TRAUMA

TRAUMA
EPS. 72. Aku mencintaimu.


__ADS_3

Setelah sekolah berakhir, kini Lea dan Richard sudah berada di motor mereka. Lea masih penasaran dengan cerita tentang Juno yang di maksud oleh Richard.


" Bisakah kamu ceritakan apa maksudmu Juno memiliki trauma dengan masalalunya?" Tanya Lea.


Saat ini Lea sudah duduk di atas motor Richard, sementara Richard berdiri di hadapan Lea.


" Kamu mau aku cerita sekarang?" Tanya Richard, dan Lea mengangguk.


Richard tersenyum melibat Lea yang sangat penasaran dengan kisah Juno itu. Tangan nya terulur untuk mengusap pipi Lea dengan lembut.


" Aku ceritakan di galeri lukis saja." Ujar Richard.


" Oke, ayo." Ujar Lea, dan Richard mengangguk.


Keduanya pun pergi dari sana langsung menuju ke galeri lukis, atau kediaman mendiang kakek Richard yang kini menjadi galeri Lukis dan tempat mereka menghabiskan waktu bersama. Tak lama Richard dan Lea sampai di tempat itu.


'' Jadi, apa yang sebenarnya terjadi sebenarnya? '' Tanya Lea.


Kini keduanya sudah duduk di ayunan, Lea menghadap ke gazebo sementara Richard menghadap ke belakang Lea. Mereka duduk beriringan, namun seakan berhadap hadapan.


'' Aku pernah menceritakan padamu tentang cinta pertama Juno yang meninggal itu, bukan? '' Tanya Richard.


'' Ya aku ingat, apakah itu adalah alasan nya? '' Tanya Lea dan Richard mengangguk.


'' Ya, Juno takut jika Riri ada di dekatnya, Riri akan terluka seperti yang terjadi pada Luna dulu.'' Ujar Richard.


'' Jika menurut cerita yang kamu ceritakan padaku saat itu, bukankah Luna meninggal sebelum Juno menjadi bren*sek? Itu berarti saat iti Juno belum memiliki musuh bukan?'' Tanya Lea.


'' Ya, tapi rasa takut itu mengikuti dirinya hingga kini.'' Ujar Richard.


'' Aku mengerti, sebagai orang yang pernah mengalami trauma aku tahu apa yang kurang lebih Juno raskan.'' Ucap Lea.


'' Pada dasarnya, mereka berdua saling mencintai, bukan? Mereka hanya terhalang oleh kebodohan Juno yang tidak memilki keberanian untuk memperjuangkan cintanya. Bagaimana kalau kita bantu mereka berdua..'' Ujar Lea.


Richard tersenyum kemudian mengusap denan sayang kepala Lea dan berkata..


'' Itu yang aku pikirkan, sayang. Kita bantu dua orang yang kesulitan itu.'' Ucap Richard dengan senyum manisnya.


'' Tapi aku sudah terlanjur mengajari Riri bela diri.'' Ujar Lea.


'' Tidak apa apa, sekalian saja berikan bonus pada Juno, bogeman mentah dari Riri.'' Ujar Richard, dan Lea terbahak mendengarnya.


'' Baiklah, beri aku waktu seminggu untuk membuat Riri lebih kuat sedikit, agar puas memberikan bogeman pada Juno nanti.'' Ujar Lea.


" Pikirkan mereka nanti, lalu bagaimana dengan kita?" Ujar Richard.


" Kita?? " Tanya Lea bingung.


" Ya, setalah kita lulus nanti, kita pasti akan melanjutkan study kita. Dan kita pasti akan terpisah karena mungkin kita beda jurusan." Ujar Richard.


" Selagi satu universitas, maka kita akn sering bertemu bukan?" Ujar Lea.


" Hm.. Lalu, kamu mau masuk Universitas mana?" Tanya Richard.


" Entah, aku yang memiliki predikat sering di keluarkan dari sekolah ini, apa bisa masuk Universitas terbaik?" Ujar Lea sendu.


" Kamu pasti bisa." Ujar Richard, sambil menggenggam tangan Lea.

__ADS_1


" Lalu kamu?" Tanya Lea.


" Menunggumu.." Ujar Richard.


" Apa maksudnya menungguku? Jangan bodoh dengan mengikat sayapmu karena diriku. Raihlah mimpimu, kejar cita cita mu. Buat aku bangga, oke." Ujar Lea dengan tatapan serius.


Richard tersenyum, ia tidak menyangka Lea memikirkan dirinya juga. Akhirnya dia mengangguk.


" Ya, aku akan menunggumu lebih dulu, sayang." Ujar Richard.


" Richard.." Ujar Lea.


" Hm?" Sahut Richard sambil menatap Lea dengan lembut.


" Aku sudah menemui banyak kejadian, penyesalan datang nya di akhir, sebelum itu terjadi.. aku ingin mengatakan satu hal padamu." Ujar Lea.


" Mengatakan apa?" Tanya Richard penasaran.


Lea menatap Richard dan kemudian menarik nafasnya. Karena entah mengapa, saat ini jantungnya benar benar berdebar dengan kencang.


" Aku.. aku mencintaimu." Ujar Lea dengan mata yang menatap Richard.


