TRAUMA

TRAUMA
Chapter 53 - Misi


__ADS_3

Dalam keheningan malam, wanita cantik bernama Nara itu tengah meratapi kemalangan nasibnya. Rasanya, ingin sekali untuk memarahi takdir yang tak adil ini.


Ia mulai menerawang bagaimana setiap jengkal hidupnya yang penuh dengan air mata. Tak lupa ia menyisipkan satu kenangan indah bersama malaikat kecilnya. Nara benar-benar berada di ambang keterpurukan yang ke sekian kalinya.


Sempat terpikir, kenapa ia tak meninggal saja?


Bahu nya kini mulai bergetar ketika menerawang ke arah belakang. Bulir air mata membasahi kedua pipi mulus miliknya. Ia meratapi nasib hinanya yang disaksikan kegelapan malam di gedung tua itu.


Berbeda dengan Nara yang sedang di baku hantam oleh alam, kini Regan malah sibuk mengurusi celotehan tak berbobot dari calon istrinya.


"Mas kamu udah siapin kan surat perceraiannya?" tanya Anna.


"Iya udah dong.." ucap Regan, mantap.


"Bagus deh, jadi kapan kita nikah?" tanya Anna.


"Secepatnya sayang. Kamu sabar ya.." ucap Regan lemah lembut.


"Okee." singkat Anna.


***


Sementara di apartemen, Sony kini tengah memutar otak untuk menolong wanita yang sedang di sekap di gedung tua itu. Begitupun dengan Robi, ia mulai memikirkan cara agar Nara cepat keluar dari tempat terkutuk itu.


"Rob, gimana?" tanya Sony.


"Mending kita kesana aja, kuy." ajak Robi.


"Lo yakin?" tanya Sony.


"Yakinn, gas lah.." ucap Robi.


"Wait, tapi kita gak ada rencana apa-apa." tukas Sony.


"Gue ada.." ucap Robi.


"Apa?" tanya Sony.


"......... "


Robi pun menjelaskan rencananya panjang lebar pada sahabatnya. Tanpa pikir panjang lagi, mereka berdua melaju ke arah gedung tua. Robi dengan motor sport nya serta Sony yang membawa mobil jeep warna hitam.


***


Nara yang tengah terkurung di tempat terkutuk itupun sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh mama dan kedua kakaknya. Ia sudah tak memiliki semangat untuk hidup lagi ketika cambuk dan belati kembali mendarat di punggung milik Nara.


Sementara mamanya, ia terlihat bengis saat menyiksa darah daging nya sendiri. Tak berbeda jauh dengan kedua kakaknya, ia mulai mengeluarkan senjata favoritnya. Jika kemarin ia menyiksa anak kecil tak berdosa dengan jarum pentul, kini mereka menyiksa Nara sekaligus menggunakan belati dan parit.


Memang mereka bukanlah manusia, melainkan iblis yang kabur dari tempat penjaranya.


"Lo gak akan bisa ngelawan lagi, bocah sialan!" tukas Desi.

__ADS_1


"Hahaa.. Nara, Naraa.. Sampe kapan pun kita gak bakal biarin lo hidup bahagia." ucap Roy.


"Jangan harap lo bisa lepas dari kami.." ucap Reyhan dengan senyuman iblisnya.


cetaarrrrr..


cetarrrrr...


cetarrrrrrr..


Suara cambukan, menggema di ruangan gedung tua yang sepi itu. Jangan tanyakan kemana ketujuh begundal itu karena sudah pasti mereka di suruh untuk mengawasi gedung itu. Takutnya ada manusia yang berusaha menyelinap masuk untuk menolong Nara.


"Kenapa kalian lakuin ini sama aku? hikss.." ucap Nara dengan suara terisak.


"Punyaa otak, di pake buat mikirr!" bentak Roy.


"Tapi aku punya salah apa sama kalian?" tanya Nara di sela isak tangisnya.


"Lo lupa? bokap meninggal gara-gara lo!" tukas Roy.


"Tapi ini udah lama kak." ucap Nara.


"Bacot lo!" ketus Roy.


sreett


Belati itu mendarat sempurna pada pipi sebelah kanan Nara.


Darah segar kembali mengalir melalui pipi mulusnya. Luka lama yang sudah mulai mengering itu, kini kembali hadir. Bahkan, kini luka itu jauh lebih parah dari sebelumnya.


Perih. Satu kata yang di rasakan Nara saat air matanya meluncur sempurna ke tempat luka itu berada. Badan yang mulai terkulai lemas itu tak mampu lagi menahan siksaan bertubi pada malam ini.


