
Setelah tiga sekawan itu berpamitan, Nara menyuruh salah satu karyawannya untuk membereskan bekas makan mereka. Nara langsung beranjak ke ruangan yang sering Regan tempati.
Hari ini Caffe itu tidak terlalu ramai seperti biasanya, Nara yang melihatnya pun sedikit bernafas lega karena tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra. Lama ia terduduk di kursi putar itu dan berkutat dengan laptop bukanlah hal yang aneh baginya. Karena saat masih sekolah dulu ia belajar sangat antusias mengenai ilmu TIK.
Beberapa menit kemudian, ia merasakan hal janggal di hatinya. Tampak, ia merasa gelisah saat mengingat sosok lelaki yang ia cintai.
"Dimana ya mas Regan?"
"Kangen banget."
"Aku telpon aja deh." ucap Nara.
Ia pun segera merogoh ponselnya yang ada di dalam tas bermerk Kate Spade itu. Tak perlu memakan waktu yang banyak saat menggulir nama yang ia cari di aplikasi hijau itu.
"Ye ketemu." dan klik, panggilan berdering.
Nara bahagia, karena panggilan pertama darinya itu langsung di angkat suaminya tanpa perlu menunggu lama.
[ 📞 : Hallo ]
Nara segera menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Ia mengernyit heran karena yang menerima telepon itu bukan bersumber dari sosok yang ia rindukan. Ada rasa sesak di dadanya, namun ia telah berjanji untuk menaruh 100% kepercayaannya pada lelaki itu.
[ 📞 : Hallo.. ] sapa wanita itu lagi
[ 📞 : I-iya hallo.. ] ucap Nara terbata
[ 📞 : Ini siapa ya? ] tanya wanita di seberang sana
[ 📞 : Lah ini siapa? Ini kan ponsel punya suami saya. ] ucap Nara
[ 📞 : Oh, ..... ]
"Sayang angkat telpon dari siapa?"
DEGG..
Saat mendengar Regan mengeluarkan kata sayang saat itu. Ada rasa gemuruh di dalam hatinya. Bahkan, kini air mata itu tidak bisa dibendung lagi dan terurai dengan sendirinya. Nara benar-benar tidak habis pikir dengan semua ini. Ia yakin jika suara lelaki di seberang sana adalah suaminya. Ia mengenal betul bagaimana suara lelaki yang ia cintai itu.
Nara kini terkulai lesu, menumpukkan kepala diatas tangan yang betumpu pada meja kerja itu.
Lama ia terpuruk di ruangan itu, ia mencerna dan mengingat setiap keanehan yang ia alami. Mulai dari foto pernikahan mereka yang terjatuh, suaminya yang jarang pulang, sikapnya yang berubah, bahkan kini tiba-tiba saja ia ke luar negeri untuk bertemu client padahal sebelumnya ia tak pernah menggubris permintaan kerja sama dari luar negeri.
__ADS_1
Nara benar-benar pusing dengan kejadian hari ini. Baru saja ia ingin melepaskan rasa rindunya namun ... Ah sudahlah! Nara memang tidak berhak untuk bahagia 😅
***
Sementara di bandara, tampak Anna melihatkan senyuman yang menyeringai. Ia benar-benar puas karena ponsel Regan ada di tangannya. Nasib baik memang sedang berpihak pada Anna, hingga kini ia telah berhasil mengangkat telepon dari istrinya yaitu Nara.
Bahkan, ia sangat bahagia saat Regan mendekat mengucapkan sepatah kata yang mampu meremukan jiwa yaitu 'sayang'. Tentu dapat di pastikan Nara tengah menangis tersedu-sedu disana.
"Sayang kamu kok bahagia banget sih?" tanya Regan yang memang pada dasarnya tidak tahu jika Anna sudah menjawab telepon dari istrinya.
"Iya bahagia dong kan mas mau pisah sama dia." ucap Anna dengan senyum manisnya.
"Kamu ini yah." ucap Regan seraya mengacak rambut wanita itu gemas.
"Emm.. mas harus inget sama janji mas loh." rengek Anna.
"Iya mas ingat kok." ucap Regan.
"Iya bagus deh." ucap Anna seraya merapatkan tubuhnya kepada Regan.
"Iya, kita pulang yuk. itu kayaknya taxi yang mas pesen deh." tunjuk Regan pada mobil yang mengarah padanya.