Richard seperti kehilangan nyawanya, ia masih terpaku dengan apa yang ia dengar barusan.


" Kamu bilang apa barusan?" Tanya Richard.


" Ish! Aku sudah mengumpulkan keberanianku untuk mengucapkannya tapi kau malah tidak mendengarnya. Sudahlah, tidak jadi." Ujar Lea menjadi kesal.


Lea hendak bangun dari ayunan itu tapi kemudian Richard menahan nya, dan karena hal itu, Richard lah yang malah ter jengkang ke belakang dan jatuh dari ayunan.


" Aw, ssshhh.. dimana aku? Siapa kamu?" Tanya Richard menatap Lea.


Lea langsung pias, ia memeriksa kepala Richard tapi tidak mengeluarkan darah.


" Jangan membodohiku, mana ada orang amnesia karena jatuh di rumput." Ujar Lea, Richard pun terkekeh.


" Lepas, aku mau pergi saja." Ujar Lea kesal.


Richard menarik tangan Lea hingga Lea jatuh di atas tubuh Richard. Dan wajah mereka saat ini berhadap hadapan.


" Jangan pergi.." Ujar Richard.


" Aku malas, aku mau pulang." Ujar Lea.


" Aku juga mencintaimu, Lea.. sangat. Aku senang mendengarnya, akhirnya kamu mengucapkan itu juga " Ujar Richard.


" Jadi kamu mebdengarnya?" Tanya Lea, dan Richard mengangguh sambil tersenyum.


" Beraninya pura pura tidak dengar." Ujar Lea memukuli dada Richard.


" Aduh, sayang.. jika kamu memukuli aku begitu, aku benar benar bisa mati nanti." Ujar Richard.


" Rasakan!" Ujar Lea, dan Richard terkekeh.


Richard mencekal tangan Lea dan kemudian menggulingkan tubuhnya, saat ini Lea yang berada di bawah kungkungan tubuh Richard.


" Rasakan juga ini.." Ujar Richard, dan mulai menggelitiki Lea.

__ADS_1


Lea terbahak karena Richard menggelitiki perutnya. Hal itu sering mereka lakukan saat mereka kecil dulu. Lea sendiri jadi teringat dengan kenangan masa kecilnya, dia selalu bisa tertawa dengan lepas saat bersama Richard.


" Hahaha, Richard hentikan hahaha." Tawa Lea pecah.


Richard menghentikan aksinya, dan Lea tampak ter engah engah karena tawa nya tadi. Perlahan Richard membenarkan rambut Lea yang berantakan dan..


Cup!


Richard menyatukan bibirnya dengan bibir Lea. Meski mereka sama sama belum mahir berciuman, tapi insting mereka yang menuntun mereka.


Setelah ciuman itu terlepas, Richard mencium kening Lea lalu turun ke kedua mata Lea dan hidung Lea, dan teralhir kembali mengecup singkat bibir Lea.


" I love you so bad, Lea.. " Gumam Richard.


" Katakan padaku? Apakah kamu sudah sering berciuman sebelumnya?" Tanya Lea.


" Aku hanya pernah mencium satu gadis selama aku hidup, kamu seorang." Ujar Richard.


" Jadi kamu memberikan ciuman pertammu padaku?" Ujar Lea, dan Richard mengangguk.


" Aku beri tahu kamu sesuatu.. sebenarnya kita pernah berciuman dulu." Ujar Lea.


" Dulu?? Aku bahkan baru menciummu kemarin." Ujar Richard.


" Sebenarnya, saat kamu buta kita tidak sengaja berciuman. Umm.. Itu lebih tepatnya aku yang mencium pipimu." Ujar Lea. Richard tersenyum mendengarnya.


" Ohh.. Jadi rupanya kamu sudah mencuri ciuman dariku.." Ujar Richard meledek.


" Mana ada mencuri, itu tidak sengaja." Ujar Lea.


" Iya.. iya.. tidak sengaja." Ujar Richard.


" Aku serius, kamu tidak percaya? " Ujar Lea.


Richard terbahak, dan Lea semakin manyun. Melihat hal itu, Richard menghentikan tawanya dan membawa Lea ke pelukan nya.


" Aku percaya sayang, kamu bahkan masih sangat benci laki laki saat itu." Ucap Richard.


Kini posisi Richard telentang dengan Lea yang berada di lengan nya. Mereka bagai tiduran di atas bunga, karena banyak bunga bunga berguguran di sana uang memenuhi taman itu.


Lea yang merasa nyaman di pelukan Richard justru mengusel seperti anak kucing, kemudian memejamkan matanya. Melihat itu, Richard pun tersenyum dan mengusap kepala Lea dengan sayang dan ikut terpejam.


 


Seminggu kemudian..


Akhirnya ujian sekolah yang di tunggu tunggu pun tiba, semua siswa dan siswi yang mengikuti ujian itu kini sedang tegang dan ketar ketir.


Tentu saja mereka ketar ketir, jika mereka lulus dengan nilai jelek maka mereka akan sulit masuk universitas yang bagus.


" Semangat, sayang." Ucap Richard pada Lea.


" Kamu juga.." Ucap Lea.


Semua pun mengikuti ujian dengan tertib.


...TO BE CONTINUED.....

__ADS_1


__ADS_2