
Richard berlari sekuat tenaga dan meraih tangan Lea. Untung saja baik Richard dan mobil itu sama sama tepat waktu. Richard menarik tangan Lea dan mobil itu mengerem tepat pada waktu nya.
" Ya Tuhan, nak.. Kamu baik baik saja?" Ujar Hae In yang langsung menghampiri Lea.
" Maaf, saya tidak melihat.. Lea? Astaga, Lea kamu baik baik saja?" Uajar Anton.
Rupanya pemilik mobil itu adalah Anton. Sangat beruntung Anton mengerem tepat pada waktunya, jika tidak mungkin Lea sudah tertabrak.
" Lea baik baik saja tuan." Ujar Richard.
" Maaf karena Lea menyeberang langsung berlari." Ujar Hae In.
Anton terkejut mendapati Hae In di sana, dia adalah pria luar biasa, ayah Livy. Anton dulu sering bertemu dengannya, namun dulu identitas Hae In di sembunyikan hingga Anton tidak tahu bahwa Hae In adalah orang hebat daei negara K.
" Tuan Lim Hae In?" Ujar Anton.
" Lama tidak bertemu, kau semakin mirip mendiang ayahmu." Ujar Hae In.
" Kakek, ayo masuk." Ujar Lea, memotong pembicaraan keduanya.
" Ya, ayo.." Ujar Hae In.
Hae In, Lea dan Richard langsung masuk tanpa memberikan sepatah kata apapun lagi pada Anton. Bahkan Lea tidak sedikitpun menatap Anton, dan Anton merasa sedih akan hal itu.
Setelah ke tiganya pergi, Anton baru menyernyitkan kening nya..
" Mereka beramai ramai ke rumah sakit, siapa yang sakit?" Gumam Anton.
TIN! TIN! TIN!
Suara klakson mobil di belakang mobil Anton membuyarkan pemikiran Anton.
Anton melambaikan tangan nya pada mobil di belakangnya, kemudian ia masuk dan melesat pergi dari sana.
Sementara itu, Lea masuk masuk ke dalam ruang rawat ibunya. Lea langsung memeluk Livy yang kini terlihat menggunakan pakaian rumah sakit.
" Mama." Gumam Lea.
" Bagaimana ujian nya?" Tanya Livy, sambil memgusap usap kepala Lea.
" Lancar ma, mama jangan khawatir." Ujar Lea.
" Sukurlah.." Ujar Livy.
Di tempat lain..
Riri sedang bersama Juno saat ini, mereka berdua tidak meresmikan hubungan mereka sebagai pasangan kekasih, tetapi mereka dekat. Itu semua atas keinginan Riri.
Riri tidak mau berharap banyak pada Juno, dia masih terus memikirkan tentang perbedaan kasta antara dirinya dengan Juno.
" Sayang, kamu ada acara kemana hari ini?" Tanya Juno.
" Aku tidak memiliki agenda lain, agendaku sepulang sekolah adalah membuat kue. Dan lagi, jangan panggil aku sayang.. kita hanya teman." Ujar Riri.
" Teman tapi mesra.." Ujar Juno, sambil menggenggam tangan Riri.
" Aku akan meminta izin pada atasanmu nanti, aku butuh kamu sekarang. " Ujar Juno.
__ADS_1
" Eh! Mau kemana? Aku tidak bisa pergi begitu saja." Ujar Riri.
" Hanya sebentar." Ujar Juno, dan melesat dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota dengan mobil sport nya.
" Juno!" Ujar Riri.
" Hanya sebentar, sayang." Ujar Juno, lagi.
Tak lama mereka sampai di sebuah bangunan megah berpagar hitam. Riri terkesima melihat banguan itu, walau dia seringvdatang di rumah besar milik Lea, tapi rumah ini lebih besar dan mewah.
" Rumah siapa ini?" Tanya Riri.
" Orang tua ku." Ujar Juno.
DEG!!
Riri terkejut mendengar nya.
" Ayo turun." Ujar Juno.
" Tidak mau, mau apa kita ke rumah orang tuamu." Ujar Riri.
" Riri, aku akan membuktikan bahwa orang tuaku tidak seperti yang kamu bayangkan. " Ujar Juno.
Dari jauh, ibu Juno melihat Juno yang sudah sampai tapi tak kunjung turun dari mobilnya. Wanita paruh baya itu menyipitkan matanya dan kemudian tersenyum senang ketika melihat bayangan seorsng gadis di dalam mobil Juno.
" Kya!! Ara sayang.. Kakak bawa pacarnya ke rumah." Teriak ibu Juno antusias.
Ara, gadis kecil yang pernah di selamatkan oleh Lea itu menatap sang ibu sambil menggelengkan kepalanya.
" Mama, kakak bawa pacar, bukan bawa presiden." Ujar Ara polos.
" Ma, aku pulang." Ujar Juno.
Ibu Juno menatap Riri sangat serius.. Riri yang di tatap begitu tajam pun menjadi takut saat ini.
' Sudah aku duga, bagaimana mungkin ada orang kaya yang mengizinkan anaknya berpacaran dengan orang miskin.' Batin Riri.
" Juno! Apa apaan kamu?!" Bentak ibu Juno.
