TRAUMA

TRAUMA
Chapter 54 - Kabur


__ADS_3

"Mau pergi kemana kalian?" ucap salah satu lelaki yang tubuhnya paling kekar.


Degg


"Kalian pikir kita semua bodoh apa? hah?"


"T*l*l dasar bocil tengik,"


"Ringkus mereka."


"Son lo.."


"Gue paham," tukas Sony


Kemudian ketujuh lelaki dengan perawakan kekar itupun langsung membuat lingkaran agar mereka kedua lelaki itu tidak ada celah untuk kabur. Melihat situasi menegangkan seperti ini membuat Nara sangat panik. Ia ingin membantu, namun apalah daya tubuhnya sangat lemah. Bahkan, untuk membuka mata saja ia sudah tak kuasa.


Sedangkan kedua lelaki itu dengan gesitnya melakukan kuda-kuda. Mereka berdua siap menerima konsekuensi atas apapun yang terjadi pada malam ini.


**bughhh


bughhh


bughhh**


Suara tangan yang beradu dengan perut, wajah, bahkan anggota tubuh lainnya memenuhi gedung tua itu. Robi dan Sony bukanlah lelaki yang lemah. Mereka di didik oleh kakek mereka agar pandai serta menguasai ilmu bela diri yang sesungguhnya.


Bahkan, mereka berdua tidak kewalahan sedikit pun. Namun, siapa sangka jika ada yang bermain curang di antara mereka. Si botak yang akrab dengan sebutan Badrun itu pun menancapkan belati pada Robi tepat di bagian dada kirinya.


Robi yang tengah menghela nafas pun matanya membelalak menahan rasa kaget sekaligus perih dan sakit pada dadanya. Namun, karena ia tak ingin melihat Sony panik ia berusaha baik-baik saja. Keenam lelaki tumbang, kecuali si Badrun yang tengah berlari keluar entah kemana perginya.


"Rob lo gapapa?" tanya Sony


"Aman, bro! Mending lo bawa Nara daripada nanti antek-antek yang lainnya dateng." titah Robi seraya menahan rasa sakitnya.


"Oke lo disini ya tungguin!" ucap Sony


Tanpa pikir panjang ia pun menaiki satu per satu tangga itu kembali. Ia melihat wajah lesu Nara. Sesegera mungkin ia melepaskan tali yang mengikat di setiap tangan dan kakinya.


Namun pada saat Sony hendak memapahnya untuk berjalan, gadis itu tiba-tiba saja terkulai lemas dan menutup matanya.


"Ra bangun ra.." ucap Sony.


"Ra.. ayo kita pergi dari sini." tukas Sony.


"Aelah.."


Kemudian ia pun membopong tubuh Nara yang penuh dengan goresan luka dan darah. Robi yang sudah kehilangan banyak darah itupun nampak pucat tak bertenaga.


"Rob ayoo.." ajak Sony


"Eh muka lo-"


"Gue gapapa, emang biasanya juga gini kalo abis berantem." sela Robi.


Kemudian Sony pun hanya ber-oh ria saat mendengar penjelasan dari sahabatnya.


***


Sementara si Badrun, ia kini telah berlari tergopoh-gopoh menuju halaman rumah keluarga Adhitama. Ia memiliki perasaan gelisah ketika berencana untuk memberitahu kejadian pada malam ini.


Namun, ia tetap memasuki rumah itu meskipun di selimuti rasa takut.


"Spadaaaa.."


"Nyaaa.. Nyonyaaa..."


"Permisiiii.."


"Spada lagi deh." gumamnya.

__ADS_1


"Spa-


"Ada apa sih malem-malem ganggu orang istirahat aja." tutur Desi panjang lebar


"Nya gawat nyaa.." ucap Badrun


"Apanya yang gawat?" tukas Desi


"I-itu cewek.."


"Cewek cewek apaan sih?" ketus Desi


"Aduuh.. Anu nyaaa-"


"Kalo kamu masih gak jelas, pergiii.." teriak Desi,


"Tunggu Nya,. " ucap Badrun saat melihat Desi hendak menutup pintu rumahnya.


"Si Nara kabur." ucapnya cepat


"APAAA?!!!" kaget Desi


"Kenapa bisa? Bodoh kalian! Jaga satu orang aja gak becus!" omel Desi pada orang suruhannya.


"Itu nya di-" lagi-lagi ucapannya terpotong


"Royyy Reyhaaaannn.." teriak Desi


"Cepat turunnnnnn!"


Tapp Tappp Tappo


Mereka berdua pun turun beriringan dari tangga..