Dia hanya pasrah dan menyerah atas apa yang akan takdir berikan padanya. Tak peduli jika ia harus mengakhiri hidupnya di gedung tua ini. Namun, sekelebat bayangan anaknya terus saja menghantui pikirannya. Hingga, mau tak mau ia harus mampu bertahan demi sang anak.


***


Terlihat di pintu utama, kedua lelaki dengan memakai baju hitam itu mengendap-ngendap masuk ke ruangan yang penuh dengan debu dan kotoran.


Mereka tak lain adalah Sony dan Robi, yang memiliki beberapa rencana untuk menyelamatkan gadis cantik bernama Nara.


Untung saja, para bodyguard itu bisa dengan mudah terjebak dengan tipu muslihatnya. Kini ketujuh lelaki berbadan kekar dan berotot besar itu tengah tepar di salah satu ruangan. Tentu saja, Sony dengan cerdiknya menaruh mereka ketujuh lelaki itu ke tempat yang sedikit bersembunyi. Tak lupa ia menghalangi beberapa pintu itu dengan kayu, meja, bahkan kursi yang sudah usang.


Mereka berdua membuka satu per satu pintu untuk mencari keberadaan Nara. Alangkah terkejutnya saat hendak keluar dari pintu no 8 itu mereka mendengar langkah kaki serta ocehan tak bermutu dari tiga iblis berwujud manusia itu.


"Liat aja dia juga bakal nyusul anaknya ke neraka." ucap Desi


"Kita harus lakuin ini secepatnya mah." ucap Roy.


"Lah kenapa?" tanya Reyhan.


"Mah, kalo tiba-tiba bocah sialan itu ada yang bebasin gimana?" tanya Roy.

__ADS_1


"Lo tenang kak, lagian siapa yang tau alamat gedung bekas ini." ucap Reyhan.


"Apa yang di bilang Rey itu bener, sayang. Kita harus nikmati sensasi mandi darah dia." ucap Desi dengan seringai iblisnya.


'Dasar manusia berwujud iblis.' batin Sony.


'Gue gak bakal biarin cewek yang gue suka terluka.' batinnya lagi.


'Ternyata penderitaan Nara selama ini real.' batin Robi.


'Lo punya keluarga yang sifatnya kejam dan bengis, kasian banget lo Ra.' batin Robi lagi.


"Udah deh mending kita pulang." ajak Desi pada kedua anaknya.


Sontak kedua anak itu manut saja atas apa yang dikatakan ibunya itu. Setelah melihat ketiga manusia itu menuruni tangga. Kedua lelaki yang tengah bersembunyi di balik ruangan itu pun segera melajukan langkahnya menuju ruangan yang di menjadi tempat penyekapan Nara.


Melihat keadaan Nara yang mengenaskan, kedua lelaki itu pun tak terasa menitkkan air matanya. Dengan susah payah Sony meneguk salivanya, ia benar-benar tak kuasa melihat gadis yang ia cintai kini harus banjir darah di setiap inchi tubuhnya.


"Naraa.." lirih Sony, dengan lutut yang mulai melemas.


"Son, kita gak punya banyak waktu, ayo selametin dia." ucap Robi.


Sony pun mengangguk patuh dengan perkataan Robi. Tanpa pikir panjang, ia segera melepas tali yang mengikat kedua tangan Nara.


Dengan air mata yang terus mengalir ia terus berusaha melepaskan tali itu. Tak lupa Robi juga menyiapkan alat tajam untuk mempermudah akses mereka dalam misi malam ini.


"Eugghh.." lenguh Nara.


"Aaaarrghhh.." jerit Nara, sontak Sony langsung membekap mulut gadis itu. Ia tak jijik sama sekali meskipun pipinya penuh dengan darah.


"Sstttt.. Lo diem ra!" tukas Sony.


"L-lo ngapain disini?" bingung Nara.


"Gue mau nyelametin lo." ucap Sony.


"Nggak son, jangan! Gue gak mau lo kenapa-napa." ucap Nara.


Deg


'Apa lo juga punya perasaan yang sama kayak gue?' batin Sony.


"Son, cepetan mereka udah pada bangun." ucap Robi.


"Aah iya rob, ini dikit lagi." ucap Sony.


Ia pun tergesa-gesa membawa Nara dalam gendongannya. Namun..


Bruukkkk


"Hahahaha...."

__ADS_1


__ADS_2