
Sementara itu, di apartemen Gracella. Dia membanting kasar pintu kulkas setelah mengambil satu botol minuman. Dia berdiri tepat di depan meja bar yang ada di dapur bersihnya, lalu menuangkan air ke dalam gelas kaca tersebut.
Gracella mengumpat tak karuan tiada habisnya, saat dia mengingat perlakuan Zhi beberapa jam yang lalu di kantor Calvin. Dia merasa gagal karena rencananya sudah tercium oleh Zhi, Calvin juga sedikit pun tak percaya bahwa dia hamil .
"Lihat saja, aku akan balas hinaanmu, perempuan jallang!" Gracella meneguk kasar cairan bening yang berada dalam gelas.
Sesaat kemudian, dia berusaha menghubungi seorang lelaki. Gracella mengambil ponselnya yang tergeletak di meja makan. Dia membuka aplikasi berwarna hijau dengan logo telepon lalu menekan nama ‘Sugar Daddy’.
“Sial! Kenapa nggak diangkat sih!” umpat Gracella.
Beberapa kali Gracella meneleponnya, tetap saja tak ada jawaban. Lelaki itu tidak mengangkat telepon darinya. Dia lalu berinisiatif mengirim pesan untuk menyuruhnya datang ke apartemen.
'Sayang, datanglah kemari, aku ingin bicara penting.'
Tak lama menunggu, pesan itu ternyata langsung di balas oleh si lelaki. Dia menyanggupi Gracella.
'Sedang meeting, nanti aku ke sana'.
Gracella asyik memainkan ponselnya sambil menunggu kedatangan kekasihnya itu. Dia merebahkan tubuhnya di ruang tamu. Melihat-lihat apkikasi belanja online yang sudah menjadi hobinya untuk memesan barang sepuasnya, tanpa memikirkan pengeluaran, karena hidupnya sudah dijamin oleh kekasihnya.
Kurang lebih satu jam Gracella menunggu, Jordan akhirnya menekan bel dari luar pintu apartemen Gracella. Wanita itu pun grgas berdiri dan segera membukakan pintu untuknya.
Lelaki dengan setelan jas hitam itu masuk dan langsung menyambar pinggang Gracella untuk jatuh kepelukannya.
“Hai, Beib!” sapa Gracella dengan semringah.
“Sudah lama menunggu? Maaf aku terlambat, Sayang.” Jordan mendaratkan kecupan di seluruh wajah Gracella.
“It’s okey. Baby!” Gracella membantu melepaskan jas Jordan dan menggantungnya di tempat yang semestinya.
“Ada apa menyuruhku datang kemari? Apa kau merindukanku? Atau ada sesuatu yang sangat penting?” tanya Jordan.
Dia melingkarkan tangannya ke pinggang Gracella dan menuntunnya untuk duduk di sofa. Saat ini, Gracella berada di pangkuan Jordan. Wanita itu asyik melepas dasi serta kancing kemeja yang melekat di tubuh Jordan.
__ADS_1
“Rencana kita gagal, Sayang!” Gracella mendengus kesal.
“Bagaimana bisa?” Jordan memicingkan matanya dengan dahi berkerut, serta alis yang mulai menyatu.
"Ada seorang wanita yang selalu berada di sisi Calvin. Entah siapa dia dan dari mana datangnya, yang jelas, dia berbahaya," tutur Gracella. "Beib, kamu mau minum apa? Biar aku buatkan."
"Aku akan menginap malam ini, sudah dua hari aku tidak bersamamu, aku sangat merindukanmu." Jordan mengedipkan matanya seolah menggoda. Dia semakin erat mendekap Gracella.
"Ah, kamu nakal, Baby!" Gracella tersenyum genit. "Tentu saja boleh, aku sangat senang. Lalu, bagaimana dengan istrimu?" Gracella mencubit kecil lengan Jordan.
"Jangan pikirkan dia, aku sudah mencari alasan kenapa tidak pulang," ungkap Jordan sambil mencolek hidung Gracella.
"Soal Calvin ... sebaiknya kita atur ulang rencana, selidiki wanita itu terlebih dahulu, dan setelahnya kita akan bebas menjalankan misi."
Mereka pun menikmati malamnya di apartemen Gracella, apartemen pemberian Jordan. Lelaki yang sudah berumur kurang lebih 40 tahun itu adalah seorang musuh bebuyutan papanya Calvin. Dia berniat membalaskan dendamnya melalu Gracella. Jordan ingin, Gracella menikah dengan Calvin agar dia bisa lebih leluarsa memata-matai keluarga Calvin dan merebut semua aset yang dimiliki.
Semua berawal sejak Jordan menjadi pesaing bisnis Armand. Saat itu, Jordan yang baru merintis usahanya mengalami kerugian, yang membuat dirinya bangkrut dan jatuh miskin. Dia bisa bangkit lagi karena usahanya yang gigih.
