
Malam itu, aku dan suamiku baru saja pulang dari outlet jualan.
Yang awalnya tempat itu berasal dari gerobak, namun dengan kegigihan kami tempat itu berubah menjadi sebuah caffe sederhana.
R & N Caffe, begitulah kami memberikan nama cafe itu. Regan & Nara.
Hari demi hari pelanggan cafe semakin banyak. Sehingga banyak para kontent kreator merekomendasikan cafe kami untuk menjadi tempat kunjungan.
Saat itu aku bahagia, karena punya usaha yang lumayan rame.
"Alhamdulillah ya, mas." ucapku
"Iya sayang, mas bahagiaaa banget." ucap suamiku
"Iya aku juga bahagia." ucapku
"Ini semua berkat kamu, sayang. Kamu hebat banget personal branding nya." ucap suamiku seraya mengecup keningku.
"Ah mas bisa aja." ucap ku.
Aku pun kembali memutar memori masa lalu, dimana aku disiksa dan di cemooh. Kini, rasa sakit itu hilang! Aku bahagia dengan diriku yang sekarang.
Jam 9 malam adalah waktu yang tepat untuk menutup Caffe itu. Meskipun banyak para vlogger menyarankan agar buka sampe jam 10 namun suamiku bersikukuh untuk menutupnya jam 9 .
Ia beralasan ingin menghabiskan waktu bersamaku jika sudah malam.
3 bulan sudah aku menikah dengannya. Dalam waktu yang singkat itu kami punya satu Caffe yang cukup ramai. Hingga nanti jika si kecil tiba kami sudah tidak bingung dengan kebutuhan ekonomi.
Malam itu, aku bersama suamiku sedang berada di kamar. Kami telah menyelesaikan ritual mandi dan bersih-bersih.
Hingga suamiku memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Sayang.." ucap Mas Regan
"Iya sayang?" jawabku
"Apa kamu sudah siap menjadi seorang ibu?" tanya nya padaku.
"Bukannya waktu itu kitaa-" ucapanku terpotong
"Kita emang sering lakuin itu, tapi mas pake pengaman sayang."
"Dan untuk seminggu itu. Kamu lagi gak masa subur."
"Selain itu kan mas keluarinnya di luar."
ucap suamiku malam itu
"Ooh gituu." ucapku
"Mas janji akan selalu ada buat kamu, apalagi kalo anak kita lahir nanti." ucap nya penuh keyakinan.
"Mas gimana kalo keluarga mas tau?" tanyaku
"Tentang?" ucap mas Regan
"Pernikahan kita." cicit ku pelan.
"Mas gak akan ninggalin kamu, sayang." ucap suamiku saat itu.
"Sudah siap jadi ibu?" tanyanya kemudian
Mendengar ucapan dari suamiku, aku memberanikan diri untuk menjadi ibu. Meski ada rasa ragu dalam hatiku, aku segera menepisnya sejauh mungkin.
Bukankan anak adalah hal yang paling ditunggu saat sudah menikah?
Mas Regan pun mulai mendekatkan wajahnya padaku. Hingga jarak antara kami berdua kini setipis tisu. Sedikit demi sedikit bibirnya mulai menyentuh bibirku.
__ADS_1
Ciuman biasa itu, kini berubah menjadi gesekan. Lalu menjadi ******* lembut, namun sepertinya suamiku tidak bisa menahan nafsunya lebih lama lagi hingga ******* itu berubah menjadi ******* penuh nafsu.
Terdengar nafas memburu dari suamiku, membuatku semakin bergidik geli.
Hingga kini tangan kekarnya bergerilya ke tengkuk leherku, kemudian semakin turun ke bawah menuju dadaku.
Malam itu aku serasa dibawa melayang jauh oleh suamiku.
***
Pranggg
Tiba-tiba saja sebuah foto di rumah Nesha terjatuh dengan sendirinya.
"Hah.." ucap Nesha
"Bikin kaget aja si."
"Tapi perasaan gue kok gak enak ya"
"Ah udah lah, lanjut aja. "
ucap Nesha bermonolog sendiri
*ting nong
ting nong*
Terdengar bunyi bel di tekan beberapa kali. Membuat Nesha merasa geram dengan orang yang ada diluar itu.
