
Lea sedang duduk di sebelah Livy yang masih belum sadar dari pingsan nya. Bukan pingsan, menurut dokter yang menangani Livy, Livy kelelahan hingga pingsan nya itu menjadi tidur.
Hae In pun sudah berada di sana, setelah mendapatkan telepon dari Lea.Hae In dan Lea saaat ini sedang sama sama memandangi Livy.
" Kakek tidak pernah tahu bahwa ibumu itu sakit, ibumu memang sering batuk, tapi dia menutupinya. Akek lalai.."Ujar Hae In.
" Lea lebih lalai, sampai tidak tahu mama sakit. Pelayan mengatakan mama sudah sakit beberapa bulan yang lalu, tapi menutupinya dari Lea." Ujar Lea, yang kemudian menghapus air matanya.
Sangat jarang melihat Lea menangis, dia adalah anak yang tegar dan tidak pernah sedikitpun menunjukan sisi rapuhnya.
" Kakek akan mencarikan dokter terbaik untuk ibumu, nak. Jangan menangis.." Ujar Hae In.
Livy perlahan sadar, Lea langsung menghapus kembali air matanya dan langsung membantu Livy bangun.
" Mama, mama sudah sadar? Mama butuh sesuatu?" Ujar Lea.
" Lea.. Kamu menangis?" Ujar Livy.
Mendengar itu, Lea justru semakin berkaca kaca dan memeluk Livy yang saat ini sedang duduk di hadapan Lea.
" Maafkan Lea, ma.. Lea benar benar gagal menjadi anak mama." Ujar Lea.
" Lea selalu marah - marah dengan mama, bertempramen buruk dan tidak pernah ada waktu untuk mama." Ujar Lea sambil sesenggukan.
Livy ysng mendengar itu jadi ikut menangis, ia mengusap usap kepala Lea dengan sayang.
" Bukan salah Lea, nak.. Mama yang tidak pernah memiliki waktu dengan Lea. Mama selalu sibuk dengan pekerjaan mama. Jangan salahkan dirimu, oke.. mama tidak apa apa." Ujar Livy dengan mulut bergetar.
" Kenapa kamu sembunyikan sakitmu dari kami? Apakah kamu tidak berpikir kami akan sedih ketika mengetahui kamu sakit dengan cara seperti ini?" Ujar Hae In.
" Maaf.." Gumam Livy.
" Ayah akan carikan dokter terbaik, dan donor terbaik untukmu, jika perlu ayah akan mendonorkan sum sum tulang belakang ayah untukmu." Ujar Hae In.
" Jangan! Jangan ayah.. Livy sudah tidak memiliki kesempatan itu lagi. " Ujar Livy.
" Mama mau pasrah dengan keadaan? Mama tidak mau sembuh dan terus berkumpul dengan kami?" Ujar Lea.
" Bukan sayang, mama sudah berusha sejak dulu.. Tapi memang tidak ada yang bisa di lakukan." Ujar Livy.
" Omong kosong, dalam dunia medis, tidak ada yang tidak mungkin. Kamu tenang saja, ayah akan mencarikan donor untukmu. " Ujar Hae In.
" Mama harus tetap hidup.." Ujar Lea.
Ke esokan harinya..
Richard datang ke kediaman Lea seperti biasanya, tapi kali ini Richard melihat wajah Lea yang tidak semangat. Richard langsung memeluk Lea sebelum Lea masuk ke mobil, lalu bertanya..
" Apakah ada sesuatu yang terjadi?" Ujar Richard sambil mengusap usap kepala Lea dengan sayang.
__ADS_1
Lea melingkarkan tangan nya di pinggang Richard, dan mengangguk.
" Mau cerita??" Tanya Richard, tapi Lea hanya diam.
" Ayo, kita masuk ke mobil." Ujar Richard.
Richard membuka pintu mobilnya, lalu ia membantu Lea untuk masuk. Setelah Lea masuk, Richard juga masuk kedalam mobilnya. Richard benar benar melihat Lea bagai raga tanpa nyawa saat ini.
Lea hanya diam, dengan mata yang berkedip menatap ke depan. Richard membantu Lea memasangkan sabuk pengaman dan mengecup bibir Lea dengan singkat.
Lea sampai terkejut, dan tersenyum saat Richard mengecup bibirnya. Lea terkejut itu menandakan Lea memang sedang memiliki beban pikiran.
" Kamu mau cerita? Bagi bebanmu bersamaku, sayang." Ujar Richard.
" Kita akan telat ujian nanti." Ujar Lea.
" Baik, kamu cerita sambil kita jalan ke sekolah, ya?" Ujar Richard sambil tangan nya mengusap pipi Lea dengan sayang.
Richard menyalakan mobilnya, dan melaju pergi dari kediaman Lea. Sepanjang jalan, Richard menggenggam tangan Lea dengan tangan kirinya.
" Sayang, jangan pendam masalahmu sendiri. Berbagilah denganku, ceritakan apapun yang mengganjal di hatimu, aku akan mendengarkan nya." Ujar Richard.
