TRAUMA

TRAUMA
Chapter 16 - Bertemu Cita


__ADS_3

Pagi itu aku bangun sangat pagi. Aku kini tengah berkutat di dapur demi menyiapkan sarapan untuk suami tercinta.


Meskipun aku bisa dikatakan masih muda, namun aku sangat lihai dalam memasak.


Saat sedang asyik memasak tiba-tiba saja ada yang memelukku dari belakang.


happ


Aku benar-benar kaget dibuatnya.


"Eh mas, ngagetin aja sih." ucapku


"Hehe.. mas kira kamu kabur." ucap Regan dengan mengeratkan pelukannya padaku pagi itu.


"Kabur kemana mas-mas." ucapku


"Hehehe.. " ucap Regan.


"Em mas lepas dulu pelukannya yaa." ucapku yang merasa tak leluasa bergerak.


"Gak mau!" ketus Regan


"Tapi aku bau asep loh mas." ucapku


"Gak papa!" ucap suami ku lagi


Dan akhirnya aku hanya menerima dengan pasrah perilakunya saat itu.


Saat aku selesai memasak pun ia masih saja memelukku. Bahkan kini aku sarapan dengan duduk di pangkuannya.


***


Sementara itu, Nesha kini sedang menunggu di sebuah kursi panjang dekat ICU.


Ia benar-benar khawatir dengan keadaan mamanya.


Bahkan kini papanya tengah pulang dari Amsterdam dan membawa berita buruk.


"Halo?" ucap salah satu pria di seberang sana


"Iya halo?" jawab Nesha


"Maaf apa ini Nesha?" tanya lelaki itu


"Iyaa, ini siapa ya kenapa pake handphone papa saya?" tanya Nesha


"Papa anda mengalami kecelakaan, pesawatnya terjun ke laut." ucap lelaki itu


"Hah terus sekarang keadaan papa saya gimana?" tanya Nesha


"Dapat dipastikan semua orang yang menaiki pesawat itu tewas semua. Saya menemukan hp ini di tepi laut. Sepertinya terjatuh dari jendela pesawat yang pecah." ucapnya lagi


"hiksss.. hiksss.." ucap Nesha


Ia benar-benar merasa terpukul saat ini. Saat mamanya di ICU kini papanya yang tengah pulang ke Indonesia harus mengalami kecelakaan fatal yang mengakibatkan kematian.


Tapi di sisi lain ia merasa sedikit lega karena mamanya bisa dengan mudah mendapat darah B+ sehingga operasi berjalan dengan lancar.


***


Fino dan Robi kini tengah memasuki sebuah universitas terkenal di Kota X. Mengingat kapasitas otak mereka bisa dikatakan berada diatas rata-rata sehingga mereka bisa dengan mudah masuk ke Universitas tersebut.


Mereka berjalan menuju kantin dan melewati kerumunan para gadis centil di kampusnya.


"Eh anjir itu ganteng banget."


"Wajib di gaet gak si?"

__ADS_1


"Harus lapor ke mama si ini mah."


"Diam kalian!" ucap Anita ketua dari genk itu.


"Gue yang bakal deketin laki-laki yang pake baju hitam itu." tukasnya.


Laki-laki yang memakai baju hitam itu adalah Fino.


Seketika mereka berdua bergidik ngeri dengan ucapan genk centil itu. Namun, mereka tetap bersikap cool seperti biasanya.


***


"Alhamdulillah rame lagi mas." ucapku pada suamiku


"Iya sayang. Mas semakin yakin kalo mas mau punya anak." ucapnya antusias.


Aku hanya bisa tersenyum membenarkan ucapan suamiku itu.


Siang ini aku berniat untuk belanja bulanan ke supermarket terdekat. Sebelumnya aku meminta izin pada Mas Regan untuk pergi belanja. Awalnya Mas Regan bersikukuh untuk ikut menemaniku belanja, namun aku menolaknya secara halus.


Melihat kondisi Caffe yang sangat ramai pengunjung, aku takut jika ada masalah yang tidak bisa di atasi oleh karyawan.


Aku pun berjalan mengendarai mobil untuk pergi ke supermarket itu.


Sejenak aku melihat seorang wanita yang tak asing bagiku di sebuah taman. Aku pun menghentikan mobilku dan berjalan menuju wanita itu.


'Cita' gumamku


Terlihat Cita begitu terpukul dan ia kini tengah menangis histeris di bangku taman itu.


Aku ingin mendekatinya, namun langkahku terhenti saat Cita melontarkan kata-kata kesal pada foto yang ia pegang.


"Naraaaa.. "


"Lo kenapa tega ambil cowok yang gue cinta ba*gsat!"