" Ma, mama suka atau tidak, aku tidak emminta pendapat mama, aku.."
" Sayang, apakah Juno jahat padamu?? Apa Juno memaksa kamu menjadi pacarnya?" Ujar Ibu Juno pada Riri.
" Eh?? " Riri dan Juno terperanga.
" Apakah anak ini memaksa kamu??" Tanya Ibu Juno sambil menjewer kuping Juno.
" Aduh! Aduh! Aduh! Ma, sakit!" Ucap Juno sambil kesakitan.
" Ti- tidak, nyonya.. Ju- Juno tidak memaksa saya." Ujar Riri formal.
" Nyonya?? Kenapa kamu panggil Nyonya? Kamu pacarnya Juno, kan? Panggil saya mama." Ujar Ibu Juno.
Riri sungguh terperanga dengan ke ramah tamahan ibu Juno itu, ia tidak menyangka ibu Juno akan se menyenangkan itu dan bersikap ramah padanya. Juno sendiri lebih lebih terkejut dengan sikap ibunya yang sungguh du luar dugaan.
'' Mama baik baik saja, kan?'' Ujar Juno, sembari menyentuh kening ibunya.
__ADS_1
'' Ish, anak nakal ini! Kamu pikir mama sakit apa, huh?'' Ujar ibunya.
'' Sayang ayo, kita masuk kedalam.'' Ujar ibu Juno pada Riri.
'' I-i- iya nyonya.'' Ujar Riri gugup.
'' Eh.. mama, jangan nyonya.. ayo.'' Ujar ibu Juno.
'' I- iya, ma.. '' Ujar Riri.
'' Bagus, ayo .. Ara, ayo masuk ke dalam.'' Teriak ibu Juno pada Ara.
Wanita paruh baya itu menggandeng lengan Riri dengan ssangat bahagia, dia bahkan meninggalkan Juno yang saat ini masih terperanga melihat ibunya.
'' Ini... sungguhan mamaku atau bukan?'' Gumam Juno masih merasa heran sendiri.
Ibu Juno pernah tidak sengaja bertemu dengan salah satu teman kencan Juno di luar, dan ibu Juno langsung menatap tidak suka dengan gadis itu. Dari sana Juno menilai bahwa ibunya itu termasuk pemilih dengan calon pacar Juno nantinya.
Tak mau lama lama terpaku di luar rumah, Juno pun menyusul masuk ke dalam rumah. Terlihat ibunya itu sedang menjamu Riri dengan sangat baik dan penuh kasih sayang.
'' Juno, kenapa kamu tidak beri tahu mama bahwa kamu sudah punya pacar? Dan kenapa kamu tidak beri tahu mama bahwa kamu mau membwa pacarmu datang kemari? '' Ujar ibu Juno.
" Kami tidak pacaran, ma." Ujar Riri.
" Ha, kenapa?? " Ujar Ibu Juno, tapi Riri seperti bingung hendak menjawab.
" Karena Riri takut mama dan papa tidak merestui kami." Ujar Juno.
" Jadi nama kamu Riri, nak? Perkenalkan.. nama mama, Sari." Ujarnya.
" Mama mungkin pemilih dalam hal percintaan kamu, Jun. Tapi jika kamu suka, mama bisa apa? Mama tidak mau menjadi orang tua yang kejam." Ujar Sari lagi.
" Dan lagi, saat pertama mama melihat Riri, mama menyukai dia. Beda dengan gadis gadis yang selalu kamu bawa gonta ganti itu, mereka seperti ondel ondel." Ujar Sari
" Dengar kan, sayan?? Mama sudsh memberi lampu hijau, jadi boleh kan aku jadi pacar kamu?" Ujar Juno.
Sari tersenyum senyum, biasanya dia melihat Juno ber gonta ganti teman kencan, bukan pacar. Tapi kali ini Juno mengejar seorang gadis untuk menjadi pacarnya. Sari yakin Riri pasti spesial, karena Riri juga adalah gadis pertama yang Juno bawa pulang.
" Sayang, kamu menyukai Juno? Kalau kamu tidak suka, jangan jadi pacar Juno. Kamu perempuan, bebas memilih pasangan hidupmu." Ujar Sari pada Riri.
Riri merasa mendapatkan sosok seorang ibu dari diri Sari. Bagai ibu kandung yang sedang menasehati putrinya.
" Mama kok ngomong nya begitu? Kami saling mencintai lho, ya kan sayang??" Ujar Juno dengan nada merajuk.
Sari sungguh terhibur dengan dua muda mudi itu, terlebih lagi Sari tidak pernah melihat Juno yang memaksa begitu.
" Kalian saling mencintai atau hanya kamu yang mencintai Riri? Kalau Riri tidak mencintai kamu, kamu tidak boleh maksa." Ujar Sari.
" Tidak kok, kami saling mencintai, ma." Ujar Juno kukuh.
Riri sendiri hanya senyum senyum malu, tapi dia kembali teringat dengan tingkatan kastanya.
" Tapi, mama.. Aku bukan anak orang kaya, aku tinggal sendiri di kost kost." Ujar Riri.
" APA!!" Teriak Sari.
DEG!! DEG!! DEG!!
__ADS_1
Riri dan Juno terkejut mendengarnya.
TO BE CONTINUED..