Wanita Dalam Liontin

Wanita Dalam Liontin
Berkenalan


__ADS_3

Lelaki itu masih lekat menatap kedua insan di depannya tanpa berkedip. Sejurus kemudian, Calvin sadar akan dirinya yang terlihat mesra dengan Zhi. Tangan wanita itu masih betah bertaut pada lengan Calvin yang kekar.


“Kenapa terus memandangku seperti itu?” tanya Calvin dengan nada tegasnya.


“Baru bos?” tanya seorang lelaki bernama Liam yang berdiri di depannya. Sedetik kemudian, dia bersiul menggoda seperti lelaki yang menggoda wanita di pinggir jalan.


Calvin dengan cepat melepaskan tangan Zhi dari lengannya. Calvin tak menghiraukan ucapan Liam, lelaki yang berprofesi sebagai asisten Calvin itu juga sekaligus berperan sebagai sahabatnya. Liam sering ikut campur urusan pribadi Calvin. Itu karena hubungan mereka yang cukup lama. Kevin tidak pernah menganggap Liam sebagai pekerjanya, tetapi dia menganggapnya seperti teman dekat.


“Sudahlah jangan banyak bicara, selesaikan kerjamu!” perintah Calvin.


“Santai bro, pekerjaan untuk meeting nanti siang sudah selesai, aman terkendali. Bolehlah, mengenalkanku sama dia, perempuan cantik di sampingmu ini. Sepertinya dia sangat menarik,” goda Liam.


“Jangan macam-macam, Li! Mau aku pecat?”


“Pecat aja, justru aku malah senang tidak lagi bekerja denganmu, membuatku tertekan. Kau tahu, badanku sangat tersiksa saat bekerja denganmu,” timpal Liam. Bahkan dia tak mempunyai rasa takut pada Calvin.


Zhi yang sejak tadi di samping Kevin hanya diam melihat pertikaian antara dua orang di depannya. Calvin tak menanggapi lagi ucapan Liam, dia memilih untuk pergi meninggalkannya menuju ruang kerja yang terletak di di ujung koridor.


Liam berjalan dibelakang Calvin dan Zhi, matanya tak bisa diam melihat dan memperhatikan Zhi dari atas sampai bawah. Liam adalah sosok lelaki yang selalu menggemari wanita mana pun, apalagi jika dia melihat perempuan yang sangat cantik. Dia pasti akan tergoda untuk menggodanya, serta selalu ingin memiliki wanita tersebut. Predikat playboy yang dimilikinya sudah terkenal di seluruh perusahaan itu.


Saat tiba di ruangan, mereka bertiga memasuki kantor Calvin dengan bersamaan. Calvin menyuruh Zhi untuk duduk di sofa panjang, yang terletak di sudut ruang. Mata Zhi mengitari sekitar dengan saksama. Wanita itu memang baru pertama kali menginjakkan kakinya di sebuah kantor. Makanya, dia sedikit terheran-heran saat memasuki perusahaan yang penuh dengan hal-hal yang formal.


Calvin mendudukkan dirinya di kursi kebesaran. Dia mulai memegang pulpen serta file yang baru saja diberikan oleh asistennya itu. Mata Liam tak berkedip memperhatikan Zhi, dia sungguh terpesona akan kecantikan wanita itu.


“Bagaimana dengan Gracella? Apa kalian sudah resmi gagal?” tanya Liam dengan nada penasaran. Dia begitu ingin tahu masalah Calvin dan Gracella, karena dia adalah salah satu orang yang memerintahkan seseorang untuk memata-matai Gracella sebelumnya.


Tanpa melihat ke arah Liam, Calvin menjawab pertanyannya langsung, matanya masih fokus pada lembaran kertas yang akan ditanda tanganinya. Kemudian, dia berkata, “Jangan terus menanyaiku tentang hal itu, aku dan dia sudah tidak ada hubungan, ambilah kalau kau mau!"


Jawaban Calvin menandakan dia sudah sangat tidak peduli dengan Gracella, rasa itu perlahan mulai hilang bersamaan dengan datangnya Zhi. Wanita itulah yang perlahan mulai menarik perhatiannya.


 


"Wow Selamat, Bro! Aku sangat senang mendengarnya!” seru Liam, menepuk bahu Calvin. Liam tergelak dan begitu antusias saat mendengar jawaban Calvin. Sebab, sejak awal, Liam sudah mencium gelagat aneh dari Gracella.

__ADS_1


Namun, karena Calvin yang terlalu cinta pada Gracella, maka pernyataannya pun tak didengarkan sama sekali oleh Calvin. Dia seolah tutup mata dan mengabaikan semua penuturan Liam.


