
Pulau Jeju
Terlihat sepasang kekasih sedang berpelukan erat pada pagi hari itu. Anna betul-betul tidak ingin melepaskan Regan. Dalam hatinya memburu penuh ambisi untuk mendapatkan lelaki itu. Bahkan, Anna tengah mengotak-atik pikirannya agar Regan tetap bersama dia.
"Sayang udah ya." ucap Regan lemah lembut
"Aku gamau pulang." rengek Anna
"Tapi kita udah dua hari, sayang." ucap Regan
"Iya terus kenapa emangnya?" tanya Anna
"Nanti istri mas nyariin." jawab Regan. Tampak Anna langsung melepas pelukan itu seraya mendengus mendengar penuturan dari Regan.
"Istri aja terus yang di pikirin." tukas Anna
"Ya ampun sayang. Mas cuma gamau istri mas curiga." ucap Regan
"Biarin lah mas dia tau hubungan kita." ketus Anna
"Ya jangan dong." ucap Regan
"Emang kenapa? mas takut pisah hah?" tukas Anna dengan nada tingginya
"Iya, mas gamau pisah sama dia." terang Regan
"Emang secantik apa sih cewek itu mas?" ucap Anna yang masih saja meninggikan suaranya
"Dia baik banget sayang." ucap Regan
"Heleh aku yakin aku pasti jauh lebih cantik dari si Nara Nara itu." tukas Anna
"Sayang, udah dong jangan bahas gituan ah mending kita siap-siap aja dulu." ucap Regan yang jengah dengan tingkah laku Anna
"Mas aku gamau pulang sekarang!" tukas Anna
"Anna! Mau tidak mau kamu harus pulang!" tegas Regan
"Buat apa aku pulang kalo mas malah tidur sama istri mas?" tanya Anna
"Kamu kenapa sih? Harusnya kamu mikir waktu aku tu habis cuma-cuma buat ladenin sikap manja kamu itu! Kamu gak pernah mikir gimana terlukanya Nara kalo dia tau kejadian yang sebenarnya, hah??" tanya Regan yang sudah tersulut emosi
"Nara aja terus yang mas pikirin!" tukas Anna
"Dia istri mas, dan kamu hanya selingkuhan." ucap Regan
"Oke, kalo gitu aku gamau jadi selingkuhan mas lagi!" tukas Anna
"Gabisa." ucap Regan
"Why? Penting banget dia buat mas iya?" tanya Anna
"Iya dia penting. Nara yang udah nyelametin mas, ingat itu!" tukas Regan
"Aku gak peduli mas! Mas ceraikan dia sekarang atau aku yang akan bilang semuanya?" tanya Anna
"Jangan gegabah Anna!" tukas Regan
"Mas tinggal pilih." ucap Anna
"Mas gak akan pernah tinggalkan Nara." ucap Regan penuh penekanan
"Oke berarti mas pilih opsi kedua." ucap Anna
"Jangan macam-macam, Anna!" tegas Regan
"Aku hanya ingin mas jadi milikku!" ketus Anna
Terlihat disana Anna tengah mengambil hpnya yang berada di atas nakas. Kemudian tecrcetak lah senyum devil wanita itu saat mengambil hp itu.
Anna berencana untuk mengirim beberapa foto dan video yang ia rekam tanpa sepengetahuan Regan. Sontak, hal itu membuat mata Regan menajam.
"Liat mas, indah bukan? haha." tanya Anna sambil mengklik video adegan pasutri serta beberapa foto mesra mereka berdua.
"Jangan Anna!" cegah Regan
"Mas ini kemauan kamu kan?" tanya Anna
__ADS_1
"Tolong jangan kasih tau Nara tentang masalah ini." ucap Regan memohon
"Hahahaaa.. " tawa itu begitu menggema di balkon itu
"Aku akan kirim video ini, kalo mas gamau nurutin keinginan aku!" tukas Anna
"Apa yang kamu inginkan sayang?" tanya Regan
"Cih, tadi aja suaranya tinggi sekarang manggil sayang-sayang segala." cibir Anna
"Anna pliss apa yang kamu mau? bilangg cepetan." ujar Regan
"Apa mas janji mau turutin keinginan aku?" tanya Anna
"Iya kamu minta apa?" tanya Regan
"Mas janji?" tanya Anna
"Huftt.. iya mas janji." keluh Regan
"Aku mau mas pisah sama dia!" ujar Anna seraya menunjukkan senyum devil nya.
"Apaa?" tanya Regan
"Kalo mas gamau, aku bisa langsung klik." ucap Anna
"Oke mas akan cerai sama dia. Tapi mas butuh waktu." ucap Regan dengan suara lemah nya.
"Kapan mas?" tanya Anna
"Mas usahain secepetnya." ucap Regan
"Aku tunggu mas. kalo mas ingkar aku gak akan segan-segan kirim ini semua." ucap Anna
"Iya, mas janji akan pisah sama dia." lirih Regan
"Oke. Ayo kita siap-siap pulang." ucap Anna
"Ayo." ucap Regan seraya menganggukkan kepalanya.
***
Sementara itu, Nara yang yang tengah memasak sarapan untuk Mahesa pun tiba-tiba saja terkena goresan pisau saat ia sedang memotong bawang merah.
