
Usaha Mama Nara tampak berkembang pesat setelah tragedi kedua anaknya menggugurkan kandungan wanita yang mereka tiduri.
Kini perusahaan mereka pun tengah dikenal banyak negara saking tersohornya.
Bahkan kini kedua lelaki itu nampak sudah dewasa dan berwibawa. Namun, siapa sangka di balik sifat wibawanya terdapat sifat bengis yang dimiliki.
Roy yang kini menjadi CEO di perusahaan itu ditambah Rayhan yang kini tengah menjalankan pendidikan di sebuah universitas terkenal bahkan Rayhan kini menjadi design grafis di perusahaan mamanya.
Berbeda dengan Nara yang kini tengah di hujami keinginan aneh.
Ia terus saja meminta sesuatu diluar nalar yang harus dicari oleh suaminya. Mulai dari bakso yang isinya cokelat, jus strobery yang diisi kecap asin, samyang dengan taburan kiwi, dan naasnya Regan lah yang menjadi target untuk memakan makanan aneh itu.
***
Pagi itu aku sudah seperti orang mabuk. Kepala pusing dengan rasa mual yang luar biasa terus saja menyeruak.
Entah apalagi yang harus aku konsumsi agar mual itu hilang. Bahkan aku sudah mencoba searching di google agar rasa mual itu berkurang. Namun, segala usaha dan upaya ku hanyalah berakhir sia-sia.
Saat itu aku bangun tepat jam 6 pagi.
Terlihat suamiku sedang membersihkan rumah dengan telaten nya. Ia begitu memanjakanku saat aku hamil.
"Mas.. " lirih ku
"Iya, kenapa sayang?" tanya Mas Regan seraya berjalan mendekat ke arah ku.
"Beliin nasi kuning tapi warnanya jangan kuning." ucapku
"Haa? gimana ceritanya?" tanya Mas Regan
"Mas aku janji ini yang terakhir aku minta." ucapku
"Hmm baiklah. Sebentar yaa." ucap Mas Regan
"Iya Mas, hati-hati." ucapku
Mas Regan pun beranjak mengendarai mobilnya untuk mencari pesananku.
Di usia kandungan yang masih trimester pertama ini, cukup membuatku lelah bahkan Mas Regan terlihat sangat kewalahan dengan permintaan - permintaan aneh ku.
Tak lama Mas Regan datang dengan sebungkus nasi yang di jinjing nya.
"Sayang ini nasi nya." ucap Mas Regan
"Hm makasih ya mas." ucapku
Aku pun mendekat seraya membuka bungkus itu.
"Loh Mas ini nasi apa?" tanya ku.
"Nasi kuning, tapi gak kuning." ucap Mas Regan
"Dahlah aku gak mau. Ini mah nasi uduk!" tukasku
"Terus gimana? Mas cari lagi?" tanya Regan
"Gak usah Mas, aku udah enek." ucapku
Tak lama dari itu aku pun beranjak ke kamar mandi.
Aku berencana untuk mandi di pagi hari ini. Perlahan ku buka tutup sabun cair itu.
Namun, hal tak terduga terjadi begitu saja. Sabun cair ku kini telah jatuh berceceran bahkan isinya tak menyisakan sedikit pun.
Aku yang kesal pun hanya bisa berdecih melihat ini semua.
__ADS_1
Hingga aku pun mengurungkan niat ku untuk mandi. Naasnya, hal buruk menimpaku saat itu.
"Aarrgghhhh..." teriakku saat aku terpeleset menginjak sabun cair itu.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Mas Regan, terlihat nafasnya begitu tersengal - sengal
"Sakiit mass... " lirih ku
"Ya ampun sayang, ini sabunn kenapa jatuh?" tanya Mas Regan
"Tadi gak sengaja mas." lirih ku
"Haish itu darah apa?" tanya nya
"Mas, jangan-jangann..." ucapku
"Sttt kita ke dokter sekarang!" tukas suamiku.
Gegas dia membawaku ke Rumah Sakit X.
Darah terus mengalir melalui betisku. Aku benar-benar takut kehilangan janinku saat itu.
Setelah sampai di rumah sakit para perawat membawaku ke UGD agar cepat di tangani.
Beruntungnya saat ini janinku tidak kenapa-kenapa. Namun dokter mewanti-wanti agar aku lebih berhati-hati. Karena jika aku terjatuh lagi bisa saja aku kehilangan calon anaku.
