
Setelah terbebas dari para banci, mereka bertiga begitu kalut dengan pikirannya masing-masing. Ia benar-benar merasa shock atas kejadian tadi sore.
Tak ada seorang pun yang mulai pembicaraan, hingga akhirnya suara ketukan pintu apartemen Fino pun terdengar.
*Tokk
tokk
tokkk*
Sontak mereka bertiga saling menatap dengan tatapan takut. Mereka takut jika yang datang itu para banci yang mereka temui tadi sore. Hingga tidak ada satu pun dari mereka yang mau membuka pintu itu.
Yang awalnya sekedar ketukan, kini menjadi sebuah gedoran keras. Hal itu membuat tiga lelaki itu semakin kaget dengan keringat dingin yang membanjiri tubuh mereka.
brukkkk
Terdengar pintu itu di dobrak, hingga mereka bertiga kini tengah berpelukan layaknya teletubbies.
Wanita paruh baya yang melihat mereka berpelukan pun segera menarik lengan suaminya.
"Pahh, anak kitaa pahh." ucap mama Fino
"Astaga Finooo!" bentak papanya
"Papa?"
"Papa sama ngapain sih ngagetin aja? Fino kira kan banci." ucap Fino
"Apa? Kamu bilang orangtua kamu sendiri banci?" tanya papanya
"Ee bukan gitu pah.." keluh Fino
"Tadi kalian ngapain peluk-pelukan gitu? Ho*o hahh??" tanya papa nya
"Ish bukan gitu om, duh." ucap Robi
"Terus?" tanya mama nya
"Ceritanya panjang tantee." seru Sony
Mereka bertiga pun menceritakan kejadian yang sebenarnya pada kedua orangtua Fino. Sontak hal itu membuat mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
Bahkan mama nya tidak menyangka jika anaknya takut oleh banci. Padahal Fino di kenal sebagai anak pemberani dan garang. Tapi kini? Ia di hadapkan dengan banci saja sampe keringat dingin dan tubuh yang bergetar.
***
Kediaman Nara
Malam itu, aku baru saja menyelesaikan tugasku sebagai Ibu Rumah Tangga. Terlihat wajah lelah Mas Regan saat itu.
Hingga kami memutuskan untuk langsung tidur tanpa adanya obrolan ringan terlebih dahulu.
Namun, pada jam 1 dini hari aku merasa ada yang menggoyang-goyangkan tangan ku. Aku pun perlahan membuka mata ku dan terlihat suamiku menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"Loh sayang kamu kenapa?" tanyaku
"Mau batagor yang." ucapnya
__ADS_1
"Hah?" ucapku, Aku benar-benar kaget dengan permintaan Mas Regan saat itu.
"Ayo anter Mas ke kota X. Disana batagor nya enak banget yang." ucapnya
"Tapi ini jam 1 dini hari Mas, mana ada tukang batagor masih buka jam segini." keluh ku
"Ayolah sayang. plisss.. hiksss." ucap Mas Regan, bahkan ia sampai terisak
"Tapi mana ada yang buka sih, mending bobo lagi yuk." ajakku.
"Gak mau, Mas mau batagor sayang.. Ayoo!! Tukang batagor disana buka sampe jam 4 , hikss.. hiksss.." ucap suamiku dengan terus terisak.
Aku benar-benar tidak menyangka jika lelaki di hadapanku bisa menangis hanya karena ingin memakan batagor.
"Ya udah ayo, aku siap-siap dulu ya." Ucapku
"Beneran??" ucap Mas Regan
"Iya sayang." ucapku
"Yeayyy! Horee makan batagor asiiikkkkkk." ucap Mas Regan girang
Aku benar - benar merasa aneh dengan sikap suamiku malam ini. Ia ingin makan batagor sambil terisak bahkan ia teriak-teriak seperti anak kecil saat aku mengiyakan ajakannya itu.
Tak lama, aku dan Mas Regan tengah berjalan menuju Kota X. Jarak tempuh dari rumah kesana lumayan jauh, hingga lumayan memakan waktu yang banyak.
Di jalan, Mas Regan terlihat bahagia karena akan memakan batagor itu.
Aku melihatnya bingung, namun aku mencoba mengacuhkannya karena mataku benar-benar tidak bersahabat malam ini.
