rencana demi rencana agar anak itu bisa secepatnya di bawa ke hadapan bos mereka.


Lain halnya dengan Bu Uti, ia terus saja menasehati anak kecil itu agar tidak pergi dengan orang yang baru ia kenal. Mahesa yang masih kecil pun hanya menganggukkan kepalanya tatkala Bu Uti memberikan wejangan padanya.


Setelah sampai di rumah, Bu Uti langsung membersihkan tubuh Mahesa yang sudah lengket itu. Tak lupa ia menyuapi Mahesa dengan bubur khas bayi yang ia buat sendiri. Bu Uti memang telaten dalam mengurus anak kecil, makannya Nara sangat mempercayai Bu Uti sebagai pengasuh Mahesa.


***


Berbeda dengan ketiga sejoli itu, mereka tampak tidak melihat keberadaan Nara di caffe itu. Bahkan, di hari yang sudah mulai gelap ini mereka tetap duduk di meja itu. Namun, mereka tidak melihat Nara barang sedetik pun. Hingga akhirnya Fino mengingat kejadian dimana Nara tengah menangis setelah keluar dari caffe cabang itu. Robi yang melihat pergerakkan sahabatnya itu langsung saja membuka suaranya.


"Fin, napa lo?" tanya Robi.


"Kalian inget kejadian pas di caffe cabang? Nara keluar sambil nangis kan?" tanya Fino.


"Iya." singkat Sony.


"Njir, jangan-jangan dia lagi ada masalah sama suaminya." ucap Robi.


'kayaknya gue harus jujur sama mereka. Apapun yang akan mereka lakukan pada bang Regan itu murni kesalahan bang Regan. Gue gak mau mendukung orang yang salah jalan.' batin Sony.


"Guys, gue mau jujur." ucap Sony tiba-tiba.


"Jujur apaan? Masalah si Anita?" tanya Robi.


"Anj*ng emang lu, bang*at!" umpat Sony.

__ADS_1


"Eh santuy bos, santuy." ucap Robi.


"Ini gue udah santuy be*o!" tukas Sony.


"Da-"


"Diam!" tegas Fino pada kedua sahabatnya itu.


"Dan lo mau jujur apa son?" tanya Fino.


"Tapi lo pada jangan marah dah." ucap Sony.


"Tinggal ngomong banyak banget embel-embelnya." tukas Robi.


"Oke. Jadi selama ini gue sering ikutin si Nara." jujur Sony.


"Lo? ngapain? Jangan bilang lo juga cinta sama dia?" sinis Fino.


"Nah kan, gue belom selesai cerita udah di tatap sinis bae." tukas Sony.


"Iya lo ngapain anjir ikutin dia?" tanya Fino.


"Fin, lo mending dengerin dulu. Lo jangan emosi dulu." jengah Robi.


Akhirnya Fino pun diam dan menyimak cerita demi cerita dari sahabatnya itu. Berbeda dengan Robi, ia tampak heran dengan kelakuan Nara. Ia masih saja terlihat ceria di atas penderitaannya.


Sony kini telah menceritakan semua kejadian yang Nara alami. Termasuk pengkhianatan Regan dengan wanita bernama Anna itu. Sony dengan penyamaran yang luar biasa itu mampu membongkar rahasia busuk Regan. Ia menguntit Nara kemana pun ia pergi. Bahkan, Sony tau kemana pun Nara pergi karena ia memasang GPS di ponselnya. Itulah Sony, ia mampu mendeteksi semua kesalahan tanpa ada kecurigaan dari pihak mana pun.


***


ceklekk


Tak lama dari itu, suara pintu kamar terbuka lalu menampakkan lelaki egois di ambang pintu itu.


Dada Nara kembali merasakan sesak saat melihat Regan di hadapannya. Bulir air mata itu kembali mendarat di pipi mulusnya. Tampak di sana Regan sedang menatap Nara dengan tatapan yang sulit di artikan. Nara yang melihat tatapan suaminya itu hanya bisa memalingkan muka dan mendengus kasar.


