TRAUMA

TRAUMA
Chapter 36 - Tas Branded


__ADS_3

Malam itu ada rasa sesak yang mendalam pada dadanya. Ia tak kuasa untuk menahan tangisnya. Hingga ia pun menyenderkan punggungnya pada dinding rumahnya.


Namun, saat Nara kalut dengan pikirannya tiba-tiba saja ponselnya berdering. Terlihat nama Bu Uti di layar ponsel tersebut.


"Halo Bu.. " sapa Nara.


"Ini Esa udah bangun, belum pada tidur kan?" tanya Bu Uti.


"E-eh belum bu, Nara jemput kesitu ya." ucap Nara.


"Yasudah ibu tunggu ya." ucap Bu Uti dengan lemah lembut.


Nara pun menetralkan mimik wajahnya agar terlihat ceria di depan Mahesa.


Kemudian, ia bergegas menuju rumah Bu Uti. Wanita paruh baya itu sempat menanyakan perihal baju yang ia kenakan. Pasalnya, Nara belum sempat mengganti pakaiannya sedari tadi. Namun, bukan Nara jika tidak pandai menutupi masalahnya.


Setelah berbincang ringan dengan Bu Uti, Nara pun kembali ke rumahnya. Terlihat suaminya tengah mengutak-ngatik ponsel di ruangan tengah itu.


"Abis darimana kamu?" tanya Regan datar


"Jemput Esa." ucap Nara


"Kalo keluar rumah itu bilang dulu sama suami, jangan kayak gadis perawan tiba-tiba ngilang aja." ucap Regan.


'padahal tadi gue udah kesini.' batin Nara


"Denger gak suami bilang apa?" tanya Regan


"Iya mas, maaf." ucap Nara


"Maaf-maaf, gak sopan kelakuan kayak gitu." tukas Regan.


'padahal tadi pagi dia baik-baik aja sama gue.' batin Nara


"pap-" ucapan bocil 2 tahun itu tersentak saat Regan membentaknya.


"Diam kamu!" ucap Regan dengan nada tinggi.


"Mas, kamu kenapa sih?" tanya Nara


"Kenapa? Kamu yang gak sopan sama suami." ucap Regan


"hiksss.. hiksss.. " Mahesa mulai menitikkan air matanya. Ia begitu kaget dengan nada tinggi papanya itu.


"Berisik, bocah ingusan!" sentak Regan, tepat di depan wajah Mahesa. Tentu saja hal itu membuat Mahesa menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


"Aneh kamu mas!" tukas Nara. Kemudian ia pun membawa Mahesa ke kamarnya untuk tidur.


"cup cup.. sayang udah bobo yaa." ucap Nara lemah lembut.


Nara terus saja mengusap kepala anak kecil itu, tentu saja hal itu membuat Mahesa sangat nyaman sehingga ia mudah sekali untuk tertidur.


Nara yang merasa anaknya sudah tidur itu pun, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Selesai membersihkan badan, ia berencana untuk langsung tidur bersama Mahesa. Namun, Regan mencegahnya kemudian membawa Nara ke ruang tengah.


"Lepas mas, sakit!" ucap Nara.


"Duduk!" titah Regan.


"Kamu kenapa si mas? Tiba-tiba marah kayak gini?" tanya Nara yang tidak mengerti dengan tingkah laku Regan.


'Sorry , tapi aku lebih pilih Anna daripada kamu.' batin Regan.


"Mas gasuka kamu tiba-tiba pergi kayak tadi." ucap Regan.


"Iya, aku minta maaf mas." lirih Nara.


"Iya, lain kali jangan di ulangi." ucap Regan.


"Loh emang disana kenapa mas?" tanya Nara.


"Ada masalah sedikit." jawab Regan.


"Oh yaudah. Hati-hati mas." ucap Nara


"Iya, mas pergi." ucap Regan. Kemudian Nara pun menganggukkan kepalanya.


Regan pun dengan segera mungkin menyambar kunci mobil yang ada di atas meja.


Sementara Nara, ia yakin jika Regan tidak pergi ke caffe cabang itu. Melainkan ia akan menemui wanita yang meneleponnya tadi. Terbesit ia ingin mengikuti Regan, namun hari ini sudah malam ia takut jika Mahesa tiba-tiba bangun lalu mencarinya.


