TRAUMA

TRAUMA
EPS. 64. RIRI HILANG.


__ADS_3

Lea dan Richard sampai di tempat parkir, Richard melemparkan kunci motornya pada Juno, dan Juno melempar kunci motor Lea pada Richard. Mereka bertukar kunci motor.


" Hati hati di jalan, kalian." Ujar Juno.


" Hm, terimakasih." Ujar Richard.


Saat Lea hendak membonceng, ponselnya berdering. Lea pun mengangkat panggilan yang rupanya dari Livy.


" Halo ma." Ujar Lea.


" Sayang, apakah Riri bersamamu? Dia tidak ada di toko dan karyawan toko mengatakan Riri tidak masuk kerja sejak kemarin." Tanya Livy dari seberang sana.


" Tidak ma, Riri tidak bersama Lea. Bukankah dia sakit? Mungkin dia di rumah kost nya." Ujar Lea.


" Teman satu kamarnya mengatakan Riri tidak pulang semalaman." Ujar Livy.


Wajah Lea menjadi panik, Riri itu kuat dan pekerja keras, selain itu dia anak yang selalu ceria. Tidak mungkin jika Riri menghilang begitu saja tanpa kabar.


Lea mengingat ingat terakhir kali dirinya menghubungi Riri, suara Riri terdengar parau. Lea pikir karena sakit, tapi sekarang jika Riri tiba tiba menghilang, itu berarti terjadi sesuatu padanya.


" Lea akan mencari Riri ma, mama jangan panik. Lea matikan telepon nya dulu, ya.. " Ujar Lea.


" Ya sayang, hati hati di kuar sana. " Ujar Livy.


" Ya, ma." Ujar Lea, dan panggilan di akhiri.


Lea menjadi berpikir keras sekarang, ia sama sekali tidak tahu tempat yang sering di kunjungi Riri karena dirinya selalu sibuk dengan dunia nya sendiri. Selain itu, Lea dulu hanya bertemu dengan Riri hanya saat dirinya datsng ke toko kue saja.


" Lea, ada apa??" Tanya Richard.


" Riri, dia hilang." Ujar Lea.


DEG!!


Juno terkejut mendengarnya.


" Apa maksudnya dia hilang, Lea?" Tanya Juno dengan nada khawatir.


" Riri tidak masuk kerja hari ini, teman satu kamar nya juga bilang Riri tidak pulang semalaman." Ujar Lea.


Juno seketika pias mendengar nya, apakah karena perkataan nya kemarin yang membuat Riri tiba tiba hilang, pikirnya.


" Kemarin dia datang ke turnamen kita, kan? Lalu tiba tiba dia tidak ada di manapun dan aku menghubunginya setelah turnamen berakhir. Dia bilang dia sakit, jadi aku menyuruhnya beristirahat.." Ujar Lea.


" Sekarang aku baru sadar, suara Riri terdengar parau. Dia seperti sedang menangis." Ujar Lea.


Richard seketika ikut merasa takut, ia takut Lea akan menjadi berpikir berlebihan dan kembali kecewa dengsn laki laki.


" Aku akan mencarinya." Ujar Juno.


" Aku ikut." Ujar Lea.


" Tidak Lea, biar Juno saja." Ujar Richard menghalangi.


" Tapi Riri temanku.." Ujar Lea.


" Lea.. tolong patuh, ya. Kita cari Riri di tempat lain." Ujar Richard, akhirnya Lea mengangguk.

__ADS_1


Juno pun melesat pergi dari sana dengan kecepatan tinggi.


' Tolong jangan bertindak bodoh, Ri.' Batin Juno.


Lea dan Richard juga akhirnya pergi dari sana. Sayangnya Lea sungguh tidak tahu sama sekali tempat tempat yang sering di kunjungi Riri, karena Riri hanya selalu ikut dengan dirinya.


" Aku tidak tahu tempat apa yang sering Riri datangi." Ujar Lea.


" Kamu yang tenang, oke? Jika Juno masih belum menemukan Riri, malam ini kita lapor polisi saja." Ujar Richard.


' Semoga kamu menemukan dia, Juno. Jangan buat Lea menjadi hilang kepercayaan lagi.' Batin Richard.


Sementara itu, Juno melesat membelah jalanan kota sore itu. Ia bingung karena ia tidak tahu tempat favorit Riri.


Juno mengingat ingat apa yang pernah Riri ceritakan padanya. Tiba tiba ia teringat dengan percakapan nya bersama Riri saat dirinya sedih.


" Kamu tahu, saat kita sedih.. duduk dan menatap alam dalam keheningan adalah obat terbaik. " Ujar Riri.


" Seolah kau pernah sedih. " Sahut Juno.


" Orang yang terlihat ceria itu bukan berarti tidak pernah sedih, mereka justru cenderung menyimpan luka di balik senyumnya. " Ucap Riri sambil terkekeh.


" Lalu.. jika kau sedih, kau pergi kemana?" Tanya Juno.


" Di atas atap gedung, hehe." Ujar Riri dengan senyum khas nya.


" Kau bilang pemandangan alam yang sepi, lalu apa hubungan nya dengan atap gedung, Riri? " Ujar Juno kesal.


" Aku hanya ingin membuatmu tersenyum. Tapi aku jujur.. jika aku sedih aku akan duduk di atap sebuah gedung. " Ujar Riri.


" Gedung mana? Siapa tahu aku akan kesana nanti." Ujar Juno.