" Mama.. " Gumam Lea.
" Mama? Kenapa dengan mama kamu?" Tanya Richard.
" Mama sakit Leukemia, Chard." Ujar Lea.
" Sudah terlambat.." Ucap Lea dan langsung terisak.
Richard menepikan mobilnya letika melihat Lea yang menangis. Ia langsung memeluk Lea yang terlihat benar benar rapuh.
" Sttt.. sayang, jangan menangis." Ucap Richard.
" Aku merasa aku benar benar anak yang buruk. Dulu aku dingin dan bahkan sering ber argumen dengan mama, aku sering menentang keinginan mama.. sampai sampai mama sakit aku tidak tahu." Ujar Lea, sambil terisak.
" Aku anak yang buruk." Ujar Lea.
Richard mengusap punggung Lea dan berulang kali menggeleng.
" Kamu tidak buruk, Lea.. kamu hanya tidak tahu apa yang terjadi pada mama kamu. Jangan salahkan dirimu." Ujar Richard.
" Mama menyembunyikan sakitnya itu sejak lama, jika saja.. jika saja aku lebih peka dan mengetahui mama sakit, mungkin mama bisa tertolong lebih cepat." Ujar Lea dengan terisak.
" Aku tidak mau kehilangan mama, Chard." Ujar Lea lagi.
Richard memejamkan matanya, ia ikut sedih melihat Lea nya menangis begitu pilu.
Dulu Lea memang sangat acuh dengan sekitar, Lea dingin kepada siapapun bahkan sering menentang ucapan Livy. Lea sampai tidak tahu apa saja yang Livy lalui di luar sana, karena yang Lea tahu mama nya itu sibuk bekerja di butik dan toko kue.
__ADS_1
" Aku tidak mau kehilangan mama." Gumam Lea lagi.
" Sayang, dengar.. Mama kamu akan baik baik saja, kita bisa mencari dokter terbaik di dunia ini. Kakekmu juga orang hebat, dia bahkan bisa mendapatkan donor mata untukku, dia pasti bisa mendapatkan dokter untuk mama kamu." Ujar Richard.
" Tenangkan dirimu, oke.. Jika kamu terpuruk begini, mama kamu juga akan sedih nanti." Ujar Richard.
" Sudah, ya.. Jangan menangis lagi, mata kamu sembab jadinya." Ujar Richard.
" Apakah mama bisa sembuh??" Ujar Lea dengan suara bindeng nya.
" Bisa, sayang.. yang harus kamu lakukan adalah ada di sisi mama kamu, dan mendukungnya. Beri mama kamu kekuatan untuk sembuh dan bangkit, aku yakin kamu adalah kekuatan terbesar mama kamu." Ujar Richard.
Perlahan Lea mengangguk dan mencoba mengendalikan dirinya. Menyesal, mungkin itu yang Lea rasakan saat ini. Tidak terhitung berapa banyak dia sering menentang perkataan sang mama, dan mungkin tanpa sengaja menyakiti hatinya.
Lea sangat - sangat merasa bersalah pada Livy. Lea takut jika Tuhan mengambil Livy sebelum sempat dirinya menghabiskan banyak waktu dengan Livy.
" Kamu sudah baik - baik saja?? Kamu minum dulu." Ujar Richard sembari menyodorkan sebotol air mineral pada Lea.
" Kita jalan, ya?" Tanya Richard, dan Lea mengangguk.
" Jangan menangis lagi, sayang.." Ujar Richard, dan mengecup kening Lea.
Lea sedikit tersenyum untuk menunjukan bahwa dirinya sungguh sudah merasa lebih baik. Richard pun akhirnya melajukan mobilnya dan pergi menuju sekolah.
Di tempat lain..
Anton yang sudah lama tak terdengar kabarnya kini tampak sedang fokus dengan file file di meja rapat. Hari ini seharusnya di adakan nya rapat untuk proyek yang bekerja sama dengan perusahaan Livy.
Tapi selain itu, Anton juga lebih antusias lagi karena ia akan bertemu kembali dengan livy.
" Selamat pagi tuan tuan yang terhormat, maaf saya terlambat." Ujar Erwin.
Wajah Anton yang sebelumnya antusias langsung memudar ketika yang datang adalah Erwin.
" Direktur Erwin, kenapa anda yang datang? Dimana nyonya Livy?" Ujar Dean.
" Mohon maaf atas ke tidak hadiran CEO Lim Vyona, beliau sedang berhalangan hadir. Jadi saya yang menggantikan beliau." Ujar Erwin, semua orang pun mengangguk.
Anton berpikir, apakah karena ada dirinya jadi Livy tidak datang? Tapi kemudian ia ingat, Livy sangat profesional, tidak mungkin demikian.
" Saya dengar beliau sakit, apakah benar tuan Erwin?" Tanya salah satu pria di sana.
" Ah, iya. " Ujar Erwin.
" Semoga beliau lekas sembuh." Ujar pria tadi.
DEG!
' Livy sakit? ' Batin Anton.
__ADS_1
TO BE CONTINUED.