TRAUMA

TRAUMA
EPS. 83. END..


__ADS_3

2 BULAN KEMUDIAN..


Hari ini, Livy akan pulang ke rumah nya, Livy dinyatakan telah pulih pasca operasi. Dirinya di perbolehkan pulang namun tetap harus sering melakukan pengecekan rutin, karena untuk sembuh total bagi pasienyang telah melakukan transplantasi sum - sum tulang belakang membutuhkan waktu paling tidak 1 tahun untuk sembuh total.


" Mama, akhirnya mama akan pulang juga." Ujar Lea senang.


" Iya, sayang." Ujar Livy sambil tersenyum cerah.


" Selamat Vy, akhirnya kamu bisa pulang juga. Astaga, dua bulan di rumah sakit, tidak tahu lagi bagaimana rasanya." Ujar Fitty.


" Aku juga tidak menyangka akan selama itu." Ujar Livy terkekeh.


Sementara Richard sedang membantu Hae In membawa semua barang barang mereka selama menginap di rumah sakit untuk menemani Livy ke mobil.


" Lea sudah menyiapkan kejutan untuk mama di rumah." Ujar Lea.


" Benarkah??" Ujar Livy, dan Lea mengangguk.


" Ayo kita turun." Ujar Fitty.


Mereka bertiga turun dari lantai 15 tempat Livy menjalani perawatan. Lea mendorong kursi roda Livy hingga sampai lah mereka di loby.


" Kenapa tidak menunggu ayah naik ke atas, kalian para wanita." Ujar Hae In.


" Tidak apa apa, om. Livy sudah sangat tidak sabar kembali ke rumah nya." Ujar Fitty dan semua tertawa.


Mereka pun pergi dari sana menggunakan dua mobil, Lea bersama ibunya dan Hae In menggunakan supir. Sementara Richard dengan Fitty.


Tak lama mereka semua sampai di kediaman Livy, Rupanya di dana terdapat banyak sekali karangan bunga dengan tulisan selamat datang untuk Livy.


" Astaga kamu menyiapkan semua ini, nak?" Tanya Livy pada Lea.


" Semua orang, bukan hanya Lea ma, ma." Ujar Lea.


" Dan dua hari lagi, adalah pesta perpisahan kelulusan sekolah.. mama bisa melihat pertunjukan Lea, nanti.'' Ujar Lea.


Akhirnya mereka semua masuk kedalam rumah, Hae In tersenyum melihat anak dan cucunya bisa kembali berkumpul di rumah.


' Anton.. terimakasih kau telah menyelamatkan Livy, Kau membuat senyum Lea tidak lagi pudar.' Batin Hae In.


Sampai saat ini, belum ada seorang pun yang mengetahui bahwa yang mendonorkan sum sum tulang belakangnya untuk Livy adalah Anton. Hae In masih menyembunyikan kebenaran itu, dan menunggu waktu yang tepat untuk memberi tahu Livy dan Lea.


Seharian itu mereka lewati dengan pesta penyambutan kepulangan Livy, Riri dan Juno juga ikut memeriahkan pesta itu. Hingga akhirnya malam tiba dan semua orang sudah kembali kerumah mereka masing - masing.


Livy mulai masuk kedalam kamarnya di bantu oleh Hae In, sementara Lea sedang mengambilkan susu untuk Livy.


'' Ayah, sejak aku selesai menjalani operasiku dua bulan yang lalu.. ayah tampak sangat berbeda. Apa ada yang ayah sembunyikan dariku?'' Tanya Livy.


'' Kamu masih saja Livy yang peka denagan keadaan sekitarmu. Ayah bingung mau mengatakan nya dari mana, tapi yang jelas ayah juga tidak bisa mengubur kebenaran nya.'' Ujar Hae In.


Mendengar itu, Livy semakin yakin.. bahwa ada yang ayahnya sembunyikan dari dirinya.


'' Sebenarnya kebenaran apa yang ayah maksud??'' Tanya Livy.


'' Tentang siapa yang mendonorkan sum-sum tulang belakangnya kepadamu, dia adalah Anton.'' Ujar Hae In akhirnya.


Hae In melihat bahwa Livy sudah baik baik saja, jadi dia menjujurkannya saat ini juga. Livy harus tahu siapa orang yang mendonorkan nya sum sum tulang belakang.


PRANG!!


Suara benda jatuh.


'' Lea.. Astaga sayang, kamu baik baik saja? '' Ujar Hae In yang langsung menyingkirkan kaki Lea dari pecahan kaca dan tumpahan susu panas milik Livy.


Lea tampak mengedipkan matanya berkali kali saking terkejutnya mendengar apa yang Hae In katakan.


" Kakek bilang apa barusan? Orang itu yang sudah mendonorkan sum - sum tulang belakangnya untuk mama?" Tanya Lea.


" Iya nak." Sahut Hae In.


" Kenapa kakek tidak melarangnya? Lea bisa saja mendonorkan sum - sum tulang belakang Lea untuk mama, tidak perlu meminta bantuan padanya." Ujar Lea.

