
Sudah beberapa hari ini tidak ada kabar perihal Mahesa. Bahkan, berita menghilangnya Mahesa sudah tersebar kepada Regan. Belum juga sempat mengurus perceraiannya dengan si Regan, kini ia harus di hadapkan dengan kasus penculikan Mahesa.
Di sisi lain, Bu Uti juga merasa bersalah dengan tingkah konyolnya saat ini. Pasalnya, setelah hilangnya Mahesa ia pun kerap di berikan ancaman oleh antek-antek dari keluarga Adhitama. Dengan langkah gontai, dan terpaksa Bu Uti kini kembali menjebak Nara.
Bahkan, Nara yang hatinya terlalu baik itu tidak menyimpan rasa curiga sedikit pun saat wanita paruh baya itu menyuruhnya untuk ke gedung tua di sudut Kota Jakarta.
"Ra, gimana kalo kamu cari ke gedung tua. Nanti ibu cari ke arah pasar-pasar itu." tunjuk Bu Uti pada pasar yang sudah mulai sepi.
"Baik, bu." ucap Nara.
Tanpa pikir panjang, ia menyusup ke arah gedung tua itu untuk mencari keberadaan anaknya. Mulutnya terus saja merapalkan mantra agar tak ada kejadian aneh.
"Saa.. Esaa..."
"Esa... ini mama sayangg.."
"Kamu dimana, nak?"
Namun, saat ia melihat satu pintu yang menarik perhatiannya, ia bergegas membuka pintu itu dengan perlahan.
degg
Saat ia melihat ke dalam, sudah banyak para lelaki berbadan besar yang siap menerkamnya. Ada yang menatapnya sinis, ada yang genit, bahkan ada yang menyeringai seperti iblis. Mereka berlima seperti melihat mangsa dan seperti harimau yang kelaparan saat melihat gadis cantik yang ada di ambang pintu itu.
"Hahahaa..."
"Welcome, Naraaa!!"
"S-siapa kalian?" tanya Nara.
"Gue akan ngasih sesuatu yang enak sama lo!"
"Hahaha.."
Saat ia hendak membalikkan tubuhnya untuk berlari, tiba-tiba saja ada dua orang manusia yang ototnya menyembul besar di balik kaos hitam ketat itu. Jantung Nara kini tak karuan saat melihat para begundal itu semakin mendekat. Keringat dingin bercucuran, bahkan tubuhnya kembali bergetar saat melihat senjata belati yang di bawa oleh salah satu begundal berkepala botak.
"Diam atau... belati ini akan merobek pipi mulus lo!" bentak si botak.
"T-tolong jangan sakiti akuu.." ucap Nara.
"Kita disini hanya bersenang-senang, ayolah sayang."
"J-jangaaannn.." teriak Nara.
Dengan secepat kilat tubuh mungil Nara terhempas ke lantai kotor gedung tua itu. Ada rasa sesak kembali menerjang saat beberapa orang darinya melucuti semua pakaiannya. Tak lupa tambang besar mengikat setiap tangan dan kaki mulus Nara. Kini, ia benar-benar sial.
Ia harus melayani 7 lelaki sekaligus pada jam 17.00 - 22.00.
__ADS_1
Terdengar dari arah sana, ada suara kamera yang sedang memotret kegiatan kotor itu. Nara, gadis itu sudah tidak bisa berkutik di bawah kungkungan para lelaki iblis itu.
Dan kini, ia sedang menyiapkan mental untuk menghadapi kehidupan setelah terjadinya tragedi kotor yang mengenaskan ini.
***
𝓚𝓮𝓭𝓲𝓪𝓶𝓪𝓷 𝓐𝓭𝓱𝓲𝓽𝓪𝓶𝓪
Wanita paruh baya dan dua lelaki tampan itu tampak puas dengan hasil kerja antek-anteknya. Mereka bertiga menyeringai seperti iblis saat melihat tubuh Nara tak memakai kain sehelai pun. Di tambah kerumunan 7 lelaki yang semakin membuatnya puas dengan semuanya.
Hanya dengan satu kali klik, foto itu sudah mulai tersebar di setiap sosial media yang mereka ubah namanya sedemikian rupa.
Dalam komentar, banyak orang yang menghujat, mencibir, menghina, dan mencemooh, bahkan dengan garangnya orang-orang itu akan mengubur Nara hidup-hidup.
