
Waktu berlalu.. Saat ini Anton berdiri di loby perusahaan Dean, dia sedang menunggu Erwin yang belum juga keluar dari perusahaan Dean setelah rapat selesai sekitar lima belas menit yang lalu.
Tak lama Erwin pun muncul dan bertemu tatap dengan Anton.
" Tuan Anton, apakah anda sedang menunggu seseorang?" Tanya Erwin, dengan formal.
Erwin sebenarnya sangat membenci Anton, selain karena Anton adalah saingan bisnisnya, Anton juga adalah pria yang sudah menyakiti hati kakak sepupunya, yakni Livy. Selain itu Anton juga yang sudah membuat Lea jadi benci laki laki, walau sekarang Lea sudah sembuh.
" Saya menunggu anda tuan Erwin." Ujar Anton.
Erwin tentu mengernyitkan keningnya bingung, memang semenjak kebenaran tentang Livy terkuak, Anton jadi bersikap lebih ramah dari pada Anton yang dulu.
" Ada apa kiranya anda menunggu saya?" Tanya Erwin.
" Bisakah kita bicara di cafe? sambil kita makan siang." Ujar Anton.
" Sayangnya saya memiliki janji lain setelah ini, mungkin lain kali saya akan mencari waktu untuk makan siang bersama anda, tuan." Ujar Erwin.
" Kalau begitu saya langsung bertanya saja, apa yang terjadi pada Livy?" Tanya Anton langsung terus terang.
Erwin memandang Anton kini bukan dengan tatapan ramah seperti sebelumnya, tapi dengan tatapan mengejek.
" Apakah sekarang kau sedang berusaha untuk mendekati kakak sepupuku lagi? Jangan mimpi kau bisa kembali dengan dia. Tidak bisakah kau biarkan dia menikmati hidupnya?"
" Aku hanya bertanya, aku juga sadar diri dengan semua kesalahanku padanya." Ujar Anton.
" Jika kau sadar, maka baguslah. Tapi tolong jangan muncul lagi di kehidupan kakak sepupuku, dia sudah cukup menderita karenamu, permisi." Ujar Erwin dan langsung meninggalkan Anton.
Anton menghela nafas, ia sudah belajar banyak dari kesalahan kesalahan nya di masa lalu, tapi walau begitu memang sulit melupakan kejahatan yang dudah dia perbuat pada Livy dan Lea.
' Aku akan cari tahu sendiri kalau begitu.' Batin Anton dan melangkah pergi dari sana.
Di tempat lain..
Livy sendiri kini sedang berada di rumah sakit. Karena kondisinya yang memang sudah semakin parah, akhirnya dokter menyuruh Livy untuk bersedia di rawat.
Pagi ini Livy kembali muntah darah, Dokter juga datang kesana untuk memeriksa Livy. Hae In juga masih berada di rumah dan menyaksikan putrinya itu berulang kali muntah darah, akhirnya dia membujuk Livy untuk bersedia di rawat.
" Ayah, ayah pergi saja ke perusahaan. Aku tidak apa apa sendirian di sini." Ujar Livy.
" Ayah tidak akan fokus bekerja jika putri ayah sakit. Siapa yangvakan menjagamu nanti jika ayah pergi." Ujar Hae In.
__ADS_1
" Aku sudah tua, Ayah.. bukan anak kecil lagi." Ujar Livy.
" Setua apapun usiamu, kamu tetap putri kecil ayah, nak. Ayah sudah cukup begitu menyesal karena meninggalkan kamu selama itu, ayah tidak mau meninggalkan kamu lagi." Ujar Hae In.
Livy tersenyum, ayahnya dulu adalah pahlawan dan idola nya. Hae In adalah pria yang sangat penyayang kepada anak dan istrinya.
" Ayah sudah di tinggalkan oleh ibumu, apakah ayah juga akan di tinggalkan olehmu? Kamu tega sekali, sakit tapi tidak mengatakan nya pada ayah." Ujar Hae In dengan wajah sendu.
Saat ini Hae In sedang mengupaskan buah untuk Livy, Hae In sangat terpukul dengan sakitnya Livy. Dia mencoba tegar, namun tetap saja dia takut akan kehilangan lagi.
" Maaf ayah.." Ujar Livy.
Hae In meneteskan air mata namun langsung di hapusnya dengan segera.
" Hah.. Ayo makan buahmu." Ujar Hae in menghela nafas untuk menenangkan dirinya.
Hae In bangun dan menyuapkan potongan buah melon untuk Livy. Tak kuat menahan gejolak kesedihan di hatinya, Hae In kembali menangis. Dan kali ini Hae In terisak.