__ADS_1


" Tidak ada yang meminta bantuan padanya, nak. Seperti yang kita tahu, bahwa dia menyembunyikan identitasnya, mungkin karena dia tahu kamu akan menolaknya. Kakek juga baru tahu setelah operasi itu sudah selesai." Ujar Hae In.


Livy sendiri tak kalah terkejutnya dengan Lea, padahal saat dia berada di ruang operasi, dia sempat mengajak pendonornya berbicara, tapi dia tidak menyahuti Livy.


" Kita bayar dia saja, Lea tidak mau berhutang budi padanya." Ujar Lea.


" Kita tidak bisa melakukan nya." Ujar Hae In.


" Kenapa!? Dia akan besar kepala nanti, dan akan kembali menyakiti mama lagi dengan kata kata pedas nya." Ujar Lea.


" Lea, dia sudah meninggal." Ujar Hae In.


Lea langsung terdiam, dia tambah terkejut mendengarnya.


" Meninggal??" Tanya Livy.


" Dia meninggal, setelah mendonorkan sum - sum tulang belakangnya padamu, dia mengalami komplikasi." Ujar Hae In.


Lea tidak berkata apa apa lagi dan langsung pergi dari sana.


" Lea.." Panggil Hae In.


" Biarkan dia sendiri dulu, ayah.. Dia pasti terkejut. " Ujar Livy, dan Hae In mengangguk.


Para pelayan rumah itu langsung datang dan membersihkan tumpahan susu dan pecahan gelas yang Lea jatuhkan.


" Kenapa ayah tidak bilang padaku saat aku masih di rumah sakit?" Tanya Livy.


" Kamu dalam masa pemulihan, nak.. Ayah tidak mau membuat kamu menjadi terbebani dan pemulihanmu terganggu." Ujar Hae In.


" Apakah ayah tahu dimana dia di makamkan?" Tanya Livy, dan Hae In mengangguk.


" Tolong antar aku kesana besok, ayah." Ujar Livy.


" Iya, nak." Ujar Hae In.


Sementara itu, Lea saat ini sudah berada di kamarnya, dia sedang duduk di depan piano nya sambil pikiran nya masih memikirkan Anton.


' Apa motifnya melakukan itu semua? Apakah dia ingin di pandang baik karena mendonorkan sum-sum tulang belakangnya pada mama? Betapa egoisnya dia.' Batin Lea.


Hukuman dari tuhan untuk Anton belum begitu menyakitkan dan menyengsarakan menurut Lea. Lea ingin agar Anton merasakan apa yang dia dan ibunya rasakan dulu.. Bahkan lebih.


Lalu tiba tiba dengan seenaknya saja Anton membuat sekenarionya sendiri dan menjadi pahlawan yang menyelamatkan Livy, Lea benci itu..


Tapi jika bukan karena Anton, Livy sendiri mungkin belum tentu bisa sembuh dan selamat dalam waktu dekat, mengingat tidak ada pendonor.


Lea memejamkan matanya sambil duduk di depan piano nya, dia antara benci dan berterimakasih pada Anton. Karena bagaimanapun juga Anton mendonorkan sum sum tulang belakangnya pada Livy.


Ke esokan harinya..


Livy dan Hae In datang ke makam Anton, Makam itu sudah rapi tertutup rumput dengan sempurna karena mengingat sudah dua bulan makam itu berada di sana.


" Jadi dia meninggal karena aku, ayah?" Ujar Livy.


" Tidak, nak.. Dokter nya mengatakan bahwa Anton yang bersih kukuh mendonorkan sum sum nya padamu." Ujar Hae In.


" Aku pikir aku akan bisa terlepas darinya, entah dari hal apapun itu. Tapi sekarang, dalam diriku justru ada bagian dari dirinya." Ujar Livy.


" Kita tidak tahu apa yang Tuhan rencanakan, bukan? Sisi baiknya adalah kamu bisa sembuh. Dia hanya ingin menebus semua kesalahan nya padamu." Ujar Hae In.


" Aku sudah pernah mengatakan padanya, bahwa aku sudah memaafkan nya, kenapa dia harus sekeras kepala itu. " Ujar Livy.


Cukup lama Livy berada di sana, dan setelah hari mulai sore Livy dan Hae In pun pergi dari sana. Setelah sekitar lima belas menit kemudian, Lea datang dengan gaun hitam nya. Dia membawa sebuket bunga.


Lea menatap tulisan nama Anton di batu nisan itu, kemudian meletakan bunga yang di pegang nya itu di atas nya. Kini terdapat dua buket bunga di sana, satu milik Livy, dan satu milik Lea.


' Kenapa kau harus mengukir sejarah dengan mengorbankan dirimu sendiri? Aku benci bagaimana kau bertindak, tuan Anton.' Batin Lea.


