
Lea masih berada di pelukan Richard, ia tidak menyangka akan ada perasaan aneh setelah Richard memeluknya. Seperti ada petasan yang meletus saat ini di perut Lea.
" Terimakasih, sayang." Ujar Richard lagi.
Lea yang sebelumnya tidak membalas pelukan Richard, tangan nya mulai terangkat dan membalas pelukan Richard. Perlahan bibir Lea tersenyum kemudian mengangguk.
" Tolong jangan buat aku kembali ke masalalu." Ujar Lea.
" Tidak akan. Akan aku pastikan aku selalu bersamamu dan membuat kamu bahagia. Aku mencintaimu, Lea." Ujar Richard dan Lea hanya mengangguk.
Richard tidak mempermasalahkan itu, dia sudah di beri kesempatan oleh Lea, maka dia tidak akan menyia nyiakan kesempatan itu. Richard hanya harus berjuang agar Lea juga mencintainya, dan membuat Lea mengatakan mencintai dirinya juga suatu hari nanti.
Setelah beberapa saat mereka berpelukan, kini keduanya melanjutkan perjalanan mereka. Dan sampailah mereka berdua di kediaman Lea.
Rupanya Riri justru sudah sampai lebih dulu, padahal Riri masih harus menunggu ojek online nya dan dia menunggu di kediaman Lea sudah sekitar 15 menitan yang lalu.
" Riri, kamu sudah sampai?" Tanya Lea.
" Uhum, aku sudah sampai sekitar lima belas menit yang lalu." Ujar Riri.
" Oh Astaga, maaf membuatmu menunggu, Ayo masuk." Ujar Lea.
Richard tersenyum melihat kekasihnya itu tampak sedikit gugup. Sungguh tidak terlihat seperti Lea yang biasanya.
" Aku pulang, ya?" Ujar Richard.
" Kamu mau pulang?" Tanya Lea.
" Ya, kalian para perempuan silahkan menikmati waktu bersama." Ujar Richard sambil tersenyum.
" Hm.. Hati hati di jalan." Ujar Lea.
" Richard mengusap rambut Lea, dan akhirnya pergi dari sana. Riri yang masih belum tahu bahwa Richard dan Lea telah resmi menjadi sepasang kekasih pun menatap Richard dengan kasihan.
Setelah Richard pergi, Lea mengajak Riri masuk kedalam.
" Nah, akhirnya pulang juga.. Riri menunggumu, nak." Ujar Livy, yang tengah duduk di ruang tengah.
" Iya, ma. Lea yang menyuruh dia datang." Ujar Lea.
" Ma, Lea dan Riri akan berlatih.. " Ujar Lea.
" Iya, sayang. " Ujar Livy.
__ADS_1
Lea menarik tangan Riri yang sebenarnya masih kebingungan, sebab Lea sama seklai tidak memberi tahu dirinya tentang apa yang sebenarnya hendak mereka lakukan. Hingga tibalah mereka di ruangan yang terlihat seperti ruang Gym. Terdapat banyak alat olah raga di sana, dan semua itu membuat Riri membulat kan matanya.
" Aku membawamu kemari adalah untuk berlatih. Juno tidak menerimamu karena kamu tidak kuat bukan? Maka aku akan melatihmu agar kamu bisa menjadi kuat, dan buat si bodoh Juno itu menyesal karena sudah menolakmu.'' Ujar Lea.
Riri menunduk, dia sudah berusaha untuk melupakan Juno sebenarnya, tapi memang sulit.
'' Tidak perlu, Lea.. aku baik baik saja. Aku sudah berusaha melupakan dia.'' Ujar Riri.
" Melupakan dia itu bagus, tapi kamu tetap harus menjadi kuat. Setidaknya untuk melindungi dirimu sendiri, dan buktikan bahwa kamu tidak lemah." Ujar Lea.
" Kamu juga tidak akan di rundung saat tidak bersamaku, setidaknya balas pukulan mereka agar mereka tidsk lagi mengganggumu." Ujar Lea.
Riri yang sebelumnya tidak memiliki tekad, kini jadi bertekad. Benar yang Lea ucapkan, dia harus menjadi kuat unruk melindungi dirinya sendiri.
" Kamu benar, Lea. Bisakah kamu mengajariku?" Ujar Riri.
" Itu yang aku tunggu, ayo kita berlatih. Mulai hari ini, sepulang sekolah kamu harus datang kemari untuk berlatih." Ujar Lea, dan Riri mengangguk.