" Maaf ayah harus menenangkan diri sebentar." Ujar Hae In.
Hae In meletakan kotak berisi melon itu di pangkuan Livy, lalu keluar dari ruangan itu.
Hae In berdiri di depan pintu masuk ruangan Livy dan menghela nafas nya untuk menetralkan gejolak kesedihan di hatinya.
Hati ayah mana yang tegar, melihat anaknya sakit. Meski sudah dewasa dan sama sama tua, tapi di hati orang tua, anak tetaplah seorang anak. Yang pernah dia gendong saat bayi, dan dia besarkan dengan penuh kasih sayang.
" Tuan Hae In, kebetulan anda ada di sini. Bisakah kita bicara, saya harus menyampaikan tentang kondisi nyonya Livy. " Ujar Dokter yang menangani Livy.
" Ah, ya.." Ujar Hae In.
" Mari ikut saya ke ruangan saya, tuan." Ujar Dokter.
Hae In pun mengikuti Dokter itu menuju ke ruangan nya. Sesampainya di sana Hae In duduk, sementara sang dokter terlihat membuka map cokelat.
" Tuan Lim Hae In, saya sudah memeriksa ini.. dan hasilnya anda tidak memungkinkan untuk mendonorkan sum sum tulang belakang anda pada nyonya Livy." Ujar Dokter.
" Usia anda sudah tidak memungkinkan untuk menjadi pendonor, tuan." Ujar Dokter lagi.
Hae In terlihat diam, dia ingin mendonorkan sum sum tulang belakangnya pada Livy, tapi rupanya tidak bisa.
" Lalu bagaimana dengan kondisi putri saya?" Tanya Hae In.
__ADS_1
" Nyonya Livy tidak memiliki banyak waktu lagi. Karena kondisinya benar benar sudah sangat parah tuan, kemungkinan untuk nyonya Livy sembuh sangat tipis." Ujar Dokter.
" Bahkan jika kita menemukan pendonor, takutnya nyonya Livy tidak kuat saat berjalan nya operasi. Dalam artian, kita tidak bisa melakukan apa apa lagi." Ujar Dokter lagi.
" Bagaimana mungkin anda seorang Dokter berkata demikian, tidak ada yang berhak menentukan umur manusia kecuali Tuhan." Ujar Hae In tidak terima.
" Masalahnya nyonya Livy hanya memiliki kemungkinan berhasil sekitar tiga puluh persen, tuan. Bahkan empat puluh persen saja kami akan ragu menjalankan operasinya." Ujar Dokter.
" Saya permisi." Ujar Hae In.
Hae In tidak mau mendengarkan Dokter, Ia masih memiliki keyakinan bahwa Livy bisa di selamatkan. Hae In menghubungi asisten nya yang berada di negara K.
" Halo, carikan dokter ahli Leaukemia terbaik dan datangkan ke Jakarta dalam waktu dekat. Biaya berapapun akan saya berikan, asal dia mau datang memeriksa putriku." Ujar Hae In.
" Lebih cepat lebih baik." Ujar Hae In lagi.
" Aku sudah kehilangan dia selama tujuh belas tahun, aku tidak mau kehilangan dia lagi." Gumam Hae In.
Tujuh belas tahun adalah waktu yang sangat lama, kekecewaan nya membuat hatinya sekeras batu. Dia tidak pernah mencari tahu atau sekedar mendengar kabar tentang Livy. Sekarang dia sangat menyesali kebodohan nya dulu.
Waktu berlalu..
Berpindah ke sisi Lea, Lea dan Richard sudah menyelesaikan ujian nya. Sepanjang berjalannya ujian itu, Lea benar benar mencoba semaksimal mungkin untuk fokus, walau dia masih terpikirkan dengan Livy.
" Kakek mengirimiku pesan, mama kamu di rawat di rumah sakit." Ujar Richard.
" Kenapa kakek malah mengirimu pesan? tidak langsung padaku." Ujar Lea.
" Kakek takut kamu tidak fokus, kalau begitu ayo kita ke rumah sakit." Ujar Richard, dan Lea mengangguk.
" Jangan sedih, mama kamu akan baik baik saja." Ujar Richard lagi, sambil mengusap usap wajah Lea.
Akhirnya mereka berdua pergi dari sekolah menuju ke rumah sakit, di mana Livy di rawat saat ini. Tak lama mereka berdua sampai di rumah sakit, dan di sana terlihat Hae In yang baru saja turun dari mobil.
" Kakek." Teriak Lea, Hae In menengok dan melambaikan tangan nya.
" Jangan lari, nak." Teriak Hae In, karena Lea berlari ke arah nya saat ini.
" Lea awas!" Teriak Richard.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1