
Seminggu sudah lelaki itu tidak pulang ke rumah. Nara kini semakin sibuk di rumahnya. Harus mengurusi anaknya, rumahnya, belum lagi kini tubuhnya yang sudah mulai kekurangan berat badan.
Mahesa kini sudah berusia 6 bulan. Di balik penantian 6 bulan itu ia merasakan kesedihan yang memilukan. Bahkan, kini tatapan Regan berbeda dari tatapan sebelumnya. Sikapnya yang hangat kini beringsut menjadi datar dan cuek.
Tatapan yang dulunya menghangat itu, kini menjadi tatapan tak minat saat melihat Nara.
Hingga pada satu malam Regan pulang ke rumahnya. Ia melihat rumah yang begitu berantakan membuatnya pening. Tangisan bayi yang menggema itu membuat Regan risih. Belum lagi tubuh Nara yang tidak semodis dulu membuat ia semakin tak betah tinggal di rumah.
"Eh mas udah pulang?" tanya Nara ramah. Terlihat kini lingkaran hitam yang tercetak jelas pada matanya.
"Hm." ucap Regan singkat
"Mas udah makan belum?" tanya Nara dengan lengkungan indah di bibirnya. Namun, lengkungan itu tak seindah dulu. Kini tampak tonjolan jelas di pipinya.
"Udah." tukas Regan
"Mas mau aku pijitin?" tanya Nara lagi
"Gak, lebih baik kamu urus rumah ini. Saya jadi tidak betah tinggal di rumah." ketus Regan seraya mengambil kunci mobil.
"Loh mas, mau kemana? Mas baru aja pulang." tanya Nara
"Saya mau cari tempat yang nyaman dan bersih." ketus Regan
"Ya Allah... " lirih Nara
broommm.. bromm... broommmmmm
Tampak Regan menyalakan mobilnya. Ia tengah pergi ke satu tempat tanpa mempedulikan Nara.
Baru saja ia datang ke rumah, sudah di suguhi dengan rumah yang berantakan. Rumah tak terurus itu bukan keinginan Nara, tapi karena Mahesa lah yang selalu rewel. Anak itu tidak bisa jauh dari ibunya, bahkan saat mandi pun pintu terpaksa Nara membuka pintu kamar mandi itu.
Nara menghela nafasnya panjang. Ternyata menjadi ibu tidak semudah yang dibayangkan. Banyak pengorbanan serta perjuangan yang harus di nikmati. Begadang tiap malam bahkan mandi dan makan pun harus dilakukan segesit mungkin. Tapi, sebagai wanita harus tetap menerima dengan ikhlas apapun yang telah menjadi qodrat. Jalani saja, tidak perlu diambil pusing. Enjoy!
***
Di rumah mewah itu Regan tampak menyesap sebatang rokok. Ia begitu nyaman tinggal di rumah itu. Rumah yang bersih serta tidak berisik dengan tangisan bayi itu membuatnya tenang.
"Sayang bukannya kamu tadi pulang ya?" tanya wanita itu
"Aku gak betah di rumah." ucap Regan
"Ummm.. Sini aku peluk." ucap wanita itu. Regan pun beranjak mendekati wanita itu. Ia tampak nyaman berada di pelukan wanita selingkuhannya itu.
Iya betul! Kini Regan tengah selingkuh bersama wanita modis yang ia temui di cafe beberapa bulan silam. Saat mereka bertemu pertama kali, wanita itu memberikan name card pada Regan. Tentu dengan senang hati Regan menerima name card yang diberikan itu.
Selain sering bertemu, ternyata Regan sering melakukan hubungan layaknya pasutri bersama wanita itu.
Anna! Wanita itu bernama Anna. 6 bulan yang lalu ia baru saja pulang dari Seoul. Wanita itu terlihat cantik, hidung mancung, putih mulus, serta bodi yang menantang, bahkan bisa dikatakan ia sangat sempurna.
__ADS_1
'Kena jebakan gue lo, gan.'
'mudah juga buat rebut lo!'
'so gue gak perlu pikir strategi lagi.'
'Done.'
batin wanita itu.
***
Sementara di satu tempat, terlihat Fino dan kedua temannya sedang memasang strategi agar bisa bertemu dengan Nara.