"Maaf atas nama Regan?" tanya sopir itu ramah
"Iya Pak. ke Jalan Anggrek no. 17 ya." ucap Regan
"Baik mas ayo naik." ucap sopir itu
Mereka berdua pun menaiki mobil taxi itu. Anna yang sedang dalam mode manja itu terus saja menyenderkan kepalanya pada bahu Regan. Dan Regan terlihat tengah bergulat dengan perasaan campur aduk nya itu. Antara ingin memiliki Anna dan tidak mau melepaskan Nara.
Perjalanan yang melelahkan itu membuat mereka berdua tertidur dengan nyenyaknya di kamar mewah bernuansa rose gold. Regan yang memeluk erat tubuh Anna serta Anna yang mengeratkan pelukan pada Regan terlihat sangat manis dan romantis.
Mereka berdua memang sudah mengorbankan kebahagiaan pihak wanita protagonis itu.
***
Sementara Mahesa ia tengah sibuk bermain dengan Bu Uti. Bu Uti sangat menyayangi Mahesa layaknya cucu sendiri. Memang Mahesa sangat tampan, bahkan mungkin saja membuat semua orang jatuh cinta pada pandangan pertama.
Mahesa juga anak yang cerdas dan penurut. Entah sifat itu menurun dari Anna atau Regan, yang pasti seorang ibu pasti sangat bangga jika anaknya tidak membangkang.
"Huwaaaaa... hikssss hiksss.." Tiba-tiba saja tangis Mahesa menggelegar di ruang tamu sederhana milik Bu Uti.
__ADS_1
"Ya ampun Esa ganteng, kenapa sayang?" tanya Bu Uti
"Mamaaa hikss hiksss hikss.." Mahesa terus saja menangis sambil menyebut nama mamanya.
"Mama? Esa mau ke mama?" tanya Bu Uti yang dibalas anggukan oleh Mahesa.
"Biar nenek telepon dulu ya sayang." ucap Bu Uti
"Iya mamaaa hikssss hikss.."
"Iya nenek telepon mama, tapi Esa jangan nangis ya?" tanya Bu Uti lemah lembut
"Iyaa" sontak tangisan Mahesa langsung berhenti.
Terlihat Bu Uti langsung mengambil ponsel jadulnya itu dan mencari nomer ponsel Nara. Bu Uti memang sudah berusia lanjut, dulu Nara sempat menawarkan untuk membelikannya ponsel android namun Bu Uti menolaknya karena ia tidak mau jika harus adaptasi dengan hp baru. Pasalnya, belajar hp jadul saja sudah membuatnya tujuh keriling bagaimana jika belajar hp android sudah pasti di vonis terkena struk.
Bu Uti terus saja menelepon Nara, tapi tidak ada jawaban darinya. Bu Uti semakin bingung dibuatnya. Ia kasian pada anak kecil itu, sepertinya memang ia sangat merindukan ibunya. Padahal sejak awal ia mengasuh Mahesa, anak kecil itu tidak pernah tiba-tiba menangis histeris seperti itu.
Entah berapa kali Bu Uti menelepon Nara, tetap saja tidak ada panggilan yang terjawab.
"Nek.. " ucap Mahesa dengan mata yang berkaca-kaca.
"Eh Esa kok kesini?" tanya Bu Uti
"Mama.. " ucap Mahesa
"Bentar ya, ini nenek lagi coba telepon mama." ucap Bu Uti lemah lembut.
"Lama." ucap Mahesa
"Sabar ya sayang." ucap Bu Uti seraya mengecup puncak kepala anak lelaki itu.
"tutuk nek." ucap Mahesa. Bu Uti yang mengerti dengan ucapan Mahesa itupun langsung duduk di lantai itu. Di ikuti Mahesa yang menjadikan paha wanita paruh baya itu sebagai bantal.
Bu Uti terus saja mengelus puncak kepala Mahesa, tentu saja membuat anak tampan ini merasa nyaman dengan perlakuan sederhana itu.
Pegal sudah Bu Uti bergulat dengan ponselnya itu, sepertinya sudah sampai ke 20x ia menelepon Nara namun tidak ada jawaban dari sana.
Hingga akhirnya Mahesa yang tertidur diatas paha Bu Uti pun mengeluarkan dengkuran yang sangat halus dari bibirnya. Senyum cerah seketika terbit pada bibir wanita paruh baya itu.
Tak perlu berpikir panjang, Bu Uti memangku Mahesa dan menidurkannya di kamar yang berukuran sedang itu. Kemudian, Bu Uti pun tertidur di samping Mahesa dan mulai menutupkan matanya.
__ADS_1