
“Zhi, apa yang sebenarnya kamu inginkan?” tanya Calvin. Pandangannya masih terfokus pada jalanan panjang di depannya.
“Maksud kamu?” Zhi mengernyitkan dahinya tak mengerti ke mana arah pertanyaan Calvin.
"Aku mulai berpikir, kamu bukan manusia sepertiku, bagaimana bisa? Itu masih sulit dipercaya, otakku kadang bisa menerima, tapi kalau dipikir-pikir lagi, seperti mustahil,” tutur Calvin seraya mengernyitkan dahinya.
"Itu memang benar adanya, Calvin,” jawab Zhi, “Sekarang, jangan pikirkan apa pun, yang terpenting, aku sekarang sudah berwujud manusia, anggap saja aku wanita normal pada umunya.”
“Mana bisa, Zhi. Dari awal kemunculan kamu, itu sudah terekam jelas di kepalaku kalau kamu bukan manusia,” bantah Calvin seraya melirik ke arah Zhi. Perempuan di sampingnya pun hanya mampu mengembuskan napasnya sambil mengedikkan bahunya, dia kesal karena Calvin terus-terusan membela diri.
Mobil yang dikendarai Calvin semakin cepat membelah jalanan kota walaupun jalan yang mereka lalui sedikit padat. Asap kendaraan mengepul mencemari udara, suara klakson saling bersahutan terdengar nyaring di telinga.
Zhi yang belum terbiasa hidup di bumi pun mengomel tiada henti karena sangat mengganggu indra pendengarannya. Andai saja Zhi bisa bebas menggunakan kekuatannya, dia pasti akan menerbangkan mobil Calvin agar cepat sampai rumah dan tidak merasakan drama kemacetan. Namun, hal itu akan membuat kehebohan di sekitarnya dan bisa membuat posisi dirinya tak aman. Dia pasti akan tercium keberadaannya oleh sang penguasaha negerinya, Luchania.
Calvin membuka pagar otomatis menggunakan remote yang selalu berada di mobilnya. Bangunan itu cukup besar untuk dia tinggali seorang diri. Rumah, di mana Calvin hidup tenang, sendiri tanpa tekanan orang tuanya, yang selalu menyuruh untuk menikah dan selalu mengaturnya. Dia memilih untuk membeli rumah itu dengan hasil jerih payahnya sendiri, tanpa campur tangan kedua orang tuanya, yang notabenenya memiliki kekayaan melimpah.
Namun, seminggu sekali saat hari minggu, sudah dipastikan orang tua Calvin akan datang menjenguk putra kesayangan satu-satunya tersebut. Itu karena Calvin yang tidak pernah sekali pun mendatangi orang tuanya.
Calvin memarkirkan mobilnya tepat di halamannya yang luas. Tak sengaja, matanya terpusat pada mobil berwarna hitam yang juga terparkir di sudut halaman. Dia pun membelalakkan matanya. Jantungnya serasa berdengup kencang, bagai seekor kucing yang ketakutan melihat seekor anjing.
__ADS_1
“Calvin, orang tua kamu ada di dalam?” tanya Zhi saat dia kebingungan melibat ekspresi Calvin, dia lantas memusatkan pikirannya sebentar untuk mengetahui apa yang terjadi.
“Sial! Aku lupa kalau sekarang hari minggu, bagaimana ini, Zhi. Jangan sampai mereka melihatmu, bisa-bisa nanti mereka ngamuk karena aku membawa perempuan lain, padahal mereka sangat berharap pada Gracella!” tutur Calvin, wajah lelaki tegas itu pun kini terlihat menciut, nyalinya seakan mengeriput membayangkan mamanya yang super cerewet dan papanya yang selalu menginterogasi soal kerjanya.
“Apa aku harus menghilang? Tapi, tunggu! harusnya kamu memberi tahu ke mereka kelakuan wanita tua itu," tukas Zhi memberi ide Calvin untuk menceritakan Gracella terhadap orang tuanya.
“Ah, biarkan aku berpikir sebentar.” Calvin tampak gelisah dan memijit pelipisnya yang tidak pusing. Zhi pun yang tak tau harus apa, dia memilih untuk diam dengan bosan. Lapar yang ia rasakan sejak tadi pun mulai menghilang akibat banyak menelan ocehan Calvin.
“Zhi, sebaiknya kita turun, tapi, bisakah kau mengganti pakaianmu? Jangan seperti ini. Kamu akan dipandang sinis oleh mama nanti, seperti wanita yang tak tahu busana.”
“Baiklah, apa yang harus kupakai?” Calvin dengan cepat mengambil baju yang tadi baru saja mereka beli di mal, dia memilih dress warna navy untuk dipakai Zhi. Paper bag tak bersalah pun dia lempar ke jok belakang karena terlalu gugup.
“Kamu pakai ini!” Calvin memberikan dress itu pada Zhi. “Tunggu! Aku harus keluar dulu. Tenang saja, aku tidak akan melihatnya dari luar. Mataku tak seliar itu.” Calvin terus berkata-kata sejak tadi, bahkan Zhi mulai bosan mendengar suara lelaki itu.
“Zhi, sudahlah. Jangan ajak debat! Sekarang sedang gawat, seriuslah sedikit. Bisa cepat ganti pakaianmu?” Calvin membuka pintu mobilnya hendak keluar, membiarkan Zhi mengganti pakaiannya di dalam mobil. Akan tetapi, Zhi langsung menarik tangan Calvin agar tetap berada di sampingnya.
“Tetaplah di sini, jangan keluar dulu sebelum aku selesai mengganti pakaian. Aku perlu penilaianmu, Calvin.”
“Hei! Kau sudah gila, Zhi! Mana mungkin aku melihatmu berganti pakaian? Aku tidak mau terjadi hal-hal yang aneh nantinya. Kita sudah tidak ada waktu! Jadi, jangan memancingku!”
"Pikiranmu sunggih kotor, Calvin. Aku tidak menyangka." Zhi lagi-lagi menggelengkan kepalanya seperti meremehkan Calvin. Lelaki itu pun menatap Zhi dengan tatapan yang sedikit tajam, tetapi sedikit pun Zhi tak takut dengan tatapan itu.
__ADS_1
Zhivanna pun mulai memperhatikan bentuk baju itu dan menempelkannya pada tubuhnya yang bersender di jok mobil. Seketika pakaian Zhi berubah menjadi navy, dia berhasil mengganti pakaiannya dalam sedetik. Kemudian dilihat oleh Calvin, tetapi hal itu sama sekali tak memperlihatkan tubuh polos Zhi. Kemeja putih yang tadi dikenakan, tiba-tiba sudah berada di pangkuan Calvin.
Lelaki itu sontak terkejut dan membelalakkan matanya. Rasa tak percaya dan keheranan menjadi satu. Juga, dia sedikit mempunyai rasa takut yang dia tahan. Jantung Calvin mulai tak sehat sejak tadi pagi saat kemunculan Zhi di hidupnya.
“Apa kamu melihat tubuhku? Tidak, kan?” tanya Zhi dengan mengulas senyumnya, dia menaik turunkan alisnya karena lagi-lagi dia berhasil menggoda Calvin.
“Lain kali, hal seperti ini jangan ditunjukkan di depanku, Zhi. Itu akan membuat jantungan orang.” Calvin mengembuskan napas kasar.
“Calvin, bagaimana penampilanku, apa aku cantik?”
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like sama komennya ya guys, please. Biar aku semangat. Kasih hadiah sama vote juga mau kok.🤭😍♥️terima kasih.
__ADS_1