Pada akhirnya, saat Liam mulai geram, dia mencoba mengusulkan pada Calvin untuk mulai mematai-matai Gracella, dengan menyewa orang untuk mengawasi gerak-gerik wanita tersebut, yang sebelumnya menjadi tunangannya.


"Tapi aku sama sekali tidak tertarik dengan Gracella, Vin!" Aku lebih tertarik dengan—“


Liam melirik ke arah Zhi, Calvin pun memperhatikannya. Dia tahu maksud dari perkataan Liam yang menginginkan Zhi. Tatapan Calvin sesaat menjadi sangat tajam pada Liam, seolah mengancamnya dari bola mata yang membulat sempurna itu.


 


“Diamlah! Jangan banyak bicara atau kau akan kupecat!” Akhirnya Calvin mengeluarkan kalimat yang tak disangka-sangka oleh Liam. Asisten itu pun menanggapinya dengan santai.


 


“Pecat saja! Aku justru malah senang, karena kau tidak menyusahkanku lagi."


"Keluarlah, kembali ke ruanganmu, mataku sakit melihatmu! Nanti saat meeting panggil aku!" ucap Calvin dengan mengibaskan tangannya, mengisyaratkan agar Liam segera keluar dari ruangannya.


"Itu hanya kebetulan," jawab Calvin singkat.


Liam segera meninggalkan, ruangan itu. Akan tetapi, saat dia berbalik, dia melihat Zhi yang duduk termenung seperti tak dianggap keberadaannya.


"Calvin!" panggil Liam sambil terus berjalan ke arah Zhi. "Izinkan aku berkenalan dengan wanita cantik ini."


Liam duduk di sofa samping Zhi, dia mengulurkan tangannya dan mengajak Zhi berkenalan. Calvin hanya memperhatikannya dari kejauhan dengan mata sinisnya.


"Hai cantik, aku Liam Horan." Liam mengulurkan tangan dengan kedipan mata menggoda. Uluran tangan itu langsung disambut oleh Zhi.


"Zhivanna." Zhi mengulas senyum tipis layaknya seorang yang ramah.


"Sudah berkenalannya? Pergilah, Li. Fokus pada kerjamu, jangan terus menggoda wanita!" teriak Calvin dari meja kerjanya.


"Vin, jangan bilang, kamu cemburu? Apa dia sudah memiliki hatimu? Cepat sekali! Bahkan, kau tidak memberiku kesempatan untuk mempunyai kekasih." Liam terus melontarkan kalimat yang membuat Calvin sedikit memanas. Dia begitu menahan kesabarannya saat menghadapi lelaki mata keranjang seperti Liam.

__ADS_1


Calvin meremas sebuah kertas, menjadikannya bulatan dan langsung melemparkannya ke Liam. "Jangan suruh aku menyeretmu keluar, Li!"


Liam yang mendengar barisan kalimat Calvin, dia langsung menanggapinya dengan tawa yang menggema di seluruh ruangan. Baginya, membuat Calvin marah sangatlah seru. Lelaki dingin itu jarang sekali tersenyum, apalagi tertawa. Sifat dingin dan kakunya itu bahkan sudah terkenal di seluruh perusahaan. Beberapa karyawan sangat takut padanya. Berbeda saat di rumah, dia justru sedikit manja dengan kedua orang tuanya.


_______


Jam dinding yang menempel di ruangan Calvin itu menunjukkan pukul 10.00. Zhi tampak sudah sangat bosan berada di ruangan tersebut, karena dia hanya berdiam diri dan tak melakukan hal apa pun. Bahkan, dia hanya melihat Calvin yang berkutat di meja kerjanya.


"Calvin," panggil Zhi. Suaranya sedikit pelan karena menahan kantuknya.


"Apa, Zhi?"


"Aku sangat jenuh, boleh aku jalan-jalan keluar dari ruangan ini?" tanya Zhi dengan nada melasnya.


"Tetaplah di sini. Jangan beranjak ke mana pun," jawab Calvin, fokusnya masih pada layar kerjanya. Jarinya terus menati, menekan barisan huruf yang berjejer di keyboard-nya.


Zhi berdiri dan berjalan ke arah Calvin yang sedang sibuk di meja kerjanya. "Calvin, ajak aku jalan-jalan keluar, sebentar saja," rengek Zhi, kedua tangannya bertumpu pada meja Calvin dan memperhatikan wajah Calvin yang tengah serius bekerja.


"Kamu tampan juga, Vin, kalau lagi serius." Zhi tersenyum berusaha menggoda Calvin.


Sesaat kemudian, seseorang mengetuk pintu dari luar. Zhi dan Calvin melihat daun pintu itu bersamaan.


"Siapa?" tanya Calvin dengan suara sedikit berteriak.


 


 .


.


Bersambung ...


Jangan lupa komen dan likenya ya, otho butuh lenyemangat nih. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2