" Oke, ayo kita mulai pemanasan terlebih dahulu." Ujar Lea.
Riri menurut.. Saat itu juga, Riri di bawah bimbingan Lea mulai berlatih seni bela diri awal untuk pemula. Jangan anggap Lea hanya mampu bela diri asal. Lea sebenarnya sudah memegang sabuk hitam karate dan taekwondo.
Tentu saja Lea juga memiliki sertivikat sebagai tanda bukti kelulusan atau tanda bukti bahwa Lea benar benar lulus memegang sabuk hitam taekwondo dan karate. Namun tidak ada yang tahu hal itu, dan hanya Livy seorang yang tahu.
Mereka sudah melewati dua jam berlatih. Lea sungguh tidak menaruh sedikitpun belas kasihan pada Riri. Dia keras, seperti saat dulu gurunya mengajari dirinya. Tujuan nya adalah agar murid atau orang yang di latih tidak malas.
" Itu baru permulaan Ri, semakin kesana tantangan nya semakin tinggi dan akan semakin sulit. " Ujar Lea.
" Apakah aku mampu? Ya Tuhan, rasanya kakiku mau patah." Ujar Riri.
Lea terkekeh mendengarnya, sejujurnya dulu saat dirinya memulai untuk berlatih bela diri untuk pertama kalinya juga sama seperti Riri. Rasanya semua tulang di badan nya remuk.
" Mampu, jika kamu sering berlatih badanmu juga akan semakin terbiasa dengan itu. Untuk hari ini cukup sampai di sini, besok aku akan ajarkan padamu step selanjutnya." Ujar Lea.
" Ah.. Aku tidak bisa berdiri, lemas." Ujar Riri.
" Ayo bangun, jangan manja.." Ujar Lea sambil mengulurkan tangan nya.
Riri pun menyambut uluran tangan Lea dan langsung berdiri. Lea benar, dirinya tidak boleh manja.. Harus tegas dan kuat seperti Lea.
" Ayo makan malam di rumahku, nanti supir yang antar kamu pulang." Ujar Lea.
" Tidak perlu Lea, tidak apa apa. Aku akan langsung pulang saja." Ujar Riri.
__ADS_1
" Menurut, kamu sudah seperti saudariku." Ujar Lea.
Lea menarik tangan Riri dan membawanya ke meja makan, dimana saat ini Livy dan Hae In juga sudah ada di sana.
" Halo Kek." Ujar Lea.
" Halo, nak.. kamu berlatih??" Tanya Hae In.
" Ya, kek.. lebih tepatnya melatih Riri." Ujar Lea.
" Jika kamu mau, kakek bisa memanggilkan kamu guru bela diri. Jadi kamu bisa berlatih bersama." Ujar Hae In yang belum tahu Lea adalah pemegang sabuk hitam.
" Lea sudah menjadi pemegang sabuk hitam DAN II, ayah." Ujar Livy.
" Eh??? Sungguh??" Ujar Hae In dan Riri bersamaan.
Livy terkekeh dan Lea mengangguk. Sungguh lucu wajah kakek Hae In dan Riri saat ini yang sedang terkejut.
" Woah.. Tidak di sangka, kamu sudah seperti master saja." Ujar Riri.
" Masih jauh, masih banyak tingkatan nya. Tapi aku berhenti tahun kemarin." Ujar Lea.
" Kenapa??" Tanya Hae In.
" Dulu Lea ikut mempelajari bela diri itu untuk melampiaskan kemarhaan Lea, Kek. Lea berhenti karena guru yang melatih Lea, meninggal." Ujar Lea.
" Kamu bisa cari guru lagi, nak." Ujar Hae In.
" Tidak perlu kek, lagi pula Lea bukan mau menjadi atlet atau guru. Lea hanya mengisi waktu kosong Lea saja." Ujar Lea.
" Ayo makan, makanannya akan segera dingin jika kalian terus mengobrol." Ujar Livy.
" Oh, ya.. Ayo makan.. makan. " Ujar Hae In.
Livy tidak mau membuat Lea sedih, saat Lea kehilangan guru bela dirinya itu, dia sampai selalu marah marah. Karena guru itu yang mengajarkan juga bagai mana cara agar Lea mengontrol emosinya.
Setelah makan malam selesai, Lea mengantar Riri sampai depan rumah. Lea sungguh menyuruh supir mengantar Riri ke kost kostan nya.
" Terimakasih Lea." Ujar Riri.
" Hm, hati hati di jalan." Ujar Lea sambil melambaikan tangan nya.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1