"Ada apa ma?" tanya Roy to the point


"Kita harus ke gedung tua, bocah sialan itu kabur!" tukas Desi


"Cepet!" ketus Desi


Mereka pun melajukan mobilnya menuju ke gedung tua. Dengan kecepatan diatas rata-rata Reyhan menyetir kendaraannya.


Di dalam mobil itu nampak Desi tengah gelisah, ia tak mau kehilangan Nara yang kedua kali. Pasalnya ia sangat menginginkan tubuh mulus Nara di cincang halus. Ia benar-benar tak sudi jika ada wanita itu.


Tak perlu menunggu waktu yang lama, mereka pun kini sampai di halaman gedung tua itu.


"Nah itu mereka mah.." tunjuk Rey pada ketiga manusia itu. Tepatnya Sony, Robi, dan Nara.


"Eh tapi itu yang satunya lagi kok kayak sakit yaa.." ucap Roy


"Anu bos tadi saya tusuk pake belati bagian jantungnya." ucap Badrun.


"Kerja bagus Badrun!" tukas Desi.


"Ayo kita keluar." ucap Desi kemudian.


Mereka semua pun keluar dari mobil.


***


"WOY!!" teriak Roy


"Anjir ini gimana Rob?" tanya Sony


"Lo bawa Nara pergi, biar gue yang urus!" ucap Robi


"Heh yakin lo?" tanya Sony


"Gue masih kuat bege! Dah pergi lo sono!" usir Robi

__ADS_1


"Rob lu bae bae yaa, khawatir gue sama lo." ucap Sony


"Nara lebih penting lo kagak liat kondisinya?" tanya Robi


"Yaudah, lo hati-hati. Nanti gue balik lagi kesini lo harus masih sehat tanpa berkurang apapun. ngerti?" tanya Sony


"Bawel banget lo kek mulut emak emak." ucap Robi


"Gue pergi dulu.. good bye." ucap Sony


"Bye maksud gue." ulang Sony, saat ia salah mengatakan sesuatu.


"Tunggu jangan bawa gadis sialan itu pergi!" ucap Desi, saat ia melihat Nara tengah dibawa lari oleh lelaki tampan itu.


"Heh lo ngapain selametin dia? hah?" tanya Roy


"Sorry bang, dia sahabat gue." ucap Robi


"Kurang ajar ya lo!" tukas Rey


**bughhh


bughhh


bughhh**


Ronde pertama ia masih kuat, namun saat darah yang keluar semakin banyak ia pun mulai merasakan lemas. Pandangannya mulai buram, dann bruukkk tepat di hadapan mereka ia pingsan.


***


"Duh perasaan gue kok gak enak ya.." lirih Sony


"Tapi.. Ah udalah daripada gue mikirin yang kek gini, gue harus bawa Nara ke om Dodi." monolog Sony


Kemudian ia pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit terkenal, tepat dokter sekaligus pemilik dari rumah sakit itu adalah om nya sendiri, yaitu om Dodi.


20 menit perjalanan


Ia masih saja ingat kepada sahabatnya. Namun, ia juga tetap mengutamakan keselamatan Nara. Kecepatannya pun tak main-main.


Hingga setelah sampai di rumah sakit, ia meminta para perawat untuk segera membawa Nara.


"Sony dia siapa?" tanya Dodi


"Diaa, Nara om.." lirih Sony


"Nara yang waktu itu kamu ceritain?" tanya Dodi


"Iya om, tolong selametin Nara ommm.." mohon Sony


"Kamu tenang, om akan masuk dulu." ucap Dodi yang dibalas anggukan kepala oleh Sony.


Beberapa menit lamanya, ia masih saja mondar mandir seperti setrikaan. Ia sangat khawatir dengan keadaan wanita cantik itu.


Hingga pada akhirnya, Dodi pun keluar dari ruangan itu.


"Om.. gimana?" tanya Sony dengan raut paniknya


"Lukanya parah, Son.. tapi untungnya tim medis udah bersihin semua lukanya. Kamu sabar ya mungkin besok dia akan sadar." ucap Dodi


"Makasih, om.. kalo gitu Sony titip Nara ya, ada temen Sony yang sedang dalam bahaya." ucap Sony


"Maksud kamu?" tanya Dodi.


"Titip Nara om.." ucap Sony sedikit berteriak kemudian ia pun melajukan mobilnya ke pekarangan gedung tua.


Ada rasa was-was dalam hatinya, mengingat muka sahabatnya tadi cukup pucat dan seperti sedang menahan kesakitan.


Betapa terkejutnya ia ketika melihat tubuh Sony tergeletak dengan darah yang mengitarinya.

__ADS_1


"Robiiiiii.." teriak Sony


__ADS_2