
Dua hari berlalu, kini wanita cantik itu masih saja berada di gedung tua bersama tujuh lelaki yang tidak berpri kemanusiaan. Wajah cantik itu mulai mengeluarkan warna pucat dengan bibir yang bengkak akibat ulah para begundal.
Hati kecilnya terenyuh, saat ia mengingat Mahesa. Nara, ia tidak tahu bagaimana anaknya saat ini. Ia sangat merindukan malaikat kecilnya.
Namun, siapa sangka jika Mahesa telah tiada? Akankah Nara waras setelah mengetahuinya?
'Esa.. kamu dimana nak?' batin Nara.
'Fino, Sony, Robi, pliss tolongin gue..' lirih Nara
"Ngelamunin apa sih, cantiik?" tanya salah satu begundal.
"Siapa yang nyuruh kalian?" tanya Nara.
"Mau tau banget ya.. Hahaha.." ucap si botak alias Badrun.
"Siapaa?" bentak Nara.
"Uhuhuhuu.. Berani dia ngebentak sikat lagi gak nih?" tanya lelaki yang memiliki otot paling besar.
"Siikaaattt.." kompak mereka.
"STOP!" tiba-tiba saja ada suara seorang lelaki di ambang pintu.
Degg
'Kak Roy,' batin Nara.
'Hah, Kak Rey, mama.' lirih Nara dalam batinnya.
Sontak ketujuh lelaki itu langsung mundur dan menundukkan tatapannya saat mendengar suara dari bos mereka.
"Hai, udah lama kita gak ketemu." ucap Desi.
"M-ma.. maa.." lirih Nara.
"Em, Iya sayang? Kenapa kamu nikah gak minta restu dari mama? hem?" tanya Desi.
"A-aku..." lirih Nara.
"Apa kamu sudah bosan hidup?" tanya Desi kemudian.
glegekk, seketika ia susah menelan ludahnya..
"Ma tolong bebasin, Nara.." mohon Nara.
"Buat apa?" sinis Desi.
"Nara harus cari Mahesa." lirih Nara.
"Mau cari Mahesa kemana kamu?" celetuk Roy tiba-tiba.
"Ke.. "
"Ke akhirat kali, iya kan, Ra?" monohok Rey.
"Akhirat?" tanya Nara bingung.
"Sstt.. Ini rahasia kita." ucap Desi, pelan.
__ADS_1
"Dimana Mahesa? Dimana anakku?" ucap Nara yang sudah tidak sanggup menahan tangisnya.
"Sutt.. Tenang, sebentar lagi kamu juga akan nyusul dia!" tukas Desi.
"Gak.. Dimana diaa, hikss.. hikss.." ucap Nara.
"Hahahaah.." tiga manusia iblis itu malah tertawa dengan kencangnya.
***
Ketiga sejoli itu sudah mengetahui foto Nara yang tersebar di sosial media. Fino tampak jijik saat mendengar kata 'Nara' di ucapkan oleh kedua sahabatnya. Namun, tak bisa di bohongi jika rasa cinta itu masih saja melekat pada hatinya.
Sedangkan Robi, ia lebih memilih diam seribu bahasa saat melihat foto yang tak senonoh itu. Batin Robi mengatakan jika itu hanyalah jebakan.
Berbeda dengan Sony, ia kini tampak gelisah setelah melihat foto yang mengandung unsur dewasa itu. Ia yakin Nara tidak mungkin melakukan hal yang sama sekali tidak masuk akal ini. Apalagi melayani 7 lelaki sekaligus, itu rasanya tidak mungkin. Kini, ia fokus memutar otak untuk mengetahui dimana Nara sekarang.
"Son, lo kok kek gelisah gitu?" tanya Robi.
"Perasaan gue gak enak." tukas Sony.
"Apa jangan-jangan, Nara kenapa-kenapa ya?" tanya Sony tiba-tiba.
*uhukk
uhukk
uhukk*
Lelaki yang sedang menyeruput kopi itu, tiba-tiba saja tersedak mendengar ucapan sahabatnya.
"E.. maksud gue, Nara dalam bahaya. Lo jangan salah paham, Fin." ucap Sony.
"Ekhem, jadi apa lo punya rencana?" tanya Robi.
"Gue kayaknya tau deh tempat itu." ucap Sony.
"Kalian gak usah bahayain diri sendiri." tukas Fino.
"Fin, Nara itu sahabat kita. Masa lo gak mau nolongin si?" tanya Sony.