Setelah 25 menit perjalanan, kami pun sampai ke tempat batagor yang di maksud Mas Regan. Disana terlihat ada beberapa lelaki paruh baya yang sedang menikmati batagor dengan secangkir kopi.
"Oh iya ayo." ucapku
"Pak beli batagor nya 5 porsi yaa." ucap Mas Regan
"Mas kok banyak banget?" tanyaku
"Ini enak loh, nanti kamu cobain yah." ucap Ma Regan
"Tapi aku seporsi juga cukup, mas." ucapku
"Ssttt udah diem. Buatin aja pak 7 porsi." ucap Mas Regan
"Mau makan dimana mas?" tanya tukang batagor itu
"Disini aja." tukas suamiku
Aku hanya menghela nafas berat melihat perilaku aneh Mas Regan malam itu.
Setelah pesanan datang, Mas Regan makan dengan lahapnya. Dapat aku akui memang sangat enak batagor itu. Namun melihat kerakusan Mas Regan membuat ku merasa sedikit malu karena di perhatikan bapak-bapak yang sedang menikmati itu.
"Mas kok ganteng-ganteng banyak bener makannya?" tanya bapak-bapak itu
"Neng gak di kasih makan ya suaminya?" tanya bapa berkumis tebal itu
"Duh maaf ya bapak-bapak, mungkin suami saya kangen sama batagor disini." ucapku
__ADS_1
Namun Mas Regan terlihat acuh mendengar perkataan bapak-bapak itu, bahkan ia tidak malunya terus menambah porsi batagor itu hingga titik darah penghabisan dari panci batagor itu.
"Pak nambah satu porsi lagi." begitulah yang ia katakan ketika ingin menambah batagor nya.
"Duh batagor nya sudah habis, mas." ucap bapak itu.
"Mas udah yuk pulang." ajakku
"Kok cepet banget abisnya sih?" ketus Mas Regan
"Lah wong mas yang abisin to." ucap bapak batagor itu
"Sayanggg.." lirih Mas Regan dengan mata berkaca-kaca
"Emm besok kita kesini lagi yaa.." ucapku lemah lembut
"Janji ya?" tanya nya
"Iya janjii." ucapku
"Ini pak." ucap Mas Regan seraya memberi 5 lembar uang seratusan.
"Duh ini kebanyakan mas." ucap bapak itu
"Gak papa buat besok lagi aja, pak." ucapku
"Oh iya neng, makasih yah." ucapnya
"Iya sama-sama, pak." ucapku.
Aku pun bergegas mengajak suamiku untuk pulang ke rumah. Terlihat ia nampak semangat setelah memakan batagor dengan porsi raksasa nya.
"Mas tadi kamu rakus banget sih." ucapku
"Apaan si orang makan seporsi doang." ucap suamiku
"Seporsi darimana orang batagor habis sepanci gitu." tukas ku
"Ah masa? tapi kok mas gak ngerasa kenyang sih?" tanya nya.
"Hah masa iya?" tanya ku
"Iyaa, nanti mas mau beli martabak pisang keju di seberang sana." ucapnya enteng
"Whatt???" pekiku.
Aku benar-benar menuruti semua keinginan suamiku malam itu. Mulai dari makan batagor, membeli martabak, bubur ayam, sate maranggi, cilok, boba, bahkan lebih banyak lagi. Aku heran dengan perilakunya malam ini. Bagaimana tidak? Begitu banyak makanan yang masuk ke perutnya namun tidak ada rasa kenyang yang ia rasakan.
Perjalanan itu selesai tepat jam 5 pagi, aku benar-benar sangat lelah di buatnya. Bahkan rasa mual itu kembali muncul namun aku tahan sebisanya.
Tiba-tiba saja Mas Regan menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Ish mau kemana lagi sih?" tanyaku
"Tuh" tunjuk Mas Regan pada orang yang berjualan serabi
"Astaga Mas.." keluh ku
__ADS_1
Namun Mas Regan begitu mengacuhkan ku, ia membeli begitu banyak serabi dengan berbagai rasa. Bahkan ia sama sekali tidak menawarkan serabi itu padaku. Mas Regan hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk menghabiskan serabi itu.
Aku yang merasa lelah pun mencoba untuk tidur di dalam mobil.