"Gue bakal buat hidup lo hancur sehancurnya."


ucap Cita seraya terus menangis.


Deg.


'Foto itu kann foto gue sama Mas Regan.'


'Ada hubungan apa Cita sama suami gue?'


Aku pun mengurungkan niat untuk menemuinya dan berjalan menjauh dari taman itu.


Ada sedikit sesak di dadaku saat mendengar ucapan Cita.


Aku mencoba mencerna dari setiap perkataannya. Namun, aku benar-benar buntu, dan aku berniat bertanya pada suamiku setelah pulang berbelanja nanti.


***


Di sisi lain, keluarga Nara tampak adem ayem tanpa Nara di dalamnya.


Bahkan kini mereka berniat untuk mengadakan tour ke kota X bersama para karyawan kantornya.


Namun, berbeda dengan Rayhan yang kini tengah pusing dengan ulah sahabatnya. Ia terus meminta pertanggungjawaban darinya.


"Kita melakukannya sama-sama mabuk kan?" tanya Rayhan


"Iya tapi gue mau lo tanggung jawab." ucap wanita itu


"Gue belum siap jadi ayah, gugurin aja kandungan lo itu." tukas Rayhan.


"Lo gila ray, masa anak sendiri mau di gugurin? " ucap wanita itu.

__ADS_1


"Lo mau gugurin sendiri atau gue yang gugurin?" tukas Rayhan.


"Pria baji*ngan!"


Plakkk


Rayhan menampar pipi wanita itu.


"Gue nyesel sahabatan sama lo!" ketus wanita itu


"Lo yang mulai, jangan salahin gue anj*ng!" ucap Rayhan dengan emosinya yang sudah memuncak.


Rayhan pun membawa wanita yang ia hamili ke sebuah gudang. Ia mencari cambuk yang biasa mamanya pakai untuk menyiksa Nara.


*ctarrrrr


ctarrrrrr


ctarrrrrrrr*


Terdengar menggema cambukan itu mengenai tubuh gadis cantik yang ia siksa.


"Ray, lo gila! awshh.."


Reyhan menendang perut wanita itu, sehingga ia terbentur mengenai tembok dengan kerasnya.


Hingga terlihat lah aliran darah dari betisnya. Namun hal itu membuat Rayhan hilang kendali sehingga ia menginjak tubuh gadis itu , tepatnya pada bagian perut.


Dan kini gadis cantik itu tengah pingsan dibuatnya. Kemudian Rayhan membawa gadis itu ke rumah sakit dengan alasan tertabrak mobil.


Hal ini tak berbeda jauh dengan Roy, ia pun tengah membawa wanita yang ia tiduri ke sebuah dukun beranak.


Meski wanita itu memohon agar tidak menggugurkan kandungannya, namun Roy tetap teguh dengan pendiriannya.


Hal itu membuat wanita itu pasrah menerima keputusan Roy.


"Gugurin janin itu nek." ucap Roy pada nenek tua yang berada di sebuah rumah terpencil di desa X.


"Baik, tunggu sebentar cu." ucap nenek itu.


"Usia kandungan mu berapa bulan?" tanya nenek itu


"2 bulan nek." ucap wanita itu


Tak bisa ditahan wanita itu kini tengah keringat dingin. Ia takut jika nenek itu akan mengambil paksa janin itu.


"Arrrggghhh...."


Terdengar lah jeritan melengking dari mulut wanita itu. Ia benar-benar menahan sakit yang luar biasa.


Kini janin yang ada dalam perutnya telah gugur ditarik oleh nenek itu. Bahkan dukun beranak itu memvonis dirinya tidak bisa mengandung lagi.


***


Kini aku tengah memasuki beberapa barang belanjaan ke dalam troli. Aku membeli berbagai makanan instan, minuman kaleng, sayuran, buah-buahan, bahkan bumbu-bumbu dapur yang sudah mulai menipis stoknya.


Setelah di rasa semuanya cukup aku pergi ke kasir untuk membayar semua belanjaanku.


"Totalnya 2 juta 5 ratus ribu, kak." ucap kasir itu


"Ini kak." ucapku dengan menyerahkan kartu ATM pada kasir itu.


Selesai belanja, aku langsung pulang ke rumah tanpa mampir kemana pun.


Mengingat hari mulai sore, aku langsung memarkirkan mobilku di halaman rumah lalu bergegas untuk membersihkan tubuhku yang sudah penuh dengan peluh.


Selesai bersih-bersih aku mulai berkutat di dapur untuk menyiapkan hidangan untuk makan malam nanti.

__ADS_1


__ADS_2