
Mendengar perkataan Calvin, Zhi malah tertawa santai memperlihatkan barisan giginya yang rapi. "Dengar, Vin! Mau kamu menolak seperti apa pun. Aku yakin suatu saat nanti kamu akan mengajakku menikah."
"Terserah!" sahut Calvin singkat seperti tak peduli.
Sejenak, lelaki itu terdiam membisu. Dia penasaran, bagaimana Zhi menyembuhkannya setelah tenggelam tadi.
"Zhi, kamu tidak memberiku napas buatan, kan?" tanya Calvin dengan nada sedikit menuduh. Hampir saja dia kehilangan nyawanya hanya karena berkorban untuk Zhi.
"Awalnya ... aku memang berniat memberimu napas buatan, Vin. Tapi, aku mengurungkan niatku karena aku tidak akan melakukan hal itu sebelum kamu yang memulainya duluan," tutur Zhi dengan begitu santainya. Ucapannya terdengar menggelikan di telinga Calvin, hingga mampu membuat lelaki itu bergidik ngeri.
"Menjijikkan! Apa kamu tidak menyaring ucapanmu sebelum keluar, Zhi?" Calvin membuang mukanya kasar. Dia bahkan tak mau membayangkan sesuatu yang baginya tidak mungkin terjadi. Kalimat itu keluar begitu saja tanpa memikirkan perasaan Zhi. Seolah, berciuman dengan Zhi adalah hal yang dianggap kotor.
Meski sebelumnya dia sudah berstatus tunangan dengan Gracella, tetapi Calvin belum pernah sama sekali berciuman dengannya. Hubungan mereka hanya seperti teman dekat biasa pada umumnya. Calvin berprinsip tidak akan menyentuh wanitanya sebelum dia menikah.
Bukannya sakit hati, Zhi semakin tertantang untuk mengerjai Calvin. Dengan gerakan cepat, Zhi menangkup kedua pipi Calvin. Wanita itu tanpa malunya manatap mata lelaki itu lekat-lekat. Dia tersenyum, kemudian semakin memajukan wajahnya agar lebih dekat dengan bibir Calvin dan berniat pura-pura akan menciumnya.
Lelaki itu makin memundurkan tubuhnya, dia mencoba menahan tangan Zhi dengan tangan kanannya. Namun, hal itu tak membuat Zhi menyerah. Calvin yang tengah duduk terhuyung ke belakang pun hampir terbaring lagi akibat ulah Zhi yang memaksanya. Pada akhirnya, Calvin menahan dahi Zhi dengan tangan kirinya, tekanan tolaknya memang sedikit kuat, sehingga Zhi langsung berhenti beraksi.
"Zhi, sadarlah! Apa kamu sudah gila?" Calvin mendorong tubuh Zhi dan menahan bahunya dengan kedua tangan.
"Calvin, aku akan mengajarimu cara ciuman. Kamu belum bisa, kan? Atau ... jangan-jangan kamu penyuka sesama jenis? Hah, mengerikan!" cibir Zhi. "Meskipun aku juga belum pernah melakukannya, tapi kalau hanya menempelkan bibir, semua orang pasti akan bisa melakukannya. Bukan begitu, Calvin Alexei?" Zhi tersenyum menggoda.
Tanpa berkata apa pun, Calvin langsung berdiri dan menjauhi Zhi. Dia berjalan meninggalkan Zhi yang sibuk dengan gaya centilnya dan terus memaki dirinya. Wanita itu berlari mendekat ke arah Calvin yang sudah berjalan cepat meninggalkannya.
"Calvin, kita mau ke mana? Tunggu! Hish, jahat sekali meninggalkan seorang wanita sendirian di tengah laut. Tega!" gerutu Zhi, dia mengomel tak karuan, padahal hanya berselisih jarak beberapa langkah dengan lelaki itu. Zhi lalu menepuk pundak Calvin saat sudah berada di dekatnya.
__ADS_1
"Diamlah! Jangan banyak bicara. Aku pusing mendengar suaramu," tukas Calvin tanpa melihat ke arah Zhi yang sudah berjalan menyejajarinya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Calvin. Kita mau ke mana?"
"Pulang. Apa kamu mau di sini terus?"
"Baiklah, baiklah. Jangan emosi begitu, takut nanti aku makin cinta, kamu hot saat marah-marah begitu," goda Zhi, tetapi tak ada respon dari Calvin.
