TRAUMA

TRAUMA
Chapter 40 - Percakapan Regan


__ADS_3

Pagi hari sekali Nara sudah terbangun dari mimpinya. Ia melihat Mahesa yang tengah tidur dengan pulasnya pagi itu. Nara yang melihat wajah tampan anaknya itu langsung mengecup singkat dahi serta kedua pipi anaknya. Kemudian, ia pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan badan.


Namun, saat hendak beranjak ke toilet ia melihat kemeja biru yang menggantung di balik pintu. Mata Nara tampak menunjukkan tatapan nanar pada kemeja itu.


Apalagi setelah beberapa hari ini, ia mengikuti Regan tanpa sepengetahuannya. Bahkan, Nara dengan sengaja memasang mikrofon yang sangat kecil agar ia bisa tahu obrolan Regan dan wanita itu.


Flashback On


Malam itu, Regan sempat pulang ke rumahnya.


Sikap Regan tidak terlalu dingin, namun ia berusaha menjaga jarak dengan Nara. Bahkan, mereka tidur di tempat yang berbeda. Regan yang tengah tidur di sofa serta Nara yang tidur di kamar sederhana bersama Mahesa.


Malam berganti pagi..


Nara kini tengah menyiapkan sarapan untuk suaminya itu. Namun, Regan memilih untuk sarapan di caffe nya. Terlihat pagi itu Regan sangat buru-buru untuk pergi.


"untung aja mikrofon kecil itu udah di pasang." ucap Nara.


"GPS nya juga masih aman." ucap Nara setelah melihat layar ponselnya itu.


Setelah selesai menyiapkan sarapan, ia pun membangunkan Mahesa lalu membersihkan anak kecil itu. Selesai mengurus Mahesa ia pun segera menitipkan Mahesa pada Bu Uti.


Awalnya ia mengurungkan niatnya untuk pergi ke Caffe, namun saat ia melihat lokasi Regan yang berada di jalan anggrek itu membuatnya geram serta langsung memesan taxi online.


***


Sesampainya di Caffe, ternyata benar saja jika suaminya itu tidak datang ke Caffe.


'tega kamu mas bohongin aku!' batin Nara.


Ia pun bergegas menuju ruangan kerjanya.


Terlihat di sana Nara seperti orang kebingungan, ia gelisah. Ia penasaran dengan rekaman itu tapi ia takut jika harus di hadapkan dengan kenyataan pahit.


Setelah beberapa menit lamanya ia pun segera mendengarkan setiap percakapan yang di lontarkan oleh Regan dan wanita itu.


"Sayang... " rengek Anna.


"Iya kenapa? hemm?" ucap Regan lembut.


"Mau heels yang ini.." rengek Anna.


"Berapa itu sayang harganya?" tanya Regan.


"Murah kok, cuma 800jt mas." ucap Anna.


"Yaudah langsung pesen aja sayang." ucap Regan.


Degg


Tak terasa buliran air mata Nara keluar tanpa permisi.


"Bahkan kamu gak pernah beliin aku barang mahal mas." ucap Nara.


Tak berhenti disitu, Nara terus saja mendengarkan ucapan manis suaminya itu. Dan kini ia telah mengetahui jika wanita itu bernama Annastasyia yang akrab di sapa Anna.


Namun, ada satu percakapan yang membuat hatinya jauh lebih terluka. Yaitu saat Regan telah mengetahui kejadian tiga tahun silam. Bahkan, Regan dengan gamblangnya bicara bahwa ia akan segera menceraikan Nara tapi menunggu waktu yang tepat.

__ADS_1


"Mas kapan jadinya mau ninggalin si Nara itu?" tanya Anna.


"Bentar lagi yah, mas belum siap kehilangan Mahesa." jujur Regan.


Nampak di sana Anna mencibirkan bibirnya saat menyebut Mahesa.


"Atau kamu mau jadi ibu sambung Mahesa?"


Degg


'gampang banget kamu ngomong gitu mas!' batin Nara.


"Ogah ya mas, aku gak mau urusin anak tiri." tukas Anna.


"hhhhhh.. iyaaa." ucap Regan seraya menghela nafasnya itu.


"Aku tunggu 1 minggu lagi, kalo kamu belum ada pergerakan buat pisah sama Nara aku gak akan segan-segan sebarin video mes*m kita!" ucap Anna dengan suara tingginya.


"Iya mas pasti akan tinggalkan Nara. Dia juga udah jelek badannya, udah gak bisa rawat badan dia." ucap Regan.


"Itu mas tau!" tukas Anna.


"Iya sayangg." ucap Regan.