Kini tiga lelaki itu telah mengetahui siapa pemilik caffe yang sebenarnya. Dan kini mereka tahu dimana tempat tinggal Regan dan Nara.
"Gue masih gak nyangka kalo Nara masih idup, fin. " ucap Robi
"Lo liat?" tanya Fino
"Engga sih, cuman kalo dari segi suara gue afal betul." jawab Robi
"Iya, suaranya." seru Fino
"Lo berdua ada rencana?" tanya Sony
"Buat?" tanya Robi kemudian
Fino, tampak menggeleng lemah. Ia tidak tahu bagaimana caranya agar bisa bertemu dengan Nara.
"Son, beneran cowok kemaren tu abang lo?" tanya Robi
"Iya gue yakin, dia bang Regan." seru Sony
"Lo gak ada niatan buat ketemu abang lo apa?" tanya Robi
"Ada sih." jawab Sony
"Nah, kenapa lo gak coba temuin aja son?" tanya Robi
"Belom siap gue." jawab Sony
"Heleh lo, kek mau nikah aja pake acara belom siap segala!" tukas Robi
"Bukan gitu." ucap Sony
"Berisik bet lo pada ah!" ketus Fino
"Lah kita mah lagi cari solusi, nah lo diem-diem bae!" ucap Sony
__ADS_1
"Bingung gue!" tukas Fino
"Kenapa dah?" tanya Sony
"Kalo seandainya Nara udah punya ekor gimana?" tanya Fino
"Lu kira dia monyet apa ada acara ekor segala?" tanya Robi yang disambung dengan tawa pecah dari Sony.
"Elah lemot lo!" ketus Fino
"Mungkin maksud si kulkas itu anak rob." ucap Sony membenarkan.
"Lah iyaa iya. kalo dia udah nikah otomatis udah nganu kan? Ah pasti sih ini gue yakin 100% si Nara udah ekoran fin. Apalagi kita selidikin udah 6 bulanan kan?" tanya Robi
Saat mendengar perkataan Robi, wajah Fino tampak murung. Jauh dari hati kecilnya ia masih berharap bisa memiliki Nara. Namun jika Nara memiliki anak , bukankah harapannya telah pupus? Haruskah ia mengubur rasa ini? Hal yang sangat sulit!
Fino terus saja berpikir bagaimana caranya agar ia bisa bertemu Nara? Pikiran Nara telah memiliki anak sesegera mungkin ia tepis. Fino sangat penasaran dengan kondisi Nara.
***
[ back to POV Nara ]
Oeeeee... Oeeee... Oeeee
Bayiku selalu saja menangis. Aku capek ya Tuhan!
Aku yang hendak menyuapkan nasi itu langsung ku taruh kembali. Gegas aku menghampiri Mahesa. Terlihat wajah tampan itu memerah akibat tangisannya yang begitu keras.
"Sayangg.. kamu kenapa?"
"Mau minum cucu ya?"
"Udah ya jangan nangis lagi."
Mahesa, ia menangis sangat kencang. Ia seperti kesakitan, padahal tidak ada luka atau apapun dalam tubuhnya.
Usia anakku yang sudah 6 bulan itu masih saja rewel. Ia tak mau ditinggal. Bahkan setiap malam aku begadang, makan jarang, bahkan tubuhku sudah mulai kurus.
Mas Regan kini telah berubah. Dia tidak hangat seperti dulu. Sikapnya yang dingin, acuh, bahkan raut wajah datar yang selalu ia perlihatkan padaku.
Sejenak, aku mengingat ucapannya dahulu mengenai papanya yang selingkuh.
Apa mungkin suamiku sudah bertemu gadis idamannya? Bagaimana kalo iya? Apa aku akan hidup bersama Mahesa saja? Jika iya dia bertemu gadis yang lebih dariku, apa aku harus merasakan kehilangan itu kembali?
"Gue gak boleh mikir gitu."
"Ayolah ra, positif thinking!"
"Suami lo pasti setia."
__ADS_1
"Lo harus percaya. Dia jarang pulang karena dia sibuk kok."
Monolog ku pada diri sendiri. Meski aku pun ragu untuk mengucapkannya, tapi aku tetap berusaha untuk percaya.