TRAUMA

TRAUMA
Chapter 48 - Mobil Jeep


__ADS_3

*bughhh


bughhh


bughhh*


Terdengar begitu nyaring pukulan demi pukulan di ruangan itu. Robi yang mendengarnya pun sontak melototkan matanya. Ia semakin yakin jika di dalam kini Fino dan Regan tengah beradu kekuatan. Begitu pun dengan Sony, ia khawatir jika persahabatan mereka akan hancur karena ulah kakaknya itu.


Sementara di dalam ruangan itu, Nara tampak kaget dengan pemandangan mengerikan di depannya. Baru kali ini ia melihat secara gamblangnya orang yang sedang mengadu tenaga itu. Di sisi lain, si murahan Anna tampak gelisah karena melihat lelaki yang di cintainya itu terdapat banyak memar akibat pukulan si tampan Fino.


"Stop, mas! Stop Fino!" ucap Nara.


"Mas,. Mas Regaaaann!" teriak Anna, saat telapak kaki Fino menginjak tepat di atas perut sispacknya.


Nampak di sana Anna mendekatkan dirinya ke arah Nara. Tanpa aba-aba ia menjambak keras rambut wanita tak bersalah itu.


"Ini semua gara-gara lo, rasain bang*at!" tukas Anna, seraya mengencangkan jambakannya.


Awsshh.. ringis Nara.


"Lo harus matiiii." ucap Anna.


"Lepas!" tukas Nara.


Melihat Nara sedang di aniaya, dua lelaki yang sedang menikmati pemandangan adu jotos itu pun langsung beringsut dari tempatnya. Dengan langkah lebar mereka menghampiri Nara. Kemudian, Sony langsung menepis tangan kotor wanita itu.


"Lepasin tangan kotor lo!" ketus Sony.


"L-lo siapa?" tanya Anna.


"Kalian.." bingung Nara.


"Sorry, tapi nanti gue bakal ceritain semua sama lo." ucap Sony.


"S-sony." lirih Regan.


Sontak lelaki yang di panggil namanya itu, langsung menoleh ke arah kakaknya itu. Hanya menoleh, tanpa mau menolongnya. Itulah Sony saat ia benar-benar kecewa dengan tingkah laku seseorang. Ia tak pernah pandang bulu, maupun keluarga atau sahabat jika ia kecewa maka ia tak akan sudi berbuat baik pada orang itu.


"Loh, mas.. Siapa dia?" tanya Anna.


"Dia adikku," lirih Regan.


"Waahhh.. Kenapa kamu gak bilang kalo punya adik setampan ini?" tanya Anna.


"Hah? Maksud kamu apa Anna?" tanya Regan.


"Iya dia lebih ganteng loh dari kamu mas." polos Anna, sontak ia langsung membekam mulutnya.


'Sial tujuan gue duit, bukan cogan.' batin Anna.

__ADS_1


"Maksud aku ginii, mas.. emm-- Kamu mending aku obatin dulu lukanya, ayoo sayang." ajak Anna, mengalihkan pembicaraan.


Kemudian Anna langsung memapah tubuh lelaki itu. Lalu membawanya menuju rumah sakit terdekat.


"Dasar ulet keket." tukas Sony.


"Naksir sama lo keknya, son." ucap Robi seraya menahan tawanya.


"Dih, najis!" ketus Sony.


"Jangan so jual mahal, kena perangkap tau rasa lo!" ucap Robi.


"Em, btw lo gak papa, Ra?" tanya Fino tiba-tiba.


"G-gue?" tunjuk Nara pada dirinya.


"Ya lo lah, egeeeeee!" geram Robi.


"Y-yaa g-gue gapapa, harusnya gue yang tanya lo Fin." ucap Nara.


"Gue fine." ucap Fino.


"Wait. Lo, lo, dan lo, punya hutang penjelasan sama gue." ucap Nara seraya mengarahkan telunjuknya pada ketiga lelaki itu.


"O-okee kita bakal jelasin." seru mereka bertiga.


***


Regan tampak heran dengan tingkah laku adiknya yang tidak mau membantu. Padahal, sebelum ia di usir ia sangat yakin jika Sony masih bersikap hangat padanya.


"Mas kamu mikirin apa?" tanya Anna.