Ketiga iblis itu tersenyum puas saat melihat isi komentar dari para manusia yang mudah di kotori pikirannya itu.
"Anaknya.. " lirih Desi.
"Jadikan sop pada malam ini, hahaha.." ucap Reyhan.
"Mam, dimana bocah ingusan itu?" tanya Roy.
"Ada di gudang belakang." seringai Desi.
"Gas, bawa cambuk, belati, dan jarum pentul." ajak Reyhan.
"Anak pintar!" puji Desi pada anaknya.
**drrttt
drrttt
drrttt**
"Siapa?" ketus Desi.
"Nesha, ma.." tukas Roy.
"Jangan di angkat!" titah Desi.
"Iyaa, ma." singkat Roy.
Mereka bertiga pun kini melancarkan aksi untuk menyembelih anak kecil yang tak berdosa itu.
bruukkkk..
Pintu gudang itu mulai terbuka, lalu menampakkan sosok anak kecil dengan wajah pucat pasi. Mengingat anak itu belum makan sedari kemarin.
__ADS_1
"Alian ciapa?" tanya Mahesa.
"Kita yang akan menyiksa kamu." ucap Reyhan.
"Hah?" ucap Mahesa yang belum mengerti sepenuhnya dengan kosa kata bahasa Indonesia.
Tanpa aba-aba dan pikir panjang, Desi kini tengah membalikkan tubuh Mahesa kecil lalu dengan sekuat tenaga mencambuk tubuh anak tak berdosa itu.
***cetaarrrrrr
cetarrrrrr
cetarrrrrr***
"atiitt.. hiksss.. hikss.. hiksss.." ucap Mahesa dengan terisak.
Namun, wanita iblis itu sama sekali tak mendengar isak tangis dari anak kecil itu. Ia terus saja menambah jumlah cambukan pada tubuh kecilnya. Hingga, kini anak itu terkulai lemas tak berdaya. Dan memulai menutup matanya di gudang itu.
Tak berhenti sampai situ, wanita kejam itu belum puas menyiksa Mahesa. Ia mengambil belati dari tangan Reyhan lalu mulai merobek bibir anak itu sampai ke telinga.
Darah segar terus mengalir dari wajahnya. Namun, siapa sangka wanita iblis itu kini tengah memultilasi anak kecil yang berwajah tampan itu. Bahkan, kini hanya sisa tulang belulang saja.
Bau amis alias bau darah segar menyeruak di gudang itu. Terlihat Roy juga Reyhan tengah meringis ngeri melihat tingkah laku mamanya. Namun, mereka juga tak bisa menghentikan aksi gila itu.
Hingga, saat selesai dengan aksi gila itu Desi menyuruh kedua anaknya untuk membawa daging cincangan itu untuk di bagikan kepada para tetangga.
Tentu saja, dengan senang hati para tetangga menerima daging itu. Mengingat mereka jarang sekali memakan daging. Tanpa pikir panjang dan tanpa ada rasa curiga para tetangga itu memasak daging yang di berikan oleh si Sultan keluarga Adhitama.
***
Tak berbeda jauh dengan Anna. Ia kini terus saja menghasut Regan dengan foto-foto menjijikkan milik Nara. Tentu saja lelaki itu percaya pada wanita yang menjadi kekasihnya itu. Tanpa pikir panjang pun Regan segera mengajukan talak ke pengadilan agama.
Anna merasa bangga karena mampu merusak rumah tangga Nara, bahkan tanpa harus memikirkan strategi apapun karena semua berjalan sesuai dengan keinginannya.
"Bagus, jadi gue gak perlu ribet nyewa orang buat hancurin reputasi lo." tukas Anna.
"Sayang, aku gak nyangka kalo Nara ngelakuin hal jijik kayak gini." lirih Regan.
"Udalah mas, lagian ini udah ada buktinya kok." ucap Anna.
"Gimana kalo dia di jebak sama seperti dulu?" tanya Regan.
"Gak mungkin mas! Liat aja tuh mukanya kayak keenakan gitu." ucap Anna.
"Iya sih." lirih Regan.
***
__ADS_1
Berbeda dengan Fino, lagi-lagi ia harus di hadiahi kenyataan yang tak sesuai ekspetasi tentang Nara. Bayangan foto Nara sangat jelas di pikirannya saat ini. Entah perasaan apa yang harus ia ungkapkan, dia bingung. Antara cinta dan jijik itu kini menjadi satu.
"Sial!" umpat Fino.