"Iya gue tau dia sahabat kita. Tapi, kita juga harus waspada. Gimana kalo foto itu emang real tanpa jebakan? Lo mikir sampe situ gak?" tukas Fino.
"Sebenernya lo cinta gak si sama Nara?" monohok Sony.
"Lo tau sendiri, gak perlu gue jawab!" ketus Fino.
"Kalo emang lo punya perasaan, kenapa lo gak mau bantu gue buat tolongin Nara?" tanya Sony.
"Gak guna!" tukas Fino.
"Waitt.. Apa lo bilang? Gak guna?" tanya Robi.
"Fin, lo sadar! Lo inget kan kejadian beberapa tahun lalu? Bahkan, lo sendiri yang nyebarin aib itu. Kalo kejadian ini persis dengan kejadian yang lalu, gimana?" monohok Sony.
"Gue emang cinta sama dia, tapi gue juga jijik liat dia layanin 7 laki sekaligus." tukas Fino.
"Gue tau perasaan lo! Dan gue juga sama, jijik Fin. Tapi gue yakin ini gak real! Nara itu cewe baik-baik gak mungkin mau ngelakuin hal nyeleneh kayak gini." ucap Robi panjang lebar.
"Oke, fine! Silakan kalo kalian mau bantu, gue lebih baik menikmati kopi disini." finish Fino.
__ADS_1
"What? Gila lo!" ketus Sony.
"Ternyata cinta lo masih ada di dasar, belum terlalu dalam." ucap Sony.
"Gak nyangka gue, cinta lo bulshit! Belum lagi otak lo, gampang terpengaruh sama kotoran yang belum jelas darimana asalnya." ucap Robi.
Kemudian, mereka berdua pun melajukan motor sportnya menuju apartemen Sony. Di perjalanan, Sony terus saja meredam amarahnya dengan tingkah acuh dari sahabatnya. Begitupun dengan Robi, rasanya ia sudah muak dengan bualan yang keluar dari mulut sahabatnya. Bahkan, ia tahu jika Fino telah mencintai Nara sejak SMA tapi kenapa ia masih saja terpengaruh dengan berita yang tidak jelas ini?
Sesampainya di apartemen, mereka kembali mengutak-ngatik otaknya untuk menyelamatkan Nara.
"Son, lo punya ide?" tanya Robi.
"Bingung gue.." lirih Sony.
"Waitt.. Lo kok kayaknya khawatir banget yaa?" tanya Robi.
"G-guee.. Emm, anuu.. Ee gimana ya jelasinnya.." gugup Sony.
"Apa lo juga punya perasaan sama Nara?" celetuk Robi.
"H-hah? y-ya nggak lah.." ucap Sony.
"Yakin? Kalo sampe gue tau lo boongin gue, gue gak bakal mau dah nolongin si Nara." ancam Robi.
"Rob, lo kok gitu sih.." ucap Sony.
"Ya lo jujurrr!" tukas Robi.
"Oke, iya gue cinta sama dia. Sejak pertama gue liat dia!" tukas Sony.
"APA?!!" ucap Fino, yang ternyata ia mengikuti kedua sahabatnya itu.
"Fino.." lirih mereka berdua.
"Bang*at emang lo! Mau nikung sahabat sendiri lo?" ucap Fino yang sudah tersulut emosi.
"Sorry, gue gak tau kenapa perasaan ini muncul." ucap Sony.
"Badjingan!" umpat Fino.
*bugghh
bugghh
bugghh*
Fino dengan ganasnya meninju wajah tampan yang dimiliki Sony. Sedangkan Robi ia bingung bagaimana memisahkan kedua lelaki yang kesetanan karena Nara itu.
"STOP!" ucap Robi.
"Daripada lo pada berantem kayak gini, mending kita selametin Nara, gob*lok banget kalian!" tukas Robi.
"Awas aja kalo sampe lo jatuh cinta sama Nara!" ucap Fino dengan nafas yang masih memburu.
"Lo mau apa? Tadi aja lo jual mahal gak mau bantuin dia!" tukas Sony.
"Gue jijik sama cewek murahan kayak dia, tapi gue juga gak bakal rela kalo Nara dimiliki orang lain." ucap Fino.
"Lo egois, fin!" ucap Robi.
__ADS_1
Sony hanya mendengus mendengar ucapan Fino. Kali ini, ia tidak akan pernah mendengar seruan apapun dari mulut iblis Fino. Bagaimana mungkin ia menyebut Nara dengan sebutan wanita murahan? Sungguh, ingin rasanya ia merobek mulut sialan itu.