"Awshh.. " lirih Nara
"Ma maa .. " ucap Mahesa
"Eh sayangg, kenapa hem?" tanya Nara lemah lembut
"Ma maa mamam." ucap Mahesa
"Iya bentar ya tunggu dulu. Sini Esa duduk disini ya." ucap Nara seraya memangku Mahesa agar duduk di kursi makan.
"Mamam maa." ucap Mahesa
"Iya bentar ya ini lagi mama siapin kok." ucap Nara
Tak perlu menunggu lama nasi tim yang lengkap dengan sayuran, daging serta protein itu ia suguhkan untuk anak tercintanya. Tak lupa setiap pagi Nara selalu memberikan susu agar pertumbuhan Mahesa berkembang dengan baik. Nara sangat menyayangi anaknya itu, ia tidak mau jika Mahesa mengalami hal serupa dengan dirinya.
"Enak gak?" tanya Nara lembut setelah Mahesa menyelesaikan makannya.
"heem enak." ucap Mahesa seraya mengacungkan jempol tangannya.
"Esa nanti di rumah sama Nek Uti lagi ya." ucap Nara
"Mama mana?" ucap Mahesa
"Mama mau ke kafe bentar kok." ucap Nara
"Au itut mama." ucap Mahesa
"Jangan ya banyak polusi sayang. Nanti Esa sakit." ucap Nara kemudian
"Ooo.. " ucap Mahesa , tampak dia tidak mengerti dengan ucapan mamanya itu.
"Iya, Esa sama Nenek yaa." ucap Nara seraya mengecup kening Mahesa
__ADS_1
"Ia maa." seru Mahesa
"Nah gitu dong. pinterrr." ucap Nara
Seperti biasa jam 7 pagi Nara akan berangkat ke cafe. Ia memutuskan untuk berangkat lebih awal dari biasanya. Tidak lupa Nara menitipkan Mahesa pada Bu Uti. Setelah itu, Nara melajukan mobilnya menuju Caffe itu. Ia bingung kenapa perasaannya tidak enak saat ini.
"Duh gue kenapa ya?"
"Kok kek gelisah banget sih ini."
"Hm Mas Regan belum pulang lagi."
"Btw foto itu, bener gak si?"
"Kalo iya bener gimana hufft.. "
"Eh tapi bisa aja sih tu foto jebakan kek gue dulu. Gue jangan nethink dia gamungkin berpaling." monolog Nara
Tak perlu memakan waktu yang lama, kini ia telah sampai di parkiran Caffe R & N itu. Terlihat disana ada tiga lelaki yang tengah menunggu kedatangan Nara. Siapa lagi jika bukan Fino, Robi dan Sony.
"Pagi Nara." ucap mereka serentak
"Eh lo pada gak kuliah apa?" tanya Nara
"Gak di ajak masuk dulu nih?" tanya Robi
"Oh iya ayo masuk, duduk aja dulu." ucap Nara pada mereka
"Nah kalo gini kan enak, iya gak Fin?" tanya Sony
"Hem." singkat Fino
"Etdah udah ada Nara juga tuh mimik datar ae lo." tukas Robi
"Tau nih." ketus Sony
"Udah udah malah berantem lagi." lerai Nara
"Hehe ya sorry ra." ucap Robi
"Hem.. jadi kenapa kalian pada bolos kuliah?" tanya Nara
"Kita gak bolos." ucap Fino yang akhirnya membuka suara
"Terus kenapa ada disini pagi-pagi?" tanya Nara
"Dosennya gak ada ra." jawab Fino kemudian. Tampak Sony yang hendak membuka mulut pun ia langsung bungkam.
"Nah iya Ra daripada kita luntang lantung gak jelas kan mending jalanin visi kita." ucap Robi yang di balas anggukan oleh Sony.
"Visi apaan?" tanya Nara sambil mengernyitkan keningnya
"Aelah mentang - mentang udah kiwin lo pelupa ra." tukas Sony
"Hah?" Nara semakin bingung dibuatnya
"Maksud kita itu masalah lo yang kemaren." ucap Robi
"Loh bukannya kata Pak Bobon lima hari ya?" tanya Nara
"Iya sih, tapi gimana ya. " ucap Sony sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu
"Udah kita disini mau breakfast kok ra. Siapin ya." ucap Fino yang mulai jengah dengan tingkah laku kedua sahabatnya.
"Ooh bilang dong mau sarapan. Gue siapin deh, mau pada makan apa kalian?" tanya Nara. Robi dan Sony pun berbinar saat mendapatkan tawaran makan pagi dari Nara.
"Gue mah sandwich yang biasa ra, sama susu banana chocolate." ujar Robi
"Gue mau nasgor seafood sama orange juice deh." ucap Sony
"Kamu Fin?" tanya Nara
"Ee machiato sama vanilla waffle aja ra." ucap Fino
"Oke tunggu bentar ya." ucap Nara seraya beranjak ke tempat masak.
Tak perlu menunggu lama mereka pun menikmati sarapan di pagi hari itu. Tampak tidak terdengar celotehan dari siapa pun mereka hanya berkutat dengan sendok, garpu serta makanan yang ada di atas piring.
__ADS_1