Namun, tak hanya sampai di situ, dia selalu berusaha menghancurkan perusahaan besar milik Armand dengan berbagai cara, tetapi semua itu sangat sulit karena papanya Calvin memiliki pengamanan ekstra di perusahaannya. Sehingga mempersulit kelicikan Jordan yang berniat menyelundupkan seseorang di dalamnya.
Akan tetapi, semua gagal, saat Gracella dimata-matai oleh anak buah Calvin. Hingga Calvin memutuskan untuk menyudahi hubungannya dengan Gracella.
Sinar mentari pagi mulai menghangati kota. Jordan dan Gracella masih berada di balik selimut, enggan untuk beranjak. Hari ini, Jordan memilih untuk tidak datang ke perusahaannya karena ingin menikmati harinya bersama Gracella, wanita simpanannya.
"Bagaimana kita akan memulai rencana kita semalam?" tanya Gracella yang masih nyaman di pelukan Jordan.
"Nanti jam makan siang, kita seseorang akan memantau Calvin," jawabnya sambil terus mengusap lembut pucuk kepala Gracella. Kita juga akan ke sana untuk memastikan.
_____
Siang hari, di depan perusahaan tempat Calvin bekerja, seperti biasa. Zhi ikut bersamanya, karena dia kesepian berada di rumah seorang diri. Suasana hiruk pikuk jalan raya begitu ramai, Calvin berniat mengajak Zhi makan siang di sebuah mall yang terletak tepat di depan perusahaan. Calvin menggandeng tangan Zhi saat mereka hendak menyeberang jalan.
Dari kejauhan, ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Calvin memundurkan langkahnya dan menarik Zhi. Namun naas, Calvin malah tersandung trotoar hingga dia terjatuh ke jalan.
__ADS_1
Mobil itu nyaris menabrak Calvin. Namun, dengan gerakan cepat, Zhi berhasil menghentikan mobil itu, dia menarik Calvin menggunakan kekuatannya. Banyak mata yang menyaksikan kejadian tersebut, termasuk Gracella dan Jordan. Mereka memantau dari kejauhan.
Keduanya tak habis pikir begitu melihat kejadian tersebut, mereka membuka mulutnya dengan mata yang melotot tak berkedip.
"Sungguh aneh, bagaimana bisa semua mobil berhenti secara serempak dan Calvin mundur dengan cepat tanpa berdiri, seperti ditadik dari belakang. Ini sangat tidak masuk akal, Sayang," ucap Gracella, matanya terus memperhatikan Calvin dan Zhi, serta jalanan yang tiba-tiba mengalami kejadian yang tak logis.
Zhi masih mengendalikan jalanan dan belum menormalkannya, semua orang di tengah jalan seakan mematung tak bergerak. Dia menggenggam erat liontin dan memejamkan matanya. Calvin masih duduk di tanah akibat tarikan Zhivanna.
“Zhi,” panggil Calvin seraya menatap wanita yang tengah berdiri di depannya itu.
Saat Zhi sudah menormalkan kembali semua keadaan di jalan raya, dia kemudian membungkuk menatap Calvin yang tengah duduk di trotoar. Kendaraan yang tadi berhenti, sudah berjalan lagi. Seseorang yang baru saja menyelakainya tadi menghilang begitu saja, Calvin hanya mengingat plat nomornya.
“Zhi, kenapa ... kenapa kau melanggar janji? Bukannya ini akan menjadi bumerang buat kamu? Ini pasti akan membahyakan," tutur Calvin yang masih terkejut dengan kejadian beberapa saat yang lalu.
“Aku tak peduli jika aku harus menerima akibatnya, Vin. Aku hanya peduli dengan keadaanmu dan keselamatanmu.” Zhi mengulurkan tangan, mengajak Calvin untuk berdiri.
"Terima kasih, lain kali kamu tidak perlu seperti itu, Zhi. Itu sama aja kamu mempertaruhkan kehidupanmu selanjutnya." Calvin berdiri dan mengusap lengan Zhi yang dibalas anggukan.
"Nggak masalah, Vin. Apa kamu ada yang luka?"
"Tidak, kamu?" tanya Calvin balik.
"Sebaiknya kita segera makan siang, aku tidak mau kamu kelaparan setelah kamu mengeluarkan energimu barusan."
"Vin, aku melihat seseorang." Zhi tiba-tiba menahan tangan Calvin dan mengarahkan matanya sebagai isyarat, dia menunjukkan satu mobil yang berada di tepi jalan agak jauh dari posisi mereka saat ini.
.
.
Bersambung ...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys, dukung author biar tambah semangat update bab-nya.
__ADS_1
Berikan like, komen, hadiah, vote, serta masukkan dalan favorit. Terima kasih. Sayang kalian.