"Nara, mas minta maaf." lirih Regan.


"Maaf untuk apa?" tanya Nara.


"Maaf mas udah mencintai wanita lain." ucap Regan.


"Terus?" tanya Nara.


"Apa kamu masih mau bertahan sama mas, ra?" tanya Regan.


Nara langsung saja mengernyitkan dahinya itu. Ia tak habis pikir dengan permintaan Regan. Ia benar-benar egois.


"Apa? bertahan?" tanya Nara.


"Iya, mas mau kamu masih tetap menjadi istri mas meskipun mas nanti akan menikahi Anna." ucap Regan.

__ADS_1


"Apa kamu sudah gila mas?" tanya Nara.


"Iya mas gila karena wanita. Jadi mas mohon bertahan lah." ucap Regan memohon.


"Maaf aku gak bisa." ucap Nara.


"Tapi kenapa Nara? Kamu butuh sandaran dan Mahesa pasti butuh sosok ayah di hidupnya." ucap Regan.


"Sandaran? Bahkan bantal ini jauh lebih nyaman untuk tempat bersandar. Dan apa tadi kamu bilang? Mahesa? Sejak kapan kamu peduli sama anakku mas? Selama ini kamu gak pernah ada buat Mahesa." tegas Nara.


"Karena aku sibuk Nara." ucap Regan.


"Yah, mas sibuk. Sibuk mengurusi wanita lain kan?" monohok Nara.


"Tolong jangan bawa-bawa Anna pada masalah ini, mas mohon." ucap Regan.


"Memang dia sumber masalahnya kok mas." ketus Nara.


"Dia gak salah." tukas Regan.


"Terus siapa yang salah menurut kamu, mas?" tanya Nara.


"Kamu, Nara. Kamu salah besar dalam masalah ini." tukas Regan.


"Hah? Aku?" tunjuk Nara pada dirinya sendiri.


"Iya Nara. Kamu salah tapi kamu gak ngaku. Tadi aja aku kan yang minta maaf sama kamu?" tukas Regan.


"Ada ya modelan manusia yang gak pernah merasa salah sama sekali. Padahal dia yang udah nyakitin orang lain dengan tega dan sengaja." ucap Nara.


"Mas nyakitin kamu? Nyakitin gimana?" tanya Regan.


"Masih nanya? Mas pikir selama ini mas selingkuh aku gak sakit hati apa?" tanya Nara.


"Lelaki punya banyak wanita itu wajar, Nara. Yang gak wajar itu wanita yang punya banyak lelaki." ucap Regan.


"Aku gak habis pikir ya sama jalan pikiran kamu mas. Aneh!" tukas Nara.


Tampak di sana Regan terdiam beberapa saat. Lalu ia kembali membuka suaranya.


"Jadi gimana? Kamu masih mau kan bertahan sama mas?" tanya Regan.


"Maaf mas. Aku gak bisa bertahan sama kamu. Apalagi kamu dengan gamblangnya berbuat mesum di depan aku tadi." ucap Nara.


"Mas gak tau kalo ada kamu di sana, Nara." ucap Regan.


"Halah udah lah. Aku akan tetap teguh sama pendirian aku. Aku lebih baik melepaskan daripada harus bertahan dengan kesakitan kayak gini." tukas Nara.


"Ya udah, terserah. Jangan sampe kamu nyesel sama pilihan kamu." ucap Regan.


Nara pun hanya tersenyum sinis dengan perkataan Regan. Melihat wanita di hadapannya tersenyum seperti itu, ia pun langsung keluar dari kamar. Lalu, melajukan mobilnya menuju Jalan Anggrek.

__ADS_1


Berbeda dengan Nara, meskipun ucapannya begitu tegas keluar dari mulutnya ia tetap frustasi dengan kepergian Regan. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini. Ia sadar akan kembali meratapi kesendiriannya.


__ADS_2