' Padahal sudah aku katakan, kau jalanilah hidupmu dengan keluargamu, dan aku dengan ibuku. Tanpa harus kembali saling berhubungan. ' Batin Lea.


' Bagaimanapun juga, terimakasih.. Karena kau telah menolong nyawa ibuku, beristirahatlah dengan damai di sana. ' Batin Lea lagi..

__ADS_1


" Akhirnya kamu datang juga, Lea? " Ucap sebuah suara, suara Kyle.


Kyle datang membawa sebuket bunga, dan berdiri tak jauh dari posisi Lea saat ini. Lea menatap Kyle, meskipun dia tidak menyukai Kyle, tapi dia mencoba biasa saja.


" Apa kau tahu bahwa dia menolong ibuku?" Tanya Lea, dan Kyle mengangguk.


" Lea.. Karena aku di beri kesempatan bertemu denganmu disini, maka aku akan mengatakan nya sekali lagi." Ujar Kyle.


" Jangan mac.."


" Maaf kan aku Lea." Ujar Kyle memotong ucapan Lea. Dan Lea langsung terdiam.


" Aku tahu kesalahanku terlalu banyak, setelah aku pikir pikir, aku juga tidak bisa mendekatimu apa lagi memilikimu. Aku sudah menyadari semuanya, semua kebodohanku." Ujar Kyle.


" Aku tidak akan mengganggu apapun lagi tentangmu, aku sudah memilih jalanku sendiri. Aku memilih menjadi putranya." Ujar Kyle sambil menatap nisan Anton.


" Tapi bolehkah aku menganggapmu sebagai adikku? " Ujar Kyle.


Lea menatap Kyle yang saat ini menatap ke arahnya.


" Hanya itu?" Ujar Lea.


" Ya, hanya itu.." Ujar Kyle.


" Hm.." Ujar Lea sambil mengangguk.


Kyle tersenyum senang mendengarnya, dia mendapat kesempatan memperbaiki kesalahan nya.


" Terimakasih." Ujar Kyle, sambil mengulurkan tangan nya.


Lea menatap uluran tangan itu, akhirnya ia menjabat tangan Kyle.


Benci mungkin menjadi alasan terbesar kita tidak menyukai seseorang, tapi tahukah kalian.. Bahwa benci, juga bisa menjadi alasan kita untuk memaafkan.


Belajar dari pengalaman Lea yang sudah begitu banyak menerima cacian, hinaan, makian, dan lain sebagainya. Setelah dia sembuh dan menerima keadaan, akhirnya dia bisa memaafkan.


_____________________


Ke esokan harinya ..


Hari ini adalah hari pesta kelulusan sekaligus perpisahan sekolah. Semua orang tampak sangat rapi dengan pakaian mereka masing masing. Terutama para anggota yang melakukan pertunjukan.


Banyak yang di tampilkan, tarian, nyanyian, drama musical dan lain lain. Dan saat ini, Lea sedang bersiap karena sebentar lagi dirinya akan keluar dan berdiri di atas panggung.


" Jangan tegang, sayang.. Kamu pasti bisa." Bisik Richard.


Yang akan Lea mainkan adalah permainan piano berdua bersama Richard, juga mengiringi drama musical.


Semua orang bertepuk tangan ketika panggung di buka, Richard menggandeng tangan Lea.


" Kamu bisa, Lea.." Ujar Richard, Lea tersenyum dan mengangguk.


Lea sangat cantik dengan gaun biru malamnya, rambutnya ia buat bergelombang dan di sematkan nya jepit pemberian Richard di sisi kiri rambut nya.


Lea dan Richard duduk, dan mereka mulai memainkan pianonya. Indah.. adalah kata yang bisa mendevinisikan pemandangan itu. Richard yang tampan dengan kemeja hitam nya, duduk bersebelahan dengan Lea yang cantik sambil memainkan piano.


' Terimakasih Tuhan, engkau telah menghadirkan dia dalam hidupku. Aku bisa merasakan bahagia dan tertawa berkat dia.' Batin Lea.


Permainan yang indah itu berakhir, Lea berdiri di samping Richard dan membungkuk kearah para penonton. Lea tersenyum sambil menatap Richarad lalu berkata..


" I love you, Richard." Ujar Lea.


Richard tersenyum, dan memeluk Lea. Semoa orang langsung berteriak heboh melihatnya.


" I Love you more, Lea." Bisik Richard.


Trauma sebesar apapun, mungkin perlahan bisa sembuh. Meski tidak sepenuhnya hilang, dan masih selalu teringat hingga kita tua nanti, Tapi kita akan mulai menerima keadaan itu perlahan..


Kesakitan kita, kita jadikan sebagai pembelajaran hidup. Agar kita bisa lebih sabar dan dewasa, agar kita kuat dan memiliki mental baja.


Terimakasih sudah mengikuti kisah hidup seorang Athalea Adeline, yang dulinya dingin tak tersentuh bagai balok es, menjadi lembut dan penyayang.

__ADS_1


Sampai jumpa..


THE END...


__ADS_2