"Duh ada ap-" ucapannya terpotong saat melihat petugas kepolisian datang ke rumahnya.
"Maaf cari siapa ya pak?" tanya Nesha
"Apa ini benar kediaman Maria??" tanya polisi itu
"Iya benar." jawab Nesha
"Apa??" ucap Nesha kaget
Nesha pun kini berjalan dengan gontai menuju mobil polisi itu. Ia tak bisa menahan isak tangisnya malam itu.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di sebuah rumah sakit xxx.
Nesha ingin segera turun, namun ditahan oleh polisi itu.
"Tenanglah, nona." ucap polisi itu
"Bagaimana saya bisa tenang pak? Disana ada mama saya hikssss.." ucap Nesha terisak
"Saya mengerti, tapi tenanglah!" ucap polisi itu.
Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit itu. Nesha sama sekali tidak ingin bertanya mengenai kecelakaan itu. Ia hanya ingin bertemu mamanya saat ini juga.
ceklek
Tiba-tiba suara pintu ruang ICU itu dibuka dan menampilkan dokter lelaki paruh baya.
"Keluarga pasien?" tanya nya
"Saya, saya anaknya dok!" ucap Nesha
"Mari ikut saya." ucap dokter itu
Nesha pun berjalan mengikuti langkah dokter itu.
"Kasian ya dia." ucap polisi bernama Ginanjar
__ADS_1
"Iya, tapi lebih baik kita menyelidiki kasus ini." ucap polsi bernama Galih.
Sementara di ruang dokter, kini dokter bernama Egi itu tengah menjelaskan tentang kondisi wanita yang berada di ruang ICU itu.
"Jadi gimana keadaan mama saya dok?" tanya Nesha
"Pasien mengalami benturan keras di kepalanya. Darah yang keluar juga cukup banyak. Selain itu kaki pasien terlindas oleh mobil sehingga menyebabkan keretakan tulang pada kedua kakinya."
"Apa yang bisa saya lakukan dok?" ucap Nesha dengan suara bergetar
"Pasien harus segera di operasi dan mencari pendonor darah B+ ." ucap dokter itu
"Lakukan sekarang dok, saya mohon." ucap Nesha
"Maaf tapi alat medis di rumah sakit ini tidak mendukung. Jika anda mau, saya bisa menyuruh salah satu perawat untuk mengantarkan pasien ke kota X." ucap dokter itu
"Hah? mana bisa rumah sakit sebagus ini fasilitasnya sedikit?" tanya Nesha dengan nada yang tinggi
"Iya tapi kenyataannya memang begitu." ucap dokter itu
"Kalo gitu cepat antarkan saya ke kota X itu dok." ucap Nesha.
Dokter itu pun memanggil supir ambulance untuk mengantarkan mama Nesha.
Jarak tempuh dari kota Nesha ke kita X lumayan memakan waktu.
Hal itu membuat Nesha khawatir dengan keadaan mamanya saat ini.
***
Robi yang tengah makan malam dengan keluarganya pun tiba-tiba tersedak.
*uhuk
uhuk
uhuk*
"Nah ini minum." ucap Lily, adiknya
"Kalo makan itu hati-hati, kak Rob." ucapnya kemudian
"Tuh dengerin adiknya." ucap Mamanya.
"Robiii.. Robiii." ucap papanya kemudian
"Hehe.. maaff." ucap Robi cengengesan.
"Mikirin apa si, kak?" tanya Lily
"Ah enggak. Cuma steak nya aja salah jalan masuk." celetuk Robi
"Emang bisa begitu?" tanya Lily
"Bisalah!" ucap Robi
"Hmmm.. aneh!" tukas Lily
Kedua orangtuanya hanya bisa menggelengkan kepala mendengar ucapan tak jelas dari putra sulungnya itu.
Hingga makan malam selesai , Robi memilih untuk bergegas ke kamarnya.
"Hufftt kok gue tiba-tiba inget sama Nesha ya."
"Tapi jam segini sih dia pasti lagi nge drakor sih."
"Ah udahlah mending gue maen game aja."
__ADS_1
Ucap Robi bermonolog sendiri.
Ia pun meraih ponselnya kemudian menghubungi sohibnya, yaitu Fino.