Mengingat kandunganku yang lemah, dokter memberikan beberapa resep vitamin untuk aku konsumsi di setiap harinya.
Tak apa jika harus mengonsumsi vitamin yang banyak, asal anakku tidak kenapa-kenapa. Nampak raut wajah mas Regan yang tadinya panik kini sedikit tersenyum mendengar penuturan dari dokter.
Setelah kejadian itu, aku sangat mewanti-wanti setiap kegiatan ku. Begitu pun dengan Mas Regan, ia kini menjadi suami yang over protektif setelah tragedi di kamar mandi itu terjadi.
***
Di sebuah caffe, tepatnya caffe R & N terlihat Fino sedang menyeruput kopi yang ia pesan.
Robi yang khidmat menikmati spagetti nya, di susul Sony yang rakus memakan kentang goreng nya.
"Caffe ini udah cukup terkenal gue rasa." celetuk Sony
"Yoi bro. Ini makanannya aja wenaakk tenann" ucap Robi
"Rasa kopinya juga pas." seru Fino
"Fix lah kita jadiin tempat ini ke list favorit." ucap Sony
"Btw siapa yang punya?" tanya Fino
"Ya mana gue tau, lo kira gue ajak lo kesini gara-gara gue tau pemiliknya gitu?" tanya Robi
"Ya kirain kan lo tau, rob." tukas Fino
"Mana ada gue tau, ege!" tukas Robi
"Hm." ucap Fino
"Yee baperan lo!" ketus Sony saat Fino beranjak dari duduknya.
"Gue mau ke toilet anji*ng!" ketus Fino
"Kirain lo mau nangis!" tukas Robi
Fino yang mendengar ucapan Robi pun hanya mendelik tajam. Robi yang merasa dirinya tengah di ambang kehidupan segera mengangkat kedua tangannya.
Kini Fino tengah berjalan menuju toilet yang ada di caffe itu.
__ADS_1
Selama perjalanan ia tak lupa melihat ke arah kanan dan kiri untuk melihat berbagai karya unik yang di pasang di setiap dinding.
Namun saat ia melihat sebuah simbol dari caffe itu tiba-tiba saja ia teringat akan sosok Nara.
R & N, Regan & Nara. Tulisan itu sangat terpampang dengan jelas di sebuah ruangan yang di lapisi kaca.
"Nara?" gumamnya
"Nara Myesha Putri?"
"Apa dia masih hidup?"
"Kalo emang masih hidup, pengen banget gue ketemu sama lo ra! "
"Tapi kalo ini bukan Nara lo, gue harap lo selalu baik-baik aja."
Ucap Fino.
Kemudian ia pun langsung menuntaskan hajatnya setelah bergeming dengan nama Nara yang ada di ruangan itu.
Nampak kedua sahabatnya kini tengah menambah porsi makannya.
Saat Fino menghampiri mereka, Robi yang sadar akan perubahan wajah sahabatnya itu langsung bertanya.
"Fin lo napa dah?" tanya Robi
"Dia kan gapapa, lo gajelas bet rob!" tukas Sony
"Gue paham betul sama mimik dia, ege." ketus Robi
"Ngokhey!" tukas Sony
"Fino lo napa anjir?" tanya Robi
"Gak" ketus Fino
"Lah??" ucap Sony
"Cerita ajalah santuy!!" ucap Robi
"Males." ketus Fino
"Dih dasar gengsi mulu lo." ketus Robi
"Dahlah berisik ege!" lerai Sony
Setelah sekian abad mereka diam, akhirnya Fino membuka suaranya.
"Btw tadi gue lewat satu ruangan disana." ucap Fino
"Terus masalahnya apa?" tanya Sony yang tidak mengerti
"Disana ada nama Nara." lirih Fino
"Nara siapa njir?" tanya Sony
"Gebetannya dulu bro!" beo Robi
"Gue serius ban**at!" tukas Fino
"Emang siapa yang becandain lu etdah?? " tanya Sony
"Gue lagi makan, aelah! Lagian nama Nara bukan dia doang kali Fin." ucap Robi
"Kalo itu dia gimana, ege??" tanya Fino
__ADS_1
"Lo denger berita itu kan? Jadi gak mungkin lah." ucap Robi
Sony yang pusing mendengar perdebatan tidak jelas mereka pun hanya bisa menghela nafas berat. Kemudian dengan langkah cepat ia meninggalkan kedua insan yang sedang meributkan nama Nara itu.