" Xoxo Tower " Gumam Juno, setelah mendapatkan sebuah tempat yang Riri sebutkan dari ingatan nya.


Juno memutar balikan motornya saat ada persimpangan jalan, ia pun melesat menuju ke tempat yang bernama Xoxo Tower. Yang Juno ingat, Xoxo Tower adalah gedung terbengkalai di pinggir kota, ia jadi semakin takut terjadi sesuatu pada Riri.


Dalam waktu 15 menit, ia sampai di gedung itu. Dan benar, kondisinya kosong. Juno masuk kedalam dan berteriak memanggil nama Riri.


" Riri! " Teriak Juno.


Untungnya, walau gedung itu kosong tapi masih memiliki penerangan di setiap tangga menuju ke atas. Juno pun langsung berlari mencari tangga.


" Riri, kamu dimana." Teriak Juno lagi.


Juno menaiki tangga gedung berlantai 15 itu. Bagai di kejar hantu, ia tak berhenti sedikitpun hingga sampailah dia di atap.


BRAK!!


Juno membuka pintu atap dengan keras.


Juno berlari lari kecil dan melihat ke segala arah dengan nafas yang memburu.


' Come on, kau tidak akan sebodoh itu dengan mengakhiri hidupmu sendiri, kan?' Batin Juno panik.


Juno menghentikan langkahnya ketika melihat siluet Riri yang sedang duduk di tepian atap dak. Juno langsung berlari ketika Riri tampak bergerak maju, ia pun langsung memeluk dan menarik Riri dari tepian itu hingga keduanya jatuh bersama.


" Aduh!! siapa ka... Juno?? " Ucap Riri dengan tatapan bingung.

__ADS_1


Sementara itu Juno masih ter engah engah dan memejamkan matanya sambil kedua tangan nya masih memeluk tubuh Riri yang kini berada di atas tubuhnya.


" Tidak - tidak, ini pasti bayangan. Mana mungkin Juno datang kemari." Gumam Riri.


" Alangkah baiknya jika bisa melihat dia sedekat ini" Ujar Riri, dan yangan nya menyentuh wajah Juno.


" Sayangnya dia membenciku. Bangun Riri.. lupakan dia." Gumam Riri lagi sambil memukuli kedua pipinya.


Juno membuka matanya dan langsung menahan kedua tangan Riri yang saat ini sedang memukuli pipinya sendiri.


" Apa yang kau lakukan? Kau menyakiti dirimu sendiri." Ujar Juno.


" Apa kamu bisa bicara denganku? Kamu hanya bayangan Juno, bagaimana bisa kamu bicara.." Ujar Riri.


Juno menatap mata Riri begitu intens, karena posisi mereka sungguh tidak ada sekat sama sekali. Ia menjadi sendu, lalu kemudian ia mendorong tubuh Riri untuk bangun.


" Aku Juno, kau tidak sedang bermimpi." Ujar Juno setelah sudah duduk.


Riri menutup mulutnya, ia pikir ia berhalusinasi tentang Juno. Tapi apa ini? Juno sungguh berada di hadapan nya.


" Apa yang sedang kau lakukan tadi, huh?! Kau mau lompat kebawah?!" Ujar Juno dengan nada tinggi.


" Aku.."


" Kau bodoh atau bagaimana, huh!? Hanya karena seorang laki laki kau mau mengahkhiri dirimu sendiri?!" Ujar Juno lagi memotong ucapan Riri.


" Itu, aku.."


" Diam!!" Bentak Juno. Seketika Riri pun diam.


" Mengakhiri hidupmu sendiri memangnya kau bisa mendapatkan aku? Kau tidak memikirkan orang orang yang kau tinggalkan akan begitu kehilanganmu? Lebih dari seribu laki laki di dunia ini, kau masih bisa mendapatkan yang lebih baik dari aku, Ri." Ujar Juno.


" Aku hanya ingin kamu menjadi perempuan yang di perjuangkan, kamu layak di perjuangkan. Bukan kamu yang berjuang demi aku, paham tidak, sih?!" Ujar Juno.


Juno menatap Riri yang diam seribu bahasa dengan kepala menunduk.


" Jawab saat di tanya." Ujar Juno.


" Kamu bilang aku harus diam." Ujar Riri dengan takut takut.


Juno menepuk keningnya sendiri, dia lupa telah menyuruh Riri diam.


" Ya sudah, jawab." Ujar Juno.


" Aku tidak sedang mau mengakhiri hidupku sendiri." Ucap Riri.


" Jelas jelas aku melihatmu hampir lompat. Jika aku tidak menarikmu, kamu pasti sudah menjadi mayat di bawah sana sekarang." Ujar Juno.


Riri tersenyum, rupanya meskipun Juno berkata kejam padanya, Juno masihlah mengkhawatirkan dirinya.


" Aku sungguh tidak mau bunuh diri, di bawah situ bukan jurang." Ujar Riri.


" Ha?" Sahut Juno.


Juno bangun dan berjalan menuju tempat tadi Riri duduk, dan melihat kebawah. Rupanya benar, itu bukan jurang atau dasar gedung. Tapi masih ada dak yang lebar, bahkan masih bisa untuk berjalan.


Karena Juno panik, Juno tidak melihat itu dan asal tarik begitu saja tubuh Riri.

__ADS_1


"Aku pikir kamu mau bunuh diri, tadi." Ujar Juno, dan Riri terkekeh.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2