Hingga akhirnya, Nara pun menghembuskan nafasnya perlahan. Ia mencoba untuk melangkahkan kakinya ke arah kamar Mahesa.


Disana terlihat wajah teduh Mahesa sedang tertidur dengan pulasnya. Sedangkan Nara, tanpa sadar ia menitikkan air matanya.


Ia tak sanggup mengungkap kebenaran itu. Ia takut jika harus kembali merasakan pedihnya kehilangan. Memang kehilangan adalah sesuatu hal yang pasti, tapi apakah ada yang siap untuk menerima takdir perihal kehilangan?


Bukan hanya air mata tapi mungkin luka yang akan membekas. Luka di atas kenangan indah yang pernah dilalui. Ia ingat betul bagaimana bahagianya lelaki itu saat bersamanya. Ia ingat betul bagaimana ucapan manis yang terlontar dari bibir indahnya. Dan ia masih mengingat bagaimana susahnya untuk mencapai di titik ini.


Setelah semua luka masa lalu yang ia lalui, setelah umpatan kasar setiap waktu yang ia ketahui, dan setelah sembuhnya luka memar dan sayatan itu. Apakah ia akan kembali menerima luka yang tentu saja bisa membuatnya trauma?

__ADS_1


Trauma untuk mencari pengganti, entah itu teman, sahabat, keluarga ataupun pasangan.


Trauma hebat dari sebuah kata pertemanan, dimana ia dibully habis-habisan di tengah lapang.


Trauma mendalam dari tali persahabatan, dimana ia merasakan sesak saat orang yang ia sayangi mengeluarkan kata kasar yang mampu menorehkan bekas luka dalam hatinya.


Trauma terbesar dari satu kata penuh makna yaitu 'keluarga'. Ia masih ingat betul bagaimana seorang ibu menghabisinya di setiap malam, dan ia ingat betul dimana letak luka bekas sayatan itu. Malam-malam yang ia lalui penuh dengan tangisan dan rintihan di rumah mewah itu membuatnya takut, bahkan trauma dengan kata 'keluarga' dan 'rumah'.


Setelah beberapa torehan luka yang ia alami pada masa lalu, akankah ia terluka kembali karena kata pasangan?


Haruskah ia juga trauma dengan seorang lelaki? Bahkan dengan kata cinta?


Memang bukanlah hal mudah untuk mencapai di titik yang ia lalui saat ini. Putus asa dan hampir menyerah pun telah ia lalui.


Tak menyangka jika kebahagiaannya itu hanya sebatas umur jagung.


***


Sementara itu, Regan yang kini tengah mengendarai mobil itu telah sampai di rumah kekasih gelapnya yaitu Anna.


Terlihat wajah sumringah Anna saat melihat lelaki pujaannya itu berada di ambang pintu utama.


"Sayaaangggg.." ucap Anna dengan sangat antusias. Ia pun segera mendekati Regan dan memeluk erat lelaki itu.


"Hmm udah dong, gak disuruh masuk nih?" tanya Regan. Sontak Anna pun langsung menguraikan pelukannya kemudian mengajak Regan untuk masuk ke rumahnya.


"Ada apa hem?" tanya Regan lemah lembut.


"Mau beli tas ini yang." ucap Anna seraya melihatkan tas branded seharga 1 M.


"Iya nanti aku jual caffe cabang buat beliin tas ini yah." ucap Regan.


"Janji yah?" rengek Anna.


"Janji dong sayangg." ucap Regan seraya mengecup puncak kepala Anna.


"Yeayyy makasih suamikuu sayang." ucap Anna dengan riangnya.


"Sama-sama kesayangannya aku." ucap Regan.


Yap, Regan datang ke rumah Anna atas perintah Anna sendiri. Ia ingin Regan membelikan tas branded itu. Bahkan, kini Regan berencana untuk menjual caffe cabangnya itu.


Bisa saja caffe cabangnya itu dijual dengan harga 1,2 M.


Ia pun dengan segera menawarkan caffe cabang itu di sosial media. Tak perlu menunggu lama, banyak orang yang minat untuk membeli caffe itu. Hingga sampailah pada akun sosial media bernama Roy Aileen Adhitama yang memberikan penawaran harga paling tinggi diantara yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2