"Sony," ucap Regan.


Mendengar kata Sony, membuat wanita yang ada di sampingnya gelagapan. Ia ingat betul bagaimana mulut nakalnya itu keceplosan.


"Ee- mas tadi aku gak ada maksud kok." ucap Anna.


"Mas udah lupain kejadian itu kok." ucap Regan lemah lembut.


'Huh, untung ajaaa.' batin Anna.


"Makasih sayang." ucap Anna seraya tersenyum.


"Iyaa," angguk Regan.


Mereka berdua tampak hening saat pembicaraan itu. Regan masih saja memikirkan tentang sikap adiknya itu. Sementara Anna, ia masih di rundung pilu saat mengingat wajah tampan lelaki yang di sebut adik dari kekasihnya itu.


***

__ADS_1


Di rumah mewah, tampak dua lelaki tampan itu sedang memikirkan rencana yang eksotis untuk membawa adiknya kembali ke rumah bak neraka itu. Mereka tidak puas jika Nara masih bisa bernafas. Tak beda jauh dengan mamanya, ia juga kini tengah menyusun berbagai strategi untuk memancing anak bungsunya. Mereka bertiga sudah tidak sabar untuk menggoreskan belati serta melayangkan cambukan pada tubuh gadis itu.


Tak ayal mereka pun menyuruh lelaki berbadan tegap dan kekar untuk mengawasi setiap gerak-gerik gadis itu.


"Rencana yang cukup matang." ucap Desi, dengan seringai iblisnya.


"Bersiaplah untuk mandi darah lagi." ucap Roy.


"Dan bersiaplah untuk mati." ucap Reyhan.


"Hahahaa.." tawa mereka pecah saat membayangkan gadis itu kembali ke rumah itu.


Mereka benar-benar iblis berwujud manusia. Bagaimana mungkin seorang ibu tega melukai anaknya sendiri? Dan kakak macam apa yang sangat menyenangi ritual mandi darah sang adik?


Sungguh, semesta hanya berpihak pada orang-orang jahat saat ini.


***


Tanpa Nara ketahui, ia kini tengah di awasi oleh dua lelaki misterius berbaju hitam, bertubuh kekar, dan berotot besar. Mereka berdua mengawasi wanita itu dengan sangat telaten. Bahkan, mereka tak mau meninggalkan pandangannya dari Nara barang sedetik pun.


Perasaan Nara kini mulai tak karuan saat ia melintasi jalanan sepi itu. Bagaimana tidak sepi? Jika malam ini jarum jam tepat berada pada angka 23.30.


Saat melintasi jalan tikus itu, Nara merasakan ada mobil yang mengikutinya dari belakang. Ia hanya bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan di bawah rata-rata karena jalan tersebut banyak sekali batu yang mengambang.


"Astaga mereka siapa?" panik Nara.


"Gue gak boleh panik, huuufftt-haaahhhh." ucap Nara seraya menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya melalui celah mulutnya.


*tiiittt


tiiiiitt


tiiittttt*


Bunyi kelakson mobil jeep berwarna hitam itu terdengar sangat nyaring di jalanan sepi pada malam itu.


*deggg


deggg


deggg*


Tak bisa di pungkiri bahwa kini jantung Nara berpacu sangat cepat. Ia takut jika orang yang ada di belakangnya itu akan mencelakai dirinya. Tak apa jika hanya mobilnya yang ia bawa, bagaimana kalo tiba-tiba orang itu membunuhnya? Bagaimana Mahesa nanti? Apakah anak itu akan di urusi oleh bapaknya yang tidak pernah peduli itu? Begitulah pemikiran Nara saat itu.


Mengingat nama Mahesa, hati kecilnya tak bisa di bohongi. Ia meringis saat menalar kejadian yang mungkin akan Mahesa alami saat ia resmi bercerai dengan suaminya nanti.


Bisa saja, anak itu akan di bully habis-habisan saat teman-temannya tahu jika ia tak memiliki sosok ayah dalam hidupnya. Dan tidak bisa di pungkiri ia juga akan di kucilkan oleh orang lain, sepeti dirinya.


"Aarrgghhhh..." teriak Nara, saat mobil jeep itu berhasil memepetnya.

__ADS_1


__ADS_2