
Calvin berjalan menuju kamar Zhi, dia mengetuk pintu perlahan. Tak sabar ingin sekali memberikan kabar baik bahwa dia telah berhasil mendapatkan kalung wanita itu.
Saat dia mengetuknya dan tak ada jawaban, Calvin memutuskan untuk langsung masuk, ternyata Zhi masih tertidur pulas. Namun, Calvin masih tetap ingin menunggunya bangun. Sehingga dia duduk di tepian ranjang, sembari memperhatikan wajah Zhi dengan begitu lekat.
Tangan Calvin terulur, ingin rasanya dia mengusap pucuk kepala Zhivana. Saat dia memegang dahinya dan menyibakkan anak rambutnya, dia terkesiap lalu alisnya menukik sebelah.
"Astaga, kenapa panas sekali!" Reflek Calvin bersuara sehingga membuat wanita itu terbangun karena terkejut.
"Calvin, kamu ngapain, sih?" tanya Zhi seraya mberingsut dan bersender ke kepala ranjang.
"Maaf, aku telah mengganggu tidurmu. Tapi itu ... kamu kenapa panas sekali? Aku panggilkan dokter, ya?" tawar Calvin, dia terlihat begitu khawatir saat mengetahui Zhi demam.
"Calvin, please. Jangan lebay, deh! Ini hanya panas, aku juga nggak akan mati," ucap Zhi dengan nada santainya. "Terus, kamu ngapain ke sini?"
"Ah, ini." Calvin merogoh sakunya. "Aku hampir saja melupakannya. Lihat! Apa yang aku bawa ...." Senyuman puas terukir di wajah Calvin seraya menggantungkan kalung Zhi di tangannya.
__ADS_1
Zhi yang melihat hal itu begitu terkejut bersamaan dengan napasnya yang ditarik kasar. "Calvin! Terima kasih!" seru Zhi, dia menghambur ke tubuh Calvin dan memeluk lelaki kekar yang ada di sampingnya itu.
Calvin pun terkejut, sontak dia membeliak, ragu untuk mendekap lebih erat atau hanya berdiam diri menerima pelukan dadakan Zhi. Tangannya pun hanya terdiam tak bergerak di belakang punggung wanita itu.
"Calvin, aku tidak menyangka kamu akan berusaha mendapatkan kalungku lagi. Aku sudah putus asa, sejak tadi aku kepikiran, takut kalau aku tidak bisa kembali ke Luchania untuk bertemu orang tuaku."
"Apa pun yang menyangkut kesepamatan kamu, aku akan usahakan semampuku, Zhi," tutur Calvin. Akhirnya tangan itu terlulur dengan sendirinya untuk memeluk Zhi lebih erat.
Lelaki itu nyaris tak menyadari apa yang dia lakukan, biasanya dia akan gengsi tak ingin perilaku sukanya terbaca oleh Zhi. Saat ini, yang dia rasakan hanyalah kenyamanan ketika memeluk wanita itu. Menyangkut keselamatan Zhi, dia juga tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika tak ada gadis ceria di dekatnya lagi. Padahal, kehadiran Zhi memanglah sangat berpengaruh bagi hidupnya. Menutup luka lama, menyembuhkan dan bahkan menghadirkan rasa luar biasa.
"Apa yang kamu pikirkan, Zhi?" tanya Calvin seraya menggebggam erat kedua tangan Zhi.
"Calvin, kenapa kamu tidak pernah berterus terang?"
"Berterus terang apa?" tanya Calvin kembali.
__ADS_1
"Kamu menyayangiku, aku bisa mersakan ketulusanmu. Tapi, kenapa kamu tidak pernah mengungkapkannya?"
"Zhi, kamu nglindur? Badan kamu masih panas, sebaiknya aku panggilkan dokter saja, ya." Calvin mengalihkan pembicaraan. Lagi-lagi, dia tidak mau membahas tentang perasaan, meskipun dia sendiri sebenarnya memang menyayangi Zhi. Dia akan menunggu waktu yang tepat, serta keadaan yang memungkinkan hingga pikirannya bisa menerima soal Zhi yang bukanlah manusia.
"Calvin aku sudah ada kalung, aku bisa saja menyembuhkan demamku ini dengan sekejap, itu pun kalau kamu mengizinkan." Zhi meminta izin Calvin untuk menggunakan kekuatannya.
"Jika itu untuk kesembuhan atau keselamatan, gunakanlah. Aku tidak akan melarangnya." Calvin beranjak dari ranjang dan berdiri di dekat Zhi. "Aku ke kamar dulu, ya. Bi Siti akan mengantarkan makananmu. Makanlah yang banyak!" tutur Calvin.
Keduanya mendadak canggung saat tanpa candaan ringan. Biasanya mereka akan bertengkar kecil, dan berdebat. Namun, kali ini keduanya saling memandang, menatap lekat. Suara halus keluar dari bibir mereka, tak ada lagi teriakan dan kekesalan. Calvin yang merasakan kecanggungan, dia memilih untuk pergi dari kamar Zhi.
Di kamarnya, Calvin meremas kasar kepalanya. Dia memikirkan kalimat Zhi tentang rasa sayang. Sesaat, dia termenung menatap awang-awang, berbantalkan tangan di belakang kepala, juga tubuhnya yang direbahkan di kasur.
Bagaimana aku bisa menyatakan perasaanku, Zhi. Jika aku saja belum yakin, apakah aku bisa hidup denganmu ke depannya. Aku bingung harus bagaimana, mengingat pribadimu yang bukanlah manusia normal. Apa orang tuaku bisa menerimamu? Sedangkan, jika aku menikahimu, apa itu benar-benar akan menjamin keselamatanmu? Meskipun kamu pernah bercerita, kamu akan kekal menjadi manusia saat menemukan cinta yang tulus. Tapi, apa predikat lelaki tulus itu ... pantaskah untuk kumiliki?
Calvin terus bergelut dengan hati dan pikirannya. Hatinya selalu bilang jika dirinya begitu ingin memiliki Zhi, tetapi pikirannya berdalih, memilih untuk mencerna hal-hal yang tidak masuk akal.
__ADS_1