Satu jam lebih telah berlalu, mereka telah sampai di kediaman Calvin. Keduanya masuk ke kamar masing- masih dan segera membersihkan diri. Calvin tampak sangat kelelahan, setelah selesai menjalani ritual mandinya, dia gegas menuju tempat tidurnya dan merebahkan dirinya. Sesaat, matanya mulai terpejam, tetapi, pikirannya tiba-tiba terpusat pada perusahaan.
Calvin lalu mengambil ponselnya di nakas samping tempat tidur, dia men-scroll daftar kontak di buku teleponnya. Dia menekan satu nama yang bertuliskan 'Liam'.
"Halo, Liam. Tolong handle semua pekerjaan hari ini. Aku mau istirahat."
"Cancel!" sahut Calvin, dia langsung menutup teleponnya tanpa berpamitan. Lelaki itu dengan lemas meletakkan ponselnya di nakas, beberapa saat kemudian. Dia memejamkan matanya karena begitu kelelahan, mengingat dia mengeluarkan tenaga yang begitu maksimal untuk mengarungi samudera.
Sementara itu, Zhi yang sudah rapi dengan baju santainya setelah mandi. Perutnya mulai keroncongan, karena jam pagi sudah hampir menuju ke siang. Namun, perutnya masih juga kosong. Kali ini, Calvin melupakan sarapan Zhi, biasanya memang dia yang selalu menyiapkan makan pagi untuk tuan putri itu.
Zhi kemudian mengetuk pintu kamar Calvin, tetapi tak ada jawaban. Hingga akhirnya Zhi memutuskan untuk turun ke bawah dan membuka kulkas yang ada di dapur. Terdapat beberapa persediaan sayuran di sana. Zhi pun tak tahu bagaimana cara memasak dan nama-nama sayuran tersebut.
Dia mencoba memakan apa pun yang ada di kulkas. Seperti wortel, dia menggigitnya begitu saja tanpa merasakan aneh di lidahnya. Dia juga mengambil segelas fresh milk yang biasa Calvin siapkan untuknya.
"Mana kenyang, kalau hanya makan benda keras seperti ini?" gumam Zhi sambil memperhatikan bentuk wortel yang baru saja digigitnya.
Mata Zhi tiba-tiba menangkap wadah steinless yang terletak di tengah meja, dia membukanya, dan bagai melihat harta karun, matanya seolah mengeluarkan bintang-bintang karena begitu girangnya. Dia melihat setumpuk roti tawar yang di kelilingi bermacam selai di sana.
__ADS_1
Zhivanna langsung melepaskan wortel yang di pegangnyan dan beralih pada roti, mengolesinya dengan selai kacang skippy bercampur nutella. Wanita itu pun menghabiskan kurang lebih empat lembar roti untuk mengganjal perutnya.
Di sisi lain, di Negeri Luchania. Venus yang masih terdiam di bukit luas, dia terus memandang kosong ke arah akses portal tersebut. Angin yang tadi berbentuk lingkaran di udara menghilang begitu saja sejak Calvin menutup portalnya dari dunia manusia. Dia telah gagal menjalankan perintah dari tuannya, yang tak lain adalah Erdo.
Venus berpikir jika itu adalah pertanda portal telah ditutup dan dia tidak bisa lagi memasukinya tanpa bantuan manusia juga. Lelaki itu pun segera beringsut dan menghilang, kembali ke singgasana menemui pangeran panguasa alam.
Venus merasa sangat bodoh, karena kali ini dia telah mengecewakan Erdo. Biasanya dia adalah satu-satunya orang kepercayaan yang selalu taat pada perintah dan selalu memuaskan keinginan tuannya.
"Ampuni saya, Tuan. Saya gagal memasuki dunia manusia. Sepertinya portal sudah tertutup rapat dari dunia." Venus membungkuk tanpa berani melihat Erdo yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
Mata Erdo membulat sempurna, dia menatap tajam pada Venus. Keinginannya untuk mendapatkan Zhi, kini gagal sudah, dia membalikkan badan seraya mengibaskan jubah hitamnya yang menjuntai sampai ke lantai.
"Dasar bodoh! Bagaimana bisa seorang Venus tidak becus melaksanakan perintahku? Apa hukuman yang pantas kau dapatkan, hah!" teriak Erdo, suara lantangnya nyaris terdengar di segala penjuru singgasana.
"Apa pun itu saya akan menerima konsekuensinya, Tuan," jawab Venus pasrah, jika dia harus mati saat itu juga di tangan Erdo, tidak mungkin dia akan bisa menolak dan melawannya.
"Persetan! Terima ini!"
.
.
Bersambung ...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya teman-teman, mohon klik like dan komennya. Terima kasih.
__ADS_1