Tak terasa buliran bening itu terus saja mengalir menyusuri pipi mulus Nara. Ia benar-benar tidak menyangka jika orang yang sudah menggagalkan proses bunuh dirinya itu dengan mudahnya menghina dirinya bahkan setelah melahirkan buah cinta mereka.


"Mas kamu orang pertama yang buat aku merasa berharga, tapi kamu juga yang menjatuhkan harga diriku." ucap Nara seraya terisak.


"Aku kecewa mas!"


"Aarrghhhhhhhh.."


Nara yang telah mengetahui semuanya itu, hanya bisa menangis di ruangan kerja itu. Ada rasa ingin menyusul ke kediaman wanita itu tapi ia tidak mau jika harus membuat keributan nantinya.


Flashback Off


***


Sementara itu, Sony yang tengah melihat kondisi mama nya pun tiba-tiba saja teringat akan Nara. Ia tidak mau jika wanita itu jadi korban perselingkuhan seperti mamanya.


Namun, ia juga tidak bisa melawan takdir apalagi setelah melihat kemesraan Regan dengan wanita yang bernama Anna itu.


"Sony, kamu mikirin apa sayang?" tanya mamanya.


"Eh ngga ma, ini tugas kuliah aja." ucap Sony.


"Nak, mama mau tanya." ucap mamanya


"Mama mau tanya apa?" tanya Sony


"Apa kamu pernah melihat Regan?" tanya mamanya.


degg


Ia tidak tahu harus menjawab apa, pasalnya ia telah mengetahui dimana Regan berada bahkan kini kakak pertamanya itu telah memiliki anak. Tapi sayangnya, hati Regan berpaling pada wanita yang memiliki paras yang sangat cantik.


"Sonyyy." ucap mamanya seraya menepuk pipi Sony dengan lembutnya.

__ADS_1


"E-eh iya ma aku harus ke rumah Fino dulu bentar yaa." pamit Sony.


"Tapi kamu bel-" ucapannya terpotong saat Sony jauh lebih dulu melangkahkan kakinya keluar.


Bukannya Sony tidak mau bercerita perihal kakaknya, namun ia belum siap mengungkap kebenaran itu apalagi kondisi mamanya kurang fit.


"mau kemana lo?" tanya Bagas.


"rumah temen." tanya Sony.


"Hemm." dehem Bagas.


Sony pun segera melajukan mobilnya entah akan pergi kemana. Karena sebenarnya dia tidak berniat untuk pergi ke rumah Fino melainkan ia hanya menghindar dari pertanyaan mamanya itu.


***


Siang pun telah bergantiberganti sore, Nara yang tidak mendapat laporan keuangan dari Caffe cabang pun mengernyitkan dahinya.


"Loh ini kok gak ada laporan keuangan dari Caffe cabang ya?" monolog Nara.


Ia pun berulang kali mengecek data-data itu, namun hasilnya masih tetap nihil bahwa tidak ada laporan apapun dari Caffe itu. Nara yang sudah pusing karena terus mengecek e-mail itu pun segera memanggil Egi.


"Permisi bu." ucap Egi


"Iya, duduk gi." ucap Nara.


"Iya bu. Maaf sebelumnya ada apa ya bu manggil saya kesini? Apa ada yang mau di omongin bu?" tanya Egi sopan.


"Iya, saya mau tanya sesuatu sama kamu." jawab Nara.


"Boleh bu, mau tanya apa ya?" tanya Egi.


"Ini gi, kenapa ya gak ada laporan apapun dari Caffe cabang?" tanya Nara.


"Masa iya Buu?" tanya Egi, tentu saja ia kaget dengan pernyataan bosnya itu.


"Kamu cek aja sendiri." ucap Nara seraya menyodorkan laptop yang ada di hadapannya.


Sontak Egi langsung mengecek setiap inchi file-file itu, namun sama saja tidak ada laporan apapun mengenai Caffe cabang di dalam file tersebut.


"Gimana gi? ada?" tanya Nara.


"Gak ada bu." ucap Egi seraya menunduk.


"Kamu beneran gatau apa-apa?" tanya Nara..


"Berani sumpah bu, saya gatau masalah ini." ucap Egi.


"hhhhhh.. ya sudah kamu boleh keluar." ucap Nara.


"Baik bu, saya permisi bu." ucap Egi sopan, tentu saja hanya di balas anggukan oleh Nara.


Setelah kepergian Egi, ia pun kembali memikirkan masalah Caffe cabang itu.


"Ini aneh, sumpah!" ucap Nara


Setelah bergelut dengan pikirannya, ia pun berniat untuk mengunjungi Caffe cabang itu.

__ADS_1


__ADS_2